Thursday, November 3, 2011

Asal-Usul Yahudi (bgn 1)


Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.Mpd.

بسم الله الرحمن الرحيم
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Bahasan kali ini merupakan kelanjutan dari bahasan yang lalu yang berjudul “Yahudi dan Percaturan Dunia”, yaitu agar kita dapat memahami lebih jauh dan secara mendasar apakah yang menjadi sebab Yahudi itu sampai hari ini sedemikian “ganas”-nya kepada masyarakat dunia. Hendaknya kita mempelajari akar permasalahannya berdasarkan Al Qur’an.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Hadiid (57) ayat 26 sebagai berikut:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ فَمِنْهُم مُّهْتَدٍ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrohim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasiq.”

Ayat tersebut maksudnya menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrohim عليه السلام adalah bapak para Nabi dan para Rosuul. Tetapi sayangnya, karunia Allooh سبحانه وتعالى yang sedemikian besarnya itu, hanya sedikit daripada keturunannya itu yang mengikuti petunjuk Allooh سبحانه وتعالى. Kebanyakan dari mereka adalah fasiq.

Apabila kita renungkan, maka sampai sekarang pun adalah lebih banyak kaum Muslimin yang tidak mengindahkan apa yang menjadi aturan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, mereka lebih cenderung kepada hawa nafsunya. Bahkan ada kecenderungan bahwa Islam saat ini sudah mulai dianggap aneh.

Keanehan itu disebabkan karena orang kebanyakan (bahkan yang ber-KTP Islam sekalipun), pada dasarnya tidak mengenal Islam dengan cara yang benar (– sesuai Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Pendahulu Ummat yang shoolih –). Lalu yang mengenal Islam pun banyak yang tidak tahan dalam mengamalkan Islam-nya secara istiqomah. Bagaimana tidak, karena orang yang berusaha untuk mengamalkan ajaran Islam sesuai tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengalami berbagai macam tuduhan. Dituduh “terorisme”, dituduh “terbelakang”, dituduh “ketinggalan zaman” atau “kuno” atau “ikut zaman onta”, dan berbagai tuduhan buruk lainnya yang memang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh Islam agar kaum Muslimin itu takut kepada ajaran Islam-nya sendiri. Semua itu menyebabkan orang Islam menjadi tidak istiqomah (teguh) dalam mengamalkan dien-nya, apalagi kalau orang itu imannya pas-pasan.

Sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام adalah bapak dari sekian banyak para Nabi dan Rosuul. Dari silsilah para nabi sejak Nabi Adam عليه السلام, ternyata asal-usul Yahudi itu berasal dari Nabi Ibrohim عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام. Sebagaimana kita pelajari dari sejarah, bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام memiliki anak bernama Ismail عليه السلام dan Ishaq عليه السلام.

Nabi Ismail عليه السلام tidak banyak menurunkan nabi-nabi, hanya dalam urutan keturunan Nabi Ismail عليه السلام yang terakhir lalu muncul keturunannya yang merupakan seorang Nabi dan Rosuul Penutup yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Sedangkan Nabi Ishaq عليه السلام langsung menurunkan secara berturut-turut para nabi dan Rosuul, yakni Nabi Ya’qub عليه السلام, Nabi Yusuf عليه السلام, Nabi Ayyub عليه السلام, Nabi Musa عليه السلام, Nabi Harun عليه السلام, Nabi Ilyas عليه السلام, Nabi Ilyasa عليه السلام dan seterusnya hingga sampai kepada Nabi ‘Isa عليه السلام.

Pada kali ini, kita akan membahas tentang Nabi Ibrohim عليه السلام, Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام terlebih dahulu. Lalu pada kajian mendatang insya Allooh akan kita bahas tentang Nabi Ya’qub عليه السلام dan Nabi Yusuf عليه السلام; kemudian Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Harun عليه السلام; dan selanjutnya adalah Nabi Daawud عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام. Dan dari mereka itulah akan kita kenal apa yang disebut dengan Haikal Sulaiman. Dalam rangka membangun Haikal Sulaiman itulah maka Yahudi sampai saat ini memiliki rencana yang Mega-Besar (antara lain dengan meruntuhkan Masjid Al Aqsa milik kaum Muslimin — Silakan baca artikel berjudul “Yahudi Rampas Masjid Al Aqsa” pada Blog ini http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/09/25/yahudi-rampas-masjid-al-aqsa/#more-3152 ). Maka segala sesuatu itu tergantung kepada landasan dasar filosofi berfikir yang pada akhirnya adalah menjadi suatu ideologi.

Sesuai ayat diatas, maka asal usulnya adalah bermula dari Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrohim عليه السلام. Nabi Nuh tidak akan kita bahas karena keturunan-keturunannya tidak bermasalah dan tidak bersambung kepada Isroil (Bani Isroil).

Adapun Isroil adalah nama lain dari Nabi Ya’qub عليه السلام, putra dari Nabi Ishaq عليه السلام dan yang merupakan cucu dari Nabi Ibrohim عليه السلام.

Kajian kita ini adalah berdasarkan ‘Aqidah kita sebagai ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan kepada kita dalam Al Qur’an bahwa Nabi Ismail عليه السلام adalah putra dari Nabi Ibrohim عليه السلام. Namun dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat), ada upaya dari Yahudi untuk melakukan Tahriif (mengubah, mengganti dan menukar) serta membalikkan fakta agar terkesan bahwa Nabi Ismail عليه السلام bukanlah putra Nabi Ibrohim عليه السلام. Oleh karenanya ketika pada akhirnya muncul Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka kaum Yahudi tidak mau mengakui kenabian dan ke-rosuulan beliau صلى الله عليه وسلم, karena beliau صلى الله عليه وسلم adalah berasal dari keturunan Nabi Ismail عليه السلام, dan bukan berasal dari keturunan Nabi Ishaq عليه السلام sebagaimana para Nabi dan Rosuul lainnya.

Dalam Al Qur’an Surat Ibrohim (14) ayat 39, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء

Artinya:

“Segala puji bagi Allooh yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Robb-ku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a.”

Jadi jelaslah bahwa Nabi Ismail عليه السلام adalah putera Nabi Ibrohim عليه السلام. Dan dalam urutannya adalah bahwa Nabi Ismail عليه السلام adalah anak pertama dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah anak kedua.

Kemudian perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Huud (11) ayat 71:

وَامْرَأَتُهُ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاء إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

Artinya:

“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya`qub.”

Yang dimaksud “istrinya” dalam ayat diatas adalah Sarah, istri pertama Nabi Ibrohim عليه السلام. Dari Sarah, Nabi Ibrohim عليه السلام memiliki putra bernama Ishaq عليه السلام, yang kemudian dari Ishaq عليه السلام akan lahir cucunya yang bernama Ya’qub عليه السلام. Maka kita mengenal bahwa Nabi Ya’qub عليه السلام adalah putra dari Nabi Ishaq عليه السلام dan cucu dari Nabi Ibrohim عليه السلام. Bayangkan, betapa besar ni’mat Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrohim عليه السلام; dimana mulai dari bapak, anak lalu cucu itu semuanya adalah menjadi Nabi.

Kemudian dalam QS Maryam (19) ayat 49, Allooh سبحانه وتعالى berfirman :

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلّاً جَعَلْنَا نَبِيّاً

Artinya:

“Maka ketika Ibrohim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allooh, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya`qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.”

Juga dalam QS. Al Anbiyaa (21) ayat 72 :

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ

Artinya:

“Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrohim) Ishaq dan Ya`qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shoolih.”

Dan dalam QS Al An’aam (6) ayat 84-86 :

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلاًّ هَدَيْنَا وَنُوحاً هَدَيْنَا مِن قَبْلُ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿٨٤﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿٨٥﴾ وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ ﴿٨٦﴾

Artinya:

(84) Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya`qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Ibrohim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,

(85) dan Zakaria, Yahya, `Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shoolih.

(86) dan Ismail, Alyasa`, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).

Demikianlah, ayat-ayat tersebut diatas memberikan bukti kepada kita bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام memiliki 2 putra, yakni dari istri pertamanya (Sarah) terlahir Nabi Ishaq عليه السلام dan dari istrinya yang kedua (Haajar) terlahir Nabi Ismail عليه السلام.

Kemudian dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 133, Allooh سبحانه وتعالى berfirman :

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya:

“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrohim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Muslimun).”

Dari ayat diatas, sangatlah jelas bahwa Allooh سبحانه وتعالى memberitakan kepada kita (termasuk juga kepada seluruh ummat manusia) bahwa keturunan Nabi Ya’qub عليه السلام itu TIDAK ADA yang beragama Yahudi atau Nashroni; tetapi semuanya adalah Islam (Muslimun).

Nabi Ibrohim عليه السلام pada mulanya berasal dari Iraq (Babylonia), kemudian beliau pergi ke Mesir. Istri Nabi Ibrohim عليه السلام (Sarah) adalah sangat cantik jelita. Raja Mesir ketika itu tertarik kepada Sarah عليه السلام. Maka Nabi Ibrohim عليه السلام sangat khawatir dan cemburu (– dan itu memang haknya untuk cemburu, karena Sarah adalah istrinya –). Nabi Ibrohim عليه السلام sadar kalau seandainya ia mengaku sebagai suami Sarah, maka ia pasti akan dibinasakan oleh Raja Mesir tersebut. Maka ia pun menyuruh kepada Sarah : “Wahai Sarah, bila Raja bertanya, maka katakanlah olehmu bahwa kamu adalah saudaraku.”

Menurut para ‘Ulama Ahlus Sunnah, maka yang dimaksud “saudara” diatas, dalam hal ini bisa berarti “saudara se-‘aqidah” atau bisa pula berarti “saudara sekandung”.

Demikianlah, ketika Sarah didekati oleh Raja Mesir, maka ia pun berpura-pura sedih, bahkan menangis, tidak mau berhias dan sebagainya; sehingga sang Raja pun tidak lagi berselera kepadanya karena Sarah selalu murung dan hal itu menjadikannya tidak menarik lagi bagi sang Raja. Pada akhirnya mereka disuruh pulang saja oleh Raja Mesir tersebut, dengan dihadiahi 100 (seratus) ekor kambing dan seorang perempuan pembantu (seorang wanita Mesir) bernama Haajar (– “Haajar” artinya adalah “Orang yang hijrah” –).

Mereka bertiga kemudian pulang ke daerah yang sekarang dikenal sebagai Palestina. Setelah mereka kembali ke tempatnya (Palestina), maka beberapa tahun kemudian Nabi Ibrohim عليه السلام sangat menginginkan anak. Sarah pun menganjurkan kepada Nabi Ibrohim عليه السلام untuk menikahi Haajar agar memiliki anak keturunan. Ternyata dengan kehendak Allooh سبحانه وتعالى maka Haajar pun hamil, dan tidak lama kemudian lahirlah Ismail عليه السلام.

Setelah Ismail lahir, ternyata Sarah merasa iri. Lalu Sarah meminta kepada suaminya, Nabi Ibrohim عليه السلام, agar suaminya membawa Haajar dan anaknya Ismail عليه السلام pergi menjauh.

Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3364 dijelaskan sebagai berikut;

عن ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهْيَ تُرْضِعُهُ حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى الْمَسْجِدِ وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ ، وَلاَ شَيْءٌ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا فَقَالَتْ لَهُ آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ إِذًا لاَ يُضَيِّعُنَا ثُمَّ رَجَعَتْ فَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الثَّنِيَّةِ حَيْثُ لاَ يَرَوْنَهُ اسْتَقْبَلَ بِوَجْهِهِ الْبَيْتَ ثُمَّ دَعَا بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ : {رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ} حَتَّى بَلَغَ {يَشْكُرُونَ} وَجَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تُرْضِعُ إِسْمَاعِيلَ وَتَشْرَبُ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا فِي السِّقَاءِ عَطِشَتْ وَعَطِشَ ابْنُهَا وَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَيْهِ يَتَلَوَّى ، أَوْ قَالَ يَتَلَبَّطُ – فَانْطَلَقَتْ كَرَاهِيَةَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَتِ الصَّفَا أَقْرَبَ جَبَلٍ فِي الأَرْضِ يَلِيهَا فَقَامَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتِ الْوَادِيَ تَنْظُرُ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا فَهَبَطَتْ مِنَ الصَّفَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْوَادِيَ رَفَعَتْ طَرَفَ دِرْعِهَا ثمَّ سَعَتْ سَعْيَ الإِنْسَانِ الْمَجْهُودِ حَتَّى جَاوَزَتِ الْوَادِيَ ثُمَّ أَتَتِ الْمَرْوَةَ فَقَامَتْ عَلَيْهَا وَنَظَرَتْ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا فَفَعَلَتْ ذَلِكَ سَبْعَ مَرَّاتٍ- قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا – فَلَمَّا أَشْرَفَتْ عَلَى الْمَرْوَةِ سَمِعَتْ صَوْتًا فَقَالَتْ صَهٍ تُرِيدَ نَفْسَهَا ثُمَّ تَسَمَّعَتْ فَسَمِعَتْ أَيْضًا فَقَالَتْ قَدْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غِوَاثٌ فَإِذَا هِيَ بِالْمَلَكِ عِنْدَ مَوْضِعِ زَمْزَمَ فَبَحَثَ بِعَقِبِهِ ، أَوْ قَالَ بِجَنَاحِهِ – حَتَّى ظَهَرَ الْمَاءُ فَجَعَلَتْ تُحَوِّضُهُ وَتَقُولُ بِيَدِهَا هَكَذَا وَجَعَلَتْ تَغْرِفُ مِنَ الْمَاءِ فِي سِقَائِهَا وَهْوَ يَفُورُ بَعْدَ مَا تَغْرِفُ- قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ ، أَوْ قَالَ لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ – لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا- قَالَ فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا فَقَالَ لَهَا الْمَلَكُ لاَ تَخَافُوا الضَّيْعَةَ فَإِنَّ هَاهُنَا بَيْتَ اللهِ يَبْنِي هَذَا الْغُلاَمُ وَأَبُوهُ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَهْلَهُ ، وَكَانَ الْبَيْتُ مُرْتَفِعًا مِنَ الأَرْضِ كَالرَّابِيَةِ تَأْتِيهِ السُّيُولُ فَتَأْخُذُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ فَكَانَتْ كَذَلِكَ حَتَّى مَرَّتْ بِهِمْ رُفْقَةٌ مِنْ جُرْهُمَ ، أَوْ أَهْلُ بَيْتٍ مِنْ جُرْهُمَ – مُقْبِلِينَ مِنْ طَرِيقِ كَدَاءٍ فَنَزَلُوا فِي أَسْفَلِ مَكَّةَ فَرَأَوْا طَائِرًا عَائِفًا فَقَالُوا إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ لَعَهْدُنَا بِهَذَا الْوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ فَأَرْسَلُوا جَرِيًّا ، أَوْ جَرِيَّيْنِ فَإِذَا هُمْ بِالْمَاءِ فَرَجَعُوا فَأَخْبَرُوهُمْ بِالْمَاءِ فَأَقْبَلُوا قَالَ وَأُمُّ إِسْمَاعِيلَ عِنْدَ الْمَاءِ فَقَالُوا أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ فَقَالَتْ نَعَمْ وَلَكِنْ لاَ حَقَّ لَكُمْ فِي الْمَاءِ قَالُوا نَعَمْ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهْيَ تُحِبُّ الإِنْسَ فَنَزَلُوا وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ فَنَزَلُوا مَعَهُمْ حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ وَشَبَّ الْغُلاَمُ.

وَتَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَ مَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ فَقَالَتْ خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا ثُمَّ سَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ فَقَالَتْ نَحْنُ بِشَرٍّ نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ فَشَكَتْ إِلَيْهِ قَالَ فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ كَأَنَّهُ آنَسَ شَيْئًا ، فَقَالَ : هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ قَالَتْ نَعَمْ جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ وَشِدَّةٍ ، قَالَ : فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ قَالَتْ نَعَمْ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ قَالَ ذَاكِ أَبِي وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَطَلَّقَهَا وَتَزَوَّجَ مِنْهُمْ أُخْرَى فَلَبِثَ عَنْهُمْ إِبْرَاهِيمُ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَتَاهُمْ بَعْدُ فَلَمْ يَجِدْهُ فَدَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ فَسَأَلَهَا عَنْهُ فَقَالَتْ خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا قَالَ كَيْفَ أَنْتُمْ وَسَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ فَقَالَتْ نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ وَأَثْنَتْ عَلَى اللهِ فَقَالَ مَا طَعَامُكُمْ قَالَتِ اللَّحْمُ قَالَ فَمَا شَرَابُكُمْ قَالَتِ الْمَاءُ ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالْمَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ قَالَ فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلاَّ لَمْ يُوَافِقَاهُ قَالَ فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ قَالَ هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ قَالَتْ نَعَمْ أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ فَسَأَلَنِي عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ فَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ قَالَ فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ قَالَتْ نَعَمْ هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ قَالَ ذَاكِ أَبِي وَأَنْتِ الْعَتَبَةُ أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ ثُمَّ لَبِثَ عَنْهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِسْمَاعِيلُ يَبْرِي نَبْلاً لَهُ تَحْتَ دَوْحَةٍ قَرِيبًا مِنْ زَمْزَمَ فَلَمَّا رَآهُ قَامَ إِلَيْهِ فَصَنَعَا كَمَا يَصْنَعُ الْوَالِدُ بِالْوَلَدِ وَالْوَلَدُ بِالْوَالِدِ ثُمَّ قَالَ يَا إِسْمَاعِيلُ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ قَالَ فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ قَالَ وَتُعِينُنِي قَالَ وَأُعِينُكَ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَاهُنَا بَيْتًا وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا قَالَ فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَا الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالْحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ فَقَامَ عَلَيْهِ وَهْوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ وَهُمَا يَقُولاَنِ {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} قَالَ فَجَعَلاَ يَبْنِيَانِ حَتَّى يَدُورَا حَوْلَ الْبَيْتِ وَهُمَا يَقُولاَنِ {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}

Artinya:

Dari Shohabat Ibnu Abbas رضي الله عنه , beliau berkata, “Cara berfikir wanita pertama kali diambil dari Ummu Ismail (Haajar) ketika ia mengambil taktik agar terbebas dari Sarah. Kemudian Ibrohim عليه السلام membawanya serta anaknya Ismail عليه السلام yang dikala itu Haajar masih menyusuinya.

Kemudian Ibrohim عليه السلام meninggalkannya di Ka’bah, di suatu bukit diatas Zam-Zam, disebelah atas dari Masjid, dimana ketika itu disana tidak dihuni seorang pun dan tidak ada air. Kemudian Ibrohim عليه السلام meninggalkan mereka berdua disana, dengan memberi bekal sedikit kurma dan sekantong air. Lalu Ibrohim عليه السلام beranjak kembali mengarah ke negeri asalnya.

Maka Ummu Ismail pun mengikuti dari belakang seraya berkata, “Wahai Ibrohim kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah ini, yang tak ada manusia dan apa pun?”

Dikatakannya lah hal ini pada Ibrohim عليه السلام berkali-kali. Dan Ibrohim عليه السلام sama sekali tidak menggubrisnya. Maka Haajar berkata, “Apakah Allooh سبحانه وتعالى yang menyuruhmu begini?”

Ibrohim عليه السلام menjawab, “Ya.”

Maka Haajar berkata, “Kalau begitu Allooh سبحانه وتعالى tidak akan menyia-nyiakan kita.”

Lalu Haajar pun kembali ke tempat semula, dan Ibrohim عليه السلام melanjutkan perjalanannya.

Dan ketika Ibrohim عليه السلام sampai diantara perbukitan, dimana tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka Ibrohim عليه السلام lalu menghadap kearah Ka’bah dan berdoa sembari mengangkat kedua tangannya, “Ya Allooh, Robb kami, sungguh aku tinggalkan keturunanku di suatu lembah yang tak bertetumbuhan… hingga mereka bersyukur.”

Kemudian Ummu Ismail menyusui Ismail عليه السلام dan meminum dari air bekalnya. Ketika air yang ada didalam kantong tersebut habis, maka hauslah dia dan hauslah anaknya. Sembari memandang Ismail عليه السلام yang tengah menggerak-gerakkan kakinya, maka ia pun pergi meninggalkan Ismail عليه السلام karena tidak suka melihat Ismail عليه السلام dalam keadaan kehausan. Maka pergilah ia (Haajar) kearah Bukit Shofa dan diatasnya dia berdiri kemudian menghadap kearah lembah untuk melihat adakah seseorang disana. Namun ternyata tidak ada seorang pun yang didapatinya. Maka ia pun pergi meninggalkan Shofa hingga ke dasar bukit, lalu dia menyingsingkan bajunya kemudian berlari kecil seolah orang yang sedang dikejar sesuatu, sehingga ia melewati bukit tersebut dan sampai di Marwah. Kemudian ia berdiri diatas Bukit Marwah dan melihat apakah ada seseorang disana. Juga ternyata ia tak melihat seorang pun. Lalu dilakukannya hal itu bolak-balik sebanyak 7 kali.

Kemudian Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Karena itu, manusia diajarkan untuk Sa’i diantara keduanya.”

Ketika sampai di Bukit Marwah, tiba-tiba Haajar mendengar suatu suara, yang dikiranya suara itu tertuju padanya. Maka ia pun berupaya untuk kembali mendengarkan suara tersebut. Maka benar lah bahwa ia mendengar suara itu kembali. Maka Haajar pun berkata, “Sungguh engkau telah memperdengarkan suaramu, jika engkau penolong.”

Ternyata sumber suara itu adalah malaikat yang sedang berada di lokasi Zam-Zam yang tengah menggerak-gerakkan sayapnya untuk membantu mencarikan air, sehingga muncullah air (Zam-Zam) tersebut. Kemudian Ummu Ismail (Haajar) berusaha menampung air tersebut dengan tanah kemudian memasukkannya kedalam kantung airnya hingga membasahi tangannya.

Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Allooh سبحانه وتعالى menyayangi Ummu Ismail. Kalau seandainya Ummu Ismail meninggalkan Zam-Zam atau seandainya dia tidak menciduk air tersebut maka Zam-Zam tidak akan menjadi mata air.”

Maka Haajar meminum air tersebut dan menyusui anaknya. Lalu malaikat berkata pada Haajar, “Janganlah kalian takut disia-siakan, sebab disini adalah Rumah Allooh سبحانه وتعالى yang anak ini dan ayahnya kelak akan membangunnya. Dan sesunggunya Allooh سبحانه وتعالى tidak akan menyia-nyiakan penghuni Baitullooh ini.”

Pada mulanya Baitullooh (Ka’bah) terletak di tanah tinggi, mirip bukit, kemudian ditimpa oleh banjir sehingga melongsorkan sebelah kanan dan kirinya. Dan terus dalam keadaan seperti ini sehingga lewatlah segerombolan orang dari Jurhum (– arah Yaman – pent.) atau penduduk dari Jurhum, datang dari arah Kada, lalu mereka turun sampai dibawah Makkah. Dan ketika mereka melihat burung yang terbang mengerumuni air, maka mereka pun berkata, “Sesungguhnya burung ini terbang diatas air. Mari kita menuju ke lembah ini dan mengambil air yang ada di dalamnya.”

Dengan mengutus seorang atau dua orang utusan yang berlari ke tempat tersebut, ternyata mereka (para utusan itu) menemukan air, sehingga mereka pun kembali ke kabilah tadi dan memberitakan hal itu. Maka mereka semuanya bergerak menuju ke sumber air, sememtara Ummu Ismail berada disana. Maka kabilah itu pun berkata, “Apakah anda mengizinkan kami untuk singgah disini?”

Kemudian Haajar menjawab, “Ya, akan tetapi kalian tidak memiliki air ini.”

Kabilah itu menjawab, “Ya.”

Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Haajar menyukai keadaan itu.”

Akhirnya kabilah itu pun singgah di sana, dan memberitahukan kepada keluarga mereka sehingga akhirnya mereka semua pun singgah di tempat itu pula. Dan diantara mereka pun bermukim disekitar Baitulllooh. Ismail عليه السلام pun tumbuh menjadi pemuda. Belajar bahasa Arab dari mereka dan membuat mereka (kabilah itu) kagum padanya. Sehingga ketika Ismail عليه السلام menginjak usia pemuda, maka mereka pun menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Lalu meninggallah Ummu Ismail. Kemudian setelah Ismail عليه السلام menikah, datanglah Ibrohim عليه السلام untuk melihat keadaan keluarganya, namun tidak sempat menemui Ismail عليه السلام.

Maka bertanyalah Ibrohim عليه السلام pada istri Ismail عليه السلام tentang keadaan Ismail عليه السلام. Kemudian istri Ismail عليه السلام menjawab, “Ismail sedang keluar mencari sesuatu untuk kami.”

Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya lagi, “Bagaimana kehidupan kalian?”

Istri Ismail عليه السلام menjawab, “Kami dalam keadaan buruk, kami dalam keadaan sempit, kesulitan.”

Dan ia pun berkeluh kesah pada Ibrohim عليه السلام.

Maka Ibrohim عليه السلام berkata, “Sampaikan pada suamimu jika ia datang, salamku untuknya dan katakanlah olehmu padanya agar dia merubah posisi pintu rumahnya.”

Ketika Ismail عليه السلام pulang ke rumahnya, seolah dia merindukan sesuatu, kemudian bertanya lah ia pada istrinya, “Apakah ada seseorang yang datang pada kalian?”

Istrinya menjawab, “Ya. Telah datang pada kita seorang kakek, begini dan begitu, menanyakan pada kami tentang engkau. Maka aku beritakan padanya. Kemudian kakek itu bertanya padaku bagaimana kehidupan kita, maka aku pun beritakan padanya bahwa kita dalam keadaan kesulitan.”
Ismail عليه السلام bertanya lagi, “Apakah dia berwasiat padamu sesuatu?”
Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkanku untuk menyampaikan salam darinya untukmu dan mengatakan, ‘Ubahlah posisi pintu rumahmu’.”

Ismail عليه السلام berkata, “Itu adalah ayahku dan memerintahkanku untuk menceraikanmu. Maka pulanglah engkau pada keluargamu.”

Maka ia pun menceraikannya, kemudian ia menikah dengan wanita yang lain.

Selang beberapa waktu Ibrohim عليه السلام kembali mengunjungi mereka, akan tetapi kembali ia tidak bertemu Ismail عليه السلام. Kemudian ditemuinya istri Ismail عليه السلام dan bertanya tentang Ismail عليه السلام. Maka istri Ismail عليه السلام (– yang baru – pent.) menjawab, “Ia sedang keluar mencari sesuatu untuk kami.”

Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya lagi, “Bagaimanakah kalian dan kehidupan kalian?”

Maka istri Ismail عليه السلام menjawab, “Alhamdulillah kami baik-baik saja dan dalam keadaan lapang.”

Dan ia pun memuji Allooh سبحانه وتعالى.

Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya, “Bagaimana makanan kalian?”
Istri Ismail عليه السلام menjawab, “Daging.”
Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya, “Apa minuman kalian?”

Istri Ismail عليه السلام menjawab, “Air.”

Maka Nabi Ibrohim عليه السلام berdoa, “Ya Allooh, berkahilah daging dan air mereka.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pada saat itu mereka tidak memiliki tepung. Seandainya Ibrohim عليه السلام berdoa agar mereka diberi tepung, niscaya Allooh سبحانه وتعالى akan mengabulkannya.”

Kemudian Ibrohim عليه السلام berkata kepada istri Ismail عليه السلام ini, “Jika suamimu pulang, sampaikan padanya salam dariku dan perintahkan padanya agar mengokohkan posisi pintu rumahnya.”

Ketika Ismail عليه السلام pulang ke rumahnya, kemudian ia bertanya pada istrinya, “Apakah ada seseorang yang datang pada kalian?”

Istrinya menjawab, “Ya. Telah datang pada kita seorang kakek, penampilannya baik.”

Dan istrinya pun memuji ayah Ismail عليه السلام.

Kemudian istri Ismail عليه السلام berkata, “Lalu ia menanyakan padaku tentang engkau. Maka aku beritakan padanya. Kemudian kakek itu bertanya padaku bagaimana kehidupan kita, maka aku pun beritakan padanya bahwa kita dalam keadaan baik.”
Ismail عليه السلام bertanya lagi, “Apakah dia berwasiat padamu sesuatu?”
Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkanku untuk menyampaikan salam darinya untukmu dan memerintahkan agar engkau ‘mengokohkan posisi pintu rumahmu’.”

Ismail عليه السلام berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah posisi pintu rumah. Dia memerintahkanku agar aku mempertahankanmu.”

Kemudian selang beberapa lama Ibrohim عليه السلام datang kembali untuk ketiga kalinya. Sedangkan Ismail عليه السلام sedang mempersiapkan tombaknya dibawah bukit, didekat Zam-Zam. Maka ketika melihatnya, Ismail عليه السلام pun menyambutnya. Maka mereka melakukan apa yang dilakukan seorang ayah terhadap anaknya dan melakukan apa yang dilakukan seorang anak terhadap ayahnya.

Kemudian Ibrohim عليه السلام berkata, “Wahai Ismail, sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى memerintahkanku dengan suatu perintah.”

Dan Ismail عليه السلام pun menjawab, “Lakukan apa yang Allooh سبحانه وتعالى perintahkan padamu.”

Ibrohim عليه السلام berkata, “Maukah engkau menolongku?”
Ismail عليه السلام menjawab, “Aku akan menolongmu.”

Ibrohim عليه السلام berkata, “Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى memerintahkanku untuk membangun disini rumah (Baitullooh), sembari menunjuk ke tempat yang tinggi (Ka’bah).”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pada saat itulah mereka berdua meninggikan pancangan-pancangan Baitullooh dimana Ismail عليه السلام membawa batu dan Ibrohim عليه السلام membangunnya sehingga bangunan pun menjadi tinggi. Dan kemudian datang dengan membawa batu ini serta meletakkannya dan kemudian berdiri diatasnya dan membangunnya. Sedangkan Ismail عليه السلام yang membawa batu. Kemudian keduanya berdoa, “Ya Allooh, Robb kami, terimalah ini dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Keduanya membangun hingga mengelilingi seputar Ka’bah, sembari keduanya berdoa, “Ya Allooh, Robb kami, terimalah ini dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR Imaam Al Bukhoory no: 3364)

Jadi kembali kepada bahasan kita semula, jelaslah bahwa Nabi Ismail عليه السلام itu lahir terlebih dahulu daripada Nabi Ishaq عليه السلام. Karena Sarah merasa iri dengan lahirnya seorang anak bagi Nabi Ibrohim عليه السلام dari Haajar, maka ia pun meminta Nabi Ibrohim عليه السلام untuk membawa Haajar yang telah memiliki anak yakni Nabi Ismail عليه السلام untuk pergi menjauh. Artinya, dikala itu Sarah belum memiliki anak.

Setelah ditinggal pergi jauh dengan membawa Haajar dan anaknya (Ismail عليه السلام) ke Mekkah, maka Nabi Ibrohim عليه السلام pun pulang kembali ke Palestina kepada Sarah, dan setelahnya Sarah pun dikaruniai seorang putera yang bernama Ishaq عليه السلام. Dengan demikian, jelaslah bahwa urutan yang terlebih dahulu lahir adalah Nabi Ismail عليه السلام, barulah kemudian Nabi Ishaq عليه السلام.

Namun, berita ini diputarbalikkan oleh kaum Yahudi dengan melakukan Tahriif (pemutarbalikan fakta) sehingga dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) mereka maka tidak disebutkan seperti diatas kejadiannya. Melainkan yang diunggulkan dalam Kitab itu adalah bahwa anak yang dilihat oleh Nabi Ibrohim عليه السلام dalam mimpinya untuk disembelih itu adalah Ishaq عليه السلام, dan bukannya Ismail عليه السلام. Padahal didalam Al Qur’an dijelaskan bahwa putera yang hendak disembelih oleh Nabi Ibrohim عليه السلام (atas perintah Allooh سبحانه وتعالى), sebagaimana dalam mimpinya itu, adalah Nabi Ismail عليه السلام.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Maryam (19) ayat 54 :

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً

Artinya:

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rosuul dan nabi.”

Kemudian dalam QS. Shood (38) ayat 48, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِّنْ الْأَخْيَارِ

Artinya:

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.”

Dan dalam QS. Al Anbiyaa (21) ayat 85, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

Artinya:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.”

Juga dalam QS. Al An’aam (6) ayat 86, dimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

Artinya:

“dan Ismail, Ilyasa`, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).”

Dari ayat-ayat diatas dijelaskan bahwa Nabi Ismail عليه السلام, Nabi Ilyasa عليه السلام, Nabi Yunus عليه السلام, Nabi Nuh عليه السلام, Nabi Idris عليه السلام, Nabi Dzulkifli عليه السلام dan Nabi Luth عليه السلام; mereka itu masing-masing memiliki keunggulan di alam semesta ini diantara ummat manusia karena mereka para nabi itu adalah orang-orang yang baik, tepat janji dan orang-orang yang sabar.

Berikutnya kita ketahui dari firman Allooh سبحانه وتعالى bahwa Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah menyeru kepada Islam; dan bukan menyeru agar menjadi Yahudi ataupun Nashroni.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 135-136 :

وَقَالُواْ كُونُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُواْ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٣٥﴾ قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ﴿١٣٦﴾

Artinya:

(135) Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nashroni, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrohim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrohim) dari golongan orang musyrik”.

(136) Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allooh dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrohim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Robb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Muslimun)“.

Jadi, semua nabi dan rosuul adalah Muslimun (Islam). Dan kita (Muslim) tidak membeda-bedakan diantara Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام karena mereka adalah dalam posisi yang sama yakni hanya berserah diri kepada Allooh سبحانه وتعالى dan hanya beriman kepada apa yang Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam ayat tersebut.

Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah meneruskan millah Ibrohim; dan mereka bukanlah menjadi Yahudi ataupun Nashroni !

Kemudian dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 140, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطَ كَانُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya:

“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nashroni) mengatakan bahwa Ibrohim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nashroni? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allooh, dan siapakah yang lebih dzolim daripada orang yang menyembunyikan syahadah* dari Allooh yang ada padanya?” Dan Allooh sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

*] Syahadah dari Allooh سبحانه وتعالى adalah persaksian Allooh سبحانه وتعالى yang tertera dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrohim عليه السلام dan anak cucunya bukanlah penganut agama Yahudi ataupun Nashroni dan bahwa Allooh سبحانه وتعالى akan mengutus Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى tahu benar bahwa mereka (Yahudi dan Nashroni) memalsukan ayat-ayat Taurat dan Injil, sehingga bahwa seolah-olah Nabi Ibrohim عليه السلام, Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah Yahudi atau Nashroni. Padahal yang benar adalah bahwa mereka (Ibrohim عليه السلام, Ismail عليه السلام, Ishaq عليه السلام) adalah Muslimun (Islam), satu millah, satu ajaran sebagaimana ajaran yang dibawakan oleh Nabi Ibrohim عليه السلام.

Juga dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 163, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrohim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, `Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa semua nabi-nabi yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan itu adalah diberi wahyu oleh Allooh سبحانه وتعالى, dan mereka semua berdakwah dengan dakwah yang satu yakni Dienul Islam; dan bukan Yahudi atau Nashroni.

Lalu didalam Al Qur’an, Allooh سبحانه وتعالى pun menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام dan puteranya bernama Ismail عليه السلام lah yang membangun (merenovasi) Ka’bah. Jadi jelaslah bahwa tidak ada dari Yahudi ataupun Nashroni yang membangun Ka’bah, karena Yahudi itu berasal dari putera Ishaq عليه السلام. Dan Ishaq عليه السلام bertempat tinggal di wilayah sekitar Palestina, sehingga para nabi-nabi yang merupakan anak keturunannya pun juga bertempat tinggal di sekitar wilayah Palestina. Sementara Nabi Isma’il عليه السلام lah yang bertempat tinggal di Mekkah yakni di Jazirah ‘Arob.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 125-129:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ﴿١٢٥﴾ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ ﴿١٢٦﴾ وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿١٢٧﴾ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴿١٢٨﴾ رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ ﴿١٢٩﴾

Artinya:

(125) Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullooh) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqom* Ibrohim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrohim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud“.

(126) Dan (ingatlah), ketika Ibrohim berdo`a: “Ya Robbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizqyi dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allooh dan hari kemudian.” Allooh berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

(127) Dan (ingatlah), ketika Ibrohim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullooh bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Robb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“.

(128) Ya Robb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

(129) Ya Robb kami, utuslah untuk mereka seorang Rosuul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

*] Maqom adalah tempat berdiri Nabi Ibrohim عليه السلام diwaktu membangun Ka’bah.

Dalam ayat 129 QS. Al Baqoroh diatas, jelaslah bahwa Allooh سبحانه وتعالى mengabulkan do’a Nabi Ibrohim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام yang memohon untuk didatangkan seorang Rosuul yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, dari kalangan mereka (bangsa ‘Arob, keturunan dari Ismail عليه السلام) yang kemudian akan membacakan ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى dan mengajarkan Al Qur’an, As Sunnah serta mensucikan mereka.

Adapun penjelasan Allooh سبحانه وتعالى di dalam Al Qur’an bahwa yang diperintahkan untuk disembelih (dikurbankan) oleh Nabi Ibrohim عليه السلام adalah puteranya yang bernama Ismail عليه السلام; dan bukannya Ishaq عليه السلام sebagaimana yang telah diputarbalikkan faktanya oleh kaum Yahudi dalam Kitab mereka; maka perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Ash Shoffaat (37) ayat 101-113 :

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاء الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١١٠﴾ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ ﴿١١١﴾ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيّاً مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿١١٢﴾ وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ مُبِينٌ ﴿١١٣﴾

Artinya:

(101) Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.*]

(102) Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrohim, Ibrohim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allooh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.

(103) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrohim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

(104) Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrohim,

(105) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”**], sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(106) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

(107) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

(108) Kami abadikan untuk Ibrohim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

(109) (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrohim”.

(110) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

(111) Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

(112) Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shoolih.

(113) Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang dzolim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

*] Yang dimaksud adalah Nabi Ismail عليه السلام.

**] Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi itu adalah mempercayai bahwa mimpi itu benar berasal dari Allooh سبحانه وتعالى dan wajib untuk melaksanakannya

***] Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrohim عليه السلام dan Ismail عليه السلام, maka Allooh pun melarang Ibrohim عليه السلام untuk menyembelih Ismail عليه السلام dan menyuruhnya untuk menggantinya denga berkurban seekor sembelihan (kambing). Peristiwan inilah yang menjadi dasar disyari’atkannya Ibadah Qurban untuk dilakukan pada Hari Raya Haji (Iedul Adha).

Sebagaimana didalam penjelasan Tafsir Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله, bahwa yang dimaksud sebagai anak yang sabar (halus) tersebut adalah Ismail عليه السلام, yang merupakan anak pertama yang diberikan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrohim عليه السلام sebagai kegembiraan baginya.

Terdapat secara redaksional dalam Kitab mereka bahwa Ismail عليه السلام adalah anak dari Nabi Ibrohim عليه السلام yang ketika itu umur Nabi Ibrohim عليه السلام adalah 86 tahun. Dan ketika Ishaq عليه السلام lahir, umur Nabi Ibrohim عليه السلام adalah 99 tahun. Jadi selisihnya adalah tidak kurang dari 15 tahun dimana Nabi Ismail عليه السلام adalah lebih tua daripada Nabi Ishaq عليه السلام.

Lalu sesuai dengan ayat 102 QS. Ash Shoffaat diatas, Qurban itu diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrohim عليه السلام untuk melakukan penyembelihan terhadap puteranya yang bernama Ismail عليه السلام, dan bukannya Ishaq عليه السلام. Kemudian setelah Nabi Ibrohim عليه السلام berhasil melalui ujian itu maka di ayat 112 QS. Ash Shoffaat diatas, barulah Allooh سبحانه وتعالى memberitakan tentang kelahiran Nabi Ishaq عليه السلام. Artinya, bahwa Nabi Ishaq عليه السلام adalah terlahir belakangan, sesudah Nabi Ismail عليه السلام. Sungguh berita ini sangatlah jelas!

Adapun adanya berita-berita syubhat yang dihembus-hembuskan oleh kaum Yahudi dalam Kitab Perjanjian Lama, bahwa yang diperintahkan untuk disembelih itu adalah Nabi Ishaq عليه السلام yang merupakan anak tunggal (satu-satunya) dari Nabi Ibrohim عليه السلام; maka ini adalah Tahriif (manipulasi fakta) yang terjadi akibat kedengkian, atau rasa hasad (iri) terhadap orang-orang Arab, yang merupakan keturunan dari Ismail عليه السلام.

Orang Arab mengatakan bahwa Mesir adalah Ummul ‘Arob, karena Haajar, ibu daripada Ismail عليه السلام adalah wanita yang berasal dari Mesir. Adapun Ismail عليه السلام menikah dengan wanita dari Bani Jurhum (orang Yaman); sehingga Ismail عليه السلام disebut sebagai Abul ‘Arob.

Demikianlah, oleh karena itu dapatlah kita ketahui asal-usul dari kebencian kaum Yahudi terhadap orang-orang Islam yang berlangsung terus sampai hari ini.

Bahkan bila anda membuka internet, dapat ditemukan Website atau Blog “Anti Arabisasi”, yang isinya adalah menyiarkan paham Pluralisme. Syubhat-syubhat itulah yang mereka katakan dalam Kitab-Kitab mereka (Yahudi ataupun Nashroni), karena kedengkian mereka terhadap Nabi Ismail عليه السلام dan keturunannya orang-orang ‘Arob yang daripadanya muncul Nabi Penutup yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم serta terhadap orang-orang Islam; sehingga mereka pun bertekad untuk berpisah dari ajaran Nabi Ibrohim عليه السلام yang sejak semula senantiasa menyerukan Islam kepada ummat manusia.

Dari sinilah sesungguhnya Yahudi itu mulai menjauh dari kebenaran dan mulai berani untuk memalsukan dan mengubah-ubah Kitab mereka ataupun memutar balikkan fakta-fakta. Jadi asal muasal Yahudi itu terlahir antara lain atas dasar kedengkian (hasad), sehingga mereka pun mengubah-ubah Kitab mereka sesuai selera mereka, serta melakukan manipulasi dan penggelapan demi penggelapan sejarah. Hal ini akan terus berlangsung dalam berbagai tahapannya. Perjuangan dan kiprah kaum Yahudi akan nampak jelas dalam perkara ini. Bukan saja sekedar “gen”-nya Yahudi, namun memang segala upaya Yahudi tidaklah terlepas dari bibit karakter yang demikian. Benarlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam ayat 113 QS. Ash Shoffaat diatas, bahwa diantara anak cucu keturunan Nabi Ishaq عليه السلام ada yang berbuat kedzoliman dengan kedzoliman yang nyata.

Selanjutnya didalam sejarah, Nabi Ishaq عليه السلام memiliki putera yang bernama Ya’qub عليه السلام. Dalam QS. Huud (11) ayat 71, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

وَامْرَأَتُهُ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاء إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

Artinya:

“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya`qub.”

Kemudian dari Nabi Ya’qub عليه السلام akan terlahir keturunannya yang bernama Yusuf عليه السلام, sebagaimana difirmankan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Yusuf (12) ayat 4-6:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ ﴿٤﴾ قَالَ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْداً إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٥﴾ وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿٦﴾

Artinya:

(4) (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku*], sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

(5) Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaithoon itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

(6) Dan demikianlah Robb-mu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta`bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni`mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya`qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni`mat-Nya kepada dua orang bapakmu**] sebelum itu, (yaitu) Ibrohim dan Ishaq. Sesungguhnya Robb-mu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

*] Bapak Yusuf عليه السلام adalah Ya’qub عليه السلام, putera dari Ishaq عليه السلام, dimana Ishaq عليه السلام adalah putera dari Ibrohim عليه السلام.

**] Yang dimaksud dengan “dua orang bapak” disini, adalah kakek dan ayah dari kakek.

Perhatikanlah betapa terhadap Yusuf عليه السلام pun Yahudi hendak berbuat makar yang diakibatkan oleh rasa dengki (hasad) mereka.

Demikianlah, tentang Nabi Ya’qub عليه السلام dan Nabi Yusuf عليه السلام; kemudian Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Harun عليه السلام; dan berikutnya adalah Nabi Sulaiman عليه السلام dan Nabi Daawud عليه السلام akan kita bahas lebih lanjut dalam kajian-kajian mendatang; agar lebih jelas bagaimana kaitannya dengan Bani Isroil, Fir’aun dan berbagai kerusakan yang terjadi hingga zaman kita sekarang ini. Pada intinya, makar-makar Yahudi yang merupakan karakter mereka akan senantiasa terlihat dalam berbagai tahapannya. Dan hendaknya kita sebagai kaum Muslimin mewaspadai hal ini, agar janganlah kita menjadi korban mereka; karena kaum Yahudi telah berketetapan bahwa selain Yahudi akan dijadikan sebagai korban oleh mereka.

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

Dalam kisah perjalanan Nabi Ibrohim عليه السلام dan Nabi Luth عليه السلام ke Mesir, beliau singgah di suatu tempat dimana kaum Sabi’in hidup. Mohon dijelaskan bagaimana tentang ‘Aqidah kaum Sabi’in tersebut. Dan bagaimanakah dakwah Nabi Luth عليه السلام?

Jawaban:

Tentang kaum Sabi’in atau Saba’iyyah yang ada di Mesir, erat kaitannya dengan ‘aqidah yang memanjang dan mata-rantainya tidak terputus dengan Yahudi hari ini, yaitu penyembah berhala. Misalnya piramida-piramida di Mesir adalah bagian kisah yang tidak terpisahkan dengan kaum Sabi’in ini. Insya Allooh nanti dalam kajian-kajian berikutnya akan kita amati dan kita bahas bahwa semua yang berkaitan dengan segitiga 60 derajat (logo segitiga piramid bersudut 60 derajat) adalah perpanjangan dari misi dan ideologi Yahudi, yang sebenarnya hal ini tidak boleh ada dalam jiwa kaum Muslimin. Bahkan kalau kita cermati di internet, maka kode internet adalah selalu diawali dengan WWW.

Kalau kita rangkaikan ketiga huruf “W” tersebut, maka akan membentuk enam bintang yang merupakan simbol dari Bintang David (Bintang Daud) yang merupakan simbol dari bendera Yahudi (Israel). Seolah kalau kita memasuki internet maka kita sudah masuk kedalam dunia Yahudi.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Jakarta, Senin malam, 20 Dzulqo’dah 1432 H - 17 Oktober 2011
http://ustadzrofii.wordpress.com

Wednesday, November 2, 2011

Yahudi dan Percaturan Dunia


Oleh: Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.Mpd.

بسم الله الرحمن الرحيم

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Dalam pertemuan kali ini, kita mencoba untuk memaparkan perkara yang termasuk penting bagi penyadaran ummat ini, berkenaan dengan apa yang menjadi musuh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم; supaya kita bisa menjaga diri dan berhati-hati, dan pada akhirnya adalah agar kita selamat. Karena kaum Muslimin terkadang lalai (lengah), seperti mereka itu tidak merasakan sesuatu, padahal bisa jadi mereka telah menjadi korban, yang dapat membahayakan dirinya di dunia dan di Hari Akhir. Oleh karena itu, hendaknya kita waspada. Satu sama lain saling mengingatkan dan saling bergandeng-tangan menuju cinta dan ridho Allooh سبحانه وتعالى.

Dengan demikian, judul bahasan kali ini adalah “Yahudi dan Percaturan Dunia”. Namun demikian, judul ini insya Allooh tidak akan keluar dari koridor Syar’ie, dan bukanlah sekedar berupa wawasan saja.

Seperti halnya orang yang bermain catur, maka dalam permainan itu ada maju, mundur, langkah ke samping kiri atau ke samping kanan. Ada yang menjadi raja, ada yang menjadi tentara (pion), ada yang menjadi benteng, ada perdana mentri-nya dan seterusnya. Dan kenyataan yang ada di dunia ini adalah kita (kaum Muslimin) dipermainkan antara lain oleh Yahudi. Kita mendengar berita setiap hari, khususnya orang-orang Palestina dimana negara mereka dicaplok oleh Zionis Israel. Dan dimana orang-orang Palestina setiap saat, mulai dari bayi-bayi, remaja, laki-laki ataupun perempuan, dewasa ataupun orang-orang lanjut usia, setiap hari mereka menjerit. Hanya saja kita tidak mendengar. Bahkan darah mereka tertumpah semau Zionis Israel. Itu terjadi setiap hari, dan setiap hari berjatuhan korban.

Saat ini kita mengatakan “Itu kan terjadi di sana (Palestina)”, tetapi wahai kaum Muslimin, tidak sedikit dari kalangan kita yang mengatakan bahwa “Bisa saja kejadian seperti mereka itu akan terjadi di negeri kita Indonesia; atau sedang dalam proses menuju ke negeri kita”. Mengapa kita tidak berwaspada?

Sudah disebutkan dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh (2) ayat 120 dan 217. Bila kita pahami ayat-ayat tersebut, maka kita akan tahu berita dari Allooh سبحانه وتعالى kepada kita tentang perilaku Yahudi itu.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 120 berikut ini:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Artinya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allooh itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allooh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Jadi yang menjadi target mereka adalah: Bagaimana kita mengikuti (mengekor) mereka. Kalaupun kita tidak pindah ke agama mereka, tetapi yang penting adalah agar kita mengikuti mereka. Dalam ayat tersebut ada ancaman Allooh سبحانه وتعالى, bahwa siapa yang tetap mengikuti hawa nafsu mereka (Yahudi dan Nashroni), maka ia tidak berhak mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allooh سبحانه وتعالى.

Itulah berita dari Allooh سبحانه وتعالى, dan ayat tersebut sering diulang-ulang dalam Al Qur’an. Tetapi bukan seringnya diulang, melainkan marilah kita aplikasikan apa bentuk konkritnya dari kita mengerti dan memahami seringnya diulang ayat tersebut. Bukan saja sekedar kuantitas, tetapi juga secara kualitas.

Kemudian perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 217 berikut ini:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Harom. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allooh, kafir kepada Allooh, (menghalangi masuk) Masjidi Harom dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allooh. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Itulah Yahudi dan Nashroni, mereka tidak pernah akan berhenti sampai Hari Kiamat, selama hayat masih dikandung badan, maka mereka tidak pernah berhenti memerangi kita ummat Islam. Dan barang siapa yang murtad karena pengaruh mereka, maka gugurlah amalannya di dunia dan di Hari Akhirat nanti, serta akan menjadi penghuni neraka selamanya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Hendaknya kita punya rasa takut dengan ancaman Allooh سبحانه وتعالى tersebut. Ayat itu memberikan pemahaman kepada kita (ummat Islam) bahwa kita ini semestinya dan harusnya sadar bahwa di sekeliling kita ini banyak tantangan. Jangan terlena, karena target mereka (Yahudi dan Nashroni) itu adalah agar : Ummat Islam musnah atau menjadi kaafir !

Untuk istiqomah tidaklah mudah, maka dipilihnya tema kajian ini adalah karena adanya 3 alasan yang menjadi latar belakang, yakni:

1. Agar kita (Ummat Islam) berhati-hati dan waspada. Yang kewaspadaan itu telah disinyalir oleh Allooh سبحانه وتعالى (seperti dalam surat Al Baqoroh (2) ayat 120 di atas), berkenaan dengan Yahudi dan Nashroni.

2. Kita harus selalu ingat (sadar) bahwa mereka (Yahudi dan Nashroni) selalu mengintai kita. Sehingga membahas tentang masalah ini adalah merupakan upaya agar kita bisa istiqomah.

Di dalam do’a yang diriwayatkan oleh Imaam At Turmudzy dalam Sunan-nya no: 2140 dan dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, beliau berkata bahwa adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memperbanyak do’a berikut ini:

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

“Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘alaa diinik”

(Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkan dan tetapkanlah hatiku diatas dien-Mu),

Maka, cara agar kita teguh adalah dengan selalu ingat, sadar dan waspada bahwa mereka (Yahudi dan Nashroni) selalu mengintai kita.

3. Upaya mengetahui kejelekan (kejahatan) Yahudi ataupun Nashroni ini, adalah agar kita bisa menyikapinya. Hendaknya kita mengambil pelajaran dari perkataan Shohabat Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه dalam suatu Hadits yang panjang, sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 3606 berikut ini:

عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Artinya:

Dari Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه berkata, “ Orang-orang bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang kejahatan, karena takut hal itu menimpaku.”

Maka aku katakan, “Wahai Rosuulullooh, sesungguhnya dulu kita berada dalam kejahiliyahan (kebodohan) dan kejahatan, lalu Allooh datangkan pada kami kebaikan (–Islam –pent) ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan?”

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”
Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan itu akan muncul lagi kebaikan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Tetapi di dalamnya terdapat noda.”
Aku bertanya lagi, “Noda apakah itu?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Yaitu suatu kaum yang berpedoman bukan dengan pedomanku. Kamu tahu dari mereka dan kamu ingkari.”

Aku bertanya lagi, “Lalu apakah setelah kebaikan itu akan muncul lagi kejahatan?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Yaitu para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya pada jahannam itu.”

Aku bertanya lagi, “Wahai Rosuulullooh, gambarkanlah kepada kami tentang mereka.”
Lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka adalah dari kalangan kita. Berkata dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Apa yang kau perintahkan padaku, jika hal itu menimpaku?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Berpegang teguhlah dengan jama’ah muslimin, dan Imaam mereka (– kelompok yang berpegang teguh dengan Al Haq – pent).”
Aku bertanya, “Jika mereka tidak punya jama’ah dan tidak punya Imaam?”
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati, sedangkan kamu berada dalam keadaan demikian.”

Oleh karena itu, upaya kita mempelajari tentang kejahatan Yahudi ataupun Nashroni, dimana mereka itu berperan dalam percaturan dunia di zaman sekarang ini adalah agar kita berhati-hati. Jangan-jangan bidikan mereka itu ditujukan kepada kaum Muslimin, antara lain kita kaum Muslimin di Indonesia ini. Jangan sampai kita lengah dan menjadi sasaran mereka.

Sebagai Muqoddimah, dengan ini disampaikan bahwa:

1. Pemilihan itu adalah Hak Allooh سبحانه وتعالى.

Siapa yang dipilih menjadi Rosuul atau tidak menjadi Rosuul, itu adalah Hak Allooh سبحانه وتعالى. Kenapa Muhammad صلى الله عليه وسلم yang dipilih menjadi Rosuul terakhir, dan bukan dari kalangan Bani Isro’il, itu adalah Hak Prerogatif Allooh سبحانه وتعالى. Bukan kehendak manusia dan bukan hak manusia !

Sementara itu, Yahudi sangatlah dengki (iri) terhadap hal ini, sehingga bahkan di Internet ada program Anti Arabisasi.

Padahal semua orang tahu bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah orang Arab (suku Quraisy) dan Al Qur’an adalah berbahasa Arab. Demikian pula, penjelasan tentang Al Qur’an dan As Sunnah pun adalah dengan berbahasa Arab.

Sehingga ketika dikatakan “Arab”, maka yang dimaksud adalah Islam. Dan program Anti Arabisasi itu yang dimaksud adalah program Anti Islam. Oleh karena itu, hendaknya kita mulai sadar akan hal ini, jangan mudah termakan oleh propaganda musuh-musuh Allooh سبحانه وتعالى.

Dalil bahwa Pemilihan Rosuul itu adalah Hak Allooh سبحانه وتعالى, adalah sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Hajj (22) ayat 75 :

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Artinya:

“Allooh memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allooh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Jadi, Rosuul adalah dipilih oleh Allooh سبحانه وتعالى. Lalu kita mengetahui tentang adanya Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Malakul-maut, Munkar-Nakir; maka itu semua adalah Allooh سبحانه وتعالى yang memilihnya. Kita tidak boleh membantah.

Selanjutnya dari kalangan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى itu memilih Nabi Adam عليه السلام untuk menjadi manusia yang pertama. Lalu nabi-nabi dan rosuul dipilih dari kalangan Bani Isro’il ataupun dari kalangan Arab; maka itu semua adalah karena Allooh سبحانه وتعالى yang memilihnya.

Tentang ayat tersebut di atas (Surat Al Hajj (22) ayat 75), maka para ‘Ulama Ahlus Sunnah menjelaskannya sebagai berikut:

Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله mengatakan bahwa : “Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Allooh سبحانه وتعالى memilih dari kalangan malaikat, utusan-utusan, sesuai dengan apa yang Allooh سبحانه وتعالى kehendaki. Dan kehendak itu adalah sesuai dengan kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى. Juga dari kalangan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى memilih untuk menyampaikan risalah-Nya.

‘Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى Maha Mendengar dan Maha Melihat’, maksudnya adalah bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Mendengar atas perkataan hamba-Nya. Maha Melihat terhadap mereka, dan Maha Mengetahui siapa yang berhak untuk dipilih-Nya dari kalangan mereka. Dan Allooh سبحانه وتعالى Maha Mengetahui siapa yang berhak menjadi Rosuul atau pemegang risalah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al An‘aam (6) ayat 124.”

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An’aam (6) ayat 124 tersebut:

وَإِذَا جَاءتْهُمْ آيَةٌ قَالُواْ لَن نُّؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللّهِ اللّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُواْ صَغَارٌ عِندَ اللّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُواْ يَمْكُرُونَ

Artinya:

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allooh“. Allooh lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerosuulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allooh dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.”

Kemudian, Al Imaam Al Baghowy رحمه الله mengatakan bahwa: “Allooh سبحانه وتعالى memilih utusan-utusan-Nya dari Malaikat. Dan dari kalangan manusia, Allooh سبحانه وتعالى memilih para Nabi dan Rosuul, misalnya: Nabi Ibrahim عليه السلام, Nabi Musa عليه السلام, Nabi ‘Isa عليه السلام dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para nabi lainnya, yang Allooh سبحانه وتعالى turunkan kepada mereka; dan itu adalah ditengah-tengah orang-orang musyrikin. Maka Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa pemilihan itu adalah atas kehendak-Nya terhadap makhluk-Nya. Dan Allooh سبحانه وتعالى Maha Mendengar perkataan mereka dan Mengetahui apa yang Allooh سبحانه وتعالى pilih dari Rosuul-Nya.”

Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله mengatakan bahwa: “Ketika Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan kesempurnaan-Nya dan lemahnya berhala, dan bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allooh سبحانه وتعالى; maka berikutnya Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan keadaan Rosuul dan perbedaan para Rosuul itu dengan makhluk lainnya. Yang membedakan mereka para Rosuul itu adalah keutamaan mereka.

Allooh سبحانه وتعالى memilih diantara Malaikat dan manusia sebagai utusan-utusan, agar mereka menjadi yang terbersih diantara manusia dan diantara malaikat. Termasuk bahwa mereka itu adalah yang mengandung sifat-sifat yang sangat terpuji dan berhak untuk dijadikan pilihan Allooh سبحانه وتعالى. Maka para Rosuul itu tidak bisa menjadi Rosuul, kecuali karena mereka itu menjadi makhluk pilihan Allooh سبحانه وتعالى secara mutlak.”

Dalam Surat Al Qoshosh (28) ayat 68, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya:

“Dan Robb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka*. Maha Suci Allooh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).”

*] Bila Allooh سبحانه وتعالى telah menentukan sesuatu, maka manusia tidak dapat memilih yang lain lagi dan harus mentaati dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allooh سبحانه وتعالى.

Selanjutnya, nanti akan kita lihat bahwa mereka (Yahudi) itu, bukan saja mengatur manusia, tetapi bahkan para Nabi dan Rosuul-pun hendak mereka atur. Bahkan Allooh سبحانه وتعالى pun hendak diperintah oleh mereka. Maka ummat yang congkak adalah Yahudi, sebagaimana hal ini telah diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى, yang dalil-dalilnya insya Allooh akan kita bahas berikutnya.

Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله mengatakan bahwa : “Merupakan kehendak Allooh سبحانه وتعالى lah misalnya bahwa Allooh سبحانه وتعالى memilih makhluk-Nya di darat. Kenapa si Fulan dipilih atau tidak dipilih. Perkara tertentu, waktu dan tempat tertentu; semuanya itu adalah Hak Prerogatif Allooh سبحانه وتعالى.”

Dalam kajian kita tahun yang lalu, pernah kita bahas sedikit tentang Yahudi dan bagaimana menyikapinya. Namun kali ini, coba kita pertajam bahasan kita, termasuk antara lain yang hendaknya kita sadari adalah bahwa Handphone (HP) kita bisa menjadi “panah” (sarana) bagi kaum Yahudi untuk menjauhkan kaum Muslimin dari Allooh سبحانه وتعالى. Bahkan permainan anak-anak kita yang “kecanduan” dengan teknologi – dan hampir kita semua yang punya anak bisa merasakan hal ini – maka hendaknya kita waspada. Bayangkan saja, hampir semua anak sekarang punya HP. Bila seorang anak diberi HP yang sedikit canggih, maka anak itu akan bisa chatting, SMS, atau internet-an atau facebook-an kemana-mana; dimana hal tersebut merupakan sarana yang sangat empuk untuk berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى, sementara basic (modal) aqidah dan dien anak-anak itu sangat-sangat lemah. Lalu menghadapi sekian banyak tantangan (ma’shiyat zina, musik dsbnya), maka jangankan si anak, bahkan orangtuanya pun ikut terjerumus. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

2. Pokok-Pokok Kerusakan Bersumber dari Yahudi

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 109 ini:

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allooh mendatangkan perintah-Nya*. Sesungguhnya Allooh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

*] Maksudnya: Izin dari Allooh سبحانه وتعالى untuk memerangi dan mengusir orang Yahudi

Jadi, kebanyakan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashroni) sangat senang (suka) seandainya hari ini atau besok atau lusa mereka dapat memurtadkan kaum Muslimin, setelah kaum Muslimin itu beriman maka kembali menjadi kafir.

Mengapa? Hal ini adalah karena kedengkian dan rasa iri dalam jiwa mereka (Yahudi dan Nashroni) setelah jelas pada mereka itu “Kebenaran”. Yang dimaksud “Kebenaran” disini adalah diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Padahal tentang hal ini telah ada dalam Kitab Taurat dan Injil mereka. Jadi tentang Al Islam telah diberitakan dalam Kitab Taurat dan Injil.

Mereka, Yahudi dan Nashroni sangat mengenal Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, seolah-olah seperti mereka mengenal anak mereka sendiri. Hal ini telah diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an, yakni dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 146 berikut ini:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”

Jadi mereka (Yahudi dan Nashroni) itu sangat tahu siapa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan apa itu Islam. Tetapi ternyata setelah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم muncul, mereka malah tidak mau meyakininya.

Pertama, karena hati mereka (Yahudi dan Nashroni) diliputi oleh rasa iri dan dengki. Atas rasa iri dan dengki itu mereka lalu menyatakan : “Mengapa Nabi Muhammad berasal dari orang Arab? Mengapa tidak dari kalangan Bani Isro’il?”

“Bukankah selama ini yang menjadi Nabi selalu berasal dari kalangan Bani Isro’il?”

Hal itulah yang menyebabkan mereka hasad (dengki dan iri).

Oleh karena itu, hendaknya kita kaum Muslimin jangan sampai punya jiwa hasad (dengki), karena hasad adalah penyakit orang Yahudi.

Kedua, karena mereka (Yahudi) mengikuti hawa nafsu. Banyaknya kerusakan di muka bumi ini adalah karena mereka mengikuti hawa nafsu.

Seperti disebutkan dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 120 diatas: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan (hawa nafsu) mereka.”, berarti mereka (Yahudi) tidak berpegang teguh pada Taurat, tetapi pada hawa nafsunya. Sebab jikalau mereka berpegang teguh pada Wahyu (Kitab Taurat), maka mereka adalah sama dengan kita (kaum Muslimin) karena sesungguhnya adalah bersaudara; yaitu pada masa Nabi ‘Isa عليه السلام mereka (Yahudi) semestinya menjadi Nashroni dan lalu pada masa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, mereka seharusnya menjadi Islam. Kalau memang mereka itu mau mengikuti kebenaran.

Tetapi karena mereka (Yahudi) mengikuti hawa nafsu, maka kedengkianlah yang terjadi. Juga pembangkangan dan permusuhan pun terjadi. Pada akhirnya darah pun tertumpah dimana-mana akibat hal tersebut.

Ketiga, karena Tahriif. Orang Yahudi dan Nashroni suka men-Tahriif, yaitu mengubah, menganulir ayat-ayat dari Kitab mereka yakni Taurat dan Injil, agar sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka.

Hal ini adalah sebagaimana disebutkan didalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 46, dimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيّاً بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْناً فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانظُرْنَا لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِن لَّعَنَهُمُ اللّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُونَ إِلاَّ قَلِيلاً

Artinya:

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya*. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya**. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa***. Dan (mereka mengatakan): “Raa`ina”****, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allooh mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.”

*] Maksudnya: Mengubah arti kata-kata, tempat ataupun menambah dan mengurangi.

**] Maksudnya: Mereka mengatakan “Kami mendengar”, tetapi sesungguhnya hati mereka mengatakan “Kami tidak mau menuruti.”

***] Maksudnya: Mereka mengatakan “Dengarlah”, tetapi sesungguhnya hati mereka mengatakan “Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarkan (tuli).”

****] “Raa’ina” berarti: “Sudilah kiranya kamu memperhatikan kami”. Dikala para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menghadapkan kata ini kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka orang Yahudi pun memakai kata ini dengan digumamkan seakan-akan menyebut kata “Raa’ina”, padahal yang mereka katakan saat itu adalah “Ru’uunah” yang berarti “Kebodohan yang sangat”, sebagai ejekan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Itulah sebabnya Allooh سبحانه وتعالى menyuruh supaya Shohabat-Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menukar perkataan “Raa’ina” dengan “Unzhurna” yang artinya adalah sama dengan “Raa’ina” tersebut.

Jadi, firman Allooh سبحانه وتعالى ditukar-tukar oleh Yahudi. Sebagai contohnya, terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat), bahwa Nabi Ya’qub عليه السلام menurut mereka (Yahudi) adalah tukang tipu (penipu), karena berusaha merebut warisan dari Nabi Ishaq عليه السلام, dan seterusnya. Bayangkan, Nabi Ya’qub عليه السلام, hamba Allooh سبحانه وتعالى yang shoolih dituduh dengan cara yang keji seperti itu oleh Yahudi.

Belum lagi tuduhan yang keji dari Yahudi terhadap para Nabi, hamba Alloh سبحانه وتعالى yang shoolih, seperti Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام, yang disebutkan oleh mereka (Yahudi) sebagai tukang sihir.

Itulah yang disebut men-Tahriif (mengubah, mengganti dan menukar). Apa yang benar menjadi tidak benar dan menjadi rusak.

Selanjutnya, Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله mengatakan: “Siapakah Yahudi itu? Yahudi adalah para ‘Ulama yang sesat dari kalangan mereka; dimana mereka itu bisa mengubah lafadz ayat Kitabnya dan mengubah maknanya, atau bahkan mengubah kedua-duanya.”

Hal ini dikarenakan mereka (Yahudi) adalah tukang makar (tukang tipu), sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 54:

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Artinya:

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allooh membalas tipu daya mereka itu. Dan Allooh sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Haruslah dipahami bahwa makar Allooh سبحانه وتعالى itu bukan berarti bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu jahat. Tetapi untuk menghadapi suatu kejahatan, maka Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Mampu dan Maha Bisa mengalahkan kejahatan tersebut. Dan itu justru menunjukkan keperkasaan Allooh سبحانه وتعالى. Jadi walaupun orang-orang kafir (Yahudi maupun Nashroni) bermakar (menipu) untuk memalingkan manusia dari Kebenaran, namun Allooh سبحانه وتعالى Maha Perkasa untuk mengatasi makar-makar mereka.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. At Taubah (9) ayat 32:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Artinya:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (dien) Allooh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allooh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”

Sesudah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم meninggal, maka yang tertinggal adalah Islam-nya. Dan supaya Islam menjadi padam, maka yang dirusak oleh mereka (Yahudi maupun Nashroni) adalah para pengikut Islamnya (yakni ummat Islam). Karena yang membawa mata rantai Islam sampai hari Kiamat adalah ummat Islam. Oleh karena itu, mereka (Yahudi maupun Nashroni) selalu berusaha menghancurkan ummat Islam, sehingga dengan demikian akan musnahlah Islamnya.

QS. At Taubah (9) ayat 32 tersebut merupakan strategi dari musuh-musuh Allooh سبحانه وتعالى yang sudah diberitakan dan diaba-abakan oleh Allooh سبحانه وتعالى, yakni upaya mereka (Yahudi maupun Nashroni) untuk menjauhkan kaum Muslimin dari Islam. Buatlah orang Islam membenci Islam; maka dengan demikian Cahaya Allooh سبحانه وتعالى akan padam. Maka hendaknya kita kaum Muslimin waspada.

Keempat, mereka (Yahudi) adalah sumber kerusakan, karena memang sudah diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى bahwa mereka itu perusak.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Isroo’ (17) ayat 4 :

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوّاً كَبِيراً

Artinya:

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Isroil dalam kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar’.”

Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله menjelaskan tentang ayat diatas bahwa : “Allooh سبحانه وتعالى sudah memberitahukan kepada mereka dalam Kitab mereka, bahwa pasti terjadi dari mereka (Yahudi) itu melakukan kerusakan dua kali, yakni dengan ma’shiyat dan dengan kesombongan. Yaitu sombong terhadap nikmat Allooh سبحانه وتعالى, dengan mereka merasa sebagai makhluk paling tinggi di muka bumi ini.”

Demikianlah, jadi Allooh سبحانه وتعالى telah memberitahu kepada kita kaum Muslimin bahwa orang-orang Yahudi itu akan membuat kerusakan di muka bumi. Maka wahai kaum Muslimin, janganlah kalian lengah dan lalai terhadap hal ini dan jangan mudah termakan oleh propaganda musuh-musuh Allooh سبحانه وتعالى.

Dewasa ini, telah terdapat data-data bahwa Yahudi memprediksikan tahun 2012 ini akan terjadi huru-hara. Mereka telah memiliki rencana (skenario) bahwa manusia akan dimusnahkan, dan tinggallah mereka saja yang ada di muka bumi ini. Sehingga dari penduduk bumi yang kira-kira berjumlah 6-7 milyar orang, akan tersisa sekitar 500 juta orang saja dari kalangan mereka (sebagaimana hal ini tertera dalam Monumen Georgia Stone).

Monumen Georgia Stone tersebut berisi 10 aturan dalam “New World Order”. Dalam baris pertama yakni: “1. Maintain humanity under 500,000,000 in perpetual balance with nature.” yang artinya 93% ras manusia harus dimusnahkan !



Bahkan mereka (orang-orang Yahudi itu) telah mempersiapkan bangunan kokoh sebagai tempat persembunyian mereka di bawah tanah untuk bertahan selama 60 bulan (sekitar 5 tahun) persediaan makanan, pada saat huru-hara tersebut terjadi.

Kalau misalnya saja sampai hal itu terjadi, maka itulah bukti bahwa Allooh سبحانه وتعالى Maha Benar yang telah memperingatkan kita kaum Muslimin, bahwa pekerjaan Yahudi itu adalah merusak diatas muka bumi. Hanya saja kebanyakan kita kaum Muslimin tidak (belum) sadar, serta tidak waspada. Oleh karena itu segeralah kita bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى, karena tidak bersegera untuk istiqomah (lurus) di jalan Allooh سبحانه وتعالى. Padahal kalau terjadi pembangkangan, terjadi kemunkaran, semestinya kita kaum Muslimin harus tetap istiqomah di jalan Allooh سبحانه وتعالى, sehingga mudah-mudahan kelak kita mati dalam keadaan yang husnul khootimah.

Orang-orang Yahudi itu juga sedemikian radikalnya, sehingga nabi-nabi mereka sendiri pun, mereka bunuh. Bayangkan, nabi-nabi mereka bunuhi. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang memberitakan tentang pembunuhan para Nabi oleh orang-orang Yahudi, antara lain adalah sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 61:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْاْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

Artinya:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Robb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allooh. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allooh dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”

Terlihat dengan jelas bagaimana perilaku orang-orang Yahudi tersebut terhadap Nabi mereka. Mereka (Yahudi) bahkan berani-beraninya “menyuruh” Nabi Musa عليه السلام. Padahal seharusnyalah kalau mereka itu orang yang beradab, tentunya tidaklah layak menyuruh kepada Nabi-nya; tetapi seharusnyalah mereka mengatakan: “Mari kita bersama-sama memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى”, dan seterusnya. Jadi bukan dengan menyuruh kepada Nabi Musa عليه السلام, sebagaimana yang mereka lakukan.

Dalam ayat tersebut diberitakan bahwa mereka (Yahudi) itu dijadikan nista dan hina oleh Allooh سبحانه وتعالى, serta kemurkaan Allooh سبحانه وتعالى tertimpa atas mereka; itu adalah karena mereka (Yahudi) kafir, selalu mengingkari ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى, dan membunuh nabi-nabi mereka, serta berma’shiyat yang melampaui batas.

Selanjutnya dalam kesempatan lain, insya Allooh akan kami sampaikan tentang perkara Kitab Talmud, yakni kitab yang mereka bikin atau karang sendiri, yang isinya sangatlah keji. Sejak tahun 1965 Kitab Talmud yang terdiri tidak kurang dari 24 jilid tersebut diterjemahkan dan barulah selesai penterjemahannya kedalam bahasa Ibrani, bahasa Inggris, lalu kedalam bahasa Indonesia beberapa tahun terakhir ini.

Maka perlu kaum Muslimin sadari, bahwa apabila tabiat Yahudi adalah seperti yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan, dan kalau Kitab karangan mereka sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, maka tentu “virus” kerusakannya pun juga akan menyebar. Dan itu akan menjadi bahaya bagi kita kaum Muslimin.

Dengan demikian, sudah semestinya kita kaum Muslimin memiliki sikap, sekalipun huru-hara yang mereka rencanakan itu belum terjadi, namun seharusnya kita sudah mulai berfikir. Karena orang-orang Yahudi secara rahasia, sejak abad ke-18 (tahun 1700-an), sudah menjalankan rapat-rapat rahasia yang dihadiri oleh berbagai negara, dimana mereka bersepakat untuk menghancurkan dunia. Maka hendaknya kita harus waspada, karena bisa saja kita menjadi korbannya, tanpa kita sadari.

Sekian bahasan kita kali ini sebagai Muqoddimah, mudah-mudahan pada kesempatan yang akan datang, insya Allooh akan kita bahas tentang Silsilah dari mulai Nabi Ibrohim عليه السلام sampai kepada Nabi Sulaiman عليه السلام dan Nabi Daawud عليه السلام. Karena sejak dari situlah ternyata Yahudi ber-makar dengan berbagai caranya di dunia ini.

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

Sebagai saran saja, bahwa dari analisa sosial yang ada dalam masyarakat Islam sekarang di Indonesia, maka ketidak pedulian atau sangat sedikitnya kewaspadaan mereka kaum Muslimin terhadap ancaman Yahudi seperti disebutkan diatas, barangkali disebabkan antara lain :

1. Pemahaman atas surat Al Faatihah (1) ayat 7, terutama kalimat Maghdhuubi (المَغضُوبِ) dan Adh Dhoolin (الضَّالِّينَ) adalah kurang dipahami oleh kaum Muslimin, terutama di Indonesia.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Artinya:

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

2. Sejarah keberagamaan sejak Nabi Adam عليه السلام sampai sekarang tidak tuntas disampaikan.

3. Maka bila pada pertemuan yang akan datang, insya Allooh akan dipaparkan bagaimana kondisi beragama dari zaman Nabi Ibrohim عليه السلام sampai periode Nabi Musa عليه السلام, lalu sampai kepada periode Nabi ‘Isa عليه السلام, dan pada akhirnya sampai kepada periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم; maka kami akan sangat berterima kasih.

4. Dan juga pasca periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, kita hanya mempelajari Islam sejak periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sampai sekarang saja. Sementara, bagaimana perkembangan Yahudi, bagaimana peran Samiri, bagaimana pengubahan Kitab Taurat menjadi beberapa kitab di kalangan Yahudi maka hal itu tidak pernah kita pelajari atau tidak pernah disampaikan oleh para Ustadz.

5. Rupanya ada semacam ke-tabu-an di kalangan para penceramah (Ustadz) untuk menyampaikan ke-Tauhid-an Nabi Musa عليه السلام, Nabi Daawud عليه السلام, Nabi Sulaiman عليه السلام serta Nabi ‘Isa عليه السلام; yang sampai sekarang masih tersurat di Kitab Injil.

Itulah kiranya yang perlu kita dalami, dan kami sangat berharap, karena hal tersebut sangatlah mendasar, sehingga kita kaum Muslimin menjadi tahu (paham) bahwa apa yang dijelaskan diatas, ketika ada Konsili terakhir Yahudi di tahun 1935, Samuel Pieter salah seorang dedengkot Yahudi dari Jerman mengatakan: “Orang Islam itu tidak perlu sampai di-murtadkan, cukup mereka itu dijauhkan dari agamanya (Islam) maka itu sudah bagus.”

Perlu juga dibuat label-label, dan kemungkinan kalau kita bicarakan hal ini, maka akan terjadi kontra diantara ummat Islam sendiri, dimana kalau kita mau jujur, maka ternyata banyak sekali dana-dana Yahudi yang disalurkan kepada organisasi Islam di Indonesia. Ini kita harus berhati-hati. Dan kita harus berani mengatakan bahwa Lembaga A, organisasi B adalah antek-antek Yahudi. Pemusik ini, penyanyi itu, mereka itu adalah pecinta Yahudi dan seterusnya. Hal itu perlu disampaikan kepada ummat Islam di Indonesia.

Jawaban:

Terimakasih, usulan dan komentar tersebut bisa dijadikan masukan bagi kami untuk bahasan yang akan datang. Memang benar, kita ummat Islam di Indonesia dalam mengkaji dienul Islam sangatlah terbatas. Sejak kecil kita belajar dienul Islam sepekan paling lama 2 jam. Kalau seorang anak tidak disekolahkan di Pesantren atau Madrasah; maka paling hanya sekitar 2 jam saja ia itu belajar Islam dalam sepekannya. Artinya, porsi untuk mendasari seseorang dengan dienul Islam, sangatlah kurang di Indonesia ini. Maka sejak dahulu di masyarakat kita, yang diketahuinya itu hanyalah perkara sholat, shoum, zakat, haji (– itupun juga belum maksimal sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم –), sesudah itu maka selesai. Sehingga berbagai perkara seperti hukum Rajam, hukum potong tangan, hukum kepemerintahan didalam Islam, dan berbagai hukum lainnya itu sangat jarang bahkan hampir-hampir tidak pernah dibahas oleh kaum Muslimin di negara kita. Hal ini adalah karena porsi belajar Islam bagi kita kaum Muslimin di Indonesia itu sangatlah kurang (minim). Sehingga pada hakekatnya, ummat Islam di Indonesia ini seperti “kurang gizi” dalam perkara dien (agama).

Pertanyaan:

Menurut informasi agama, katanya Nabi Daawud عليه السلام beristrikan 99 orang. Sementara Nabi Sulaiman عليه السلام beristrikan tidak kurang dari 350 orang. Kalau itu benar, apakah ketika zaman itu terlalu banyak wanitanya ataukah kurangnya kaum laki-laki?

Jawaban:

1. Nabi dan Rosuul adalah ma’shum, terjaga dari salah dan dosa.

2. Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 48:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا …

Artinya:

“Bahwa Allooh jadikan setiap kaum itu ada syari’at, dan jalan masing-masing.”

Maksudnya adalah masing-masing kaum (di masa masing-masing Nabi) syari’atnya adalah berbeda-beda. Tetapi Aqidahnya adalah sama, yakni hanya menyembah Allooh سبحانه وتعالى. Laa Ilaaha Ilallooh. Tetapi Fiqihnya berbeda-beda. Kalau Nabi Daawud عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام beristri (menikah) dengan sekian banyak wanita, maka itu adalah karena Syari’at yang berlaku di zaman ketika itu membenarkan atau membolehkan hal itu terjadi.

Sebagai contoh lain, misalnya pada zaman Bani Isroil, kalau mereka ingin bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى maka mereka harus membunuh dirinya sendiri (bunuh diri). Sementara di zaman Islam, bila kita berbuat dosa (kesalahan), lalu ingin bertaubat maka tidak harus bunuh diri, cukup dengan bertaubat (memohon ampun) kepada Allooh سبحانه وتعالى dan menyesali perbuatan yang telah dilakukan serta tidak mengulangi perbuatan itu lagi, dan seterusnya. Hal ini menunjukkan bahwa Allooh سبحانه وتعالى sangatlah sayang kepada kita ummat Islam.

Pertanyaan:

Bila seseorang Muslim (mengaku Muslim) tetapi ia berperilaku seperti milat Yahudi atau Nashroni, apakah itu sudah bisa dianggap murtad, keluar dari Islam?

Jawaban:

Bisa jadi karena tabi’at seseorang itu munafiq, atau bisa jadi karena seseorang itu Jaahil (bodoh), yaitu ia mengaku Islam tetapi loyalnya kepada orang kaafir. Tetapi kalau ia tidak Jaahil, tentunya tidak akan terjadi demikian.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’(4) ayat 138-139:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا - الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ..

Artinya:

“Beritahukanlah kepada orang munafiq bahwa mereka berhak mendapatkan adzab (siksa) yang pedih. Yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kaafir sebagai wali-wali mereka selain orang-orang yang beriman…”

Maka kalau ia mengerti atau beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى, bahwa orang yang ber-wala’ (loyal) kepada orang kaafir adalah munafiq (nifaq besar), yang berarti ia telah murtad, keluar dari Al Islam; maka tentu ia tidak akan melakukan yang seperti itu. Orang munafiq yang demikian itu karena ia berada di tengah-tengah kaum Muslimin, tetapi hatinya bersama orang-orang kaafir. Dan sebetulnya ia pun dengan seperti itu menjadi kaafir.

Oleh karenanya, hendaknya kita tahu indikator atau parameter kapan seseorang itu murtad, kapan seseorang itu mu’min (beriman),kapan seseorang itu Muslim, Munafiq atau Kaafir, dan sebagainya.

Melalui ta’lim, melalui mengaji Al Qur’an dan Sunnah, maka kita menjadi tahu indikator dan parameter yang dimaksud, insya Allooh.

Betapa pun mengkafirkan seorang yang sudah Muslim, maka itu adalah perlu kehati-hatian dan perlu tahapan serta tidak boleh sembarangan.

Mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى selalu menunjukkan kepada kita jalan yang lurus, istiqomah diatasnya, serta semoga kita diberi kemudahan untuk menjalankan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى ini, dan semoga Allooh سبحانه وتعالى jadikan kita sebagai penyeru kepada dien yang lurus ini.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Jakarta, Senin malam, 6 Dzulqo’dah 1432 H - 3 Oktober 2011
http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/10/28/yahudi-dan-percaturan-dunia/#more-3217

Thursday, October 20, 2011

Sejarah Ushul Fiqh versi Ahlus Sunnah wal Jama'ah


Ilmu ushul fikih menurut ahlu sunnah wal jama’ah sebagaimana bidang keilmuan lainnya mengalami dan melalui beberapa tahapan penting.

1. Marhalah Tadwin (kodefikasi) atau penulisan dasar-dasar ilmu ushul fikih yang dipelopori oleh imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i
2. Marhalah Ittijaah al-Haditsi (ushul fikih dengan metodologi hadits) yang dipelopori imam Al-Khothib al-Baghdadi dan Ibnu Abdilbarr.
3. Marhalah Ishlah dan pelurusan yang tidak benar dalam ilmu ushul fikih yang dipelopori imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim.

Marhalah-marhalah perkembangan ilmu ushul fikih.
1. Marhalah pertama dimulai pada masa imam asy-Syafi’i dan berakhir kurang lebih sekitar akhir abad ke empat hijriyah. Keistimewaan marhalah ini adalah penulisan kaidah ilmu ushul fikih oleh imam asy-Syafi’i dan keadaan serta kondisi yang berhubungan langsung dengan penulisan ini.

Imam asy-Syafi’i hidup dimasa berkembangnya dua madrasah yang setiap dari madrasah ini tegak diatas manhaj yang tidak sama dengan yang lainnya. Dua madrasah ini adalah madrasah hadits yang berada di Madinah dengan tokoh besarnya adalah imam Malik bin Anas bin Malik al-Ashbahi (w 179 H) dan kedua adalah madrasah ar-Ra’yi yang berada di Irak dengan tokoh besarnya adalah para murid Abu Hanifah.

Madrasah hadits dikenal sangat kental dan dekat dengan riwayat, karena kota Madinah adalah tempat berkumpulnya para sahabat dan tempat turunnya wahyu. Sebaliknya madrasah ar-Ra’yi sangat kental nuansa akalnya karena tidak memiliki sebab-sebab riwayat seperti di Madinah, ditambah lagi banyaknya fitnah dan pemalsuan hadits di sana. Yang perlu diperhatikan bahwa kedua madrasah ini sepakat mewajibkan untuk menerima dan mengamalkan al-Qur`an dan sunnah dan tidak mendahulukan akal dari kedua sumber tersebut.

Dalam hal ini imam asy-Syafi’i mampu mengkompromikan kedua madrasah ini dan memperoleh keistimewaan yang dimiliki masing-masing madrasah tersebut. Beliau menyatukan fikih imam Malik di Madinah – yang beliau sendiri adalah murid imam Malik – dan fikih Abu Hanifah di Irak, karena beliau berguru langsung kepada imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (w 189 H) ditambah dengan fikih ahli Syam dan Mesir karena beliau pun mengambil ilmu dari para ulama pakar fikih di sana. Ditambah lagi dengan Madrasah Makkah yang memiliki perhatian lebih besar dalam tafsir al-Qur`an dan sebab turunnya. Dimana beliau belajar langsung di Makkah kepada para ulama fikih dan ulama hadits disana hingga mendapatkan kedudukan sebagai mufti. Semua ini didukung dengan kepakaran beliau dalam bahasa Arab yang beliau dapatkan dari pedalaman Arab pada kabilah Hudzail yang termasuk suku terfasih dalam berbahasa Arab. Dengan anugerah besar yang dimiliki inilah –dengan taufiq dari Allah- beliau mampu meletakkan ushul dan kaidah dalam ber-istimbath (pengambilan hukum dari dalil) serta ketentuan berijtihad. Juga beliau mampu menjadikan fikih diambil dari sumber hukum yang jelas dan pasti. Dengan sebab itu beliau membuka pandangan ulama fikih dan memberikan contoh kepada para mujtahid setelah beliau untuk bertindak seperti yang telah beliau lakukan dan menyempurnakan yang ditemui mereka nantinya. Demikianlah imam asy-Syafi’i menulis kitab “ar-Risaalah” yang menjadi kitab pertama dalam ushul fikih.

Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal (w 241 H) berkata: Dahulu fikih itu terkunci pada ahlinya saja hingga Allah bukakan dengan asy-Syafi’i. (lihat Tahdzieb al-Asma’ wa al-Lughaat 1/61)

Beliau juga menyatakan: Dahulu peradilan kami berada di tangan para sahabat Abu Hanifah tidak dapat diganggu gugat hingga kami melihat imam asy-Syafi’i. Beliau orang terpakar dalam al-Qur`an dan sunnah Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan ahli hadits tidak akan pernah kenyang dari kitab-kitab asy-Syafi’i. (lihat Muqaddimah kitab ar-Risalah hal. 6 ). Juga berkata: Kalau bukan imam asy-Syafi’i maka kami tidak mengenal fikih hadits.

Imam asy-Syafi’i telah meletakkan pondasi pertama penulisan dan kodefikasi ilmu ushul dan menjelaskan ketentuan ilmu ini serta memperjelas gambarannya.
Imam Syafi’i dalam upaya beliau menyusun ilmu ushul fikih mengikuti jejak langkah orang sebelum beliau dan bersandar kepada al-Qur`an dan sunnah serta siroh para sahabat dan atsar para imam besar. Juga mengambil faedah dari ilmu bahasa Arab dan sejarah manusia, serta penggunaan akal dan qiyas.

Kemudian setelah beliau, bermunculan upaya para ulama ahli sunnah, namun baru berkisar pada permasalahan komitmen dengan Al-Qur`an dan sunnah. Diantaranya adalah:
a. Risalah imam Ahmad tentang ketaatan kepada Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
b. Kitab Akhbaar Ahaad dan kitab al-I’tishom, keduanya bagian dari shohih al-Bukhori.
c. Kitab Ta’wiel Musykil al-Qur`an dan kitab Ta’wiel Mukhtalaf al-Hadits keduanya karya Ibnu Qutaibah.
d. Dan kitab lainnya yang dikarang para ulama salaf lainnya.
Pada marhalah ini kodefikasi ilmu usul fikih telah sempurna melalui karya imam asy-Syafi’i kemudian datang para ulama setelah beliau menyempurnakan upaya yang telah beliau mulai khususnya yang berhubungan dengan komitmen kepada Al-Qur`an dan sunnah. Semua upaya ini merupakan benang merah manhaj ahli sunnah dan kaedah umum dalam ushul fikih versi ahlu sunnah. Marhalah ini memiliki pengaruh besar dan penting bagi para ulama setelah mereka.

2. Marhalah kedua berawal dari awal abad kelima hijriyah hingga sekitar akhir abad ketujuh Hijriyah. Dalam masa ini muncullah dua imam besar, yaitu:
a. Imam ahli sunnah ditimur al-Khothib al-Baghdadi penulis kitab Tarikh Baghdad
b. Imam ahli sunnah di Barat Abu Umar bin Abdilbarr penulis kitab at-Tamhied.
Al-Khothib al-Baghdadi menulis dalam bidang ushul fikih kitab al-Faqieh wa al-Mutafaqqih yang beliau buat sebagai nasehat kepada ahli hadits. Kitab ini termasuk pengembangan dari kitab ar-Risaalah karya imam asy-Syafi’i dengan beberapa penambahan seperti permasalahan jidaal dan pembahasan yang berhubungan dengan adab fikih.
Sedangkan Ibnu Abdilbarr menulis kitab Jaami’ Bayaan al-Ilmi wa Fadhlihi sebagai jawaban bagi orang yang bertanya tentang beberapa pertanyaan yaitu:
- Pengertian ilmu.
- Pengokohan hujjah dengan ilmu.
- Penjelasan salahnya orang yang berbicara dalam agama Allah tanpa pemahaman yang benar.
- Larangan memvonis tanpa hujjah.
- Apa yang diperbolehkan dan yang dibenci dalam adu hujjah dan debat.
- Pemikiran akal mana yang dicela dan mana yang dipuji?

Muncul dalam marhalah ini juga dua kitab yaitu:
- Kitab Taqwiem al-Adilah karya Abu Zaid ad-Dabuusy. Ibnu Kholdun mengomentari kitab ini dengan menyatakan: Adapun metodologi versi madzhab Abu Hanifah, maka para ulamanya telah menulis banyak sekali karya tulis dan yang terbaik untuk mutaqaddimin adalah karya Abu Zaid ad-Dabuusi. (Muqadimah Ibnu Kholdun hal. 361)
- Kitab al-Mustashfa karya al-Ghazali. Kitab ini diringkas oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Raudhah an-Naazhir Wa Jannat al-Manaazhir.

Marhalah ini memiliki karakteristik banyaknya materi ushul yang dibangun dari hadits nabi dan atsar shohih dari sahabat dan tabi’in dan masuknya metodologi hadits yang dapat dilihat dari penyampaian riwayat dengan sanadnya. Metodologi ini tidak hanya sebatas pada riwayat dan penyampaian hadits namun juga padanya istimbath, fikih, penetapan qiyas dan ijtihad serta lainnya.

Marhalah ini merupakan pengembangan dari marhalah sebelumnya yang diwakili dengan kitab ar-Risaalah. Ibnu Abdilbarr dan al-Khothib al-Baghdadi serta Abu Manshur as-Sam’aani sendiri mengambil faedah dari peninggakan asy-Syafi’i. Sedangkan kitab Raudhah an-Naazhir memberikan gambaran baru yang nampak sekali pengaruh manhaj mutakallim (ahli kalam) dengan tetap menjaga konsep dasar manhaj salaf padanya secara umum.

3. Marhalah ketiga yang dimulai pada awal abad kedelapan sampai sekitar akhir abad kesepuluh hijriyah. Muncul dalam marhalah ini dua imam yaitu:
a. Ibnu Taimiyah
b. Ibnu al-Qayyim

Marhalah ini memiliki karekteristik yang dibangun diatas dua pokok :
- Penjelasan dan penampakan kaedah-kaedah ushul sesuai manhaj salaf
- Pengarahan kritik dan pelurusan kesalahan yang ada pada mutakallimin (ahli kalam) dalam kaedah-kaedah ushul.

Hal ini selesai melalui imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim. Keduanya membangun upaya besar tersebut diatas kekayaan ilmiyah yang ditinggalkan imam asy-Syafi’i dan ulama yang sejalan dengan beliau.

Pada marhalah ini muncul juga karya-karya ilmiyah para ulama madzhab Hambali seperti Ibnu al-Lahaam, al-Mirdaawi, dan al-Fatuhi. Namun nampaknya semua adalah pengembangan dari kitab Ibnu Qudamah yang masih nampak pengaruh manhaj mutakallimnya. Walaupun mereka tentunya menerima dan mengambil faedah dari karya-karya Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim sehingga nampak sekali dengan jelas terpengaruhnya kitab-kitab ini dengan ketetapan kedua imam tersebut.

Inilah marhalah-marhalah yang dilewati ahlu sunnah dalam perjalanan pembentukan ilmu ushul fikih. Kemudian muncul juga beberpa karya tulis dari sebagian ulama ahli sunnah namun semuanya kembali kepada keterangan yang sudah dibuat dalam marhalah-marhalah diatas. Diantara karya ilmiyah tersebut adalah:
1. ?????? ??? ???? ?????? ???? ?? ???? karya syeikh Abdulqadir bin Badraan ad-Dumi ad-Dimasyqi (wafat tahun 1346 H)
2. ”???? ?????? ??????” ??? ???? “???? ?????? ???? ???????”? karya beliau juga.
3. ”????? ????? ?? ???? ?????” karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat tahun 1376 H)
4. ”????? ?????? ??? ????? ??????” karya Haafizh bin Ahmad al-Hakami wafat tahun 1377 H
5. ”????? ???? ????? ??? ???? ??????” karya Muhammad al-Amien asy-Syinqithi (wafat tahun 1393 H). dan lain-lainnya.
Semoga bermanfaat.

Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Diringkas dari: Ma’alim Ushul Fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah
Artikel:ustadzkholid.com