<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571</id><updated>2012-01-01T07:27:48.410-08:00</updated><category term='~ Ushul Fiqh ~'/><category term='~ Firqah ~'/><category term='~ Dakwah ~'/><category term='Nilainya Ilmu'/><category term='~ Aqidah ~'/><category term='Nasihat-Nasihat'/><category term='Keutamaan Ilmu'/><category term='Motivasi Ilmu'/><category term='~ Sufiyah Tasawuf ~'/><category term='Menuntut Ilmu'/><category term='Ilmu Yang Bermanfaat'/><category term='~ Yahudi ~'/><category term='Halangan-Halangan'/><category term='~ Biografi Imam Mazhab ~'/><category term='Manfaat Ilmu'/><category term='~ Maulid Nabi ~'/><category term='Adab-Adab Penuntut Ilmu'/><category term='~ Faham Liberal ~'/><category term='Mutiara Ilmu'/><category term='~ Ushul Tafsir ~'/><title type='text'>~ Jalan Menuju SYURGA ~</title><subtitle type='html'>Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama ISLAM. [QS: Ali &amp;#39;Imran:102]
Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan 
baginya JALAN MENUJU SYURGA. [HR Al-Bukhari &amp;amp; Muslim]</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>93</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-6732173451696356057</id><published>2011-11-03T09:13:00.000-07:00</published><updated>2011-11-16T00:22:26.924-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Yahudi ~'/><title type='text'>Asal-Usul Yahudi (bgn 1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-btnAsrT85j4/TsNx6EDSmpI/AAAAAAAABBo/M3IPOCiJST8/s1600/Y1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-btnAsrT85j4/TsNx6EDSmpI/AAAAAAAABBo/M3IPOCiJST8/s320/Y1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675505197750852242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh:  Ust. Achmad  Rofi’i, Lc.M.Mpd.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasan kali ini merupakan kelanjutan dari bahasan yang lalu yang berjudul “Yahudi dan Percaturan Dunia”, yaitu agar kita dapat memahami lebih jauh dan secara mendasar apakah yang menjadi sebab Yahudi itu sampai hari ini sedemikian “ganas”-nya kepada masyarakat dunia. Hendaknya kita mempelajari akar permasalahannya berdasarkan Al Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Hadiid (57) ayat 26 sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ فَمِنْهُم مُّهْتَدٍ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrohim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasiq.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut maksudnya menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrohim عليه السلام adalah bapak para Nabi dan para Rosuul. Tetapi sayangnya, karunia Allooh سبحانه وتعالى yang sedemikian besarnya itu, hanya sedikit daripada keturunannya itu yang mengikuti petunjuk Allooh سبحانه وتعالى. Kebanyakan dari mereka adalah fasiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita renungkan, maka sampai sekarang pun adalah lebih banyak kaum Muslimin yang tidak mengindahkan apa yang menjadi aturan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, mereka lebih cenderung kepada hawa nafsunya. Bahkan ada kecenderungan bahwa Islam saat ini sudah mulai dianggap aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keanehan itu disebabkan karena orang kebanyakan (bahkan yang ber-KTP Islam sekalipun), pada dasarnya tidak mengenal Islam dengan cara yang benar (– sesuai Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Pendahulu Ummat yang shoolih –). Lalu yang mengenal Islam pun banyak yang tidak tahan dalam mengamalkan Islam-nya secara istiqomah. Bagaimana tidak, karena orang yang berusaha untuk mengamalkan ajaran Islam sesuai tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم mengalami berbagai macam tuduhan. Dituduh “terorisme”, dituduh “terbelakang”, dituduh “ketinggalan zaman” atau “kuno” atau “ikut zaman onta”, dan berbagai tuduhan buruk lainnya yang memang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh Islam agar kaum Muslimin itu takut kepada ajaran Islam-nya sendiri. Semua itu menyebabkan orang Islam menjadi tidak istiqomah (teguh) dalam mengamalkan dien-nya, apalagi kalau orang itu imannya pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام adalah bapak dari sekian banyak para Nabi dan Rosuul. Dari silsilah para nabi sejak Nabi Adam عليه السلام, ternyata asal-usul Yahudi itu berasal dari Nabi Ibrohim عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام. Sebagaimana kita pelajari dari sejarah, bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام memiliki anak bernama Ismail عليه السلام dan Ishaq عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ismail عليه السلام tidak banyak menurunkan nabi-nabi, hanya dalam urutan keturunan Nabi Ismail عليه السلام yang terakhir lalu muncul keturunannya yang merupakan seorang Nabi dan Rosuul Penutup yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Nabi Ishaq عليه السلام langsung menurunkan secara berturut-turut para nabi dan Rosuul, yakni Nabi Ya’qub عليه السلام, Nabi Yusuf عليه السلام, Nabi Ayyub عليه السلام, Nabi Musa عليه السلام, Nabi Harun عليه السلام, Nabi Ilyas عليه السلام, Nabi Ilyasa عليه السلام dan seterusnya hingga sampai kepada Nabi ‘Isa عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kali ini, kita akan membahas tentang Nabi Ibrohim عليه السلام, Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام terlebih dahulu. Lalu pada kajian mendatang insya Allooh akan kita bahas tentang Nabi Ya’qub عليه السلام dan Nabi Yusuf عليه السلام; kemudian Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Harun عليه السلام; dan selanjutnya adalah Nabi Daawud عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام. Dan dari mereka itulah akan kita kenal apa yang disebut dengan Haikal Sulaiman. Dalam rangka membangun Haikal Sulaiman itulah maka Yahudi sampai saat ini memiliki rencana yang Mega-Besar (antara lain dengan meruntuhkan Masjid Al Aqsa milik kaum Muslimin — Silakan baca artikel berjudul “Yahudi Rampas Masjid Al Aqsa” pada Blog ini http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/09/25/yahudi-rampas-masjid-al-aqsa/#more-3152 ). Maka segala sesuatu itu tergantung kepada landasan dasar filosofi berfikir yang pada akhirnya adalah menjadi suatu ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai ayat diatas, maka asal usulnya adalah bermula dari Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrohim عليه السلام. Nabi Nuh tidak akan kita bahas karena keturunan-keturunannya tidak bermasalah dan tidak bersambung kepada Isroil (Bani Isroil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Isroil adalah nama lain dari Nabi Ya’qub عليه السلام, putra dari Nabi Ishaq عليه السلام dan yang merupakan cucu dari Nabi Ibrohim عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian kita ini adalah berdasarkan ‘Aqidah kita sebagai ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan kepada kita dalam Al Qur’an bahwa Nabi Ismail عليه السلام adalah putra dari Nabi Ibrohim عليه السلام. Namun dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat), ada upaya dari Yahudi untuk melakukan Tahriif (mengubah, mengganti dan menukar) serta membalikkan fakta agar terkesan bahwa Nabi Ismail عليه السلام bukanlah putra Nabi Ibrohim عليه السلام. Oleh karenanya ketika pada akhirnya muncul Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka kaum Yahudi tidak mau mengakui kenabian dan ke-rosuulan beliau صلى الله عليه وسلم, karena beliau صلى الله عليه وسلم adalah berasal dari keturunan Nabi Ismail عليه السلام, dan bukan berasal dari keturunan Nabi Ishaq عليه السلام sebagaimana para Nabi dan Rosuul lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Qur’an Surat Ibrohim (14) ayat 39, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allooh yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Robb-ku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do`a.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelaslah bahwa Nabi Ismail عليه السلام adalah putera Nabi Ibrohim عليه السلام. Dan dalam urutannya adalah bahwa Nabi Ismail عليه السلام adalah anak pertama dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah anak kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Huud (11) ayat 71:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَامْرَأَتُهُ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاء إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya`qub.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud “istrinya” dalam ayat diatas adalah Sarah, istri pertama Nabi Ibrohim عليه السلام. Dari Sarah, Nabi Ibrohim عليه السلام memiliki putra bernama Ishaq عليه السلام, yang kemudian dari Ishaq عليه السلام akan lahir cucunya yang bernama Ya’qub عليه السلام. Maka kita mengenal bahwa Nabi Ya’qub عليه السلام adalah putra dari Nabi Ishaq عليه السلام dan cucu dari Nabi Ibrohim عليه السلام. Bayangkan, betapa besar ni’mat Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrohim عليه السلام; dimana mulai dari bapak, anak lalu cucu itu semuanya adalah menjadi Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam QS Maryam (19) ayat 49, Allooh سبحانه وتعالى berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلّاً جَعَلْنَا نَبِيّاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketika Ibrohim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allooh, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya`qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam QS. Al Anbiyaa (21) ayat 72 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrohim) Ishaq dan Ya`qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shoolih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam QS Al An’aam (6) ayat 84-86 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلاًّ هَدَيْنَا وَنُوحاً هَدَيْنَا مِن قَبْلُ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿٨٤﴾ وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿٨٥﴾ وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ ﴿٨٦﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(84) Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya`qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Ibrohim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(85) dan Zakaria, Yahya, `Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shoolih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(86) dan Ismail, Alyasa`, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, ayat-ayat tersebut diatas memberikan bukti kepada kita bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام memiliki 2 putra, yakni dari istri pertamanya (Sarah) terlahir Nabi Ishaq عليه السلام dan dari istrinya yang kedua (Haajar) terlahir Nabi Ismail عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 133, Allooh سبحانه وتعالى berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrohim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Muslimun).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat diatas, sangatlah jelas bahwa Allooh سبحانه وتعالى memberitakan kepada kita (termasuk juga kepada seluruh ummat manusia) bahwa keturunan Nabi Ya’qub عليه السلام itu TIDAK ADA yang beragama Yahudi atau Nashroni; tetapi semuanya adalah Islam (Muslimun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ibrohim عليه السلام pada mulanya berasal dari Iraq (Babylonia), kemudian beliau pergi ke Mesir. Istri Nabi Ibrohim عليه السلام (Sarah) adalah sangat cantik jelita. Raja Mesir ketika itu tertarik kepada Sarah عليه السلام. Maka Nabi Ibrohim عليه السلام sangat khawatir dan cemburu (– dan itu memang haknya untuk cemburu, karena Sarah adalah istrinya –). Nabi Ibrohim عليه السلام sadar kalau seandainya ia mengaku sebagai suami Sarah, maka ia pasti akan dibinasakan oleh Raja Mesir tersebut. Maka ia pun menyuruh kepada Sarah : “Wahai Sarah, bila Raja bertanya, maka katakanlah olehmu bahwa kamu adalah saudaraku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ‘Ulama Ahlus Sunnah, maka yang dimaksud “saudara” diatas, dalam hal ini bisa berarti “saudara se-‘aqidah” atau bisa pula berarti “saudara sekandung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, ketika Sarah didekati oleh Raja Mesir, maka ia pun berpura-pura sedih, bahkan menangis, tidak mau berhias dan sebagainya; sehingga sang Raja pun tidak lagi berselera kepadanya karena Sarah selalu murung dan hal itu menjadikannya tidak menarik lagi bagi sang Raja. Pada akhirnya mereka disuruh pulang saja oleh Raja Mesir tersebut, dengan dihadiahi 100 (seratus) ekor kambing dan seorang perempuan pembantu (seorang wanita Mesir) bernama Haajar (– “Haajar” artinya adalah “Orang yang hijrah” –).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga kemudian pulang ke daerah yang sekarang dikenal sebagai Palestina. Setelah mereka kembali ke tempatnya (Palestina), maka beberapa tahun kemudian Nabi Ibrohim عليه السلام sangat menginginkan anak. Sarah pun menganjurkan kepada Nabi Ibrohim عليه السلام untuk menikahi Haajar agar memiliki anak keturunan. Ternyata dengan kehendak Allooh سبحانه وتعالى maka Haajar pun hamil, dan tidak lama kemudian lahirlah Ismail عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ismail lahir, ternyata Sarah merasa iri. Lalu Sarah meminta kepada suaminya, Nabi Ibrohim عليه السلام, agar suaminya membawa Haajar dan anaknya Ismail عليه السلام pergi menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3364 dijelaskan sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهْيَ تُرْضِعُهُ حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى الْمَسْجِدِ وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ ، وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ ، وَلاَ شَيْءٌ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا فَقَالَتْ لَهُ آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ إِذًا لاَ يُضَيِّعُنَا ثُمَّ رَجَعَتْ فَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الثَّنِيَّةِ حَيْثُ لاَ يَرَوْنَهُ اسْتَقْبَلَ بِوَجْهِهِ الْبَيْتَ ثُمَّ دَعَا بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ : {رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ} حَتَّى بَلَغَ {يَشْكُرُونَ} وَجَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تُرْضِعُ إِسْمَاعِيلَ وَتَشْرَبُ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا فِي السِّقَاءِ عَطِشَتْ وَعَطِشَ ابْنُهَا وَجَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَيْهِ يَتَلَوَّى ، أَوْ قَالَ يَتَلَبَّطُ – فَانْطَلَقَتْ كَرَاهِيَةَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَتِ الصَّفَا أَقْرَبَ جَبَلٍ فِي الأَرْضِ يَلِيهَا فَقَامَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ اسْتَقْبَلَتِ الْوَادِيَ تَنْظُرُ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا فَهَبَطَتْ مِنَ الصَّفَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْوَادِيَ رَفَعَتْ طَرَفَ دِرْعِهَا ثمَّ سَعَتْ سَعْيَ الإِنْسَانِ الْمَجْهُودِ حَتَّى جَاوَزَتِ الْوَادِيَ ثُمَّ أَتَتِ الْمَرْوَةَ فَقَامَتْ عَلَيْهَا وَنَظَرَتْ هَلْ تَرَى أَحَدًا فَلَمْ تَرَ أَحَدًا فَفَعَلَتْ ذَلِكَ سَبْعَ مَرَّاتٍ- قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا – فَلَمَّا أَشْرَفَتْ عَلَى الْمَرْوَةِ سَمِعَتْ صَوْتًا فَقَالَتْ صَهٍ تُرِيدَ نَفْسَهَا ثُمَّ تَسَمَّعَتْ فَسَمِعَتْ أَيْضًا فَقَالَتْ قَدْ أَسْمَعْتَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ غِوَاثٌ فَإِذَا هِيَ بِالْمَلَكِ عِنْدَ مَوْضِعِ زَمْزَمَ فَبَحَثَ بِعَقِبِهِ ، أَوْ قَالَ بِجَنَاحِهِ – حَتَّى ظَهَرَ الْمَاءُ فَجَعَلَتْ تُحَوِّضُهُ وَتَقُولُ بِيَدِهَا هَكَذَا وَجَعَلَتْ تَغْرِفُ مِنَ الْمَاءِ فِي سِقَائِهَا وَهْوَ يَفُورُ بَعْدَ مَا تَغْرِفُ- قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ ، أَوْ قَالَ لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنَ الْمَاءِ – لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا- قَالَ فَشَرِبَتْ وَأَرْضَعَتْ وَلَدَهَا فَقَالَ لَهَا الْمَلَكُ لاَ تَخَافُوا الضَّيْعَةَ فَإِنَّ هَاهُنَا بَيْتَ اللهِ يَبْنِي هَذَا الْغُلاَمُ وَأَبُوهُ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَهْلَهُ ، وَكَانَ الْبَيْتُ مُرْتَفِعًا مِنَ الأَرْضِ كَالرَّابِيَةِ تَأْتِيهِ السُّيُولُ فَتَأْخُذُ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ فَكَانَتْ كَذَلِكَ حَتَّى مَرَّتْ بِهِمْ رُفْقَةٌ مِنْ جُرْهُمَ ، أَوْ أَهْلُ بَيْتٍ مِنْ جُرْهُمَ – مُقْبِلِينَ مِنْ طَرِيقِ كَدَاءٍ فَنَزَلُوا فِي أَسْفَلِ مَكَّةَ فَرَأَوْا طَائِرًا عَائِفًا فَقَالُوا إِنَّ هَذَا الطَّائِرَ لَيَدُورُ عَلَى مَاءٍ لَعَهْدُنَا بِهَذَا الْوَادِي وَمَا فِيهِ مَاءٌ فَأَرْسَلُوا جَرِيًّا ، أَوْ جَرِيَّيْنِ فَإِذَا هُمْ بِالْمَاءِ فَرَجَعُوا فَأَخْبَرُوهُمْ بِالْمَاءِ فَأَقْبَلُوا قَالَ وَأُمُّ إِسْمَاعِيلَ عِنْدَ الْمَاءِ فَقَالُوا أَتَأْذَنِينَ لَنَا أَنْ نَنْزِلَ عِنْدَكِ فَقَالَتْ نَعَمْ وَلَكِنْ لاَ حَقَّ لَكُمْ فِي الْمَاءِ قَالُوا نَعَمْ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَأَلْفَى ذَلِكَ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ وَهْيَ تُحِبُّ الإِنْسَ فَنَزَلُوا وَأَرْسَلُوا إِلَى أَهْلِيهِمْ فَنَزَلُوا مَعَهُمْ حَتَّى إِذَا كَانَ بِهَا أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْهُمْ وَشَبَّ الْغُلاَمُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَتَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ مِنْهُمْ وَأَنْفَسَهُمْ وَأَعْجَبَهُمْ حِينَ شَبَّ فَلَمَّا أَدْرَكَ زَوَّجُوهُ امْرَأَةً مِنْهُمْ وَمَاتَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَجَاءَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَ مَا تَزَوَّجَ إِسْمَاعِيلُ يُطَالِعُ تَرِكَتَهُ فَلَمْ يَجِدْ إِسْمَاعِيلَ فَسَأَلَ امْرَأَتَهُ عَنْهُ فَقَالَتْ خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا ثُمَّ سَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ فَقَالَتْ نَحْنُ بِشَرٍّ نَحْنُ فِي ضِيقٍ وَشِدَّةٍ فَشَكَتْ إِلَيْهِ قَالَ فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَقُولِي لَهُ يُغَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِهِ فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ كَأَنَّهُ آنَسَ شَيْئًا ، فَقَالَ : هَلْ جَاءَكُمْ مِنْ أَحَدٍ قَالَتْ نَعَمْ جَاءَنَا شَيْخٌ كَذَا وَكَذَا فَسَأَلَنَا عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ وَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا فِي جَهْدٍ وَشِدَّةٍ ، قَالَ : فَهَلْ أَوْصَاكِ بِشَيْءٍ قَالَتْ نَعَمْ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ السَّلاَمَ وَيَقُولُ غَيِّرْ عَتَبَةَ بَابِكَ قَالَ ذَاكِ أَبِي وَقَدْ أَمَرَنِي أَنْ أُفَارِقَكِ الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَطَلَّقَهَا وَتَزَوَّجَ مِنْهُمْ أُخْرَى فَلَبِثَ عَنْهُمْ إِبْرَاهِيمُ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ أَتَاهُمْ بَعْدُ فَلَمْ يَجِدْهُ فَدَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ فَسَأَلَهَا عَنْهُ فَقَالَتْ خَرَجَ يَبْتَغِي لَنَا قَالَ كَيْفَ أَنْتُمْ وَسَأَلَهَا عَنْ عَيْشِهِمْ وَهَيْئَتِهِمْ فَقَالَتْ نَحْنُ بِخَيْرٍ وَسَعَةٍ وَأَثْنَتْ عَلَى اللهِ فَقَالَ مَا طَعَامُكُمْ قَالَتِ اللَّحْمُ قَالَ فَمَا شَرَابُكُمْ قَالَتِ الْمَاءُ ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي اللَّحْمِ وَالْمَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ يَوْمَئِذٍ حَبٌّ وَلَوْ كَانَ لَهُمْ دَعَا لَهُمْ فِيهِ قَالَ فَهُمَا لاَ يَخْلُو عَلَيْهِمَا أَحَدٌ بِغَيْرِ مَكَّةَ إِلاَّ لَمْ يُوَافِقَاهُ قَالَ فَإِذَا جَاءَ زَوْجُكِ فَاقْرَئِي عَلَيْهِ السَّلاَمَ وَمُرِيهِ يُثْبِتُ عَتَبَةَ بَابِهِ فَلَمَّا جَاءَ إِسْمَاعِيلُ قَالَ هَلْ أَتَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ قَالَتْ نَعَمْ أَتَانَا شَيْخٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ وَأَثْنَتْ عَلَيْهِ فَسَأَلَنِي عَنْكَ فَأَخْبَرْتُهُ فَسَأَلَنِي كَيْفَ عَيْشُنَا فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّا بِخَيْرٍ قَالَ فَأَوْصَاكِ بِشَيْءٍ قَالَتْ نَعَمْ هُوَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ وَيَأْمُرُكَ أَنْ تُثْبِتَ عَتَبَةَ بَابِكَ قَالَ ذَاكِ أَبِي وَأَنْتِ الْعَتَبَةُ أَمَرَنِي أَنْ أُمْسِكَكِ ثُمَّ لَبِثَ عَنْهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ جَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِسْمَاعِيلُ يَبْرِي نَبْلاً لَهُ تَحْتَ دَوْحَةٍ قَرِيبًا مِنْ زَمْزَمَ فَلَمَّا رَآهُ قَامَ إِلَيْهِ فَصَنَعَا كَمَا يَصْنَعُ الْوَالِدُ بِالْوَلَدِ وَالْوَلَدُ بِالْوَالِدِ ثُمَّ قَالَ يَا إِسْمَاعِيلُ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ قَالَ فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ قَالَ وَتُعِينُنِي قَالَ وَأُعِينُكَ قَالَ فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ هَاهُنَا بَيْتًا وَأَشَارَ إِلَى أَكَمَةٍ مُرْتَفِعَةٍ عَلَى مَا حَوْلَهَا قَالَ فَعِنْدَ ذَلِكَ رَفَعَا الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالْحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ فَقَامَ عَلَيْهِ وَهْوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ وَهُمَا يَقُولاَنِ {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} قَالَ فَجَعَلاَ يَبْنِيَانِ حَتَّى يَدُورَا حَوْلَ الْبَيْتِ وَهُمَا يَقُولاَنِ {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Shohabat Ibnu Abbas رضي الله عنه , beliau berkata, “Cara berfikir wanita pertama kali diambil dari Ummu Ismail (Haajar) ketika ia mengambil taktik agar terbebas dari Sarah. Kemudian Ibrohim عليه السلام membawanya serta anaknya Ismail عليه السلام yang dikala itu Haajar masih menyusuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibrohim عليه السلام meninggalkannya di Ka’bah, di suatu bukit diatas Zam-Zam, disebelah atas dari Masjid, dimana ketika itu disana tidak dihuni seorang pun dan tidak ada air. Kemudian Ibrohim عليه السلام meninggalkan mereka berdua disana, dengan memberi bekal sedikit kurma dan sekantong air. Lalu Ibrohim عليه السلام beranjak kembali mengarah ke negeri asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ummu Ismail pun mengikuti dari belakang seraya berkata, “Wahai Ibrohim kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah ini, yang tak ada manusia dan apa pun?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya lah hal ini pada Ibrohim عليه السلام berkali-kali. Dan Ibrohim عليه السلام sama sekali tidak menggubrisnya. Maka Haajar berkata, “Apakah Allooh سبحانه وتعالى yang menyuruhmu begini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrohim عليه السلام menjawab, “Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Haajar berkata, “Kalau begitu Allooh سبحانه وتعالى tidak akan menyia-nyiakan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Haajar pun kembali ke tempat semula, dan Ibrohim عليه السلام melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Ibrohim عليه السلام sampai diantara perbukitan, dimana tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka Ibrohim عليه السلام lalu menghadap kearah Ka’bah dan berdoa sembari mengangkat kedua tangannya, “Ya Allooh, Robb kami, sungguh aku tinggalkan keturunanku di suatu lembah yang tak bertetumbuhan… hingga mereka bersyukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ummu Ismail menyusui Ismail عليه السلام dan meminum dari air bekalnya. Ketika air yang ada didalam kantong tersebut habis, maka hauslah dia dan hauslah anaknya. Sembari memandang Ismail عليه السلام yang tengah menggerak-gerakkan kakinya, maka ia pun pergi meninggalkan Ismail عليه السلام karena tidak suka melihat Ismail عليه السلام dalam keadaan kehausan. Maka pergilah ia (Haajar) kearah Bukit Shofa dan diatasnya dia berdiri kemudian menghadap kearah lembah untuk melihat adakah seseorang disana. Namun ternyata tidak ada seorang pun yang didapatinya. Maka ia pun pergi meninggalkan Shofa hingga ke dasar bukit, lalu dia menyingsingkan bajunya kemudian berlari kecil seolah orang yang sedang dikejar sesuatu, sehingga ia melewati bukit tersebut dan sampai di Marwah. Kemudian ia berdiri diatas Bukit Marwah dan melihat apakah ada seseorang disana. Juga ternyata ia tak melihat seorang pun. Lalu dilakukannya hal itu bolak-balik sebanyak 7 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Karena itu, manusia diajarkan untuk Sa’i diantara keduanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di Bukit Marwah, tiba-tiba Haajar mendengar suatu suara, yang dikiranya suara itu tertuju padanya. Maka ia pun berupaya untuk kembali mendengarkan suara tersebut. Maka benar lah bahwa ia mendengar suara itu kembali. Maka Haajar pun berkata, “Sungguh engkau telah memperdengarkan suaramu, jika engkau penolong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sumber suara itu adalah malaikat yang sedang berada di lokasi Zam-Zam yang tengah menggerak-gerakkan sayapnya untuk membantu mencarikan air, sehingga muncullah air (Zam-Zam) tersebut. Kemudian Ummu Ismail (Haajar) berusaha menampung air tersebut dengan tanah kemudian memasukkannya kedalam kantung airnya hingga membasahi tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Allooh سبحانه وتعالى menyayangi Ummu Ismail. Kalau seandainya Ummu Ismail meninggalkan Zam-Zam atau seandainya dia tidak menciduk air tersebut maka Zam-Zam tidak akan menjadi mata air.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Haajar meminum air tersebut dan menyusui anaknya. Lalu malaikat berkata pada Haajar, “Janganlah kalian takut disia-siakan, sebab disini adalah Rumah Allooh سبحانه وتعالى yang anak ini dan ayahnya kelak akan membangunnya. Dan sesunggunya Allooh سبحانه وتعالى tidak akan menyia-nyiakan penghuni Baitullooh ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya Baitullooh (Ka’bah) terletak di tanah tinggi, mirip bukit, kemudian ditimpa oleh banjir sehingga melongsorkan sebelah kanan dan kirinya. Dan terus dalam keadaan seperti ini sehingga lewatlah segerombolan orang dari Jurhum (– arah Yaman – pent.) atau penduduk dari Jurhum, datang dari arah Kada, lalu mereka turun sampai dibawah Makkah. Dan ketika mereka melihat burung yang terbang mengerumuni air, maka mereka pun berkata, “Sesungguhnya burung ini terbang diatas air. Mari kita menuju ke lembah ini dan mengambil air yang ada di dalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengutus seorang atau dua orang utusan yang berlari ke tempat tersebut, ternyata mereka (para utusan itu) menemukan air, sehingga mereka pun kembali ke kabilah tadi dan memberitakan hal itu. Maka mereka semuanya bergerak menuju ke sumber air, sememtara Ummu Ismail berada disana. Maka kabilah itu pun berkata,  “Apakah anda mengizinkan kami untuk singgah disini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Haajar menjawab, “Ya, akan tetapi kalian tidak memiliki air ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabilah itu menjawab, “Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Haajar menyukai keadaan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kabilah itu pun singgah di sana, dan memberitahukan kepada keluarga mereka sehingga akhirnya mereka semua pun singgah di tempat itu pula. Dan diantara mereka pun bermukim disekitar Baitulllooh. Ismail عليه السلام pun tumbuh menjadi pemuda. Belajar bahasa Arab dari mereka dan membuat mereka (kabilah itu) kagum padanya. Sehingga ketika Ismail عليه السلام menginjak usia pemuda, maka mereka pun menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Lalu meninggallah Ummu Ismail. Kemudian setelah Ismail عليه السلام menikah, datanglah Ibrohim عليه السلام untuk melihat keadaan keluarganya, namun tidak sempat menemui Ismail عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bertanyalah Ibrohim عليه السلام pada istri Ismail عليه السلام tentang keadaan Ismail عليه السلام. Kemudian istri Ismail عليه السلام menjawab, “Ismail sedang keluar mencari sesuatu untuk kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya lagi, “Bagaimana kehidupan kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Ismail عليه السلام menjawab, “Kami dalam keadaan buruk, kami dalam keadaan sempit, kesulitan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia pun berkeluh kesah pada Ibrohim عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ibrohim عليه السلام berkata, “Sampaikan pada suamimu jika ia datang, salamku untuknya dan katakanlah olehmu padanya agar dia merubah posisi pintu rumahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ismail عليه السلام pulang ke rumahnya, seolah dia merindukan sesuatu, kemudian bertanya lah ia pada istrinya, “Apakah ada seseorang yang datang pada kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya menjawab, “Ya. Telah datang pada kita seorang kakek, begini dan begitu, menanyakan pada kami tentang engkau. Maka aku beritakan padanya. Kemudian kakek itu bertanya padaku bagaimana kehidupan kita, maka aku pun beritakan padanya bahwa kita dalam keadaan kesulitan.”&lt;br /&gt;Ismail عليه السلام bertanya lagi, “Apakah dia berwasiat padamu sesuatu?”&lt;br /&gt;Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkanku untuk menyampaikan salam darinya untukmu dan mengatakan, ‘Ubahlah posisi pintu rumahmu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail عليه السلام berkata, “Itu adalah ayahku dan memerintahkanku untuk menceraikanmu. Maka pulanglah engkau pada keluargamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia pun menceraikannya, kemudian ia menikah dengan wanita yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu Ibrohim عليه السلام kembali mengunjungi mereka, akan tetapi kembali ia tidak bertemu Ismail عليه السلام. Kemudian ditemuinya istri Ismail عليه السلام dan bertanya tentang Ismail عليه السلام. Maka istri Ismail عليه السلام (– yang baru – pent.) menjawab, “Ia sedang keluar mencari sesuatu untuk kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya lagi, “Bagaimanakah kalian dan kehidupan kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka istri Ismail عليه السلام menjawab, “Alhamdulillah kami baik-baik saja dan dalam keadaan lapang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia pun memuji Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya, “Bagaimana makanan kalian?”&lt;br /&gt;Istri Ismail عليه السلام menjawab, “Daging.”&lt;br /&gt;Kemudian Ibrohim عليه السلام bertanya, “Apa minuman kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Ismail عليه السلام menjawab, “Air.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Nabi Ibrohim عليه السلام berdoa, “Ya Allooh, berkahilah daging dan air mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pada saat itu mereka tidak memiliki tepung. Seandainya Ibrohim عليه السلام berdoa agar mereka diberi tepung, niscaya Allooh سبحانه وتعالى akan mengabulkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibrohim عليه السلام berkata kepada istri Ismail عليه السلام ini, “Jika suamimu pulang, sampaikan padanya salam dariku dan perintahkan padanya agar mengokohkan posisi pintu rumahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ismail عليه السلام pulang ke rumahnya, kemudian ia bertanya pada istrinya, “Apakah ada seseorang yang datang pada kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya menjawab, “Ya. Telah datang pada kita seorang kakek, penampilannya baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan istrinya pun memuji ayah Ismail عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian istri Ismail عليه السلام berkata, “Lalu ia menanyakan padaku tentang engkau. Maka aku beritakan padanya. Kemudian kakek itu bertanya padaku bagaimana kehidupan kita, maka aku pun beritakan padanya bahwa kita dalam keadaan baik.”&lt;br /&gt;Ismail عليه السلام bertanya lagi, “Apakah dia berwasiat padamu sesuatu?”&lt;br /&gt;Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkanku untuk menyampaikan salam darinya untukmu dan memerintahkan agar engkau ‘mengokohkan posisi pintu rumahmu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail عليه السلام berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah posisi pintu rumah. Dia memerintahkanku agar aku mempertahankanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian selang beberapa lama Ibrohim عليه السلام datang kembali untuk ketiga kalinya. Sedangkan Ismail عليه السلام sedang mempersiapkan tombaknya dibawah bukit, didekat Zam-Zam. Maka ketika melihatnya, Ismail عليه السلام pun menyambutnya. Maka mereka melakukan apa yang dilakukan seorang ayah terhadap anaknya dan melakukan apa yang dilakukan seorang anak terhadap ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ibrohim عليه السلام berkata, “Wahai Ismail, sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى memerintahkanku dengan suatu perintah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ismail عليه السلام pun menjawab, “Lakukan apa yang Allooh سبحانه وتعالى perintahkan padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrohim عليه السلام berkata, “Maukah engkau menolongku?”&lt;br /&gt;Ismail عليه السلام menjawab, “Aku akan menolongmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrohim عليه السلام berkata, “Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى memerintahkanku untuk membangun disini rumah (Baitullooh), sembari menunjuk ke tempat yang tinggi (Ka’bah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pada saat itulah mereka berdua meninggikan pancangan-pancangan Baitullooh dimana Ismail عليه السلام membawa batu dan Ibrohim عليه السلام membangunnya sehingga bangunan pun menjadi tinggi. Dan kemudian datang dengan membawa batu ini serta meletakkannya dan kemudian berdiri diatasnya dan membangunnya. Sedangkan Ismail عليه السلام yang membawa batu. Kemudian keduanya berdoa, “Ya Allooh, Robb kami, terimalah ini dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Keduanya membangun hingga mengelilingi seputar Ka’bah, sembari keduanya berdoa, “Ya Allooh, Robb kami, terimalah ini dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR Imaam Al Bukhoory no: 3364)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kembali kepada bahasan kita semula, jelaslah bahwa Nabi Ismail عليه السلام itu lahir terlebih dahulu daripada Nabi Ishaq عليه السلام. Karena Sarah merasa iri dengan lahirnya seorang anak bagi Nabi Ibrohim عليه السلام dari Haajar, maka ia pun meminta Nabi Ibrohim عليه السلام untuk membawa Haajar yang telah memiliki anak yakni Nabi Ismail عليه السلام untuk pergi menjauh. Artinya, dikala itu Sarah belum memiliki anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditinggal pergi jauh dengan membawa Haajar dan anaknya (Ismail عليه السلام) ke Mekkah, maka Nabi Ibrohim عليه السلام pun pulang kembali ke Palestina kepada Sarah, dan setelahnya Sarah pun dikaruniai seorang putera yang bernama Ishaq عليه السلام. Dengan demikian, jelaslah bahwa urutan yang terlebih dahulu lahir adalah Nabi Ismail عليه السلام, barulah kemudian Nabi Ishaq عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berita ini diputarbalikkan oleh kaum Yahudi dengan melakukan Tahriif  (pemutarbalikan fakta) sehingga dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) mereka maka tidak disebutkan seperti diatas kejadiannya. Melainkan yang diunggulkan dalam Kitab itu adalah bahwa anak yang dilihat oleh Nabi Ibrohim عليه السلام dalam mimpinya untuk disembelih itu adalah Ishaq عليه السلام, dan bukannya Ismail عليه السلام. Padahal didalam Al Qur’an dijelaskan bahwa putera yang hendak disembelih oleh Nabi Ibrohim عليه السلام (atas perintah Allooh سبحانه وتعالى), sebagaimana dalam mimpinya itu, adalah Nabi Ismail عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Maryam (19) ayat 54 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rosuul dan nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam QS. Shood (38) ayat 48, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِّنْ الْأَخْيَارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam QS. Al Anbiyaa (21) ayat 85, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam QS. Al An’aam (6) ayat 86, dimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan Ismail, Ilyasa`, Yunus dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat diatas dijelaskan bahwa Nabi Ismail عليه السلام, Nabi Ilyasa عليه السلام, Nabi Yunus عليه السلام, Nabi Nuh عليه السلام, Nabi Idris عليه السلام, Nabi Dzulkifli عليه السلام dan Nabi Luth عليه السلام; mereka itu masing-masing memiliki keunggulan di alam semesta ini diantara ummat manusia karena mereka para nabi itu adalah orang-orang yang baik, tepat janji dan orang-orang yang sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya kita ketahui dari firman Allooh سبحانه وتعالى bahwa Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah menyeru kepada Islam; dan bukan menyeru agar menjadi Yahudi ataupun Nashroni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 135-136 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالُواْ كُونُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُواْ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿١٣٥﴾ قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ﴿١٣٦﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(135) Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nashroni, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrohim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrohim) dari golongan orang musyrik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(136) Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allooh dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrohim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Robb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Muslimun)“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semua nabi dan rosuul adalah Muslimun (Islam). Dan kita (Muslim) tidak membeda-bedakan diantara Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام karena mereka adalah dalam posisi yang sama yakni hanya berserah diri kepada Allooh سبحانه وتعالى dan hanya beriman kepada apa yang Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam ayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah meneruskan millah Ibrohim; dan mereka bukanlah menjadi Yahudi ataupun Nashroni !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 140, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطَ كَانُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nashroni) mengatakan bahwa Ibrohim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nashroni? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allooh, dan siapakah yang lebih dzolim daripada orang yang menyembunyikan syahadah* dari Allooh yang ada padanya?” Dan Allooh sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*] Syahadah dari Allooh سبحانه وتعالى adalah persaksian Allooh سبحانه وتعالى yang tertera dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrohim عليه السلام dan anak cucunya bukanlah penganut agama Yahudi ataupun Nashroni dan bahwa Allooh سبحانه وتعالى akan mengutus Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى tahu benar bahwa mereka (Yahudi dan Nashroni) memalsukan ayat-ayat Taurat dan Injil, sehingga bahwa seolah-olah Nabi Ibrohim عليه السلام, Nabi Ismail عليه السلام dan Nabi Ishaq عليه السلام adalah Yahudi atau Nashroni. Padahal yang benar adalah bahwa mereka (Ibrohim عليه السلام, Ismail عليه السلام, Ishaq عليه السلام) adalah Muslimun (Islam), satu millah, satu ajaran sebagaimana ajaran yang dibawakan oleh Nabi Ibrohim عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 163, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrohim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, `Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut menunjukkan bahwa semua nabi-nabi yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan itu adalah diberi wahyu oleh Allooh سبحانه وتعالى, dan mereka semua berdakwah dengan dakwah yang satu yakni Dienul Islam; dan bukan Yahudi atau Nashroni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu didalam Al Qur’an, Allooh سبحانه وتعالى pun menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام dan puteranya bernama Ismail عليه السلام lah yang membangun (merenovasi) Ka’bah. Jadi jelaslah bahwa tidak ada dari Yahudi ataupun Nashroni yang membangun Ka’bah, karena Yahudi itu berasal dari putera Ishaq عليه السلام. Dan Ishaq عليه السلام bertempat tinggal di wilayah sekitar Palestina, sehingga para nabi-nabi yang merupakan anak keturunannya pun juga bertempat tinggal di sekitar wilayah Palestina. Sementara Nabi Isma’il عليه السلام lah yang bertempat tinggal di Mekkah yakni di Jazirah ‘Arob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 125-129:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ﴿١٢٥﴾ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ ﴿١٢٦﴾ وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿١٢٧﴾ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴿١٢٨﴾ رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ ﴿١٢٩﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(125) Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullooh) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqom* Ibrohim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrohim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(126) Dan (ingatlah), ketika Ibrohim berdo`a: “Ya Robbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizqyi dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allooh dan hari kemudian.” Allooh berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(127) Dan (ingatlah), ketika Ibrohim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullooh bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Robb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(128) Ya Robb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(129) Ya Robb kami, utuslah untuk mereka seorang Rosuul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*] Maqom adalah tempat berdiri Nabi Ibrohim عليه السلام diwaktu membangun Ka’bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat 129 QS. Al Baqoroh diatas, jelaslah bahwa Allooh سبحانه وتعالى mengabulkan do’a Nabi Ibrohim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام yang memohon untuk didatangkan seorang Rosuul yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, dari kalangan mereka (bangsa ‘Arob, keturunan dari Ismail عليه السلام) yang kemudian akan membacakan ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى dan mengajarkan Al Qur’an, As Sunnah serta mensucikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penjelasan Allooh سبحانه وتعالى di dalam Al Qur’an bahwa yang diperintahkan untuk disembelih (dikurbankan) oleh Nabi Ibrohim عليه السلام adalah puteranya yang bernama Ismail عليه السلام; dan bukannya Ishaq عليه السلام sebagaimana yang telah diputarbalikkan faktanya oleh kaum Yahudi dalam Kitab mereka; maka perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Ash Shoffaat (37) ayat 101-113 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاء الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ﴿١٠٩﴾ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١١٠﴾ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ ﴿١١١﴾ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيّاً مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿١١٢﴾ وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِن ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ مُبِينٌ ﴿١١٣﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(101) Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(102) Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrohim, Ibrohim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allooh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(103) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrohim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(104) Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrohim,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(105) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”**], sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(106) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(107)  Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(108) Kami abadikan untuk Ibrohim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(109) (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrohim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(110) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(111) Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(112) Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shoolih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(113) Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang dzolim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*] Yang dimaksud adalah Nabi Ismail عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**] Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi itu adalah mempercayai bahwa mimpi itu benar berasal dari Allooh سبحانه وتعالى dan wajib untuk melaksanakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***] Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrohim عليه السلام dan Ismail عليه السلام, maka Allooh pun melarang Ibrohim عليه السلام untuk menyembelih Ismail عليه السلام dan menyuruhnya untuk menggantinya denga berkurban seekor sembelihan (kambing). Peristiwan inilah yang menjadi dasar disyari’atkannya Ibadah Qurban untuk dilakukan pada Hari Raya Haji (Iedul Adha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana didalam penjelasan Tafsir Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله, bahwa yang dimaksud sebagai anak yang sabar (halus) tersebut adalah Ismail عليه السلام, yang merupakan anak pertama yang diberikan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrohim عليه السلام sebagai kegembiraan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat secara redaksional dalam Kitab mereka bahwa Ismail عليه السلام adalah anak dari Nabi Ibrohim عليه السلام yang ketika itu umur Nabi Ibrohim عليه السلام adalah 86 tahun. Dan ketika Ishaq عليه السلام lahir, umur Nabi Ibrohim عليه السلام adalah 99 tahun. Jadi selisihnya adalah tidak kurang dari 15 tahun dimana Nabi Ismail عليه السلام adalah lebih tua daripada Nabi Ishaq عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sesuai dengan ayat 102 QS. Ash Shoffaat diatas, Qurban itu diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Ibrohim عليه السلام untuk melakukan penyembelihan terhadap puteranya yang bernama Ismail عليه السلام, dan bukannya Ishaq عليه السلام. Kemudian setelah Nabi Ibrohim عليه السلام berhasil melalui ujian itu maka di ayat 112 QS. Ash Shoffaat diatas, barulah Allooh سبحانه وتعالى memberitakan tentang kelahiran Nabi Ishaq عليه السلام. Artinya, bahwa Nabi Ishaq عليه السلام adalah terlahir belakangan, sesudah Nabi Ismail عليه السلام. Sungguh berita ini sangatlah jelas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun adanya berita-berita syubhat yang dihembus-hembuskan oleh kaum Yahudi dalam Kitab Perjanjian Lama, bahwa yang diperintahkan untuk disembelih itu adalah Nabi Ishaq عليه السلام yang merupakan anak tunggal (satu-satunya) dari Nabi Ibrohim عليه السلام; maka ini adalah Tahriif (manipulasi fakta) yang terjadi akibat kedengkian, atau rasa hasad (iri) terhadap orang-orang Arab, yang merupakan keturunan dari Ismail عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Arab mengatakan bahwa Mesir adalah Ummul ‘Arob, karena Haajar, ibu daripada Ismail عليه السلام adalah wanita yang berasal dari Mesir. Adapun Ismail عليه السلام menikah dengan wanita dari Bani Jurhum (orang Yaman); sehingga Ismail عليه السلام disebut sebagai Abul ‘Arob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, oleh karena itu dapatlah kita ketahui asal-usul dari kebencian kaum Yahudi terhadap orang-orang Islam yang berlangsung terus sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bila anda membuka internet, dapat ditemukan Website atau Blog “Anti Arabisasi”, yang isinya adalah menyiarkan paham Pluralisme. Syubhat-syubhat itulah yang mereka katakan dalam Kitab-Kitab mereka (Yahudi ataupun Nashroni), karena kedengkian mereka terhadap Nabi Ismail عليه السلام dan keturunannya orang-orang ‘Arob yang daripadanya muncul Nabi Penutup yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم serta terhadap orang-orang Islam; sehingga mereka pun bertekad untuk berpisah dari ajaran Nabi Ibrohim عليه السلام yang sejak semula senantiasa menyerukan Islam kepada ummat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah sesungguhnya Yahudi itu mulai menjauh dari kebenaran dan mulai berani untuk memalsukan dan mengubah-ubah Kitab mereka ataupun memutar balikkan fakta-fakta. Jadi asal muasal Yahudi itu terlahir antara lain atas dasar kedengkian (hasad), sehingga mereka pun mengubah-ubah Kitab mereka sesuai selera mereka, serta melakukan manipulasi dan penggelapan demi penggelapan sejarah. Hal ini akan terus berlangsung dalam berbagai tahapannya. Perjuangan dan kiprah kaum Yahudi akan nampak jelas dalam perkara ini. Bukan saja sekedar “gen”-nya Yahudi, namun memang segala upaya Yahudi tidaklah terlepas dari bibit karakter yang demikian. Benarlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam ayat 113 QS. Ash Shoffaat diatas, bahwa diantara anak cucu keturunan Nabi Ishaq عليه السلام ada yang berbuat kedzoliman dengan kedzoliman yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya didalam sejarah, Nabi Ishaq عليه السلام memiliki putera yang bernama Ya’qub عليه السلام. Dalam QS. Huud (11) ayat 71, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَامْرَأَتُهُ قَآئِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاء إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya`qub.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dari Nabi Ya’qub عليه السلام akan terlahir keturunannya yang bernama Yusuf عليه السلام, sebagaimana difirmankan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Yusuf (12) ayat 4-6:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ ﴿٤﴾ قَالَ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْداً إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ ﴿٥﴾ وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿٦﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku*], sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaithoon itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Dan demikianlah Robb-mu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta`bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni`mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya`qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni`mat-Nya kepada dua orang bapakmu**] sebelum itu, (yaitu) Ibrohim dan Ishaq. Sesungguhnya Robb-mu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*] Bapak Yusuf عليه السلام adalah Ya’qub عليه السلام, putera dari Ishaq عليه السلام, dimana Ishaq عليه السلام adalah putera dari Ibrohim عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**] Yang dimaksud dengan “dua orang bapak” disini, adalah kakek dan ayah dari kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah betapa terhadap Yusuf عليه السلام pun Yahudi hendak berbuat makar yang diakibatkan oleh rasa dengki (hasad) mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, tentang Nabi Ya’qub عليه السلام dan Nabi Yusuf عليه السلام; kemudian Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Harun عليه السلام; dan berikutnya adalah Nabi Sulaiman عليه السلام dan Nabi Daawud عليه السلام akan kita bahas lebih lanjut dalam kajian-kajian mendatang; agar lebih jelas bagaimana kaitannya dengan Bani Isroil, Fir’aun dan berbagai kerusakan yang terjadi hingga zaman kita sekarang ini. Pada intinya, makar-makar Yahudi yang merupakan karakter mereka akan senantiasa terlihat dalam berbagai tahapannya. Dan hendaknya kita sebagai kaum Muslimin mewaspadai hal ini, agar janganlah kita menjadi korban mereka; karena kaum Yahudi telah berketetapan bahwa selain Yahudi akan dijadikan sebagai korban oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANYA JAWAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah perjalanan Nabi Ibrohim عليه السلام dan Nabi Luth عليه السلام ke Mesir, beliau singgah di suatu tempat dimana kaum Sabi’in hidup. Mohon dijelaskan bagaimana tentang ‘Aqidah kaum Sabi’in tersebut. Dan bagaimanakah dakwah Nabi Luth عليه السلام?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kaum Sabi’in atau Saba’iyyah yang ada di Mesir, erat kaitannya dengan ‘aqidah yang memanjang dan mata-rantainya tidak terputus dengan Yahudi hari ini, yaitu penyembah berhala. Misalnya piramida-piramida di Mesir adalah bagian kisah yang tidak terpisahkan dengan kaum Sabi’in ini. Insya Allooh nanti dalam kajian-kajian berikutnya akan kita amati  dan kita bahas bahwa semua yang berkaitan dengan segitiga 60 derajat (logo segitiga piramid bersudut 60 derajat) adalah perpanjangan dari misi dan ideologi Yahudi, yang sebenarnya hal ini tidak boleh ada dalam jiwa kaum Muslimin. Bahkan kalau kita cermati di internet, maka kode internet adalah selalu diawali dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WWW&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-dMbfwm-k9Po/TsNxpSgZR2I/AAAAAAAABBc/1N26DQzBHW8/s1600/Y5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 181px; height: 204px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dMbfwm-k9Po/TsNxpSgZR2I/AAAAAAAABBc/1N26DQzBHW8/s320/Y5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675504909573244770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita rangkaikan ketiga huruf &lt;span style="font-weight:bold;"&gt; “W”&lt;/span&gt; tersebut, maka akan membentuk enam bintang yang merupakan simbol dari Bintang David (Bintang Daud) yang merupakan simbol dari bendera Yahudi  (Israel). Seolah kalau kita memasuki internet maka kita sudah masuk kedalam dunia Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Senin malam, 20 Dzulqo’dah 1432 H -  17 Oktober 2011&lt;br /&gt;http://ustadzrofii.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-6732173451696356057?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/6732173451696356057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/11/asal-usul-yahudi-bgn-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/6732173451696356057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/6732173451696356057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/11/asal-usul-yahudi-bgn-1.html' title='Asal-Usul Yahudi (bgn 1)'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-btnAsrT85j4/TsNx6EDSmpI/AAAAAAAABBo/M3IPOCiJST8/s72-c/Y1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-6809738258738091085</id><published>2011-11-02T09:01:00.000-07:00</published><updated>2011-11-16T00:11:44.976-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Yahudi ~'/><title type='text'>Yahudi dan Percaturan Dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-W8V3IVaBIb4/TsNvO9CEOII/AAAAAAAABBQ/4lSx4TOmdaM/s1600/Y2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-W8V3IVaBIb4/TsNvO9CEOII/AAAAAAAABBQ/4lSx4TOmdaM/s320/Y2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675502258109036674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh:  Ust. Achmad  Rofi’i, Lc.M.Mpd.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan kali ini, kita mencoba untuk memaparkan perkara yang termasuk penting bagi penyadaran ummat ini, berkenaan dengan apa yang menjadi musuh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم; supaya kita bisa menjaga diri dan berhati-hati, dan pada akhirnya adalah agar kita selamat. Karena kaum Muslimin terkadang lalai (lengah), seperti mereka itu tidak merasakan sesuatu, padahal bisa jadi mereka telah menjadi korban, yang dapat membahayakan dirinya di dunia dan di Hari Akhir. Oleh karena itu, hendaknya kita waspada. Satu sama lain saling mengingatkan dan saling bergandeng-tangan menuju cinta dan ridho Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, judul bahasan kali ini adalah “Yahudi dan Percaturan Dunia”. Namun demikian, judul ini insya Allooh tidak akan keluar dari koridor Syar’ie, dan bukanlah sekedar berupa wawasan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya orang yang bermain catur, maka dalam permainan itu ada maju, mundur, langkah ke samping kiri atau ke samping kanan. Ada yang menjadi raja, ada yang menjadi tentara (pion), ada yang menjadi benteng, ada perdana mentri-nya dan seterusnya. Dan kenyataan yang ada di dunia ini adalah kita (kaum Muslimin) dipermainkan antara lain oleh Yahudi. Kita mendengar berita setiap hari, khususnya orang-orang Palestina dimana negara mereka dicaplok oleh Zionis Israel. Dan dimana orang-orang Palestina setiap saat, mulai dari bayi-bayi, remaja, laki-laki ataupun perempuan, dewasa ataupun orang-orang lanjut usia, setiap hari mereka menjerit. Hanya saja kita tidak mendengar. Bahkan darah mereka tertumpah semau Zionis Israel. Itu terjadi setiap hari, dan setiap hari berjatuhan korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kita mengatakan “Itu kan terjadi di sana (Palestina)”, tetapi wahai kaum Muslimin, tidak sedikit dari kalangan kita yang mengatakan bahwa “Bisa saja kejadian seperti mereka itu akan terjadi di negeri kita Indonesia; atau sedang dalam proses menuju ke negeri kita”.  Mengapa kita tidak berwaspada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah disebutkan dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh (2) ayat 120 dan 217. Bila kita pahami ayat-ayat tersebut, maka kita akan tahu berita dari Allooh سبحانه وتعالى kepada kita tentang perilaku Yahudi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 120 berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allooh itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allooh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang menjadi target mereka adalah: Bagaimana kita mengikuti (mengekor) mereka. Kalaupun kita tidak pindah ke agama mereka, tetapi yang penting adalah agar kita mengikuti mereka. Dalam ayat tersebut ada ancaman Allooh سبحانه وتعالى, bahwa siapa yang tetap mengikuti hawa nafsu mereka (Yahudi dan Nashroni), maka ia tidak berhak mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah berita dari Allooh سبحانه وتعالى, dan ayat tersebut sering diulang-ulang dalam Al Qur’an. Tetapi bukan seringnya diulang, melainkan marilah kita aplikasikan apa bentuk konkritnya dari kita mengerti dan memahami seringnya diulang ayat tersebut. Bukan saja sekedar kuantitas, tetapi juga secara kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 217 berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Harom. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allooh, kafir kepada Allooh, (menghalangi masuk) Masjidi Harom dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allooh. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Yahudi dan Nashroni, mereka tidak pernah akan berhenti sampai Hari Kiamat, selama hayat masih dikandung badan, maka mereka tidak pernah berhenti memerangi kita ummat Islam. Dan barang siapa yang murtad karena pengaruh mereka, maka gugurlah amalannya di dunia dan di Hari Akhirat nanti, serta akan menjadi penghuni neraka selamanya. Na’uudzu billaahi min dzaalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kita punya rasa takut dengan ancaman Allooh سبحانه وتعالى tersebut. Ayat itu memberikan pemahaman kepada kita (ummat Islam) bahwa kita ini semestinya dan harusnya sadar bahwa di sekeliling kita ini banyak tantangan. Jangan terlena, karena target mereka (Yahudi dan Nashroni) itu adalah agar : Ummat Islam musnah atau menjadi kaafir !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk istiqomah tidaklah mudah, maka dipilihnya tema kajian ini adalah karena adanya 3 alasan yang menjadi latar belakang, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Agar kita (Ummat Islam) berhati-hati dan waspada. Yang kewaspadaan itu telah disinyalir oleh Allooh سبحانه وتعالى (seperti dalam surat Al Baqoroh (2) ayat 120 di atas), berkenaan dengan Yahudi dan Nashroni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kita harus selalu ingat (sadar) bahwa mereka (Yahudi dan Nashroni) selalu mengintai kita. Sehingga membahas tentang masalah ini adalah merupakan upaya agar kita bisa istiqomah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam do’a yang diriwayatkan oleh Imaam At Turmudzy dalam Sunan-nya no: 2140 dan dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, beliau berkata bahwa adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  memperbanyak do’a berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘alaa diinik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wahai Yang membolak-balikkan hati, teguhkan dan tetapkanlah hatiku diatas dien-Mu),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, cara agar kita teguh adalah dengan selalu ingat, sadar dan waspada bahwa mereka (Yahudi dan Nashroni) selalu mengintai kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Upaya mengetahui kejelekan (kejahatan) Yahudi ataupun Nashroni ini, adalah agar kita bisa menyikapinya. Hendaknya kita mengambil pelajaran dari perkataan Shohabat Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه dalam suatu Hadits yang panjang, sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 3606  berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه berkata, “ Orang-orang bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang kejahatan, karena takut hal itu menimpaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku katakan, “Wahai Rosuulullooh, sesungguhnya dulu kita berada dalam kejahiliyahan (kebodohan) dan kejahatan, lalu Allooh datangkan pada kami kebaikan (–Islam –pent) ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”&lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan itu akan muncul lagi kebaikan?”&lt;br /&gt;Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Tetapi di dalamnya terdapat noda.”&lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, “Noda apakah itu?”&lt;br /&gt;Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Yaitu suatu kaum yang berpedoman bukan dengan pedomanku. Kamu tahu dari mereka dan kamu ingkari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, “Lalu apakah setelah kebaikan itu akan muncul lagi kejahatan?”&lt;br /&gt;Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Yaitu para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya pada jahannam itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya lagi, “Wahai Rosuulullooh, gambarkanlah kepada kami tentang mereka.”&lt;br /&gt;Lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka adalah dari kalangan kita. Berkata dengan bahasa kita.”&lt;br /&gt;Aku bertanya, “Apa yang kau perintahkan padaku, jika hal itu menimpaku?”&lt;br /&gt;Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Berpegang teguhlah dengan jama’ah muslimin, dan Imaam mereka (– kelompok yang berpegang teguh dengan Al Haq – pent).”&lt;br /&gt;Aku bertanya, “Jika mereka tidak punya jama’ah dan tidak punya Imaam?”&lt;br /&gt;Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati, sedangkan kamu berada dalam keadaan demikian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, upaya kita mempelajari tentang kejahatan Yahudi ataupun Nashroni, dimana mereka itu berperan dalam percaturan dunia di zaman sekarang ini adalah agar kita berhati-hati. Jangan-jangan bidikan mereka itu ditujukan kepada kaum Muslimin, antara lain kita kaum Muslimin di Indonesia ini. Jangan sampai kita lengah dan menjadi sasaran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Muqoddimah, dengan ini disampaikan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemilihan itu adalah Hak Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang dipilih menjadi Rosuul atau tidak menjadi Rosuul, itu adalah Hak Allooh سبحانه وتعالى. Kenapa Muhammad صلى الله عليه وسلم yang dipilih menjadi Rosuul terakhir, dan bukan dari kalangan Bani Isro’il, itu adalah Hak Prerogatif Allooh سبحانه وتعالى. Bukan kehendak manusia dan bukan hak manusia !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Yahudi sangatlah dengki (iri) terhadap hal ini, sehingga bahkan di Internet ada program Anti Arabisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal semua orang tahu bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah orang Arab (suku Quraisy) dan Al Qur’an adalah berbahasa Arab. Demikian pula, penjelasan tentang Al Qur’an dan As Sunnah pun adalah dengan berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ketika dikatakan “Arab”, maka yang dimaksud adalah Islam. Dan program Anti Arabisasi itu yang dimaksud adalah program Anti Islam. Oleh karena itu, hendaknya kita mulai sadar akan hal ini, jangan mudah termakan oleh propaganda musuh-musuh Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil bahwa Pemilihan Rosuul itu adalah Hak Allooh سبحانه وتعالى, adalah sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Hajj (22) ayat 75 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allooh memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allooh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Rosuul adalah dipilih oleh Allooh سبحانه وتعالى. Lalu kita mengetahui tentang adanya Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Malakul-maut, Munkar-Nakir; maka itu semua adalah Allooh سبحانه وتعالى yang memilihnya. Kita tidak boleh membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dari kalangan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى itu memilih Nabi Adam عليه السلام untuk menjadi manusia yang pertama. Lalu nabi-nabi dan rosuul dipilih dari kalangan Bani Isro’il ataupun dari kalangan Arab; maka itu semua adalah karena Allooh سبحانه وتعالى yang memilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ayat tersebut di atas (Surat Al Hajj (22) ayat 75), maka para ‘Ulama Ahlus Sunnah menjelaskannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله mengatakan bahwa : “Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Allooh سبحانه وتعالى memilih dari kalangan malaikat, utusan-utusan, sesuai dengan apa yang Allooh سبحانه وتعالى kehendaki. Dan kehendak itu adalah sesuai dengan kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى. Juga dari kalangan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى memilih untuk menyampaikan risalah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى Maha Mendengar dan Maha Melihat’, maksudnya adalah bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Mendengar atas perkataan hamba-Nya. Maha Melihat terhadap mereka, dan Maha Mengetahui siapa yang berhak untuk dipilih-Nya dari kalangan mereka. Dan Allooh سبحانه وتعالى Maha Mengetahui siapa yang berhak menjadi Rosuul atau pemegang risalah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al An‘aam (6) ayat 124.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An’aam (6) ayat 124 tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا جَاءتْهُمْ آيَةٌ قَالُواْ لَن نُّؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللّهِ اللّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُواْ صَغَارٌ عِندَ اللّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُواْ يَمْكُرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allooh“. Allooh lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerosuulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allooh dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Al Imaam Al Baghowy رحمه الله mengatakan bahwa: “Allooh سبحانه وتعالى memilih utusan-utusan-Nya dari Malaikat. Dan dari kalangan manusia, Allooh سبحانه وتعالى memilih para Nabi dan Rosuul, misalnya: Nabi Ibrahim عليه السلام, Nabi Musa عليه السلام, Nabi ‘Isa عليه السلام dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para nabi lainnya, yang Allooh سبحانه وتعالى turunkan kepada mereka; dan itu adalah ditengah-tengah orang-orang musyrikin. Maka Allooh سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa pemilihan itu adalah atas kehendak-Nya terhadap makhluk-Nya. Dan Allooh سبحانه وتعالى Maha Mendengar perkataan mereka dan Mengetahui apa yang Allooh سبحانه وتعالى pilih dari Rosuul-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله mengatakan bahwa: “Ketika Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan kesempurnaan-Nya dan lemahnya berhala, dan bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allooh سبحانه وتعالى; maka berikutnya Allooh سبحانه وتعالى menjelaskan keadaan Rosuul dan perbedaan para Rosuul itu dengan makhluk lainnya. Yang membedakan mereka para Rosuul itu adalah keutamaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى memilih diantara Malaikat dan manusia sebagai utusan-utusan, agar mereka menjadi yang terbersih diantara manusia dan diantara malaikat. Termasuk bahwa mereka itu adalah yang mengandung sifat-sifat yang sangat terpuji dan berhak untuk dijadikan pilihan Allooh سبحانه وتعالى. Maka para Rosuul itu tidak bisa menjadi Rosuul, kecuali karena mereka itu menjadi makhluk pilihan Allooh سبحانه وتعالى secara mutlak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Surat Al Qoshosh (28) ayat 68, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Robb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka*. Maha Suci Allooh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*] Bila Allooh سبحانه وتعالى telah menentukan sesuatu, maka manusia tidak dapat memilih yang lain lagi dan harus mentaati dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, nanti akan kita lihat bahwa mereka (Yahudi) itu, bukan saja mengatur manusia, tetapi bahkan para Nabi dan Rosuul-pun hendak mereka atur. Bahkan Allooh سبحانه وتعالى pun hendak diperintah oleh mereka. Maka ummat yang congkak adalah Yahudi, sebagaimana hal ini telah diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى, yang dalil-dalilnya insya Allooh akan kita bahas berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله mengatakan bahwa : “Merupakan kehendak Allooh سبحانه وتعالى lah misalnya bahwa Allooh سبحانه وتعالى memilih makhluk-Nya di darat. Kenapa si Fulan dipilih atau tidak dipilih. Perkara tertentu, waktu dan tempat tertentu; semuanya itu adalah Hak Prerogatif Allooh سبحانه وتعالى.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian kita tahun yang lalu, pernah kita bahas sedikit tentang Yahudi dan bagaimana menyikapinya. Namun kali ini, coba kita pertajam bahasan kita, termasuk antara lain yang hendaknya kita sadari adalah bahwa Handphone (HP) kita bisa menjadi “panah” (sarana) bagi kaum Yahudi untuk menjauhkan kaum Muslimin dari Allooh سبحانه وتعالى. Bahkan permainan anak-anak kita yang “kecanduan” dengan teknologi – dan hampir kita semua yang punya anak bisa merasakan hal ini – maka hendaknya kita waspada. Bayangkan saja, hampir semua anak sekarang punya HP. Bila seorang anak diberi HP yang sedikit canggih, maka anak itu akan bisa chatting, SMS, atau internet-an atau facebook-an kemana-mana; dimana hal tersebut merupakan sarana yang sangat empuk untuk berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى, sementara basic (modal) aqidah dan dien anak-anak itu sangat-sangat lemah. Lalu menghadapi sekian banyak tantangan (ma’shiyat zina, musik dsbnya), maka jangankan si anak, bahkan orangtuanya pun ikut terjerumus. Na’uudzu billaahi min dzaalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pokok-Pokok Kerusakan Bersumber dari Yahudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 109 ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allooh mendatangkan perintah-Nya*. Sesungguhnya Allooh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*] Maksudnya: Izin dari Allooh سبحانه وتعالى untuk memerangi dan mengusir orang Yahudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kebanyakan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashroni) sangat senang (suka) seandainya hari ini atau besok atau lusa mereka dapat memurtadkan kaum Muslimin, setelah kaum Muslimin itu beriman maka kembali menjadi kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Hal ini adalah karena kedengkian dan rasa iri dalam jiwa mereka (Yahudi dan Nashroni) setelah jelas pada mereka itu “Kebenaran”. Yang dimaksud “Kebenaran” disini adalah diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Padahal tentang hal ini telah ada dalam Kitab Taurat dan Injil mereka. Jadi tentang Al Islam telah diberitakan dalam Kitab Taurat dan Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, Yahudi dan Nashroni sangat mengenal Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, seolah-olah seperti mereka mengenal anak mereka sendiri. Hal ini telah diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an, yakni dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 146 berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mereka (Yahudi dan Nashroni) itu sangat tahu siapa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan apa itu Islam. Tetapi ternyata setelah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم muncul, mereka malah tidak mau meyakininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, karena hati mereka (Yahudi dan Nashroni) diliputi oleh rasa iri dan dengki. Atas rasa iri dan dengki itu mereka lalu menyatakan : “Mengapa Nabi Muhammad berasal dari orang Arab? Mengapa tidak dari kalangan Bani Isro’il?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah selama ini yang menjadi Nabi selalu berasal dari kalangan Bani Isro’il?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itulah yang menyebabkan mereka hasad (dengki dan iri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaknya kita kaum Muslimin jangan sampai punya jiwa hasad (dengki), karena hasad adalah penyakit orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena mereka (Yahudi) mengikuti hawa nafsu. Banyaknya kerusakan di muka bumi ini adalah karena mereka mengikuti hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disebutkan dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 120 diatas: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan (hawa nafsu) mereka.”, berarti mereka (Yahudi) tidak berpegang teguh pada Taurat, tetapi pada hawa nafsunya. Sebab jikalau mereka berpegang teguh pada Wahyu (Kitab Taurat), maka mereka adalah sama dengan kita (kaum Muslimin) karena sesungguhnya adalah bersaudara; yaitu pada masa Nabi ‘Isa عليه السلام mereka (Yahudi) semestinya menjadi Nashroni dan lalu pada masa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, mereka seharusnya menjadi Islam. Kalau memang mereka itu mau mengikuti kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karena mereka (Yahudi) mengikuti hawa nafsu, maka kedengkianlah yang terjadi. Juga pembangkangan dan permusuhan pun terjadi. Pada akhirnya darah pun tertumpah dimana-mana akibat hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, karena Tahriif. Orang Yahudi dan Nashroni suka men-Tahriif, yaitu mengubah, menganulir ayat-ayat dari Kitab mereka yakni Taurat dan Injil, agar sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini adalah sebagaimana disebutkan didalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 46, dimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيّاً بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْناً فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانظُرْنَا لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِن لَّعَنَهُمُ اللّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُونَ إِلاَّ قَلِيلاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya*. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya**. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa***. Dan (mereka mengatakan): “Raa`ina”****, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allooh mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*] Maksudnya: Mengubah arti kata-kata, tempat ataupun menambah dan mengurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**] Maksudnya: Mereka mengatakan “Kami mendengar”, tetapi sesungguhnya hati mereka mengatakan “Kami tidak mau menuruti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***] Maksudnya: Mereka mengatakan “Dengarlah”, tetapi sesungguhnya hati mereka mengatakan “Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarkan (tuli).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****] “Raa’ina” berarti: “Sudilah kiranya kamu memperhatikan kami”. Dikala para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menghadapkan kata ini kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka orang Yahudi pun memakai kata ini dengan digumamkan seakan-akan menyebut kata “Raa’ina”, padahal yang mereka katakan saat itu adalah “Ru’uunah” yang berarti “Kebodohan yang sangat”, sebagai ejekan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Itulah sebabnya Allooh سبحانه وتعالى menyuruh supaya Shohabat-Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menukar perkataan “Raa’ina” dengan “Unzhurna” yang artinya adalah sama dengan “Raa’ina” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, firman Allooh سبحانه وتعالى ditukar-tukar oleh Yahudi. Sebagai contohnya, terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat), bahwa Nabi Ya’qub عليه السلام menurut mereka (Yahudi) adalah tukang tipu (penipu), karena berusaha merebut warisan dari Nabi Ishaq عليه السلام, dan seterusnya. Bayangkan, Nabi Ya’qub عليه السلام, hamba Allooh سبحانه وتعالى yang shoolih dituduh dengan cara yang keji seperti itu oleh Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi tuduhan yang keji dari Yahudi terhadap para Nabi, hamba Alloh سبحانه وتعالى yang shoolih, seperti Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام, yang disebutkan oleh mereka (Yahudi) sebagai tukang sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang disebut men-Tahriif (mengubah, mengganti dan menukar). Apa yang benar menjadi tidak benar dan menjadi rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله mengatakan: “Siapakah Yahudi itu? Yahudi adalah para ‘Ulama yang sesat dari kalangan mereka; dimana mereka itu bisa mengubah lafadz ayat Kitabnya dan mengubah maknanya, atau bahkan mengubah kedua-duanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan mereka (Yahudi) adalah tukang makar (tukang tipu), sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 54:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allooh membalas tipu daya mereka itu. Dan Allooh sebaik-baik pembalas tipu daya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruslah dipahami bahwa makar Allooh سبحانه وتعالى itu bukan berarti bahwa Allooh سبحانه وتعالى itu jahat. Tetapi untuk menghadapi suatu kejahatan, maka Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Mampu dan Maha Bisa mengalahkan kejahatan tersebut. Dan itu justru menunjukkan keperkasaan Allooh سبحانه وتعالى. Jadi walaupun orang-orang kafir (Yahudi maupun Nashroni) bermakar (menipu) untuk memalingkan manusia dari Kebenaran, namun Allooh سبحانه وتعالى Maha Perkasa untuk mengatasi makar-makar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. At Taubah (9) ayat 32:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (dien) Allooh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allooh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم meninggal, maka yang tertinggal adalah Islam-nya. Dan supaya Islam menjadi padam, maka yang dirusak oleh mereka (Yahudi maupun Nashroni) adalah para pengikut Islamnya (yakni ummat Islam). Karena yang membawa mata rantai Islam sampai hari Kiamat adalah ummat Islam. Oleh karena itu, mereka (Yahudi maupun Nashroni) selalu berusaha menghancurkan ummat Islam, sehingga dengan demikian akan musnahlah Islamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QS. At Taubah (9) ayat 32 tersebut merupakan strategi dari musuh-musuh Allooh سبحانه وتعالى yang sudah diberitakan dan diaba-abakan oleh Allooh سبحانه وتعالى, yakni upaya mereka (Yahudi maupun Nashroni) untuk menjauhkan kaum Muslimin dari Islam. Buatlah orang Islam membenci Islam; maka dengan demikian Cahaya Allooh سبحانه وتعالى akan padam. Maka hendaknya kita kaum Muslimin waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mereka (Yahudi) adalah sumber kerusakan, karena memang sudah diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى bahwa mereka itu perusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Isroo’ (17) ayat 4 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوّاً كَبِيراً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Isroil dalam kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdurrohmaan As Sa’di رحمه الله menjelaskan tentang ayat diatas bahwa : “Allooh سبحانه وتعالى sudah memberitahukan kepada mereka dalam Kitab mereka, bahwa pasti terjadi dari mereka (Yahudi) itu melakukan kerusakan dua kali, yakni dengan ma’shiyat dan dengan kesombongan. Yaitu sombong terhadap nikmat Allooh سبحانه وتعالى, dengan mereka merasa sebagai makhluk paling tinggi di muka bumi ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, jadi Allooh سبحانه وتعالى telah memberitahu kepada kita kaum Muslimin bahwa orang-orang Yahudi itu akan membuat kerusakan di muka bumi. Maka wahai kaum Muslimin, janganlah kalian lengah dan lalai terhadap hal ini dan jangan mudah termakan oleh propaganda musuh-musuh Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, telah terdapat data-data bahwa Yahudi memprediksikan tahun 2012 ini akan terjadi huru-hara. Mereka telah memiliki rencana (skenario) bahwa manusia akan dimusnahkan, dan tinggallah mereka saja yang ada di muka bumi ini. Sehingga dari penduduk bumi yang kira-kira berjumlah 6-7 milyar orang, akan tersisa sekitar 500 juta orang saja dari kalangan mereka (sebagaimana hal ini tertera dalam Monumen Georgia Stone).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Georgia Stone tersebut berisi 10 aturan dalam “New World Order”. Dalam baris pertama yakni:  “1. Maintain humanity under 500,000,000 in perpetual balance with nature.” yang artinya 93% ras manusia harus dimusnahkan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-mWC0WHP7Qvo/TsNu3ktVHAI/AAAAAAAABBE/X7g4dMW4Pzc/s1600/Y4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 241px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-mWC0WHP7Qvo/TsNu3ktVHAI/AAAAAAAABBE/X7g4dMW4Pzc/s320/Y4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675501856442620930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mereka (orang-orang Yahudi itu) telah mempersiapkan bangunan kokoh sebagai tempat persembunyian mereka di bawah tanah untuk bertahan selama 60 bulan (sekitar 5 tahun) persediaan makanan, pada saat huru-hara tersebut terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau misalnya saja sampai hal itu terjadi, maka itulah bukti bahwa Allooh سبحانه وتعالى Maha Benar yang telah memperingatkan kita kaum Muslimin, bahwa pekerjaan Yahudi itu adalah merusak diatas muka bumi. Hanya saja kebanyakan kita kaum Muslimin tidak (belum) sadar, serta tidak waspada. Oleh karena itu segeralah kita bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى, karena tidak bersegera untuk istiqomah (lurus) di jalan Allooh سبحانه وتعالى. Padahal kalau terjadi pembangkangan, terjadi kemunkaran, semestinya kita kaum Muslimin harus tetap istiqomah di jalan Allooh سبحانه وتعالى, sehingga mudah-mudahan kelak kita mati dalam keadaan yang husnul khootimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Yahudi itu juga sedemikian radikalnya, sehingga nabi-nabi mereka sendiri pun, mereka bunuh. Bayangkan, nabi-nabi mereka bunuhi. Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang memberitakan tentang pembunuhan para Nabi oleh orang-orang Yahudi, antara lain adalah sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 61:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْاْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Robb-mu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allooh. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allooh dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat dengan jelas bagaimana perilaku orang-orang Yahudi tersebut terhadap Nabi mereka. Mereka (Yahudi) bahkan berani-beraninya “menyuruh” Nabi Musa عليه السلام. Padahal seharusnyalah kalau mereka itu orang yang beradab, tentunya tidaklah layak menyuruh kepada Nabi-nya; tetapi seharusnyalah mereka mengatakan: “Mari kita bersama-sama memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى”, dan seterusnya. Jadi bukan dengan menyuruh kepada Nabi Musa عليه السلام, sebagaimana yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut diberitakan bahwa mereka (Yahudi) itu dijadikan nista dan hina oleh Allooh سبحانه وتعالى, serta kemurkaan Allooh سبحانه وتعالى tertimpa atas mereka; itu adalah karena mereka (Yahudi) kafir, selalu mengingkari ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى, dan membunuh nabi-nabi mereka, serta berma’shiyat yang melampaui batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam kesempatan lain, insya Allooh akan kami sampaikan tentang perkara Kitab Talmud, yakni kitab yang mereka bikin atau karang sendiri, yang isinya sangatlah keji. Sejak tahun 1965 Kitab Talmud yang terdiri tidak kurang dari 24 jilid tersebut diterjemahkan dan barulah selesai penterjemahannya kedalam bahasa Ibrani, bahasa Inggris, lalu kedalam bahasa Indonesia beberapa tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perlu kaum Muslimin sadari, bahwa apabila tabiat Yahudi adalah seperti yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan, dan kalau Kitab karangan mereka sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, maka tentu “virus” kerusakannya pun juga akan menyebar. Dan itu akan menjadi bahaya bagi kita kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, sudah semestinya kita kaum Muslimin memiliki sikap, sekalipun huru-hara yang mereka rencanakan itu belum terjadi, namun seharusnya kita sudah mulai berfikir. Karena orang-orang Yahudi secara rahasia, sejak abad ke-18 (tahun 1700-an), sudah menjalankan rapat-rapat rahasia yang dihadiri oleh berbagai negara, dimana mereka bersepakat untuk menghancurkan dunia. Maka hendaknya kita harus waspada, karena bisa saja kita menjadi korbannya, tanpa kita sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian bahasan kita kali ini sebagai Muqoddimah, mudah-mudahan pada kesempatan yang akan datang, insya Allooh akan kita bahas tentang Silsilah dari mulai Nabi Ibrohim عليه السلام sampai kepada Nabi Sulaiman عليه السلام dan Nabi Daawud عليه السلام. Karena sejak dari situlah ternyata Yahudi ber-makar dengan berbagai caranya di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANYA JAWAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai saran saja, bahwa dari analisa sosial yang ada dalam masyarakat Islam sekarang di Indonesia, maka ketidak pedulian atau sangat sedikitnya kewaspadaan mereka kaum Muslimin terhadap ancaman Yahudi seperti disebutkan diatas, barangkali disebabkan antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemahaman atas surat Al Faatihah (1) ayat 7, terutama kalimat Maghdhuubi (المَغضُوبِ) dan Adh Dhoolin (الضَّالِّينَ) adalah kurang dipahami oleh kaum Muslimin, terutama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sejarah keberagamaan sejak Nabi Adam عليه السلام sampai sekarang tidak tuntas disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Maka bila pada pertemuan yang akan datang, insya Allooh akan dipaparkan bagaimana kondisi beragama dari zaman Nabi Ibrohim عليه السلام sampai periode Nabi Musa عليه السلام, lalu sampai kepada periode Nabi ‘Isa عليه السلام, dan pada akhirnya sampai kepada periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم; maka kami akan sangat berterima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dan juga pasca periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, kita hanya mempelajari Islam sejak periode Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sampai sekarang saja. Sementara, bagaimana perkembangan Yahudi, bagaimana peran Samiri, bagaimana pengubahan Kitab Taurat menjadi beberapa kitab di kalangan Yahudi maka hal itu tidak pernah kita pelajari atau tidak pernah disampaikan oleh para Ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Rupanya ada semacam ke-tabu-an di kalangan para penceramah (Ustadz) untuk menyampaikan ke-Tauhid-an Nabi Musa عليه السلام, Nabi Daawud عليه السلام, Nabi Sulaiman عليه السلام serta Nabi ‘Isa عليه السلام; yang sampai sekarang masih tersurat di Kitab Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kiranya yang perlu kita dalami, dan kami sangat berharap, karena hal tersebut sangatlah mendasar, sehingga kita kaum Muslimin menjadi tahu (paham) bahwa apa yang dijelaskan diatas, ketika ada Konsili terakhir Yahudi di tahun 1935, Samuel Pieter salah seorang dedengkot Yahudi dari Jerman mengatakan: “Orang Islam itu tidak perlu sampai di-murtadkan, cukup mereka itu dijauhkan dari agamanya (Islam) maka itu sudah bagus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga dibuat label-label, dan kemungkinan kalau kita bicarakan hal ini, maka akan terjadi kontra diantara ummat Islam sendiri, dimana kalau kita mau jujur, maka ternyata banyak sekali dana-dana Yahudi yang disalurkan kepada organisasi Islam di Indonesia. Ini kita harus berhati-hati. Dan kita harus berani mengatakan bahwa Lembaga A, organisasi B adalah antek-antek Yahudi. Pemusik ini, penyanyi itu, mereka itu adalah pecinta Yahudi dan seterusnya. Hal itu perlu disampaikan kepada ummat Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih, usulan dan komentar tersebut bisa dijadikan masukan bagi kami untuk bahasan yang akan datang. Memang benar, kita ummat Islam di Indonesia dalam mengkaji dienul Islam sangatlah terbatas. Sejak kecil kita belajar dienul Islam sepekan paling lama 2 jam. Kalau seorang anak tidak disekolahkan di Pesantren atau Madrasah; maka paling hanya sekitar 2 jam saja ia itu belajar Islam dalam sepekannya. Artinya, porsi untuk mendasari seseorang dengan dienul Islam, sangatlah kurang di Indonesia ini. Maka sejak dahulu di masyarakat kita, yang diketahuinya itu hanyalah perkara sholat, shoum, zakat, haji (– itupun juga belum maksimal sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم –), sesudah itu maka selesai. Sehingga berbagai perkara seperti hukum Rajam, hukum potong tangan, hukum kepemerintahan didalam Islam, dan berbagai hukum lainnya itu sangat jarang bahkan hampir-hampir tidak pernah dibahas oleh kaum Muslimin di negara kita. Hal ini adalah karena porsi belajar Islam bagi kita kaum Muslimin di Indonesia itu sangatlah kurang (minim). Sehingga pada hakekatnya, ummat Islam di Indonesia ini seperti “kurang gizi” dalam perkara dien (agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut informasi agama, katanya Nabi Daawud عليه السلام beristrikan 99 orang. Sementara Nabi Sulaiman عليه السلام beristrikan tidak kurang dari 350 orang. Kalau itu benar, apakah ketika zaman itu terlalu banyak wanitanya ataukah kurangnya kaum laki-laki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nabi dan Rosuul adalah ma’shum, terjaga dari salah dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 48:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwa Allooh jadikan setiap kaum itu ada syari’at, dan jalan masing-masing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah masing-masing kaum (di masa masing-masing Nabi) syari’atnya adalah berbeda-beda. Tetapi Aqidahnya adalah sama, yakni hanya menyembah Allooh سبحانه وتعالى. Laa Ilaaha Ilallooh. Tetapi Fiqihnya berbeda-beda. Kalau Nabi Daawud عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام beristri (menikah) dengan sekian banyak wanita, maka itu adalah karena Syari’at yang berlaku di zaman ketika itu membenarkan atau membolehkan hal itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh lain, misalnya pada zaman Bani Isroil, kalau mereka ingin bertaubat kepada Allooh سبحانه وتعالى maka mereka harus membunuh dirinya sendiri (bunuh diri). Sementara di zaman Islam, bila kita berbuat dosa (kesalahan), lalu ingin bertaubat maka tidak harus bunuh diri, cukup dengan bertaubat (memohon ampun) kepada Allooh سبحانه وتعالى dan menyesali perbuatan yang telah dilakukan serta tidak mengulangi perbuatan itu lagi, dan seterusnya. Hal ini menunjukkan bahwa Allooh سبحانه وتعالى sangatlah sayang kepada kita ummat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang Muslim (mengaku Muslim) tetapi ia berperilaku seperti milat Yahudi atau Nashroni, apakah itu sudah bisa dianggap murtad, keluar dari Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi karena tabi’at seseorang itu munafiq, atau bisa jadi karena seseorang itu Jaahil (bodoh), yaitu ia mengaku Islam tetapi loyalnya kepada orang kaafir. Tetapi kalau ia tidak Jaahil, tentunya tidak akan terjadi demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’(4) ayat 138-139:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا  - الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beritahukanlah kepada orang munafiq bahwa mereka berhak mendapatkan adzab (siksa) yang pedih. Yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kaafir sebagai wali-wali mereka selain orang-orang yang beriman…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kalau ia mengerti atau beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى, bahwa orang yang ber-wala’ (loyal) kepada orang kaafir adalah munafiq (nifaq besar), yang berarti ia telah murtad, keluar dari Al Islam; maka tentu ia tidak akan melakukan yang seperti itu. Orang munafiq yang demikian itu karena ia berada di tengah-tengah kaum Muslimin, tetapi hatinya bersama orang-orang kaafir. Dan sebetulnya ia pun dengan seperti itu menjadi kaafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, hendaknya kita tahu indikator atau parameter kapan seseorang itu murtad, kapan seseorang itu mu’min (beriman),kapan seseorang itu Muslim, Munafiq atau Kaafir, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui ta’lim, melalui mengaji Al Qur’an dan Sunnah, maka kita menjadi tahu indikator dan parameter yang dimaksud, insya Allooh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pun mengkafirkan seorang yang sudah Muslim, maka itu adalah perlu kehati-hatian dan perlu tahapan serta tidak boleh sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى selalu menunjukkan kepada kita jalan yang lurus, istiqomah diatasnya, serta semoga kita diberi kemudahan untuk menjalankan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى ini, dan semoga Allooh سبحانه وتعالى jadikan kita sebagai penyeru kepada dien yang lurus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Senin malam, 6 Dzulqo’dah 1432 H -  3 Oktober 2011&lt;br /&gt;http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/10/28/yahudi-dan-percaturan-dunia/#more-3217&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-6809738258738091085?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/6809738258738091085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/11/yahudi-dan-percaturan-dunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/6809738258738091085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/6809738258738091085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/11/yahudi-dan-percaturan-dunia.html' title='Yahudi dan Percaturan Dunia'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-W8V3IVaBIb4/TsNvO9CEOII/AAAAAAAABBQ/4lSx4TOmdaM/s72-c/Y2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-1666712621178710233</id><published>2011-10-20T08:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T08:24:03.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Ushul Fiqh ~'/><title type='text'>Sejarah Ushul Fiqh versi Ahlus Sunnah wal Jama'ah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-EzJdWf-8lX8/TqQxiXac4KI/AAAAAAAAA_Y/gllx7ia2SNk/s1600/n5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-EzJdWf-8lX8/TqQxiXac4KI/AAAAAAAAA_Y/gllx7ia2SNk/s320/n5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666708697609199778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ilmu ushul fikih menurut ahlu sunnah wal jama’ah sebagaimana bidang keilmuan lainnya mengalami dan melalui beberapa tahapan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Marhalah Tadwin (kodefikasi) atau penulisan dasar-dasar ilmu ushul fikih yang dipelopori oleh imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i&lt;br /&gt;2.    Marhalah Ittijaah al-Haditsi (ushul fikih dengan metodologi hadits) yang dipelopori imam Al-Khothib al-Baghdadi dan Ibnu Abdilbarr.&lt;br /&gt;3.    Marhalah Ishlah dan pelurusan yang tidak benar dalam ilmu ushul fikih yang dipelopori imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Marhalah-marhalah perkembangan ilmu ushul fikih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1.    Marhalah pertama dimulai pada masa imam asy-Syafi’i dan berakhir kurang lebih sekitar akhir abad ke empat hijriyah.&lt;/span&gt; Keistimewaan marhalah ini adalah penulisan kaidah ilmu ushul fikih oleh imam asy-Syafi’i dan keadaan serta kondisi yang berhubungan langsung dengan penulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy-Syafi’i hidup dimasa berkembangnya dua madrasah yang setiap dari madrasah ini tegak diatas manhaj yang tidak sama dengan yang lainnya. Dua madrasah ini adalah madrasah hadits yang berada di Madinah dengan tokoh besarnya adalah imam Malik bin Anas bin Malik al-Ashbahi (w 179 H) dan kedua adalah madrasah ar-Ra’yi yang berada di Irak dengan tokoh besarnya adalah para murid Abu Hanifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madrasah hadits dikenal sangat kental dan dekat dengan riwayat, karena kota Madinah adalah tempat berkumpulnya para sahabat dan tempat turunnya wahyu. Sebaliknya madrasah ar-Ra’yi sangat kental nuansa akalnya karena tidak memiliki sebab-sebab riwayat seperti di Madinah, ditambah lagi banyaknya fitnah dan pemalsuan hadits di sana. Yang perlu diperhatikan bahwa kedua madrasah ini sepakat mewajibkan untuk menerima dan mengamalkan al-Qur`an dan sunnah dan tidak mendahulukan akal dari kedua sumber tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini imam asy-Syafi’i mampu mengkompromikan kedua madrasah ini dan memperoleh keistimewaan yang dimiliki masing-masing madrasah tersebut. Beliau menyatukan fikih imam Malik di Madinah – yang beliau sendiri adalah murid imam Malik – dan fikih Abu Hanifah di Irak, karena beliau berguru langsung kepada imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (w 189 H) ditambah dengan fikih ahli Syam dan Mesir karena beliau pun mengambil ilmu dari para ulama pakar fikih di sana. Ditambah lagi dengan Madrasah Makkah yang memiliki perhatian lebih besar dalam tafsir al-Qur`an dan sebab turunnya.  Dimana beliau belajar langsung di Makkah kepada para ulama fikih dan ulama hadits disana hingga mendapatkan kedudukan sebagai mufti. Semua ini didukung dengan kepakaran beliau dalam bahasa Arab yang beliau dapatkan dari pedalaman Arab pada kabilah Hudzail yang termasuk suku terfasih dalam berbahasa Arab. Dengan anugerah besar yang dimiliki inilah –dengan taufiq dari Allah- beliau mampu meletakkan ushul dan kaidah dalam ber-istimbath (pengambilan hukum dari dalil) serta ketentuan berijtihad. Juga beliau mampu menjadikan fikih diambil dari sumber hukum yang jelas dan pasti. Dengan sebab itu beliau membuka pandangan ulama fikih dan memberikan contoh kepada para mujtahid setelah beliau untuk bertindak seperti yang telah beliau lakukan dan menyempurnakan yang ditemui mereka nantinya. Demikianlah imam asy-Syafi’i menulis kitab “ar-Risaalah” yang menjadi kitab pertama dalam ushul fikih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal (w 241 H) berkata: Dahulu fikih itu terkunci pada ahlinya saja hingga Allah bukakan dengan asy-Syafi’i. (lihat Tahdzieb al-Asma’  wa al-Lughaat 1/61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga menyatakan: Dahulu peradilan kami berada di tangan para sahabat Abu Hanifah tidak dapat diganggu gugat hingga kami melihat imam asy-Syafi’i. Beliau orang terpakar dalam al-Qur`an dan sunnah Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan ahli hadits tidak akan pernah kenyang dari kitab-kitab asy-Syafi’i. (lihat Muqaddimah kitab ar-Risalah hal. 6 ). Juga berkata: Kalau bukan imam asy-Syafi’i maka kami tidak mengenal fikih hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy-Syafi’i telah meletakkan pondasi pertama penulisan dan kodefikasi ilmu ushul dan menjelaskan ketentuan ilmu ini serta memperjelas gambarannya.&lt;br /&gt;Imam Syafi’i dalam upaya beliau menyusun ilmu ushul fikih mengikuti jejak langkah orang sebelum beliau dan bersandar kepada al-Qur`an dan sunnah serta siroh para sahabat dan atsar para imam besar. Juga mengambil faedah dari ilmu bahasa Arab dan sejarah manusia, serta penggunaan akal dan qiyas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah beliau, bermunculan upaya para ulama ahli sunnah, namun baru berkisar pada permasalahan komitmen dengan Al-Qur`an dan sunnah. Diantaranya adalah:&lt;br /&gt;a.    Risalah imam Ahmad tentang ketaatan kepada Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;b.    Kitab Akhbaar Ahaad dan kitab al-I’tishom, keduanya bagian dari shohih al-Bukhori.&lt;br /&gt;c.    Kitab Ta’wiel Musykil al-Qur`an dan kitab Ta’wiel Mukhtalaf al-Hadits keduanya karya Ibnu Qutaibah.&lt;br /&gt;d.    Dan kitab lainnya yang dikarang para ulama salaf lainnya.&lt;br /&gt;Pada marhalah ini kodefikasi ilmu usul fikih telah sempurna melalui karya imam asy-Syafi’i kemudian datang para ulama setelah beliau menyempurnakan upaya yang telah beliau mulai khususnya yang berhubungan dengan komitmen kepada Al-Qur`an dan sunnah. Semua upaya ini merupakan benang merah manhaj ahli sunnah dan kaedah umum dalam ushul fikih versi ahlu sunnah. Marhalah ini memiliki pengaruh besar dan penting bagi para ulama setelah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2.    Marhalah kedua berawal dari awal abad kelima hijriyah hingga sekitar akhir abad ketujuh Hijriyah. Dalam masa ini muncullah dua imam besar, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a.    Imam ahli sunnah ditimur al-Khothib al-Baghdadi penulis kitab Tarikh Baghdad&lt;br /&gt;b.    Imam ahli sunnah di Barat Abu Umar bin Abdilbarr penulis kitab at-Tamhied.&lt;br /&gt;Al-Khothib al-Baghdadi menulis dalam bidang ushul fikih kitab al-Faqieh wa al-Mutafaqqih yang beliau buat sebagai nasehat kepada ahli hadits. Kitab ini termasuk pengembangan dari kitab ar-Risaalah karya imam asy-Syafi’i dengan beberapa penambahan seperti permasalahan jidaal dan pembahasan yang berhubungan dengan adab fikih.&lt;br /&gt;Sedangkan Ibnu Abdilbarr menulis kitab Jaami’ Bayaan al-Ilmi wa Fadhlihi sebagai jawaban bagi orang yang bertanya tentang beberapa pertanyaan yaitu:&lt;br /&gt;-    Pengertian ilmu.&lt;br /&gt;-    Pengokohan hujjah dengan ilmu.&lt;br /&gt;-    Penjelasan salahnya orang yang berbicara dalam agama Allah tanpa pemahaman yang benar.&lt;br /&gt;-    Larangan memvonis tanpa hujjah.&lt;br /&gt;-    Apa yang diperbolehkan dan yang dibenci dalam adu hujjah dan debat.&lt;br /&gt;-    Pemikiran akal mana yang dicela dan mana yang dipuji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul dalam marhalah ini juga dua kitab yaitu:&lt;br /&gt;-    Kitab Taqwiem al-Adilah karya Abu Zaid ad-Dabuusy. Ibnu Kholdun mengomentari kitab ini dengan menyatakan: Adapun metodologi versi madzhab Abu Hanifah, maka para ulamanya telah menulis banyak sekali karya tulis dan yang terbaik untuk mutaqaddimin adalah karya Abu Zaid ad-Dabuusi. (Muqadimah Ibnu Kholdun hal. 361)&lt;br /&gt;-    Kitab al-Mustashfa karya al-Ghazali. Kitab ini diringkas oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Raudhah an-Naazhir Wa Jannat al-Manaazhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhalah ini memiliki karakteristik banyaknya materi ushul yang dibangun dari hadits nabi dan atsar shohih dari sahabat dan tabi’in dan masuknya metodologi hadits yang dapat dilihat dari penyampaian riwayat dengan sanadnya. Metodologi ini tidak hanya sebatas pada riwayat dan penyampaian hadits namun juga padanya istimbath, fikih, penetapan qiyas dan ijtihad serta lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhalah ini merupakan pengembangan dari marhalah sebelumnya yang diwakili dengan kitab ar-Risaalah. Ibnu Abdilbarr dan al-Khothib al-Baghdadi serta Abu Manshur as-Sam’aani sendiri mengambil faedah dari peninggakan asy-Syafi’i. Sedangkan kitab Raudhah an-Naazhir memberikan gambaran baru yang nampak sekali pengaruh manhaj mutakallim (ahli kalam) dengan tetap menjaga konsep dasar manhaj salaf padanya secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;3.    Marhalah ketiga yang dimulai pada awal abad kedelapan sampai sekitar akhir abad kesepuluh hijriyah.&lt;/span&gt; Muncul dalam marhalah ini dua imam yaitu:&lt;br /&gt;a.    Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;b.    Ibnu al-Qayyim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhalah ini memiliki karekteristik yang dibangun diatas dua pokok :&lt;br /&gt;-    Penjelasan dan penampakan kaedah-kaedah ushul sesuai manhaj salaf&lt;br /&gt;-    Pengarahan kritik dan pelurusan kesalahan yang ada pada mutakallimin (ahli kalam) dalam kaedah-kaedah ushul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini selesai melalui imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim. Keduanya membangun upaya besar tersebut diatas kekayaan ilmiyah yang ditinggalkan imam asy-Syafi’i dan ulama yang sejalan dengan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada marhalah ini muncul juga karya-karya ilmiyah para ulama madzhab Hambali seperti Ibnu al-Lahaam, al-Mirdaawi, dan al-Fatuhi. Namun nampaknya semua adalah pengembangan dari kitab Ibnu Qudamah yang masih nampak pengaruh manhaj mutakallimnya. Walaupun mereka tentunya menerima dan mengambil faedah dari karya-karya Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim sehingga nampak sekali dengan jelas terpengaruhnya kitab-kitab ini dengan ketetapan kedua imam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah marhalah-marhalah yang dilewati ahlu sunnah dalam perjalanan pembentukan ilmu ushul fikih. Kemudian muncul juga beberpa karya tulis dari sebagian ulama ahli sunnah namun semuanya kembali kepada keterangan yang sudah dibuat dalam marhalah-marhalah diatas. Diantara karya ilmiyah tersebut adalah:&lt;br /&gt;1.    ?????? ??? ???? ?????? ???? ?? ???? karya syeikh Abdulqadir bin Badraan ad-Dumi ad-Dimasyqi (wafat tahun 1346 H)&lt;br /&gt;2.    ”???? ?????? ??????” ??? ???? “???? ?????? ???? ???????”? karya beliau juga.&lt;br /&gt;3.    ”????? ????? ?? ???? ?????” karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat tahun 1376 H)&lt;br /&gt;4.    ”????? ?????? ??? ????? ??????” karya Haafizh bin Ahmad al-Hakami wafat tahun 1377 H&lt;br /&gt;5.    ”????? ???? ????? ??? ???? ??????” karya Muhammad al-Amien asy-Syinqithi (wafat tahun 1393 H). dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;Diringkas dari: Ma’alim Ushul Fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah&lt;br /&gt;Artikel:ustadzkholid.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-1666712621178710233?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/1666712621178710233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/sejarah-ushul-fiqh-versi-ahlus-sunnah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1666712621178710233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1666712621178710233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/sejarah-ushul-fiqh-versi-ahlus-sunnah.html' title='Sejarah Ushul Fiqh versi Ahlus Sunnah wal Jama&apos;ah'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-EzJdWf-8lX8/TqQxiXac4KI/AAAAAAAAA_Y/gllx7ia2SNk/s72-c/n5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-1995358788834184355</id><published>2011-10-13T11:09:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T07:19:27.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Dakwah ~'/><title type='text'>Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-zYFSz2l5K7s/Tp2K356IuyI/AAAAAAAAA84/T1nvXzLdNQM/s1600/blue%2Bros%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 284px; height: 177px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zYFSz2l5K7s/Tp2K356IuyI/AAAAAAAAA84/T1nvXzLdNQM/s320/blue%2Bros%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664836599344053026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebuah renungan dari sepenggal kisah nyata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat lalu, penulis diceritai adik ipar kisah seorang mantan preman yang mendapatkan hidayah mengenal manhaj salaf. Katanya, dulu ketika masih preman, ia amat dibenci masyarakat kampungnya; karena ke-rese-annya; gemar mabuk, berjudi, mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan masyarakat. Namun, tidak ada seorangpun yang berani menegurnya; karena takut mendapatkan hadiah bogem mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berjalannya waktu, Allah ta’ala berkenan mengaruniakan hidayah kepada orang tersebut. Dia mengenal ajaran Ahlus Sunnah dan intens dengan manhaj salaf. Namun demikian, setelah ia berubah menjadi orang yang salih dan alim, ia tidak kemudian disenangi masyarakatnya, malahan mereka tetap membencinya. Padahal ia tidak lagi mempraktikkan tindak-tindak kepremanannya yang dulu. Bahkan, kalau dulu masyarakatnya tidak berani menegurnya, sekarang malah berani memarahinya, bahkan menyidangnya pula.&lt;br /&gt;Apa pasalnya? Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu dibenci karena kepremanannya, sekarang dibenci karena ‘kesalihan’nya…&lt;br /&gt;Haruskah orang yang menganut manhaj salaf dibenci masyarakatnya? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan? Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalisirnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang betul seorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi tantangan. Sedangkan di zaman Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam dan kurun ulama salaf saja, ada tantangan bagi pengusung kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, di mana kejahatan lebih mendominasi dunia dibanding kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj salaf, murni diakibatkan kekokohan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip, atau dikarenakan kekurangbisaan mereka dalam membawa diri, kekurangpiawaian dalam menjelaskan prinsip dan kekurangpandaian dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dengan penerapan akhlak mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allah semata, penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perintah untuk Berakhlak Mulia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:&lt;br /&gt;Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;“وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ”&lt;br /&gt;Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;“وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ”&lt;br /&gt;“Berakhlak mulialah dengan para manusia.” (H.R. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa itu Akhlak Mulia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:&lt;br /&gt;“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى”&lt;br /&gt;“Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti.” [Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala' al-A'lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû' Rasâ'il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:&lt;br /&gt;Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.&lt;br /&gt;Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;Artikel www.tunasilmu.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-1995358788834184355?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/1995358788834184355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1995358788834184355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1995358788834184355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-1.html' title='Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 1'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zYFSz2l5K7s/Tp2K356IuyI/AAAAAAAAA84/T1nvXzLdNQM/s72-c/blue%2Bros%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-4510103078391075599</id><published>2011-10-11T09:59:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T09:38:40.616-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Dakwah ~'/><title type='text'>Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-rED7Jk3rVyg/TqRDAhsdlDI/AAAAAAAAA_k/RO66WNqg0Hs/s1600/n8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-rED7Jk3rVyg/TqRDAhsdlDI/AAAAAAAAA_k/RO66WNqg0Hs/s320/n8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666727907462845490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa maksud dakwah dengan akhlak? Bukankah dakwah itu cukup dengan lisan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari ketika penulis mengisi sebuah pengajian, penulis melontarkan sebuah pertanyaan kepada para hadirin, “Apakah yang dimaksud dengan dakwah?”&lt;br /&gt;“Dakwah adalah seperti yang ustadz lakukan sekarang; ceramah dan khutbah!” sahut salah seorang jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jawaban yang terlontar tersebut, kita bisa meraba bahwa sebagian kalangan masih belum memahami makna dakwah. Mereka masih menganggap bahwa dakwah adalah penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya, dakwah meliputi hal itu juga yang lainnya; semisal praktik, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia, atau yang biasa diistilahkan dengan dakwah bil hâl. Bahkan, justru yang terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih mengena sasaran [Lihat: Munthalaqât ad-Da'wah wa Wasâ'il Nasyriha, karya Hamd Hasan Raqîth (hal. 97-99) dan Ashnâf al-Mad'uwwîn wa Kaifiyyah Da'watihim, karya Prof. Dr. Hamud bin Ahmad ar-Ruhaily (hal. 41)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar, namun amat sedikit orang-orang yang mewujudkan omongannya dalam praktik nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah di masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas [Lihat: It-hâf al-Khiyarah al-Maharah fî Ma'rifah Wasâ'il at-Tarbiyah al-Mu'atsirah karya Ummu Abdirrahman binti Ahmad al-Jaudar (hal. 14)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya adalah: mempraktikkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhlak mulia dan dampak positifnya dalam dakwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas telah dijelaskan bahwa definisi akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, mengindari sesuatu yang menyakitinya, serta menahan diri ketika disakiti. Berdasarkan definisi ini berarti cakupan akhlak mulia sangatlah luas, dan tidak mungkin semua cakupannya dipaparkan satu persatu dalam makalah singkat ini. Karena itulah, penulis hanya akan membawa beberapa contoh saja, semoga yang sedikit ini bisa mendatangkan berkah dan para pembaca bisa menganalogikannya kepada contoh-contoh yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Gemar membantu orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak nash dalam Alquran maupun Sunnah yang memotivasi kita untuk mempraktikkan karakter mulia ini. Di antaranya, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;“وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ”&lt;br /&gt;“Allah akan membantu seorang hamba; jika ia membantu saudaranya.” [H.R. Muslim (XVII/24 no. 6793) dari Abu Hurairah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadijah tatkala beliau menghibur suaminya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadijah berkata,&lt;br /&gt;“كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ”&lt;br /&gt;“Demi Allah tidak mungkin! Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah.” [H.R. Bukhari (hal. 2 no. 3) dan Muslim (II/376 no. 401)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud perkataan Khadijah di atas adalah: “Sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai; karena Allah telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia dan karakter utama. Lalu, Khadijah menyebutkan berbagai contohnya” [Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawy (II/377)], yang di antaranya adalah: gemar membantu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah kita. Sebab, tatkala seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, lantas ada orang yang membantunya, jelas susah bagi dia untuk melupakan kebaikan tersebut. Dia akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasihat kita. Sebagai salah satu bentuk ‘kompensasi’ dia atas kebaikan kita padanya.&lt;br /&gt;Karena itu, seyogianya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia; kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan piutang; kita berusaha memberikan utangan pada orang tersebut. Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini rajin kita terapkan; lambat laun akan terbangun jembatan yang mengantarkan kita untuk masuk ke dalam hati orang-orang yang pernah kita bantu. Sehingga dakwah yang kita sampaikan lebih mudah untuk mereka terima.&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;http://tunasilmu.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-4510103078391075599?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/4510103078391075599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-siri-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/4510103078391075599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/4510103078391075599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-siri-4.html' title='Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 2'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rED7Jk3rVyg/TqRDAhsdlDI/AAAAAAAAA_k/RO66WNqg0Hs/s72-c/n8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-7441852924912378152</id><published>2011-10-10T20:28:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T07:35:02.964-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Dakwah ~'/><title type='text'>Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-xudCKGApNUg/Tp2OflwrZCI/AAAAAAAAA9E/rO0TNVW89b4/s1600/f22.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xudCKGApNUg/Tp2OflwrZCI/AAAAAAAAA9E/rO0TNVW89b4/s320/f22.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664840579665323042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Jujur dalam bertutur kata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sifat jujur merupakan salah satu karakter mulia yang amat dianjurkan dalam Islam.&lt;br /&gt;Allah ta'ala berfiman,&lt;br /&gt;" اٌَ أَ هٌَُّا اىَّزِ آ ىٍَُْا احَّقُىا اىيَّ وَقُىىُىا قَىِلاً سَذِ ذٌاً".&lt;br /&gt;Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan&lt;br /&gt;ucapkanlah perkataan yang benar." (Q.S. Al-Ahzab: 70).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak ayat Alquran dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang&lt;br /&gt;berisikan perintah serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan&lt;br /&gt;masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi,&lt;br /&gt;namun juga dalam perkara agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas bercerita, bahwa tatkala turun firman Allah,&lt;br /&gt;"وَأَ زِّسِ عَشِيرَتَلَ اىْأَقْشَبِينَ".&lt;br /&gt;Artinya: "Berilah peringatan shallallahu ‘alaihi wa sallamwahai Muhammad)&lt;br /&gt;kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (Q.S. Asy-Syu'ara: 214).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari rumahnya lalu menaiki bukit&lt;br /&gt;Shafa dan berteriak memanggil, "Wahai kaumku kemarilah!" Orang-orang Quraisy&lt;br /&gt;berkata, "Siapakah yang memanggil itu?". "Muhammad", jawab mereka. Mereka pun&lt;br /&gt;berduyun-duyun menuju bukit Shafa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Wahai bani Fulan, bani Fulan,&lt;br /&gt;bani Fulan, bani Abdi Manaf dan bani Abdil Mutthalib. Andaikan aku kabarkan bahwa&lt;br /&gt;dari kaki bukit ini akan keluar seekor kuda, apakah kalian mempercayaiku?"&lt;br /&gt;Mereka menjawab, "Kami tidak pernah mendapatkanmu berdusta!"&lt;br /&gt;"Sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan datangnya azab yang sangat pedih!"&lt;br /&gt;lanjut Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. (H.R. Bukhari (hal. 1082 no. 4971) dan&lt;br /&gt;Muslim (III/77 no. 507) dengan redaksi Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan&lt;br /&gt;kejujurannya dalam bertutur kata sebagai dalil dan bukti akan kebenaran risalah yang&lt;br /&gt;disampaikannya [lihat: Makârim al-Akhlâq fî Dhau'i al-Kitâb wa as-Sunnah karya Syaikh&lt;br /&gt;Salim al-Hilâly (hal. 39)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata,&lt;br /&gt;berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita; dia akan disegani oleh mereka.&lt;br /&gt;Ucapannya berbobot dan omongannya didengar. Dan ini adalah modal yang amat&lt;br /&gt;berharga untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah&lt;br /&gt;merupakan suatu langkah awal yang menyiratkan keberhasilan dakwah. Andaikan dari&lt;br /&gt;awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita sampaikan, karena kita&lt;br /&gt;telah dikenal, misalnya, mudah menukil berita tanpa diklarifikasi terlebih dahulu, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah pepatah orang Jawa: "Ajining diri soko ing lathi" (Kehormatan diri dinilai&lt;br /&gt;dari lisan).&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;Artikel www.tunasilmu.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-7441852924912378152?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/7441852924912378152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/7441852924912378152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/7441852924912378152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-3.html' title='Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 3'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xudCKGApNUg/Tp2OflwrZCI/AAAAAAAAA9E/rO0TNVW89b4/s72-c/f22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-311432370234656528</id><published>2011-10-10T14:35:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T08:39:29.495-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Dakwah ~'/><title type='text'>Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 4</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-l_C6_lLiMiI/Tp2QqQsy0lI/AAAAAAAAA9Q/YoMzOq3B_Dg/s1600/f32.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 284px; height: 177px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-l_C6_lLiMiI/Tp2QqQsy0lI/AAAAAAAAA9Q/YoMzOq3B_Dg/s320/f32.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664842962013704786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Bertindak ramah terhadap orang miskin dan kaum lemah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;"Bantulah aku untuk mencari dan menolong orang-orang lemah; sesungguhnya&lt;br /&gt;kalian dikaruniai rezeki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di&lt;br /&gt;antara kalian." (H.R. Abu Dawud (III/52 no. 2594), dan sanad-nya dinilai jayyid baik oleh an-Nawawy) [lihat: Riyâdh ash-Shâlihîn (hal. 146)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak hadits lain, juga ayat Alquran yang memerintahkan kita untuk berbuat&lt;br /&gt;baik, berlaku ramah dan membantu orang-orang lemah juga miskin. Bahkan, Rasulullah&lt;br /&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditegur langsung Allah ta'ala tatkala suatu hari&lt;br /&gt;beliau bermuka masam dan berpaling dari seorang lemah yang datang kepada beliau;&lt;br /&gt;karena saat itu beliau sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Kejadian itu&lt;br /&gt;Allah abadikan dalam surat 'Abasa. Namun setelah itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam amat memuliakan orang lemah tadi dan bahkan menunjuknya sebagai salah satu&lt;br /&gt;muadzin di kota Madinah. Orang tersebut adalah Abdullah Ibn Ummi Maktum&lt;br /&gt;radhiyallahu 'anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap ramah dan care terhadap orang-orang lemah menguntungkan dakwah dari&lt;br /&gt;dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sisi pertama, keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan mudah&lt;br /&gt;untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka memang&lt;br /&gt;lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam? Dia menjawab, "Orang-orang lemah dan kaum miskin." Heraklius pun menimpali, "Begitulah kondisi pengikut para nabi di setiap masa." [Lihat: Al-Bidâyah wa an-Nihâyah karya Imam Ibn Katsir (VI/471-472)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menafsirkan Q.S. Asy-Syu'ara: 111, Imam Abu Hayyân menjelaskan, bahwa&lt;br /&gt;orang-orang lemah lebih banyak untuk menerima dakwah dibanding orang-orang yang&lt;br /&gt;terpandang. Sebab, otak mereka tidak dipenuhi dengan keindahan-keindahan duniawi;&lt;br /&gt;sehingga mereka lebih mudah mengetahui al-haq dan menerimanya dibanding orangorang&lt;br /&gt;terpandang [lihat: Tafsîr al-Bahr al-Muhîth (VII/30)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan keuntungan kedua, adalah dipandang dari sisi ketertarikan orang-orang&lt;br /&gt;yang menyaksikan praktik akhlak mulia tersebut, sampaipun yang menyaksikan tersebut&lt;br /&gt;adalah orang yang memiliki kedudukan dalam perihal harta maupun sosial. Masyarakat&lt;br /&gt;cenderung lebih respek kepada ulama atau da'i yang rendah hati, serta akrab dengan&lt;br /&gt;orang-orang lemah dan papa dibanding mereka yang berada dalam lingkaran kehidupan&lt;br /&gt;orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan. Sebab, masyarakat menganggap da'i tersebut&lt;br /&gt;cenderung lebih tulus. Adapun ulama yang hanya beramah-tamah dengan para pejabat&lt;br /&gt;dan konglomerat; masyarakat akan bertanya-tanya tentang motif kedekatan tersebut?&lt;br /&gt;Apakah karena mengharapkan harta duniawi atau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan ini sama sekali bukan untuk mengecilkan urgensi mendakwahi orangorang&lt;br /&gt;yang memiliki kedudukan [penulis telah sedikit mengupas tentang permasalahan ini&lt;br /&gt;serta dampaknya yang amat signifikan untuk kemajuan dan perkembangan dakwah,&lt;br /&gt;dalam buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah (hal. 69-73)], namun penulis&lt;br /&gt;hanya ingin mengajak para pembaca untuk membayangkan alangkah indahnya andaikan&lt;br /&gt;para da'i serta ulama menyeimbangkan antara kedekatannya dengan orang-orang&lt;br /&gt;terpandang dan kedekatannya dengan orang-orang lemah yang kekurangan. Tanpa ada&lt;br /&gt;tujuan lain melainkan untuk mengajak mereka semua ke jalan Allah ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah masuk Islamnya 'Adiy bin&lt;br /&gt;Hâtim ath-Thâ'iy. Beliau adalah satu raja terpandang di negeri Arab. Ketika mendengar&lt;br /&gt;munculnya Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan pengikutnya dari hari kehari semakin bertambah; membuncahlah dalam hatinya kebencian dan rasa cemburu akan adanya raja pesaing baru. Hingga datanglah suatu hari di mana Allah membuka hatinya untuk&lt;br /&gt;mendatangi Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendengar kedatangan 'Adiy, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang&lt;br /&gt;saat itu sedang berada di masjid beserta para sahabatnya pun bergegas menyambut&lt;br /&gt;kedatangannya dan menggandeng tangannya mengajak berkunjung ke rumah beliau. Di&lt;br /&gt;tengah perjalanan menuju ke rumah, ada seorang wanita lemah yang telah lanjut usia&lt;br /&gt;memanggil-manggil beliau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun berhenti dan&lt;br /&gt;meninggalkan 'Adiy guna mendatangi wanita tersebut, beliau berdiri lama beserta dia&lt;br /&gt;melayani kebutuhannya. Manakala melihat ke-tawadhu-an Nabi shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam 'Adiy bergumam dalam hatinya, "Demi Allah, ini bukanlah tipe seorang raja!"&lt;br /&gt;Setelah selesai urusannya dengan wanita tua tersebut, Rasulullah shallallahu 'alaihi&lt;br /&gt;wa sallam menggamit tangan 'Adiy melanjutkan perjalanan. Sesampai di rumah,&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bergegas mengambil satu-satunya bantal duduk&lt;br /&gt;yang terbalut kulit dan berisikan sabut pohon kurma, lalu mempersilakan 'Adiy untuk&lt;br /&gt;duduk di atasnya. 'Adiy pun menjawab, "Tidak, duduklah engkau di atasnya". "Tidak!&lt;br /&gt;Engkaulah yang duduk di atasnya" sahut Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam". Akhirnya&lt;br /&gt;'Adiy duduk di atas bantal tersebut dan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di atas tanah. Saat itu 'Adiy kembali bergumam dalam hatinya, "Demi Allah, ini bukanlah&lt;br /&gt;karakter seorang raja!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas terjadi diskusi antara keduanya, hingga akhirnya 'Adiy pun mengucapkan dua&lt;br /&gt;kalimat syahadat; menyatakan keislamannya [lihat: Tahdzîb Sîrah Ibn Hisyâm oleh&lt;br /&gt;Abdussalam Harun (hal. 272-274)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana 'Adiy begitu terkesan dengan kerendahan hati Rasul shallallahu&lt;br /&gt;'alaihi wa sallam yang dengan sabar melayani kebutuhan seorang wanita tua dan lemah di tengah-tengah perjalannya mendampingi seorang raja besar! Goresan keterkesanan yang terukir dalam hatinya, merupakan titik awal ketertarikan dia untuk masuk ke dalam agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah kisah nyata tentang salah seorang da'i&lt;br /&gt;muda Ahlus Sunnah di sebuah kota di tanah air. Dengan usianya yang masih sangat hijau, dalam waktu singkat, sebagai pemain baru di kotanya, berkat taufik dari Allah ta'ala, dia telah bisa mengambil hati banyak masyarakat di kota tersebut. Bahkan pernah pada suatu momen, ia diundang untuk mengisi suatu acara kemasyarakatan di sebuah komunitas yang sebenarnya di situ banyak tokoh-tokoh agama senior. Tatkala berusaha menghindar dengan alasan banyak kyai di situ, orang yang mengundang menjawab, "Kalau yang mengisi pengajian kyai A, sebagian masyarakat tidak mau datang, dan kalau yang diundang kyai B, yang mau datang juga hanya sebagian. Tapi kalau yang mengisi panjenengan, mereka semua mau datang!". Ketika penulis cermati, ternyata salah satu rahasia kecintaan masyarakat terhadap da'i tersebut: keramahannya kepada siapapun, apalagi terhadap orang-orang 'kecil'. Dia menyapa tukang parkir, tukang sapu, orang tidak punya, bersalaman dengan mereka dan tidak segan-segan untuk bertanya tentang keadaan keluarga mereka dan anak-anaknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badruddin Ibn (w. 723 H) menyebutkan bahwa di antara akhlak ulama,&lt;br /&gt;"Bermuamalah dengan para manusia dengan akhlak mulia, seperti bermuka manis,&lt;br /&gt;menebar salam … berlemah lembut dengan kaum fakir, memperlihatkan kasih sayang&lt;br /&gt;terhadap tetangga dan kerabat …" (Tadzkirah as-Sâmi' wa al-Mutakallim fî Adab al-'Âlim wa al-Muta'allim shallallahu ‘alaihi wa sallamhal. 96-97)).&lt;br /&gt;Artikel www.tunasilmu.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-311432370234656528?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/311432370234656528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/311432370234656528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/311432370234656528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-4.html' title='Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 4'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-l_C6_lLiMiI/Tp2QqQsy0lI/AAAAAAAAA9Q/YoMzOq3B_Dg/s72-c/f32.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-5422716747083365806</id><published>2011-10-10T07:44:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T08:42:02.556-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Dakwah ~'/><title type='text'>Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 5</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-3l1Q1Cmq6gk/Tp2SV5lCBOI/AAAAAAAAA9c/O8irA55iuU8/s1600/blue%2Bros%2B3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 194px; height: 259px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-3l1Q1Cmq6gk/Tp2SV5lCBOI/AAAAAAAAA9c/O8irA55iuU8/s320/blue%2Bros%2B3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664844811233002722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Santun dalam menyampaikan nasihat, sambil memperhatikan kondisi&lt;br /&gt;psikologis orang yang dinasihati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;"Ucapan yang baik adalah shadaqah.” (H.R. Bukhari ( hal. 606 no. 2989) dan&lt;br /&gt;Muslim (VII/96 no. 2332)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih kata-kata yang baik juga memperhatikan psikologis seseorang sangat&lt;br /&gt;menentukan keberhasilan dakwah seseorang. Penulis pernah diceritai saksi mata obrolan&lt;br /&gt;antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak&lt;br /&gt;pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya&lt;br /&gt;akan perkembangan-pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu&lt;br /&gt;cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menukas, "Ya, itukan cuma lahiriahnya&lt;br /&gt;saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!". Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan&lt;br /&gt;terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata&lt;br /&gt;yang lebih santun? Haruskah kita 'menabrak' langsung lawan bicara kita. Apakah itu&lt;br /&gt;justru tidak mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak&lt;br /&gt;didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya, lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, kita katakan pada orang awam tersebut, "Ya, memang pembangunan fisik&lt;br /&gt;kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan&lt;br /&gt;ekonomi masyarakat. Namun, alangkah indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi&lt;br /&gt;pula dengan pembangunan mental masyarakat; sehingga timbul keseimbangan antara dua&lt;br /&gt;sisi tersebut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengambil suri teladan dari metode Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;dalam menasihati para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Umamah bercerita, "Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi&lt;br /&gt;shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata, „Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!‟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, „Diam&lt;br /&gt;kamu, diam!‟ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, „Mendekatlah.‟ Pemuda&lt;br /&gt;tadi mendekati beliau dan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, „Relakah engkau jika ibumu dizinai&lt;br /&gt;orang lain?‟&lt;br /&gt;„Tidak, demi Allah wahai Rasul.‟ sahut pemuda tersebut.&lt;br /&gt;„Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai.‟&lt;br /&gt;„Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?‟&lt;br /&gt;„Tidak, demi Allah wahai Rasul!‟&lt;br /&gt;„Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai.‟&lt;br /&gt;„Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?‟&lt;br /&gt;„Tidak, demi Allah wahai Rasul!‟&lt;br /&gt;„Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.‟&lt;br /&gt;„Relakah engkau jika bibi dari jalur bapakmu dizinai?‟&lt;br /&gt;„Tidak, demi Allah wahai Rasul!‟&lt;br /&gt;„Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai.‟&lt;br /&gt;„Relakah engkau jika bibi dari jalur ibumu dizinai?‟&lt;br /&gt;„Tidak, demi Allah wahai Rasul!‟&lt;br /&gt;„Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai.‟&lt;br /&gt;Lalu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada&lt;br /&gt;pemuda tersebut sembari berkata, „Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah&lt;br /&gt;hatinya dan jagalah kemaluannya.‟&lt;br /&gt;Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina."&lt;br /&gt;(H.R. Ahmad (XXXVI/545 no. 22211) dan sanad-nya dinilai sahih oleh Syaikh al-&lt;br /&gt;Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermatilah bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak langsung&lt;br /&gt;menyalahkan pemuda tadi. Namun, dengan sabar beliau mengajak pemuda tadi untuk&lt;br /&gt;berpikir sambil beliau juga memperhatikan kondisi psikologisnya. Mungkin sebagian&lt;br /&gt;kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode tersebut terlalu panjang dan bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lihatlah apa hasilnya? Memang jalan dakwah itu panjang dan membutuhkan&lt;br /&gt;kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada salahnya kita kembali memutar rekaman perjalanan hidup kita dahulu&lt;br /&gt;sebelum mengenal dakwah salaf dan proses perkenalan kita dengan manhaj yang penuh&lt;br /&gt;dengan berkah ini. Apakah dulu serta merta sekali diomongkan, kita langsung&lt;br /&gt;meninggalkan keyakinan yang telah berpuluh tahun kita anut? Atau melalui proses&lt;br /&gt;panjang yang penuh dengan lika-liku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merenungi masa lalu kelam sebelum mendapat hidayah, dan bahwasanya&lt;br /&gt;kita memperolehnya secara bertahap; kita akan terdorong untuk mendakwahi orang lain&lt;br /&gt;juga dengan hikmah, nasihat yang bijak, serta secara bertahap. Demikian keterangan yang disampaikan Syaikh as-Sa'dy ketika beliau menafsirkan firman Allah,&lt;br /&gt;Artinya: "Begitu pulalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah melimpahkan nikmat-&lt;br /&gt;Nya pada kalian." (Q.S. An-Nisa: 94) [Lihat: Tafsîr as-Sa'dy (hal. 158)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah mudah mengajak seseorang meninggalkan ideologi lamanya untuk&lt;br /&gt;menganut sebuah ideologi baru. Pertama kali buatlah ia ragu akan ideologi lamanya, lalu secara bertahap kita jelaskan keunggulan ideologi baru yang akan kita tawarkan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ideologi lama akan ditinggalkannya,&lt;br /&gt;kemudian beralih ke ideologi yang baru.&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;Artikel www.tunasilmu.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-5422716747083365806?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/5422716747083365806/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-5.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/5422716747083365806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/5422716747083365806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-5.html' title='Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 5'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-3l1Q1Cmq6gk/Tp2SV5lCBOI/AAAAAAAAA9c/O8irA55iuU8/s72-c/blue%2Bros%2B3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-263216003203320507</id><published>2011-10-08T23:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T08:44:00.520-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Dakwah ~'/><title type='text'>Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 6</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-emE4jWfEsb8/Tp2WydvVYaI/AAAAAAAAA9o/vXdrZH9v8p8/s1600/f39.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-emE4jWfEsb8/Tp2WydvVYaI/AAAAAAAAA9o/vXdrZH9v8p8/s320/f39.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664849700022739362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Bersifat pemaaf terhadap orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;Artinya: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan&lt;br /&gt;pedulikan orang-orang jahil." (Q.S. Al-A'raf: 199).&lt;br /&gt;Adapun potret praktik akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasul shallallahu 'alaihi wa&lt;br /&gt;sallam amatlah banyak, baik dengan sesama muslim, maupun dengan para musuh beliau&lt;br /&gt;dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara contoh jenis pertama, apa yang dikisahkan Anas bin Malik,&lt;br /&gt;"Suatu hari aku berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu&lt;br /&gt;beliau berpakaian kain buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang&lt;br /&gt;Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di&lt;br /&gt;pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan dia. Sembari berkata, ‘Berilah aku&lt;br /&gt;sebagian dari harta yang Allah berikan padamu!’ Beliaupun menengok kepadanya&lt;br /&gt;sembari tersenyum, lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta." (H.R. Bukhari&lt;br /&gt;(hal. 642 no. 3149) dan Muslim (VII/147 no. 2426)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh jenis kedua antara lain: apa yang dikisahkan Aisyah radhiyallahu 'anha,&lt;br /&gt;"Suatu hari, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai&lt;br /&gt;Rasululllah, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih berat dibanding hari&lt;br /&gt;peperangan Uhud?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab, ‘Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan&lt;br /&gt;cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat itu aku&lt;br /&gt;menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia enggan menerimaku.&lt;br /&gt;Akupun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak tersadar melainkan tatkala sampai di&lt;br /&gt;Qarn ats-Tsa'âlib. Aku pun mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada sebuah awan&lt;br /&gt;yang menaungiku. Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, ‘Sesungguhnya,&lt;br /&gt;Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allah telah&lt;br /&gt;mengirimkan untukmu malaikat gunung&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; 1&lt;/span&gt;, supaya engkau memerintahkannya melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu.’ Malaikat gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,&lt;br /&gt;‘Justru aku berharap, semoga Allah berkenan menjadikan keturunan mereka generasi&lt;br /&gt;yang mau beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu&lt;br /&gt;apapun.’" (H.R. Muslim (XII/365 no. 4629)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri. Apalagi&lt;br /&gt;mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah&lt;br /&gt;daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan ada tantangan, berupa cemoohan,&lt;br /&gt;makian, atau bahkan mungkin bisa berupa serangan fisik, dari musuh-musuh dakwah.&lt;br /&gt;Ketika seorang da'i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran,&lt;br /&gt;tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan&lt;br /&gt;kebaikan; insyaAllah dengan berjalannya waktu, hati para 'lawan' dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah haq dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhantuduhan miring [Cermati: Ashnâf al-Mad'uwwîn (hal. 54)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktik sifat mulia ini. Penulis&lt;br /&gt;bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang telah tersohor kekokohannya&lt;br /&gt;dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam meluruskan penyimpangan&lt;br /&gt;sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah mencegat Ibn Taimiyah lalu&lt;br /&gt;mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi. Tatkala kabar itu sampai ke telinga&lt;br /&gt;murid-murid dan para pendukung beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, untuk&lt;br /&gt;minta izin guna membalas dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.&lt;br /&gt;Namun Ibn Taimiyah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;“Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”,&lt;br /&gt;tukas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Taimiyah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak untuk balas dendam&lt;br /&gt;itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allah. Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku, maka aku telah memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian tidak mau mendengar nasihatku dan fatwaku, maka berbuatlah semau kalian! Andaikan hak itu adalah milik Allah, maka Dia yang akan membalas, jika Dia berkehendak!” [Lihat: Al-'Uqûd ad-Durriyyah karya Ibn Abdil Hadi (hal. 224-225)].&lt;br /&gt;Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid'ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara penguasa yang mencintai dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu&lt;br /&gt;Taimiyah adalah Sultan Muhammad Qalawun. Di suatu tahun Sultan Qalawun pergi&lt;br /&gt;berhaji ke Baitullah. Selama dia melakukan ibadah haji pemerintahan diserahkan kepada&lt;br /&gt;salah seorang wakilnya: Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang kebetulan dia&lt;br /&gt;adalah murid salah satu tokoh sufi abad itu: Nashr al-Manbajy, dan al-Manbajy ini amat benci sekali terhadap Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera menyusun&lt;br /&gt;makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati Ibnu Taimiyah. Namun&lt;br /&gt;sebelum makar mereka berhasil, Sultan Qalawun keburu kembali dari haji.&lt;br /&gt;Tatkala mendengar berita akan makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun&lt;br /&gt;marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para pelaku makar&lt;br /&gt;tersebut. Tatkala mendengar berita itu, Ibn Taimiyah bergegas datang ke Sultan Qalawun dan berkata, “Adapun saya, maka telah memaafkan mereka semua.” Akhirnya, Sultan pun memaafkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibn Taimiyah: Zainuddin bin&lt;br /&gt;Makhluf pun berkata, “Tidak pernah kita mendapatkan orang setakwa Ibn Taimiyah!&lt;br /&gt;Setiap ada kesempatan untuk mencelakakannya kami berusaha untuk memanfaatkan&lt;br /&gt;kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun, tatkala dia memiliki kesempatan untuk&lt;br /&gt;membalas, malah dia memaafkan kami!” [Lihat: Al-'Uqûd ad-Durriyyah karya Ibn Abdil&lt;br /&gt;Hadi (hal. 221)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah&lt;br /&gt;buahnya! Disegani lawan, maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang&lt;br /&gt;berubah menjadi teman seperjuangan; berkat taufiq dari Allah dan ketulusan hati para&lt;br /&gt;da'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.&lt;/span&gt; Apakah tugas yang Allah bebankan kepada malaikat ini? Wallahu a'lam penulis belum menemukan keterangan para ulama dalam masalah ini. Yang jelas ia ditugaskan Allah untuk melakukan apa yang berkenaan dengan gunung. Periksa: Mu'taqad Firaq al-Muslimîn wa al-Yahûd wa an-Nashârâ wa al- Falâsifah wa al-Watsaniyyîn fî al-Malâ'ikah al-Muqarrabîn karya Dr. Muhammad bin Abdil Wahhab al-'Aqîl (hal. 155).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;Artikel www.tunasilmu.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-263216003203320507?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/263216003203320507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-6.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/263216003203320507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/263216003203320507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-6.html' title='Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 6'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-emE4jWfEsb8/Tp2WydvVYaI/AAAAAAAAA9o/vXdrZH9v8p8/s72-c/f39.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-7336496838593876622</id><published>2011-10-08T01:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T08:46:18.470-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Dakwah ~'/><title type='text'>Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 7</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-uMY3uZ3SYhM/Tp2cK2PoFwI/AAAAAAAAA90/YM44zRiZTvY/s1600/Paint_Your_Love.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-uMY3uZ3SYhM/Tp2cK2PoFwI/AAAAAAAAA90/YM44zRiZTvY/s320/Paint_Your_Love.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664855616475633410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Menahan diri dari meminta-minta apa yang dimiliki orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat ini lebih dikenal para ulama dengan istilah 'iffah atau 'afâf. Ini merupakan salah satu karakter para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah&lt;br /&gt;ceritakan dalam Alquran,&lt;br /&gt;Artinya: "shallallahu ‘alaihi wa sallamOrang lain) yang tidak tahu menyangka,&lt;br /&gt;bahwa mereka adalah orang-orang kaya; karena mereka menjaga diri shallallahu ‘alaihi&lt;br /&gt;wa sallamdari meminta-minta). Engkau shallallahu ‘alaihi wa sallamwahai Muhammad)&lt;br /&gt;mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan cara mendesak kepada&lt;br /&gt;orang lain." (Q.S. Al-Baqarah: 273).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran andaikan mereka memiliki karakter mulia tersebut; sebab mereka&lt;br /&gt;melihat langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mempraktikkannya dan senantiasa memotivasi mereka untuk mempraktikkannya juga. Di antara nasihat yang&lt;br /&gt;beliau sampaikan: sabdanya,.&lt;br /&gt;"Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan&lt;br /&gt;tidak meminta-minta kepada manusia dan berambisi untuk memperoleh apa yang ada di&lt;br /&gt;tangan mereka) niscaya Allah akan menganugerahkan kepadanya ‘iffah shallallahu&lt;br /&gt;‘alaihi wa sallamkehormatan diri). Dan barangsiapa merasa diri berkecukupan; niscaya&lt;br /&gt;Allah akan mencukupinya." (H.R. Bukhari (hal. 283 no. 1427) dan Muslim (VII/145 no.&lt;br /&gt;2421) dari Hakîm bin Hizâm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter pertama merupakan jalan pengantar menuju karakter kedua. Sebab,&lt;br /&gt;barangsiapa menjaga kehormatannya untuk tidak berambisi terhadap apa yang dimiliki&lt;br /&gt;orang lain; ia akan memperkuat ketergantungannya pada Allah, berharap dan berambisi&lt;br /&gt;terhadap karunia dan kebaikan Allah [lihat: Bahjah Qulûb al-Abrâr karya Syaikh as-Sa'dy (hal. 78)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa korelasi antara bersifat 'iffah dengan keberhasilan dakwah? Sekurangkurangnya bisa ditinjau dari dua sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Orang yang menjaga diri dari meminta apa yang dimiliki orang lain, juga tidak silau dengan apa yang dimiliki orang lain; akan dicintai mereka. Sebab secara tabiat manusia tidak menyukai orang lain yang meminta-minta apa yang dimilikinya. Hal itu telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam isyaratkan dalam nasihatnya untuk seseorang yang bertanya, "Wahai Rasulullah, beritahukan padaku suatu amalan yang jika kukerjakan; aku akan disayang Allah dan dicintai manusia!" Beliaupun menjawab,&lt;br /&gt;"Bersifat zuhudlah di dunia; niscaya engkau akan disayang Allah. Dan bersikap&lt;br /&gt;zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia; niscaya mereka mencintaimu." (H.R. Ibn&lt;br /&gt;Majah (IV/163 no. 4177) dari Sahl bin Sa'd as-Sâ'idy dan sanad-nya dinilai hasan oleh&lt;br /&gt;Imam an-Nawawy) [Lihat: Riyâdh ash-Shâlihîn (hal. 216)].&lt;br /&gt;Jika seorang da'i telah dicintai masyarakat, maka mereka akan lebih mudah untuk&lt;br /&gt;menerima dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Orang yang memiliki sifat 'afâf, ketika ia berdakwah, masyarakat akan menilai bahwa dakwahnya tersebut ikhlas karena Allah, bukan karena mengharapkan balasan duniawi dari mereka. Saat mereka merasakan ketulusan niat da'i tersebut; jelas - dengan izin Allah- mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya. Allah ta'ala&lt;br /&gt;berfirman,&lt;br /&gt;Artinya: "Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah&lt;br /&gt;orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S. Yasin: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kiat menumbuhkan sifat 'afâf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sifat mulia ini memang cukup berat untuk ditumbuhkan dalam jiwa. Namun, di sana&lt;br /&gt;ada kiat yang membantu kita untuk menumbuhkan karakter mulia dalam diri kita. Yaitu&lt;br /&gt;dengan melatih diri bersifat qana'ah yang berarti: menerima dan rela dengan berapapun&lt;br /&gt;yang diberikan Allah ta'ala. Sebab sebenarnya sifat 'afaf sendiri merupakan buah dari&lt;br /&gt;sifat qana'ah [lihat: Bahjah an-Nâzhirîn karya Syaikh Salim al-Hilaly (I/583)].&lt;br /&gt;Jika ada yang bertanya bagaimana cara membangun pribadi yang qana'ah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: dengan melatih diri menyadari seyakin-yakinnya bahwa rezeki hanyalah di&lt;br /&gt;tangan Allah dan yang kita dapatkan telah dicatat Allah ta'ala, serta tidak mungkin&lt;br /&gt;melebihi apa yang telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.&lt;br /&gt;Catatan penting [Dinukil dari buku 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah&lt;br /&gt;(hal. 25-27)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga catatan penting di akhir makalah ini:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama: &lt;/span&gt;Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita 'melarutkan' diri dalam ritual-ritual bid'ah yang ada di masyarakat dengan alasan penerapan akhlak mulia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa bermasyarakat tanpa harus larut mengikuti yasinan [untuk mengenal lebih&lt;br /&gt;lanjut hukum yasinan dipandang dari kacamata Islam, silahkan merujuk ke buku Yasinan&lt;br /&gt;karya Ust. Yazîd bin Abdul Qâdir Jawwâs, dan makalah Takhrîj Hadits-Hadits tentang&lt;br /&gt;Keutamaan Surat Yâsîn karya Ust. Dzulqarnain Sunûsi (dalam Majalah an-Nashîhah vol&lt;br /&gt;06 hal 50-59)], tahlilan [untuk mengenal lebih lanjut hukum tahlilan dipandang dari&lt;br /&gt;kacamata Islam, silakan merujuk ke buku Santri NU Menggugat Tahlilan, karya Harry&lt;br /&gt;Yuniardi dan Hukum Tahlilan Menurut Empat Madzhab karya Ust Abdul Hakîm bin&lt;br /&gt;„Âmir „Abdât], maulidan atau acara-acara bid'ah lainnya. Caranya? Kita berusaha untuk&lt;br /&gt;berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang tidak mengandung unsur&lt;br /&gt;penyimpangan terhadap syariat, contohnya: kita bisa berpartisipasi dalam kerja bakti,&lt;br /&gt;pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang sakit, mengantar&lt;br /&gt;jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang ditimpa musibah, menebarkan&lt;br /&gt;salam, berbagi masakan ketika kita sedang memasak makanan yang enak, membantu&lt;br /&gt;membawakan barang belanjaan seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu&lt;br /&gt;mendorong becak yang keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan&lt;br /&gt;lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidak ikutsertaan kita&lt;br /&gt;dalam ritual-ritual bid'ah bukan berarti karena kita sedang mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan keyakinan yang 'tidak ada tawar-menawar' di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Sebagian pihak 'mengolok-olok' beberapa da'i Ahlus Sunnah yang tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhlak mulia, dengan mengatakan bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul bid'ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat, namun mengabaikan pembenahan akidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawabannya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Barangkali pihak yang gemar 'mengolok-olok' itu lupa bahwa dakwah Ahlus&lt;br /&gt;Sunnah wal Jama‟ah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada akidah yang&lt;br /&gt;benar saja. Namun, dia juga merupakan dakwah yang mengajak kepada penerapan&lt;br /&gt;akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah Ahlus Sunnah tidak&lt;br /&gt;lain adalah agama Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di&lt;br /&gt;mana Islam memadukan antara akidah, ibadah dan akhlak. Imam Bisyr al-Hâfî&lt;br /&gt;rahimahullâh berkata, "Sunnah adalah Islam dan Islam adalah Sunnah." [Syarh&lt;br /&gt;as-Sunnah karya Imam al-Barbahârî (hal. 126)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Dr. Ibrâhîm bin „Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâh menjelaskan, "Hendaklah&lt;br /&gt;diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang mengamalkan ajaran&lt;br /&gt;Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan akidah maupun akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pemahaman yang keliru: prasangka bahwa sunni atau salafi adalah&lt;br /&gt;orang yang merealisasikan akidah Ahlus Sunnah saja tanpa memperhatikan sisi&lt;br /&gt;akhlak dan adab Islam, serta penunaian hak-hak kaum muslimin." [Nashîhah li&lt;br /&gt;asy-Syabâb (hal. 1)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Seandainya ada sebagian ahlul bid'ah menonjol dalam pengamalan beberapa sisi&lt;br /&gt;syariat Islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya karena mereka lebih&lt;br /&gt;terkenal dalam penerapannya?! Bukankah justru sebaliknya kita harus berusaha&lt;br /&gt;membenahi diri dengan menutupi kekurangan yang ada pada diri kita, sehingga&lt;br /&gt;kita benar-benar bisa menerapkan ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan&lt;br /&gt;bukan sepotong-sepotong?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh melihat&lt;br /&gt;kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak Islami, dia cenderung&lt;br /&gt;'menjauhi' mereka dan memilih 'bergabung' dengan kelompok-kelompok ahlul bid'ah&lt;br /&gt;yang terkenal menonjol dalam sisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini juga kurang tepat; karena justru yang benar seharusnya dia berusaha&lt;br /&gt;membenahi diri dengan 'merenovasi' akhlaknya yang kurang mulia, lalu berusaha terus&lt;br /&gt;menerus pantang mundur untuk menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah&lt;br /&gt;guna memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan suatu&lt;br /&gt;masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak contoh-contoh lain penerapan akhlak mulia yang akan&lt;br /&gt;membuahkan dampak positif bagi keberhasilan dakwah. Seperti bersifat amanah dalam&lt;br /&gt;segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis, yang amat disayangkan mulai luntur, bahkan&lt;br /&gt;sampai di kalangan mereka yang sudah ngaji. Sehingga muncullah istilah "Bisnis afwan&lt;br /&gt;akhi!" [Lihat: Majalah Nikah, vol. 8, no. 6, September-Oktober 2009 (hal. 82-83)], yang intinya adalah berbisnis tanpa mengindahkan etika-etikanya. Dan contoh-contoh lainnya yang dipandang perlu untuk disinggung. Namun karena keterbatasan waktulah, yang memaksa penulis untuk mencukupkan makalah ini sampai di sini. Semoga Allah&lt;br /&gt;berkenan mengaruniakan kelonggaran waktu di lain kesempatan, sehingga contoh-contoh&lt;br /&gt;lainnya tersebut bisa dikupas, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq... Wa shallallahu 'ala nabiyyina&lt;br /&gt;muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in...&lt;br /&gt;Kedungwuluh Purbalingga, 13 Rajab 1431 / 25 Juni 2010&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.&lt;br /&gt;Artikel www.tunasilmu.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-7336496838593876622?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/7336496838593876622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-7.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/7336496838593876622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/7336496838593876622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/berdakwah-dengan-akhlak-mulia-bagian-7.html' title='Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 7'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uMY3uZ3SYhM/Tp2cK2PoFwI/AAAAAAAAA90/YM44zRiZTvY/s72-c/Paint_Your_Love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-1392039558343853539</id><published>2011-10-06T09:27:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T07:21:26.560-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Faham Liberal ~'/><title type='text'>Bahaya "Jaringan Islam Liberal (JIL)" bhg 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-gP8Pca9sG3k/TpRH4deSBtI/AAAAAAAAA8I/6LqgvYPVMiw/s1600/lib2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 49px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-gP8Pca9sG3k/TpRH4deSBtI/AAAAAAAAA8I/6LqgvYPVMiw/s320/lib2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662229666821441234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(BAGIAN-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I. SIAPA JARINGAN ISLAM LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Latar Belakang Lahirnya Jaringan Islam Liberal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Islam Liberal disusun dari dua kata, yaitu Islam dan Liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam maksudnya adalah dienul Islam, yang diturunkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dan Liberal artinya adalah kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua kata ini disusun, kata Liberal berfungsi sebagai keterangan terhadap Islam, sehingga  secara singkat bisa dikatakan Islam yang  Liberal atau Bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Islam Liberal, sebagaimana ditulis oleh tokohnya bertujuan untuk membebaskan (liberating) umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kejumudan.&lt;br /&gt;Dalam konteks global, Islam Liberal muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan yang mereka anggap sebagai permurnian, kembali kepada al-Qur`an dan sunnah. Pada saat itu muncullah cikal bakal paham Liberal awal melalui Syah Waliyulloh (India, 1703-1762 M), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad Baqir Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam. Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-1890) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis. Ia menggagas tafsir al-Qur`an model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur`an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur`an adalah ideal moralnya, karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam konteks regional Indonesia, wacana meliberalkan Islam pertama kali dipelopori oleh Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago), dan Harun Nasution (lulusan Mc Gill University Kanada), disamping terdapat juga tokoh-tokoh lain saat itu, seperti Djohan Efendi, dan Ahmad Wahib. Nurcholis Madjis telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun 1970-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, Nurcholis Madjid telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini, dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama”. Nurcholis mempromosikan gagasan-gagasanya ke masyarakat kelas menengah ke atas lewat Paramadina-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Harun Nasution berhasil mempengaruhi institusi perguruan tinggi Islam, setelah pada tahun 1973, bukunya “Islam ditinjau dari Berbagai Aspek” ditetapkan sebagai buku utama mahasiswa IAIN se-Indonesia. Buku yang diterbitkan pertama kali tahun 1974 itu, dijadikan bahan bacaan pokok untuk mata kuliah “Pengantar Ilmu Agama Islam”, melalui rapat kerja Rektor IAIN se-Indonesia di Ciumbuluit Bandung tahun 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Nurcholis Madjid dan Harun Nasution merupakan “pioner” pertama dalam melahirkan faham Islam Liberal di Indonesia, karena melalui keduanyalah wacana meliberalkan Islam dikenal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu, ide-ide Nurcholis dan Harun selanjutnya dikembangkan oleh kader-kader godokan keduanya, sehingga pada akhir tahun 1990 muncullah sekelompok anak muda yang menamakan diri kelompok “Islam Liberal” yang mencoba memberikan respon terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul pada akhir abad ke- 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang kemudian mendorong beberapa aktivis muda untuk melakukan berbagai diskusi di Jalan Utan Kayu 68 H Jakarta Timur. Kemudian dengan merujuk kepada tempat itulah maka beberapa tokoh muda Islam mendirikan Komunitas Islam Utan Kayu yang merupakan cikal bakal berdirinya JIL. Beberapa nama yang terlibat  untuk membentuk Komunitas Utan Kayu itu dan kemudian mendirikan JIL antara lain Ulil Abshar-Abdalla, Nong Darol Mahmada, Burhanuddin, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib, Taufiq Adnan Amal, Saiful Mujani, dan Luthfi Assaukanie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tema yang menjadi bahan diskusi di antara aktivis tersebut antara lain: maraknya kekerasan atas nama agama (dien), gencarnya tuntutan penerapan syariat Islam, serta tidak adanya gerakan pembaruan pemikiran Islam yang sebelumnya dirintis oleh Nurcholish Madjid dan Harun Nasution.&lt;br /&gt;Selanjutnya secara lebih nyata para anak-anak muda tersebut mendirikan sebuah “jaringan” kelompok diskusi pada tanggal 8 Maret 2001, yang tujuannya adalah untuk kepentingan pencerahan dan pembebasan pemikiran Islam Indonesia. Usahanya dilakukan dengan membangun milis (Islamliberal@yahoo.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itulah mereka menamakan diri dengan sebutan Jaringan Islam Liberal. Kegiatan utama kelompok ini adalah berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam, Negara, dan isu-isu kemasyarakatan. Menurut hasil diskusi yang dirilis pada tanggal 1 Maret 2002, Jaringan Islam Liberal (JIL) mengklaim telah berhasil menghadirkan 200 orang anggota diskusi yang berasal dari kalangan para penulis, intelektual dan para pengamat politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan JIL ini dipimpin oleh beberapa pemikir muda seperti Luthfi Assyaukani (Universitas Paramadina), Ulil Abshar Abdala (Lakpesdam NU), dan Ahmad Sahal (Jurnal Kalam). Untuk memusatkan organisasi, para pemimipin JIL mendirikan markas yang terletak di jalan Utan Kayu Jakarta, serta menetapkan Ulil Abshar Abdala sebagai kordinator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. AD/ART Jaringan Islam Liberal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam websitenya www.islamlib.com/id/, disebutkan bahwa Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;e. Meyakini kebebasan beragama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, terdapat tiga misi yang diemban oleh JIL, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan konservatisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memuluskan misinya, JIL melakukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk turut memberikan kontribusi dalam meredakan maraknya fundamentalisme keagamaan di Indonesia sekaligus membuka pemahaman publik terhadap pemahaman keagamaan yang pluralis dan demokratis. Secara khusus, kegiatan-kegiatan JIL ditujukan untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciptakan intellectual discourses tentang isu-isu keagamaan yang pluralis dan demokratis serta berperspektif gender;&lt;br /&gt;Membentuk intellectual community yang bersifat organik dan responsif serta berkemauan keras untuk memperjuangkan nilai-nilai keagamaan yang suportif terhadap pemantapan konsolidasi demokrasi di Indonesia;&lt;br /&gt;Menggulirkan intellectual networking yang secara aktif melibatkan jaringan kampus, Lembaga Swadaya Masyarakat, media massa dan lain-lain untuk menolak fasisme atas nama agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempat lain, Ulil Abshar Abdala selaku kordinator JIL menyebutkan, ada tiga kaedah yang hendak dilakukan oleh JIL, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, membuka ruang diskusi, meningkatkan daya kritis masyarakat dan memberikan alternatif pandangan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, ingin merangsang penerbitan buku yang bagus dan riset-riset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; dalam jangka panjang ingin membangun semacam lembaga pendidikan yang sesuai dengan visi JIL mengenai Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai tujuan, mereka merumuskannya ke dalam empat hal, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, memperkokoh landasan demokratisasi lewat penanaman nilai-nilai pluralisme, inklusivisme, dan humanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, membangun kehidupan keberagaman yang berdasarkan pada penghormatan atas perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, mendukung dan menyebarkan gagasan keagamaan (utamanya: Islam) yang pluralis, terbuka, dan humanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, mencegah agar pandangan-pandangan keagamaan yang militan dan pro kekerasan tidak menguasai wacana publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diteliti lebih jauh, sebenarnya wacana-wacana dan konsep-konsep yang dikumandangkan oleh para aktivis JIL, telah pernah dikembangkan sebelumnya oleh kalangan Orientalis Barat dan Misionaris Kristen dalam proses Sekularisasi dan Liberalisasi Islam. Atas dasar ini, maka sekilas sudah terlihat persamaan gagasan antara Orientalis Barat dengan apa yang sedang diusung JIL. Hal ini menimbulkan kecurigaan tentang misi yang sedang diperjuangkan JIL, apakah misi tersebut murni untuk merubah wajah islam, atau misi ini hanya sebuah pesanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi tokoh-tokoh yang sering dibanggakan oleh JIL adalah orang-orang yang telah mencatat sejarah hitam dalam Islam dengan menjadi perpanjangan tangan dari kaum Orientalis dalam upaya menggeroti Islam dari dalam. Oleh karena itu sangat wajar bila mayoritas Muslim Indonesia menyambut gerakan JIL dengan sikap yang kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Realitas Perkembangan Jaringan Islam Liberal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal berkembang melalui media massa. Surat kabar utama yang menjadi corong pemikiran Islam Liberal adalah Jawa Pos yang terbit di Surabaya, Tempo di Jakarta, dan Radio Kantor Berita 68 H, Utan Kayu Jakarta. Melalui media tersebut disebarkan gagasan-gagasan dan penafsiran liberal. Disamping itu mereka juga gencar memuat ide-ide mereka melalui artikel-artikel yang disajikan kepada publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara artikel-artikel yang dianggap sangat kontroversi adalah tulisan Ulil Abshar Abdala selaku kordinator JIL, ia menulis di media massa mengenai beberapa hal yang tergolong mendobrak tradisi beragama ummat islam saat itu. antara lain: menyegarkan kembali pemahaman islam, tidak ada hukum Tuhan di dunia ini, Nabi Muhammad adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, pemikiran dan gerakan ini menuai protes bahkan ancaman kekerasan dari lawan-lawan mereka. Bahkan masyarakat sekitar Utan Kayu pernah juga menuntut Radio dan komunitas JIL untuk pindah dari lingkungan tersebut. Karya-karya yang dicurigai sebagai representasi pemikiran liberal Islam dibicarakan dan dikutuk oleh lawan-lawannya, terutama melalui khutbah dan pengajian. Buku seperti Fiqih Lintas Agama (Tim Penulis Paramadina), Menjadi Muslim Liberal (Ulil Abshar-Abdalla), Counter-Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (Musda Mulia dkk), Indahnya Perkawinan Antar Jenis (Jurnal IAIN Walisongo) dan banyak lagi artikel tentang Islam yang mengikuti arus utama pemikiran liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan antara yang pro dan kontra JIL, memuncak setelah keluarnya Fatwa MUI tentang haramnya Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme pada tahun 2005. Ketegangan sedikit menurun setelah salah seorang kontributor dan sekaligus kordinator JIL, Ulil Abshar Abdalla pergi ke luar negeri, belajar ke Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ide-ide yang dikemukakan kelompok JIL&lt;/span&gt; pada dasarnya berpijak pada AD/ART yang mereka anut. Tetapi dalam realitasnya, saat mereka menyampaikan ide-ide tersebut terkadang telah menampilkan suatu sikap ekstrim yang menurut mereka sendiri harus dihilangkan dari wacana publik. Karena mereka secara membabi buta menyerang habis-habisan apa yang telah dianut oleh ummat Islam. Sampai saat ini sudah sangat banyak gagasan yang  dimunculkan JIL ke publik. Dalam uraian berikut ini, penulis hanya akan mengemukakan beberapa hal saja diantaranya, yaitu  masalah-masalah yang sangat menyentuh tentang dasar-dasar agama, dan masalah yang telah disepakati ummat islam. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Semua Agama Sama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut JIL, Islam tidak beda dengan agama kufur dan syirik manapun, semuanya masuk surga. Semua orang beragama adalah mukmin, oleh karena itu semua bersaudara dan halal saling menikahi. Meyakini Islam satu-satunya agama yang benar tidak boleh. Oleh karena itu dakwah Islamiyah pun tidak boleh. Wajib diganti dengan dialog, tukar menukar pengalaman dan kerja sama dalam bidang sosial keagamaan. Mereka disini cenderung mengartikan islam bukan nama sebuah agama, tetapi islam dalam pengertian etimologi yaitu tunduk dan patuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ideologi ini, para tokoh JIL meyakini tentang kebebasan beragama. Menurut mereka, urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan. Karena ini pula mereka menghalalkan pernikahan antar agama, sesorang muslim baik laki-laki maupun perempuan boleh saja menikah dengan non muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diteliti terhadap ide yang dilontarkan kelompok JIL diatas, jelas sekali terlihat bahwa sebenarnya ide tersebut tidak layak keluar dari mulut seorang muslim. Paham ini sebenarnya merupakan warisan pemikiran Harvey Cox, seorang pemikir Barat yang menggagas paham Sekularisme. Gagasan Sekularisasi yang dipopulerkan Cox mendapat sambutan hangat dari para pemikir Kristen lainnya, seperti Robert N.Bellah yang sebelumnya telah terpengaruh dengan gagasan Marxist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mantapnya konsep sekularisme, seseorang manusia tidak mengakui lagi kebenaran Islam yang mutlak. Mereka akan menolak semua konsep-konsep islam yang bersifat pasti (Qath’i) karena semua hal dianggap relatif. Makna kebenaran bagi mereka adalah segala yang berlaku dalam masyarakat, dan bukan yang dikonsepkan dalam al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Al-Qur’an Adalah Produk Budaya, Bukan Kitab Suci.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut JIL, sejarah al-Qur’an hingga menjadi “kitab suci” dan “autentik” perlu dilacak kembali. Untuk tujuan itu, mereka menawarkan dekontruksi sebagai sebuah strategi terbaik. Karena strategi ini akan membongkar dan menggerogoti sumber-sumber muslim tradisionil yang meyakini kesucian kitab al-Qur’an. Menurut mereka, Mushaf  Usmani sebenarnya hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat. Mereka juga menyalahkan metodologi ulama dahulu yang mengontrol kebenaran wahyu dengan menggunakan analisis grammar dan yang berhubungan dengan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para aktivis JIL al-Qur’an adalah teks, dan cara terbaik dalam menggali teks adalah pendekatan hermeneutika. Dengan pendekatan hermeneutika kita dapat mengetahui bukan makna literal saja dari al-Qur’an, tetapi juga semua makna al-Qur’an dari berbagai aspek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diperhatikan sekilas memang tawaran JIL disini termasuk tawaran yang dapat menebar pesona dalam konteks ilmiah. Karena bersifat kritis. Tetapi secara tanpa sadar, para Liberalis dalam hal ini telah mengadopsi pemikiran-pemikiran Orientalis yang berupaya memahami al-Qur’an dengan pendekatan konflik dan menganggap al-Qur’an itu bukan Wahyu. Karena pendekatan hermeneutika merupakan metode yang digunakan oleh para intelektual barat dalam memahami Bibel, dimana saat memahaminya seseorang harus berangkat dari keragu-raguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda untuk meragukan keabsahan dan keotentikan al-Qur’an sebagai wahyu Allooh سبحانه وتعالى memang telah lama digarap secara serius oleh kalangan orientalis dan missionaris Kristen. Hal itu misalnya dapat dilihat dalam buku karya Samuel M. Zwemmer yang berjudul Islam: A Challenge to Faith, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1970. Ironisnya, upaya untuk meragukan al-Qur’an juga muncul dikalangan aktivis JIL, meskipun dengan cara yang lebih halus dari apa yang dilakukan oleh Zwemmer. Artinya, dengan menerapkan pendekatan hermeneutika berarti seseorang tidak meyakini lagi kebenaran al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mengkaji Al-Quran sebagai teks dengan konteks bukanlah sesuatu cara yang terlalu baru. Apalagi istilah hermeneutika pun mempunyai banyak makna. Ada makna pada tataran filosofis, dan ada makna pada tataran sosiologis dan historis. Sesungguhnya, ulama tafsir klasik pun telah menggunakan kajian Asbabun Nuzul yang memberi konteks dari turunnya sesuatu ayat. Yang dikhawatirkan dalam pendekatan hermeneutika terhadap al-Qur’an ialah sang penafsir akan menerapkan metode kajian Bibel untuk al-Qur’an, dan memalingkan arti teks Al-Quran dengan dalih hermeneutika. Padahal terdapat perbedaan sangat kontras antara status teks Al-Quran yang selamanya orisinal sebagai wahyu Allooh سبحانه وتعالى, dan teks Bibel yang ditulis oleh orang-orang yang hidup beberapa lama setelah Nabi Isa عليه السلام.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, para Teolog Yahudi dan Kristen mempertanyakan apakah Bibel itu kalam Tuhan atau produk manusia? Ini karena banyaknya versi bibel dengan pengarang yang berbeda, dan saling bertentangan. Ketika hermeneutika dipakai dalam menafsirkan al-Qur’an, persoalannya menjadi lain. Sebab, setidaknya ada tiga persoalan besar ketika hermeneutika diterapkan pada teks al-Qur’an. Hal ini terjadi karena adanya spirit yang inheren dalam hermeneutika itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tiga hal tersebut ialah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hermeneutika menghendaki sikap yang kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, hermeneutika cenderung memandang teks sebagai produk manusia, dan mengabaikan sifat transedentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, hermeneutika sangat plural, karenanya kebenaran tafsir sangat relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas, bila dilihat dari sejarah lahir dan metodenya, pendekatan hermeneutika sangat tidak tepat dibawa dalam memahami al-Qur’an, karena kebenaran al-Qur’an tidak boleh diragukan. Sisi inilah yang membedakan al-Qur’an dan Bibel, sebab Bibel wajar saja diragukan keabsahannya karena kandungan isinya saling kontradiksi akibat ulah pendeta-pendeta Nasrani yang merubah-rubah isinya yang dilatarbelakangi oleh sikap dengki terhadap kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami al-Qur’an, kelompok JIL juga  mengajak ummat Islam untuk meninggalkan kitab-kitab tafsir klasik. Bila diteliti, ajakan tersebut adalah pertanda kerancuan berpikir yang sangat jelas, karena komunikasi dengan pemikiran para mufasir klasik itu sangat diperlukan justeru antara lain untuk memahami konteksnya, dan memahami konteks masyarakat mereka. Dan pemahaman konteks itu adalah anjuran dari hermeneutika. Jadi, kalau kitab-kitab klasik tidak diperlukan lagi, sebenarnya bertentangan dengan anjuran penggunaan hermeneutika itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai kerancuan yang terdapat dalam gagasan JIL tentang metode memahami al-Qur’an dengan pendekatan hermeneutika, dan meninggalkan tafsir-tafsir lama, menimbulkan berbagai pertanyaan, siapa sebenarnya mereka, dan apa motif dibalik gerakan mereka? Jangan-jangan kampanye aktivis JIL yang semakin berani dan terbuka ini merupakan pesanan Orientalis dan Missionaris. Karena sudah jelas metode yang mereka tawar diadopsi dari Orientalis dan Missionaris. Dan karenanya wajar saja ada fatwa tentang kemurtadan orang-orang JIL karena meragukan kebenaran al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya bila dilihat dari ungkapan mereka yang saling bertentangan satu sama lainnya, maka tidak salah kalau sebagian orang mengklaim bahwa sebenarnya orang-orang JIL itu tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan. Atas dasar ini, sangatlah disayangkan sikap sebagian intelektual muslim sekarang ini yang membela dan memuji JIL sebagai kelompok pembaharu Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.    Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم Tokoh Historis Yang Perlu Dikritisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tokoh-tokoh JIL, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah tokoh sejarah yang perlu dikaji secara kritis, sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang banyak kekurangannya.  Komentar diatas merupakan salah satu bentuk penghinaan terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang dilontarkan oleh JIL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditelusuri lebih jauh, penghinaan terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah pernah terjadi semenjak masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri ketika beliau membawa misi tauhid kepada orang-orang kafir. Saat itu penghinaan sering dilontarkan oleh kelompok Munafik dan Musyrik. Kemudian penghinaan terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم terus dilakukan oleh para kafir sampai pada abad moderen ini, sampai-sampai dengan cara membuat karikatur dan dimuat dalam media massa. Jadi, sejak dulu sampai kini biasanya ejekan-ejekan terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selalu dilakukan oleh kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, beberapa tahun lalu seorang Orientalis Kristen yang bernama Robert Morey menulis buku yang diberi judul Islamic Invasion. Dalam buku ini, sebagaimana dikutip Hartono Ahmad Jaiz, Robert menyerang dan menghina Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم secara habis-habisan, sampai ia mengatakan dalam bukunya “Kalau kita perhatikan kehidupan Muhammad, kita akan menemukan bahwa dia merupakan manusia biasa yang juga bergelimang dengan dosa seperti halnya dengan kita semua. Dia berbohong, menipu, dipenuhi nafsu birahi, mengingkari janji, membunuh, dan lain-lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aneh disini adalah orang kafir yang sudah jelas-jelas menghina Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم justeru didukung oleh tokoh yang mengaku muslim dan memimpin perguruan tinggi Islam saat itu. Azymardi Azra (salah seorang tokoh JIL) yang saat itu memimpin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memberi kata pengantar pada terjemahan buku tersebut yang dalam judul indonesianya “Islam Di Hujat”. Buku yang sekeji ini menghina Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bahkan oleh diwajibkan oleh Azymardi Azra untuk dibaca oleh semua ummat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummat Islam meyakini bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah seorang yang terpelihara dari dosa sekecil apapun dan dari kesalahan (ma’shum). Apa yang diucap dan dilakukan beliau صلى الله عليه وسلم semua bersumber dari Wahyu, sebagaimana yang ditegaskan dalam al-Qur’an tepatnya dalam surat an-Najm ayat 3-4 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى ﴿٤&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu unsur iman adalah beriman kepada Rosuul dan dengan ajaran yang dibawa Rosuul. Rosuul memang manusia, tetapi kepadanya diberikan sifat-sifat ketinggian dan mukjizat. Mukjizat itu berfungsi membenarkan kerosuulannya. Maka orang yang tidak meyakini kebenaran Rosuul dan ma’shum-nya, maka orang ini dianggap belum beriman dengan Rosuul. Tidak beriman dengan Rosuul berarti belum memenuhi unsur keimanan. Orang yang tidak memenuhi unsur keimanan berarti masih berada diluar Islam. Jadi bila dilihat dari sisi ini, maka orang yang meyakini seperti yang dilontarkan tokoh JIL berarti orang yang tidak beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas semakin tampak bahwa JIL menyuarakan dalam Islam, apa saja yang telah disuarakan oleh orang-orang kaafir terhadap Islam. Ini makin memperjelas siapa sebenarnya JIL, dan sepertinya mereka merupakan corong para Orientalis untuk mengobok-obok Islam dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Menolak Syari’at Islam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut kelompok JIL, sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Luthfi as-Syaukani (dosen Universitas Paramadina), bahwa syari’at Islam itu sebenarnya tidak ada. Syariat Islam hanya karangan orang-orang yang datang belakangan yang memiliki idealisme yang berlebihan terhadap Islam. Semua hukum yang diterapkan oleh sebuah masyarakat pada dasarnya adalah hukum positif, termasuk yang diberlakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم. Kalaupun sumber konstitusinya berasal dari al-Qur’an, hal ini karena Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah seorang Rosuul dan tidak memiliki sumber konstitusi yang lebih baik dari al-Qur’an saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya penolakan terhadap syari’at Islam merupakan isu yang diangkat oleh kalangan Orientalis dengan dalih pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia). Hal ini pernah terangkat dalam satu diskusi antar agama yang diadakan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat itu, Prof. Olaf Schumann dari Universitas Hamburg Jerman yang sekaligus seorang Pendeta Gereja Lutheran menyatakan, bahwa penerapan syari’at  Islam dalam suatu negara Islam merupakan ketidakadilan terhadap pemeluk agama lain, dan ini bertentangan dengan konsep pluralisme dan humanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya penolakan terhadap syari’at islam sangat gencar dikampanyekan oleh para aktivis JIL. Menurut mereka, penerapan syariat oleh negara berarti melanggar prinsip netralitas negara yang harus menjaga prinsip-prinsip non-diskriminasi dan equality (kesamaan) di antara seluruh warga negara. JIL bersikeras memisahkan agama (dien) dari negara. Karena negara dalam pandangan mereka, harus netral dari pengaruh agama apa pun. Sementara, agama harus tetap dipertahankan dalam wilayah privat.&lt;br /&gt;Apa yang mereka katakan ini sebenarnya hanya membuka kedok mereka yang sama sekali buta terhadap Islam. Mereka mengatasnamakan Islam (dengan embel-embel liberal) namun tidak tahu apa itu Islam dan bagaimana sejarah Islam. Karena apa yang mereka khawatirkan, sama sekali tidak terbukti. Sebab, sebagai agama dan negara, Islam sangat menjunjung tinggi asas egaliter dan menjaga prinsip-prinsip non-diskriminasi. Islam tidak pernah pilih kasih dalam menegakkan keadilan dan menerapkan hukumnya. Semua warga negara sama di mata hukum, baik itu muslim ataupun non-muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolak penerapan syariat Islam berarti sama saja dengan menganggap agama ini (dienul Islam) tidak lengkap dan tidak sempurna. Selain itu, upaya memisahkan agama (dien) dari negara yang mereka usung sungguh berbahaya, karena ujung-ujungnya adalah ingin memisahkan agama (dien) dari kehidupan manusia. Inilah yang sejatinya merupakan proyek sekularisme. Alasan penolakan mereka hanya dibuat-buat, diputar-putar, dan apologis, agar terkesan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas, jelas bahwa ide penolakan syari’at islam merupakan warisan yang diambil JIL dari kalangan yang selalu dipujinya, yaitu Orientalis Barat. Sebab, dalam ummat Islam, ketakutan pada Islam ini sejatinya tidak akan muncul kecuali dari mereka yang sudah terlanjur cinta pada peradaban Barat. Atau, bisa jadi mereka yang sudah diasuh dan lama menyusu kepada Barat. Apa yang dinilai oleh Barat baik, dia juga katakan baik, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Penghalalan Yang haram, dan Pengharaman yang halal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tokoh-tokoh JIL, semua masalah yang ada dalam Islam tetap terbuka ruang untuk ijtihad ulang, meskipun masalah tersebut telah disepakati oleh semua ummat Islam sejak zaman dahulu. Re-ijtihad menurut mereka tidak terbatas pada masalah-masalah hukum amali saja, tetapi juga berlaku pada masalah-masalah keilahian yang sudah berstatus qath’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pijakan ini, para tokoh JIL tidak segan-segan untuk menetapkan kehalalan suatu kasus, sekalipun sudah disepakati ummat Islam tentang keharomannya. Begitu juga mereka mengharomkan suatu kasus, kendatipun ummat Islam meyepakati kehalalannya. Seperti poligami yang dihalalkan dalam Islam, tetapi menurut JIL hukumnya adalah harom. Sementara perkawinan muslim dengan non muslim yang telah diharomkan, namun JIL menghalalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti disitu, malah para tokoh JIL juga menghalalkan perkawinan sesama jenis (homosex/lesbian). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seperti Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, guru besar di UIN Jakarta, Menurutnya, homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Menurut Musdah, para sarjana Muslim moderat berpendapat, bahwa tidak ada alasan untuk menolak homoseksual. Dan bahwasanya pengecaman terhadap homoseksual atau homoseksualitas oleh kalangan ulama arus utama dan kalangan Muslim lainnya hanyalah didasarkan pada penafsiran sempit terhadap ajaran Islam. Menurut Musdah Mulia, intisari ajaran Islam adalah memanusiakan manusia dan menghormati kedaulatannya. Lebih jauh ia katakan, bahwa homoseksualitas adalah berasal dari Tuhan, dan karena itu harus diakui sebagai hal yang alamiah. Ia memuat tulisannya ini dalam Harian The Jakarta Post, edisi Jumat (28/3/2008) Islam ‘recognizes homosexuality’ (Islam mengakui homoseksualitas). Saat berita itu dimuat, semua tokoh-tokoh JIL memuji keberanian Musdah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan legalisasi homoseksual yang dilakukan oleh kaum Liberal di Indonesia sebenarnya sudah melampaui batas. Bagi umat Islam, hal seperti ini merupakan sesuatu yang tidak terpikirkan (“unthought”). Bagaimana mungkin, dari kampus berlabel Islam justru muncul dosen dan mahasiswa yang berani menghalalkan homoseksual, suatu tindakan bejat yang selama ribuan tahun dikutuk oleh agama (dien).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum Yahudi dan Kristen Liberal, hal seperti itu sudah dianggap biasa. Mereka juga menyatakan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sejalan dengan ajaran Bibel. Mereka pun menuduh kaum Yahudi dan Kristen lain sebagai “ortodoks”, “konservatif” dan sejenisnya, karena tidak mau mengakui dan mengesahkan praktik homoseksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi ummat Islam secara umum, hukum tentang homosexual bukan lah suatu hukum yang samar-samar (khafi), tetapi sudah jelas keharomannya. Bahkan sebelum Islam datang, karena praktik homosexual merupakan perbuatan yang dikutuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran (QS. Al A’roof (7) ayat 80-84)sudah memberikan gambaran jelas bagaimana terkutuknya kaum Nabi Luth yang merupakan pelaku homoseksual ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلُوطاً إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّن الْعَالَمِينَ ﴿٨٠﴾ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاء بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ ﴿٨١﴾ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَن قَالُواْ أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ ﴿٨٢﴾ فَأَنجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلاَّ امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ ﴿٨٣﴾ وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَراً فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ ﴿٨٤&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(80) Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(81) Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(82) Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(83) Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(84) Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sering mengemukakan gagasa-gagasan yang aneh dan menjadi corong Orientalis, para tokoh-tokoh JIL sering mendapat penghargaan dari pihak-pihak dunia Barat. pada Hari Perempuan Dunia tanggal 8 Maret 2007, Musdah Mulia menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS), Washington. Ia dianggap sukses menyuarakan, membela dan mengembalikan hak perempuan di mata agama dengan cara melakukan “pembaruan hukum Islam” – termasuk – undang-undang perkawinan. Selanjutnya pada 27 Nopember 2009 lalu, ia kembali meraih anugerah International Prize of The Women of The Year 2009, di Italia, setelah menyisihkan 36 finalis dari 27 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa contoh permasalahan yang digagas dan diperjuangkan JIL sebagaimana uraian diatas, terlihat jelas tidak satupun yang terlepas dari hubungannya dengan apa yang dikampanyekan oleh kalangan Orientalis dan Missionaris Kristen. Isu semua agama sama, kebebasan beragama, al-Qur’an produk budaya, penghinaan terhadap Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, penolakan syari’at Islam, sampai perkawinan sesama jenis, merupakan tema-tema yang sejak dulu diperjuangkan dengan gigih oleh kalangan Orientalis dan Missionaris Kristen, dan secara terus-menerus ditanamkan dalam pemikiran generasi muda Islam. Tujannya tak lain untuk menjauhkan generasi Islam dari pemahaman dien yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari berbagai data yang berhasil dihimpun mengenai sepak terjang JIL, setelah dianalisis dapat diajukan beberapa hasil temuan sebagai berikut:&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; kelompok JIL merupakan perpanjangan tangan Orientalis dan Missionaris Kristen untuk merusak Islam dari dalam, dan memecah belahkan ummat Islam, sebab kalangan Barat sangat takut jika ummat Islam bersatu. Sejak berakhirnya perang Salib, pihak Barat senantiasa menyimpan rasa takut pada dien yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, dalam keyakinan mereka, Islam ini adalah agama (dien) yang menyimpan potensi dahsyat, mampu menggerakkan umatnya untuk melawan apa saja. Ini tidak pernah ada pada ajaran agama lain. Apalagi, kemajuan teknologi persenjataan modern tidak terlalu ampuh untuk menaklukkan umat Islam. Hal ini dipahami betul oleh kalangan Barat. Oleh karena itu, mereka benar-benar mewaspadai Islam, khususnya umat Islam yang tampak berpegang pada ajarannya.  Dengan adanya JIL, para Orientalis dan Missionaris tidak terlalu sibuk lagi mempengaruhi pemikiran generasi Islam. Karena tugas ini sudah diemban oleh generasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temuan ini didukung oleh realitas perkembangan JIL sendiri, karena dana yang dapatkan untuk tugas ini bersumber dari beberapa LSM Barat. Salah satunya ialah Asian Foundation, salah satu LSM Amerika yang bergerak dalam bidang demokrasi, sekularisasi, dan pluralisme agama.  Ulil Abshar Abdala selaku kordinator JIL terus terang mengakui bahwa setiap tahun mereka mendapatkan sekitar Rp 1,4 milyar dari Asian Foundation. Belum lagi dana dari LSM lainnya seperti TAF, Ulil menyebutkan dana yang paling besar bersumber dari TAF, dengan tanpa menyebutkan angka pasti.&lt;br /&gt;Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo yang merupakan Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, secara lantang mengatakan bahwa: “Yang dilakukan JIL saat ini adalah menjual Islam demi memburu dolar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jelaslah bahwa JIL adalah kelompok anak-anak muda yang menjual Islam kepada Orientalis demi kepentingan materi. Dan mereka merupakan corong Orientalis untuk mengkampanyekan kehancuran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, JIL merupakan kader-kader didikan Barat, atau didikan dari mereka yang menjadi kader Barat. Maka gagasan mereka tidak akan pernah terlepas dari paradigma Barat dalam memandang Islam. Ini terbukti dengan melihat kepada latar belakang pendidikan para tokoh-tokoh JIL. mulai dari Nucholis Madjid, Harun Nasution, sampai tokoh-tokoh muda sekarang semuanya orang-orang yang telah telah melalui proses cuci otak yang dilakukan Yahudi, Nasrani, dan Orientalis yang menjadi guru mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barat sudah lama membaca mentalitas orang-orang Timur yang terkagum-kagum pada Barat. Belajar ke Barat melahirkan kebanggaan tersendiri dalam kejiwaan orang-orang Timur. Hal ini dimanfaatkan orientalis dengan berkedok ilmiah dan penelitian. Sehingga, dengan mudah mereka mendoktrin peneliti-peneliti muda yang belajar di universitas-universitas mereka dengan paham dan ideologi mereka. Mahasiswa yang tadinya masih memiliki keteguhan dan kebanggaan pada Islam digoyahkan keyakinannya, dibuat menjadi ragu, dan akhirnya menisbikan segala ideologi. Prinsip-prinsip yang mereka tanamkan biasanya berkedok penelitian dan kejujuran ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan para tokoh JIL tentang Al-Qur’an, Hadits, serta kitab-kitab klasik, dominannya pada kulit luar saja. Tetapi mau mengarungi samudera yang luas itu. Akhirnya, mereka lah yang tenggelam dalam lautan hawa nafsu dan keangkuhan. Maka, terjadilah seperti apa yang kita lihat sekarang ini, suara-suara bebas yang sudah tidak lagi mengenal rambu-rambu itu menyerang Islam. Inilah akibat dari mempelajari Islam dari orang-orang kaafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, JIL merupakan kelompok yang sangat minim pengetahuannya tentang seluk-beluk Islam dan sumbernya, tetapi mereka berlagak seperti orang yang telah mencapi tingkat mujtahid. Ini terlihat dari kerangka berpikir metodologis yang mereka gunakan. Dalam mengemukakan berbagai gagasan kontroversialnya, JIL tidak memiliki landasan teori yang sistematis dan argumentasi yang kuat. Pemikiran mereka lebih banyak berupa kutipan-kutipan ide-ide yang dicomot dari sana-sini, dan terkesan hanya sebagai pemikiran asal-asalan belaka (plagiator), yang tergantung musim dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya antara ucapan mereka sebelumnya sering kontradiksi dengan apa yang mereka kemukakan sesudahnya. Dan mereka sering terlihat tidak mengerti terhadap apa yang mereka kemukakan. Sebagi contoh, JIL juga mengumandangkan kebebasan dengan slogannya yang rancu, “Menuju Islam yang Membebaskan.” Apa yang mereka maksud dengan kebebasan di sini dan membebaskan dari apa juga tidak jelas. Karena mereka hanya mau bebas sendiri dan tidak memberi kebebasan kepada kelompok lain. Mereka membebaskan orang Kristen menyebarkan agamanya dengan cara-cara yang licik, bahkan tidak jarang memaksakan agamanya kepada orang lain yang sudah beragama. Mereka sama sekali tidak pernah peduli dengan maraknya Kristenisasi di mana-mana yang sangat meresahkan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ketika ada sekelompok umat Islam yang ingin menjalankan ajaran agamanya secara kaffah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, justru mereka gerah. JIL merasa kepanasan terhadap orang Islam yang dianggap ‘bertingkah.’ Lalu, mereka pun tidak memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk mengekspresikan keislamannya, baik dalam sikap maupun pemikiran. Dan kemudian, JIL memvonis orang-orang Islam seperti ini sebagai fundamentalis, militan, radikal, garis keras, dan sebagainya. Oleh karena itu, fatwa murtad dan sesat-menyesatkan yang ditetapkan kepada tokoh-tokoh JIL, rasanya sangat pantas dan tidak berlebihan.&lt;br /&gt;Dinukil dari:&lt;br /&gt;http://al-aziziyah.com/ruang-dosen/87-ruang-dosen/160-siapa-jil.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;II. PARA TOKOH JARINGAN ISLAM LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah daftar 50 TOKOH JIL INDONESIA :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Para Pelopor&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Abdul Mukti Ali&lt;br /&gt;2. Abdurrahman Wahid&lt;br /&gt;3. Ahmad Wahib&lt;br /&gt;4. Djohan Effendi&lt;br /&gt;5. Harun Nasution&lt;br /&gt;6. M. Dawam Raharjo&lt;br /&gt;7. Munawir Sjadzali&lt;br /&gt;8. Nurcholish Madjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;B. Para Senior&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;9. Abdul Munir Mulkhan&lt;br /&gt;10. Ahmad Syafi’i Ma’arif&lt;br /&gt;11. Alwi Abdurrahman Shihab&lt;br /&gt;12. Azyumardi Azra&lt;br /&gt;13. Goenawan Mohammad&lt;br /&gt;14. Jalaluddin Rahmat&lt;br /&gt;15. Kautsar Azhari Noer&lt;br /&gt;16. Komaruddin Hidayat&lt;br /&gt;17. M. Amin Abdullah&lt;br /&gt;18. M. Syafi’i Anwar&lt;br /&gt;19. Masdar F. Mas’udi&lt;br /&gt;20. Moeslim Abdurrahman&lt;br /&gt;21. Nasaruddin Umar&lt;br /&gt;22. Said Aqiel Siradj&lt;br /&gt;23. Zainun Kamal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;C. Para Penerus “Perjuangan”&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;24. Abd A’la&lt;br /&gt;25. Abdul Moqsith Ghazali&lt;br /&gt;26. Ahmad Fuad Fanani&lt;br /&gt;27. Ahmad Gaus AF&lt;br /&gt;28. Ahmad Sahal&lt;br /&gt;29. Bahtiar Effendy&lt;br /&gt;30. Budhy Munawar-Rahman&lt;br /&gt;31. Denny JA&lt;br /&gt;32. Fathimah Usman&lt;br /&gt;33. Hamid Basyaib&lt;br /&gt;34. Husein Muhammad&lt;br /&gt;35. Ihsan Ali Fauzi&lt;br /&gt;36. M. Jadul Maula&lt;br /&gt;37. M. Luthfie Assyaukanie&lt;br /&gt;38. Muhammad Ali&lt;br /&gt;39. Mun’im A. Sirry&lt;br /&gt;40. Nong Darol Mahmada&lt;br /&gt;41. Rizal Malarangeng&lt;br /&gt;42. Saiful Mujani&lt;br /&gt;43. Siti Musdah Mulia&lt;br /&gt;44. Sukidi&lt;br /&gt;45. Sumanto al-Qurthuby&lt;br /&gt;46. Syamsu Rizal Panggabean&lt;br /&gt;47. Taufik Adnan Amal&lt;br /&gt;48. Ulil Abshar-Abdalla&lt;br /&gt;49. Zuhairi Misrawi&lt;br /&gt;50. Zuly Qodir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku : “50 Tokoh Islam Liberal Indonesia : Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme”.&lt;br /&gt;Penulis : Budi Handrianto&lt;br /&gt;Penerbit : Hujjah Press (kelompok Penerbit Al Kautsar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://forum.detik.com/daftar-50-tokoh-jil-indonesia-t42703.html&lt;br /&gt;http://ustadzrofii.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-1392039558343853539?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/1392039558343853539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-jaringan-islam-liberal-jil-bhg-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1392039558343853539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1392039558343853539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-jaringan-islam-liberal-jil-bhg-1.html' title='Bahaya &quot;Jaringan Islam Liberal (JIL)&quot; bhg 1'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gP8Pca9sG3k/TpRH4deSBtI/AAAAAAAAA8I/6LqgvYPVMiw/s72-c/lib2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-5388377378750562779</id><published>2011-10-06T08:44:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T07:22:01.540-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Faham Liberal ~'/><title type='text'>Bahaya "Jaringan Islam Liberal (JIL)" bhg 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-SRbSxQfP5Dw/TpRLdfLScTI/AAAAAAAAA8U/TIIE3p7V7vs/s1600/lib2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 49px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-SRbSxQfP5Dw/TpRLdfLScTI/AAAAAAAAA8U/TIIE3p7V7vs/s320/lib2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662233601468690738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(BAGIAN-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;III. LIBERALISASI ISLAM DI INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide sekularisasi Islam di Indonesia pertama kali digulirkan oleh Nurcholish Madjid pada 3 Januari 1970. Idenya itu diadopsi dari pemikiran Harvey Cox dengan bukunya yang terkenal berjudul The Secular City. Nurcholish mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah bagaikan membuka sebuah kotak pandora. Saat kotak itu terbuka, maka terjadilah peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi, hingga kini. Harvey Cox menyebutkan bahwa sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah. Menurut Cox, ada tiga komponen penting dalam Bible yang menjadi kerangka asas sekularisasi, yaitu ‘disenchantment of nature’ yang dikaitkan dengan penciptaan (creation), ‘desacralization of politics’ dengan migrasi besar-besaran (exodus) kaum Yahudi dari Mesir, dan ‘deconsecration of values’ dengan Perjanjian Sinai. (Harvey Cox, The Secular: Secularization and Urbanization in Theological Perspective [New York: The Macmillan Company, 1967], hlm. 19-32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kata Cox, sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju ke ‘dunia kini’. Karena sudah menjadi suatu keharusan, kata Cox, kaum Kristen tidak seyogyanya menolak sekularisasi. Sebab, sekularisasi merupakan konsekuensi autentik dari kepercayaan Bible. Maka, tugas kaum Kristen adalah menyokong dan memelihara sekularisasi. (Harvey Cox, The Secular: Secularization and Urbanization in Theological Perspective [New York: The Macmillan Company, 1967], hlm. 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi pertama Buku The Secular City dicetak pada tahun 1965. Buku Cox ini mencetuskan cause celebre agama di luar jangkauan pengarang dan penerbitnya sendiri. Buku ini merupakan best seller di Amerika dengan lebih 200 ribu naskah terjual dalam masa kurang dari setahun. Buku ini juga adalah karya utama yang menarik perhatian masyarakat kepada isu sekularisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh buku ini ternyata juga melintasi batas negara dan agama. Di Yogyakarta, sekelompok aktivis yang tergabung dalam Lingkaran Diskusi Limited Group di bawah bimbingan Mukti Ali sangat terpengaruh oleh buku tersebut. Di antara sejumlah aktivis dalam diskusi itu adalah Dawam Rahardjo, Djohan Effedi, dan Ahmad Wahib. (Lihat Karel Steenbrink, “Patterns of Muslim-Christian Dialogue in Indonesia 1965-1998″, dalam Jacques Waardenburg, Muslim-Christian Perceptions of Dialogue Today [Leuven: Peeters, 2000], hlm. 85). Tetapi, gagasan Cox ketika itu belum terlalu berkembang. Ahmad Wahib hanya menulis catatan harian, yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku selepas meninggalnya. Djohan Effendi pun tidak terlalu kuat pengaruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Cox baru tampak jelas di Indonesia pada pemikiran Nurcholish Madjid, yang ketika itu menjadi ketua umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Dan pada tanggal 12 Januari 1970 Nurcholish Madjid secara resmi meluncurkan gagasan sekularisasinya dalam diskusi di Markas PB Pelajar Islam Indonesia (PII) di Jalan Menteng Raya 58. Ketika itu Nurcholish meluncurkan makalah berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Dua puluh tahun kemudian, gagasan itu kemudian diperkuat lagi dengan pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 21 Oktober 1992 dengan judul “Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah 30 tahun berlangsung, arus sekularisasi dan liberalisasi itu semakin sulit dikendalikan, dan berjalan semakin liar. Arus itu merambah ke berbagai sisi kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan bahkan pemikiran keagamaan. Penyebaran paham “pluralisme agama“, “dekonstruksi agama“, “dekonstruksi kitab suci“, dan sebagainya kini justru berpusat di kampus-kampus dan organisasi-organisasi Islam–sebuah fenomena yang ‘khas Indonesia’. Paham-paham ini menusuk jantung Islam dan berusaha merobohkan Islam dari pondasinya yang paling dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DARI TRADISI YAHUDI DAN KRISTEN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Yahudi telah lama mengalami liberalisasi, sehingga saat ini Liberal Judaism (Yahudi Liberal) secara resmi masuk dalam salah satu aliran dalam agama Yahudi. Perkembangan liberalisasi dalam agama Kristen juga sangat jauh. Bahkan, agama Kristen bisa dikatakan sebagai salah satu “korban” liberalisasi dari peradaban Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Kristen mulai bersinar di Eropa ketika pada tahun 313, Kaisar Konstantin mengeluarkan surat perintah (Edik) yang isinya memberi kebebasan warga Romawi untuk memeluk agama Kristen. Tahun 380 Kristen dijadikan sebagai agama negara oleh Kaisar Theodosius. Menurut Edik Theodosius, semua warga negara Romawi diwajibkan menjadi anggota gereja Katolik. Agama-agama di luar itu dilarang. Bahkan, sekte-sekte Kristen di luar “gereja resmi” pun dilarang. Dengan berbagai keistimewaan yang dinikmatinya, Kristen kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Kristen tergerus arus yang tak dapat dihindarinya, yaitu sekularisasi dan liberalisasi. Jika dicermati lebih jauh, perekembangan gereja-gereja di Eropa kini sudah memprihatinkan. Seorang aktivis Kristen asal Bandung memaparkan dengan jelas kehancuran gereja-gereja di Eropa dalam bukunya yang berjudul Gereja Modern, Mau ke Mana? (1995). Kristen benar-benar kelabakan dihantam nilai-nilai sekularisme, modernisme, liberalisme, dan ‘klenikisme’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amsterdam, misalnya, 200 tahun lalu 99% penduduknya beragama Kristen. Kini tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja. Mayoritas mereka sudah sekuler. Di Perancis yang 95% penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13%-nya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Di Jerman pata tahun 1987, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya mengatakan bahwa agama sudah tidak diperlukan lagi. Di Finlandia, yang 97% Kristen, hanya 3% yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90% Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3% yang rutin ke gereja tiap minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Kristen Eropa juga tergila-gila pada paranormal, mengalahkan kepercayaan mereka pada pendeta atau imam Katolik. Di Jerman Barat–sebelum bersatu dengan Jerman Timur–terdapat 30.000 pendeta. Tetapi, jumlah paranormal (witchcraft) mencapai 90.000 orang. Di Perancis terdapat 26.000 imam Katolik, tetapi jumlah peramal bintang (astrolog) yang terdaftar mencapai 40.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sejumlah gereja, arus liberalisasi mulai melanda. Misalnya, gereja mulai menerima praktik-praktik homoseksualitas. Eric James, seorang pejabat gereja Inggris, dalam bukunya berjudul Homosexuality and a Pastoral Church, mengimbau agar gereja memberikan toleransi pada kehidupan homoseksual dan mengizinkan perkawinan homoseksual antara pria dengan pria atau wanita dengan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah negara Barat telah melakukan “revolusi jingga“, karena secara resmi telah mengesahkan perkawinan sejenis. Di berbagai negara Barat, praktik homoseksual bukanlah dianggap sebagai kejahatan, begitu juga praktik-praktik perzinaan, minuman keras, pornografi, dan sebagainya. Barat tidak mengenal sistem dan standar nilai (baik-buruk) yang pasti. Semua serba relatif: diserahkan kepada “kesepakatan” dan “kepantasan” umum yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, orang berzina, menenggak alkohol, mempertontonkan aurat, dan sejenisnya bukanlah dipandang sebagai suatu kejahatan, kecuali jika masyarakat menganggapnya jahat. Homoseksual dianggap baik dan disahkan oleh negara. Bahkan, para pastor gereja Anglikan di New Hampshire AS telah sepakat mengangkat seorang uskup homoseks bernama Gene Robinson pada November 2003. Kaum Kristen yang homo itu merombak ajaran Kristen, terutama mengubah tafsir lama yang masih melarang tindakan homoseksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PROGRAM LIBERALISASI ISLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sistematis, liberalisasi Islam di Indonesia sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an. Secara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) liberalisasi bidang aqidah, dengan penyebaran pluralisme agama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) liberalisasi bidang syariah, dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) liberalisasi konsep wahyu, dengan melakukan dekonstruksi terhadap Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Greg Barton, dalam disertasinya di Monash University, Australia, memberikan sejumlah program Islam Liberal di Indonesia, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) pentingnya konstektualisasi ijtihad,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tahun 1999 disertasi Greg Barton diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Paramadina dengan judul Gagasan Islam Liberal di Indonesia [1999: xxi]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari disertasi Barton tersebut dapat diketahui bahwa memang ada strategi dan program yang sistematis dan metodologis dalam liberalisasi Islam di Indonesia. Penyebaran paham Pluralisme Agama–yang jelas-jelas merupakan paham syirik modern–dilakukan dengan cara yang sangat masif, melalui berbagai saluran, dan dukungan dana yang luar biasa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari program tersebut, ada tiga aspek liberalisasi Islam yang sedang gencar-gencarnya dilakukan di Indonesia.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Liberalisasi Aqidah Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liberalisasi aqidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham Pluralisme Agama. Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau, mereka menyatakan bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga karena kerelatifannya, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya sendiri yang lebih benar dari agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, penyebaran paham ini sudah sangat meluas, dilakukan oleh para tokoh, cendekiawan, dan para pengasong ide-ide liberal. Berikut ini pernyataan-pernyataan mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)    Ulil Abshar Abdalla&lt;br /&gt;Ia mengatakan, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Majalah Gatra, 21 Desember 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengatakan, “Larangan beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.” (Kompas, 18/11/2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)   Budhy Munawar Rahman&lt;br /&gt;Ia mempromosikan teologi pluralis sebagai berikut. “Konsep teologi semacam ini memberikan legitimasi kepada kebenaran semua agama, bahwa pemeluk agama apa pun layak disebut sebagai ‘orang yang beriman’, dengan makna ‘orang yang percaya dan menaruh percaya kepada Tuhan’. Karena itu, sesuai QS 49: 10-12, mereka semua adalah bersaudara dalam iman.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budhy menyimpulkan, “Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antar-agama yakni pandangan bahwa siapa pun yang beriman–tanpa harus melihat agamanya apa–adalah sama di hadapan Allah. Karenanya, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu.” (Lihat artikel Budhy Munawar Rahman berjudul “Basis Teologi Persaudaraan antar-Agama”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia [Jakarta: JIL, 2002], hlm. 51-53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)    Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan (dosen UIN Yogyakarta)&lt;br /&gt;Ia berpendapat, “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar [Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002], hlm. 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)   Prof. Dr. Nurcholish Madjid&lt;br /&gt;Ia menulis, “Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirnya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama.” (Lihat buku Tiga Agama Satu Tuhan [Bandung: Mizan, 1999], hlm. xix).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e)    Dr. Alwi Shihab&lt;br /&gt;Ia menulis, “Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur’an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, denan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai Pluralisme keAgamanaan dan menolak eksklusivisme. Dalam pengertian lain, eksklusivisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya.” (Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama [Bandung: Mizan, 1997], hlm. 108-109).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f)    Sukidi (alumnus Fakultas Syariah IAIN Ciputat yang sangat aktif menyebarkan paham Pluralisme Agama)&lt;br /&gt;Ia menulis di koran Jawa Pos (11/1/2004), “Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi dan agama-agama. Nietzche menegasikan adanya kebenaran tunggal dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama–entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya–adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g)   Dr. Luthfi Assyaukanie (dosen Universitas Paramadina)&lt;br /&gt;Ia menulis, “Seorang fideis Muslim, misalnya, bisa merasa dekat kepada Allah tanpa melewati jalur shalat karena ia bisa melakukannya lewat meditasi atau ritus-ritus lain yang biasa dilakukan dalam persemedian spiritual. Dengan demikian, pengalaman keagamaan hampir sepenuhnya independen dari aturan-aturan formal agama. Pada gilirannya, perangkap dan konsep-konsep agama seperti kitab suci, nabi, malaikat, dan lain-lain tak terlalu penting lagi karena yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa menikmati spiritualitas dan mentransendenkan dirinya dalam lompatan iman yang tanpa batas itu.” (Kompas, 3/9/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h)   Nuryamin Aini (dosen Fak. Syariah UIN Jakarta)&lt;br /&gt;Ia menulis, “Tapi ketika saya mengatakan agama saya benar, saya tidak punya hak untuk mengatakan bahwa agama orang lain salah, apalagi kemudian menyalah-nyalahkan atau memaki-maki.” (Lihat buku Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 223).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan oleh umat Islam, khususnya kalangan lembaga pendidikan Islam, adalah bahwa hampir seluruh LSM dan proyek yang dibiayai oleh LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation, Ford Fondation, adalah mereka-mereka yang bergerak dalam penyebaran paham Pluralisme Agama. Itu misalnya bisa dilihat dalam artikel-artikel yang diterbitkan oleh Jurnal Tashwirul Afkar (diterbitkan oleh Lakpesdam NU dan The Asia Foundation), dan Jurnal Tanwir (diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah dan The Asia Foundation). Mereka bukan saja menyebarkan paham ini secara asongan, tetapi memiliki program yang sistematis untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang saat ini masih mereka anggap belum inklusif-pluralis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 11, tahun 2001, menampilkan laporan utama berjudul “Menuju Pendidikan Islam Pluralis“. Ditulis dalam jurnal ini sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri, tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman-kafir, muslim-nonmuslim, dan baik-benar (truth claim), yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi menganggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan. Jika cara pandangnya bersifat eksklusif dan intoleran, maka teologi yang diterima adalah teologi eksklusif dan intoleran, yang pada gilirannya akan merusak harmonisasi agama-agama, dan sikap tidak menghargai kebenaran agama lain. Kegagalan dalam mengembangkan semangat toleransi dan pluralisme agama dalam pendidikan Islam akan membangkitkan sayap radikal Islam.” (Khamami Zada, Membebaskan Pendidikan Islam: Dari Eksklusivisme Menuju Inklusivisme dan Pluralisme, Jurnal Tashwirul Afkar, edisi no. 11, tahun 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jurnal ini juga, Rektor UIN Yogyakarta, Prof. Dr. Amin Abdullah menulis, “Pendidikan agama semata-mata menekankan keselamatan individu dan kelompoknya sendiri menjadikan anak didik kurang begitu sensitif atau kurang begitu peka terhadap nasib, penderitaan, kesulitan yang dialami oleh sesama, yang kebetulan memeluk agama lain. Hal demikian bisa saja terjadi oleh karena adanya keyakinan yang tertanam kuat bahwa orang atau kelompok yang tidak seiman atau tidak seagama adalah “lawan” secara aqidah.” (M. Amin Abdullah, “Pengajaran Kalam dan Teknologi di Era Kemajemukan: Sebuah Tinjauan Materi dan Metode Pendidikan Agama“, Jurnal Tashwirul Afkar, edisi no. 11, tahun 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RELATIVISME KEBENARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham Pluralisme Agama berakar pada paham relativisme akal dan relativisme iman. Banyak cendekiawan yang sudah termakan paham ini dan ikut-ikutan menjadi agen penyebar paham relativisme ini, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam. Paham relativisme akal dan relativisme iman merupakan virus ganas yang berpotensi menggerogoti daya tahan keimanan seseorang. Dengan paham ini, seseorang menjadi tidak yakin dengan kebenaran agamanya sendiri. Dari paham ini, lahirlah sikap keragu-raguan dalam meyakini kebenaran. Jika seseorang sudah kehilangan keyakinan dalam hidupnya, hidupnya akan terus diombang-ambingkan dengan berbagai ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar dari nilai-nilai ini adalah paham Sofisme pada zaman Yunani kuno, yang kemudian dikembangkan dalam sistem pendidikan di Barat. Itu bisa dimengerti karena peradaban Barat adalah peradaban tanpa Wahyu. Sehingga, berbagai peraturan yang mereka hasilkan tidak berlandaskan pada wahyu Allooh سبحانه وتعالى, tetapi pada kesepakatan akal manusia. Karena itu, sifatnya menjadi nisbi, relatif, dan fleksibel. Bisa berubah setiap saat, tergantung kesepakatan dan kemauan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang hidup dalam alam pikiran liberal dan kenisbian nilai akan senantiasa mengalami kegelisahan hidup dan ketidaktenangan jiwa. Mereka pada hakikatnya berada dalam kegelapan, jauh dari cahaya kebenaran. Karena itu, mereka akan senantiasa mengejar bayangan kebahagiaan, fatamorgana, melalui berbagai bentuk kepuasan fisik dan jasmaniah, ibarat meminum air laut yang tidak pernah menghilangkan rasa haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah kehidupan manusia-manusia jenis ini. Simaklah ucapan-ucapan mereka; tengoklah keluarga mereka; cermatilah teman-teman dekat mereka; (tambahan: perhatikan akhir hayat mereka). Tidak ada kebahagiaan yang abadi yang dapat mereka reguk, karena mereka sudah membuang jauh-jauh keimanan dan keyakinan akan nilai-nilai yang abadi, kebenaran yang hakiki. Mereka tidak percaya lagi kepada wahyu Allooh سبحانه وتعالى, dan menjadikan akal dan hawa nafsunya sendiri sebagai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sudah menggambarkan sikap manusia pemuja nafsu ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿٢٣&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka pernahkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai Illah (tuhan) mereka, dan Allooh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (Allooh mengetahui bahwa ia tidak dapat menerima petunjuk yang diberikan kepadanya), dan Allooh telah menutup pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka, siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allooh? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al-Jaatsiyah (45) ayat 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Islam, paham Pluralisme Agama jelas-jelas merupakan paham SYIRIK modern, karena menganggap semua agama adalah benar. Padahal Allooh سبحانه وتعالى telah menegaskan bahwa hanya Islam agama (dien) yang benar dan diterima Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allooh hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imroon (3) ayat 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٨٥&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa mencari agama selain dienul Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama / dien itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imroon (3) ayat 85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan akan kebenaran dienul Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhoi Allooh سبحانه وتعالى adalah konsep yang sangat mendasar dalam Islam. Karena itu, para cendekiawan dan ulama perlu menjadikan penanggulangan paham syirik modern ini sebagai perjuangan utama, agar jangan sampai 10 tahun lagi paham ini menguasai wacana pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia, sehingga akan lahir dosen-dosen, guru-guru agama, khotib, atau kyai yang mengajarkan paham persamaan agama ini kepada anak didik dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Liberalisasi Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu wacana yang berkembang pesat dalam tema liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tema “dekonstruksi kitab suci“. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni bidang ini dan menulis satu buku berjudul Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testament.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk “melirik” Al-Qur’an dan mengarahkan hal yang sama terhadap Al-Qur’an. Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan, “Sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir satu abad lalu, para Orientalis dalam bidang studi Al-Qur’an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bible. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum muslimin bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullooh, bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bebas dari kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratus-ratus tahun wacana itu hanya berkembang di lingkungan Orientalis Yahudi dan Kristen. Tetapi, saat ini suara-suara yang menghujat Al-Qur’an justru lahir dari lingkungan perguruan tinggi Islam. Mereka menjiplak dan mengulang-ulang apa yang dahulu pernah disuarakan para Orientalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal, menulis, “Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat.” (Jawa Pos, 11 Januari 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Adnan Amal, dosen Ulumul Quran di IAIN Makasar, menulis satu makalah berjudul “Edisi Kritis al-Quran“, yang isinya menyatakan, “Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas pemantapan teks dan bacaan Al Quran, sembari menegaskan bahwa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan Edisi Kritis Al Quran.” (Lihat makalah Taufik Adnan Amal berjudul “Edisi Kritis al-Quran”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia [Jakarta: JIL, 2002], hlm. 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku Menggugat Otentisitas Wahyu, hasil tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang ditulis oleh Aksin Wijaya, ditulis secara terang-terangan hujatan terhadap kitab suci Al-Qur’an. “Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegaskan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dahulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Aksi Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan [Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004], hlm. 123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis Islam Liberal, Dr. Luthfi Assyaukanie, juga berusaha membongkar konsep Islam tentang Al-Qur’an. Ia menulis: “Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Al Quran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Al Quran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formasilasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Al Quran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.” (Luthfi Assyaukani, “Merenungkan Sejarah Alquran”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain buku terbitan JIL tersebut, ada juga yang menulis, bahwa ‘Al-Qur’an adalah perangkap bangsa Quraisy‘, seperti dinyatakan oleh Sumanta Al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang. Ia menulis: “Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan ‘perangkap bangsa Arab’, dan Al Quran sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi ‘perangkap’ bangsa Quraisy sebagai suku mayoritas. Artinya, bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain.” (Sumanto Al-Qurtubhy, “Membongkar Teks Ambigu“, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed) Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, di berbagai penerbitan mereka, kalangan liberal dan sejenisnya memang sangat aktif dalam menyerang Al-Qur’an secara terang-terangan. Mereka sedang tidak sekadar berwacana, tetapi aktif menyebarkan pemikiran yang destruktif terhadap Al-Qur’an. Itu bisa dilihat dalam buku-buku, artikel, dan jurnal yang mereka terbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang lebih halus dan tampak akademis dalam meyerang Al-Qur’an juga dilakukan dengan mengembangkan studi kritik Al-Qur’an dan studi hermeneutika di perguruan tinggi Islam. Di antara tokoh-tokoh terkenal dalam studi ini adalah Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd dan Mohammad Arkoun. Buku-buku kedua tokoh ini sudah banyak diterjemahkan di Indonesia. Sekarang Kajian hermeneutika sebagai metode tafsir pengganti ilmu tafsir klasik pun sudah menjadi mata kuliah wajib di Program Studi Tafsir Hadits UIN Jakarta dan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya. Padahal, metode ini jelas-jelas berbeda dengan ilmu tafsir dan bersifat dekonstruktif terhadap Al-Qur’an dan syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslim perlu merenungkan masalah ini dengan serius. Jika Al-Qur’an dan ilmu tafsir Al-Qur’an dirusak dan dihancurkan, apa lagi yang tersisa dari Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Liberalisasi Syariat Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah aspek yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah pasti dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti dijelaskan Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah “kontekstualisasi ijtihad“. Salah satu hukum yang banyak dijadikan objek liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar-agama, khususnya antara muslimah dengan laki-laki non-muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisannya, Azyumardi Azra menjelaskan metode kontekstualisasi yang dilakukan oleh gerakan pembaruan Islam di Indonesia, yang dipelopori Nurcholish Madjid: “Bila didekati secara mendalam, dapat ditemui bahwa gerakan pembaruan yang terjadi sejak tahun tujuh puluhan memiliki komitmen yang cukup kuat untuk melestarikan ‘tradisi’ (turats) dalam satu bingkai analisis yang kritis dan sistematis …. Pemikiran para tokohnya didasari kepedulian yang sangat kuat untuk melakukan formulasi metodologi yang konsisten dan universal terhadap penafsiran Al-Qur’an; suatu penafsiran yang rasional yang peka terhadap konteks kultural dan historis dari teks Kitab Suci dan konteks masyarakat modern yang memerlukan bimbingannya.” (Lihat, Pengantar Azyumardi Azra untuk buku Dr. Abd. A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal [Jakarta: Paramadina, 2003], hlm. xi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan pendapat Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra menulis, “Al-Qur’an menunjukkan bahwa risalah Islam–disebabkan universalitasnya–adalah selalu sesuai dengan lingkungan kultural apa pun, sebagaimana (pada saat turunnya) hal itu telah disesuaikan dengan kepentingan lingkungan semenanjung Arab. Karena itu, Al-Qur’an harus selalu dikontekstualisasikan dengan lingkungan budaya penganutnya, di mana dan kapan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontekstualisasi para pembaru agama Islam ala Nurcholish Madjid ini tidaklah sama dengan teori Asbabun Nuzul yang dipahami oleh kaum muslimin selama ini dalam bidang ushul fiqih. Tetapi, Azyumardi Azra memberikan legitimasi dan pujian berlebihan terhadap metode Nurcholish Madjid: “Cak Nur berpegang kuat kepada Islam tradisi hampir secara keseluruhan, pada tingkat esoteris dan eksoteris. Dengan sangat bagus dan distingtif, ia bukan sekadar berpijak pada aspek itu, namun ia juga memberikan sejumlah pendekatan dan penafsiran baru terhadap tradisi Islam itu. Maka, hasilnya adalah apresiasi yang cukup mendalam terhadap syariah atau fiqih dengan cara melakukan kontekstualisasi fiqih dalam perkembangan zaman.” (Lihat, Pengantar Azyumardi Azra untuk buku Dr. Abd. A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal [Jakarta: Paramadina, 2003], hlm. xii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Azra sebagai bentuk apresiasi syariat atau fiqih yang mendalam oleh Nurcholish Madjid adalah sebuah pujian yang sama sekali tidak berdasar. Nurcholsih sama sekali tidak pernah menulis tentang metodologi fiqih dan hanya melakukan dekonstruksi terhadap beberapa hukum Islam yang tidak disetujuinya. Ia pun hanya mengikuti jejak gurunya, Fazlur Rahman, yang menggunakan metode hermeneutika untuk menafsirkan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya kaum liberal di Paramadina dalam merombak hukum Islam lebih jelas lagi dengan keluarnya buku Fiqih Lintas Agama, yang sama sekali tidak apresiatif terhadap syariat, bahkan merusak dan menghancurkannya. Misalnya, dalam soal perkawinan antar-agama, buku Fiqih Lintas Agama tertulis: “Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihad dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antara agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena keududukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.” (Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama [Jakarta: Paramadina &amp; The Asia Foundation, 2004], hlm. 164).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pendapat Azyumardi Azra tentang hebatnya kaum pembaru Islam yang dimotori Nurcholish Madjid adalah sama sekali tidak terbukti. Sebagai salah seorang cendekiawan yang sangat populer, Azra telah melakukan kekeliruan besar dengan cara memberikan legitimasi berlebihan terhadap gerakan pembaruan yang terbukti sangat destruktif terhadap khazanah pemikiran Islam. Dengan alasan melakukan kontekstualisasi, maka kaum liberal melakukan penghancuran dan perombakan terhadap hukum-hukum Islam yang sudah pasti (qath’iy), seperti hukum perkawinan muslimah dengan laki-laki non-muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Musdah Mulia, tokoh feminis, juga melakukan perombakan terhadap hukum perkawinan dengan alasan kontekstualisasi. Ia menulis: “Jika kita memahami konteks waktu turunnya ayat itu (QS. Al Mumtahanah (60) ayat 10, pen–), larangan ini sangat wajar mengingat kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Nabi dan pengikutnya. Waktu itu konteksnya adalah peperangan antara kaum Mukmin dan kaum kafir. Larangan melanggengkan hubungan dimaksudkan agar dapat diidentifikasi secara jelas mana musuh dan mana kawan. Karena itu, ayat ini harus dipahami secara kontekstual. Jika kondisi peperangan itu tidak ada lagi, maka larangan dimaksud tercabut dengan sendirinya.” (Musdah Mulia, Muslimah Reformis [Bandung: Mizan, 2005], hlm. 63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuryamin Aini, seorang dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta, juga membuat pernyataan yang menggugat hukum perkawinan antar-agama. Ia menulis: “Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fiqih yang mendasari larangan bagi perempuan muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim …. Isu yang paling mendasar dari larangan PBA (Perkawinan Beda Agama, red–) adalah masalah sosial politik. Hanya saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya larangan PBA itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis.” (Lihat buku Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 220-221).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, di Indonesia, yang mayoritas muslim, kaum liberal berusaha keras untuk menghancurkan hukum perkawinan antar-agama ini, seolah-olah ada kebutuhan mendesak kaum muslim harus kawin dengan non-muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil Abshar Abdalla, di harian Kompas edisi 18 November 2002, juga menulis: “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.” Bahkan, lebih maju lagi, Dr. Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, kini tercatat sebagai ‘penghulu swasta’ yang menikahkan puluhan–mungkin sekarang sudah ratusan–pasangan beda agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, perlu dicatat, larangan muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim sudah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama dengan dalil-dalil yang sangat meyakinkan (seperti QS. Al Mumtahanah (60) ayat 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآتُوهُم مَّا أَنفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَن تَنكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنفَقُوا ذَلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿١٠&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allooh lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allooh yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allooh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memorandum Organisasi Konferensi Islam (OKI) menyatakan, “Perkawinan tidak sah kecuali atas persetujuan kedua belah pihak, dengan tetap memegang teguh keimanannya kepada Allooh bagi setiap muslim, dan kesatuan agama bagi setiap muslimat.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hukum-hukum yang pasti dirombak, maka terbukalah pintu untuk membongkar seluruh sistem nilai dan hukum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari IAIN Yogyakarta muncul nama Muhidin M. Dahlan, yang menulis buku memoar berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang memuat kata-kata berikut: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.” (Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005, cetakan ke-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Fakultas Syariah IAIN Semarang bahkan muncul gerakan legalisasi perkawinan homoseksual. Mereka menerbitkan buku berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual. Buku ini adalah kumpulan artikel di jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004. Dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia. “Bentuk riil gerakan yang harus dibangun adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” (Lihat buku Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual [Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005], hlm. 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian penutup buku tersebut, anak-anak fakultas Syariah IAIN Semarang tersebut menulis kata-kata yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh seorang muslim pun: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;FAKTOR ASING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Perang Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap Islam. Pada masa Perang Dingin, Komunisme dianggap sebagai musuh utama, sehingga Barat bersama-sama dengan Islam menghadapi komunisme, seperti yang terjadi di Afghanistan. Tetapi, setelah komunis runtuh, musuh bagi Barat berikutnya adalah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Islam dipandang sebagai musuh atau ancaman potensial bagi Barat, maka berbagai daya upaya dilakukan untuk ‘menjinakkan‘ dan melemahkan Islam. Salah satu program yang kini dilakukan adalah dengan melakukan proyek liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Proyek liberalisasi Islam ini tentu saja masih menjadi bagian dari ‘tiga cara’ pengokohan hegemoni Barat di dunia Islam, yaitu melalui program Kristenisasi, Imperialisme Modern, dan Orientalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David E. Kaplan menulis bahwa sekarang AS menggelontorkan dana puluhan juta dollar dalam rangka kampanye untuk–bukan hanya mengubah masyarakat muslim–tetapi juga untuk mengubah Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara muslim, AS secara diam-diam telah mendanai radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang mempromosikan Islam moderat (versi AS). (Terjemahan dari David E. Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu LSM asing yang sangat aktif dalam menyebarkan paham liberalisme dan pluralisme agama di Indonesia adalah The Asia Foundation. Untuk menanamkan paham dan nilai-nilai inklusif dan pluralis di kalangan muslim Indonesia, TAF telah mendukung berbagai kelompok berbasis muslim sejak tahun 1970-an. The Asia Foundation saat ini mendukung lebih dari 30 LSM yang mempromosikan nilai-nilai Islam yang dapat menjadi basis bagi sistem politik demokratis, non-kekerasan, dan toleransi beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang pendidikan kewarganegaraan, HAM, rekonsiliasi antar-komunitas, kesetaraan gender, dan dialog antar-agama, The Asia Foundation juga bekerja sama dengan LSM-LSM tersebut untuk mempromosikan Islam sebagai katalisator demokratisasi di Indonesia. Program-program itu mencakup training bagi pemuka agama, studi tentang isu-isu gender dan HAM dalam Islam, pusat-pusat advokasi wanita, dan sebagainya. (http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html. Website The Asia Foundation sampai dengan 24 Maret 2006, masih menulis tajuk pembukanya dengan kata-kata: “REFORMASI PENDIDIKAN DAN ISLAM DI INDONESIA”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi-organisasi di Indonesia yang diberikan pendanaan oleh The Asia Foundation di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Yayasan Desantara (Pluralisme agama, penerbit majalah Syir’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (Elsad) (Pluralisme agama dan demokrasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fahmina Institute (Pluralisme gender equality).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Indonesia Center for Civic Education (Demokrasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. International Center for Islam Pluralism (ICIP) (Pluralisme agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Indonesia Conference on Religion and Peace (Pluralisme agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Institut Arus Informasi (ISAI) (Pluralisme dan jurnalisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jaringan Islam Liberal (JIL) (Liberalisasi pemikiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Paramadina (Pluralisme agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Pusat Studi Antar Komunitas (Pusaka) Padang (Demokrasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Pusat Studi Wanita-UIN- (Gender equality).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) (Gender equality).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) (Penerbitan buku-buku pluralisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdhatul Ulama (Pluralisme agama, dekonstruksi syariah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Pusat Studi Agama dan Peradaban Muhammadiyah (Pluralisme agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Dan puluhan LSM serta organisasi sejenis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam juga pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka.” (Harian Republika, 3/12/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan dukungan dana yang besar-besaran, AS dan sekutunya, serta kaki tangannya di Indonesia, berupa LSM-LSM asing, kemudian melakukan program perubahan dan penghancuran pemikiran Islam secara besar-besaran. Tetapi, sayangnya ada saja sebagian kalangan umat dan lembaga Islam yang terpengaruh oleh iming-iming duniawi dari lembaga-lembaga asing yang sedang bergentayangan mencari mangsa bersama para kaki tangannya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LIBERALISASI DI PERGURUAN TINGGI ISLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan yang lainnya adalah pelopor liberalisasi Islam di organisasi Islam dan masyarakat. Adapun Harun Nasution adalah pelopor liberalisasi Islam di kampus-kampus Islam. Ketika menjadi rektor IAIN Ciputat, Jakarta, Harun mulai melakukan gerakan yang serius dan sistematis untuk melakukan perubahan dalam studi Islam. Ia mulai dari mengubah kurikulum IAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Agustus 1973 rektor IAIN se-Indonesia mengadakan rapat di Ciumbuluit Bandung. Hasil dari rapat itu adalah Departemen Agama RI memutuskan buku karya Harun Nasution sebagai buku wajib rujukan mata kuliah Pengantar Agama Islam. Buku kontroversial yang ditulis Harun itu berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Harun Nasution ketika itu mengakui tidak semua rektor menyetujuinya. Sejumlah rektor senior menentang keputusan tersebut. Tetapi, entah mengapa keputusan itu tetap dijalankan oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 3 Desember 1975, Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama pertama, sudah menulis laporan rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’, Prof. Rasjidi menceritakan isi suratnya: “Laporan Rahasia tersebut berisi kritik terhadap buku Sdr. Harun Nasution yang berjudul “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”. Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementerian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementerian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.” (HM Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’ [Jakarta: Bulan Bintang, 1977], hlm. 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasihatnya tidak diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun tersebut. Maka, tahun 1977 lahirlah buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat Prof. Rasjidi sangat penting untuk direnungkan saat ini, mengingat buku Harun itu memang penuh dengan berbagai kesalahan fatal, baik secara ilmiah maupun kebenaran Islam. Salah satu contoh kesalahan fatal itu seperti berikut. Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, Islam adalah satu-satunya agama Wahyu, yang berbeda dengan agama-agama lain. Agama-agama lain, selain Islam, merupakan agama sejarah dan agama budaya (historical and cultural religion). Harun menyebut agama-agama monoteis–yang dia istilahkan juga sebagai ‘agama tauhid’–ada empat: Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu. Ketiga agama pertama, kata Harun, merupakan satu rumpun. Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini. Harun menambahkan bahwa kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi. Adapun kemurnian tauhid agama Kristen dengan adanya paham Trinitas, sebagaimana diakui oleh ahli-ahli perbandingan agama, sudah tidak terpelihara lagi. (Lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya [Jakarta: UI Press, cet ke-6, 1986], Jilid I, hlm. 15-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Harun bahwa agama Yahudi itu sebagai agama tauhid murni, seperti halnya agama Islam, adalah kesimpulan yang ngawur dan tidak berdasar. Kalau Yahudi merupakan agama tauhid murni, mengapa di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Yahudi itu kafir ahlul kitab? Kesimpulan Harun itu jelas mengada-ada. Sejak lama Prof. Rasjidi sudah memberikan kritik keras bahwa uraian Dr. Harun yang terselubung uraian ilmiah sesungguhnya mengandung bahaya bagi generasi muda Islam. Bahayanya adalah memudarkan keimanan atau kayakinan seseorang terhadap kebenaran agama yang dipeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun anehnya, kritik-kritik tajam Prof. Rasjidi seperti itu tidak digubris oleh petinggi Depag dan IAIN. Malah, bukannya bersikap kritis, banyak ilmuwan yang memuji-muji Harun Nasution secara tidak proporsional. Prof. Dr. Said Agil al-Munawwar, misalnya, menulis: “Karena itu, beliau diteladani oleh para intelektual maupun generasi berikutnya. Harun Nasution adalah sebagai salah seorang tokoh pembaru diantara sedikit tokoh yang ada, ia termasuk tokoh sentral dalam menyemaikan ide pembaruan bersama tokoh lainnya di Indonesia.Tokoh-tokoh elitis kaum pembaru dimaksud diantaranya; Nurcholish Madjid, Utomo Dananjaya, Usep Fathudin, Djohan Effendi, Ahmad Wahid, M. Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Ahmad Syafii Ma’arif, Muhammad Amien Rais dan Kuntowijoyo …. Harun sangat tepat disebut pemancang perubahan dalam tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam Indonesia.” (Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional [Ciputat Press, 2005], hlm. xvi-xvii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bukan bidangnya, Prof. Malik Fadjar juga ikut-ikutan memberikan pujian berlebihan dan tanpa sikap kritis terhadap Harun Nasution: “Usaha dan kerja keras Harun Nasution dalam pengembangan Islamic Studies di Indonesia patut dihargai. Harun seyogyanya dianugerahi sebagai tokoh Islamic Studies di Inonesia.” (Abdul Halim (ed), Teologi Islam Rasional [Ciputat Press, 2005], back cover).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kualitas dan teknik penulisan ilmiah, buku Harun itu sebenarnya juga sudah perlu direvisi total. Tetapi, sekali lagi, kesalahan yang fatal itu dibiarkan saja selama 30 tahun lebih. Jika buku yang mengandung ‘virus pemikiran’ itu diajarkan secara terus-menerus, bisa dipahami, jika kerusakan yang sudah semakin parah itu telah menular ke mana-mana. Entah mengapa, masalah yang serius dan separah ini sekian lama dibiarkan oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Hingga kini belum ada lembaga Islam, khususnya perguruan tinggi Islam, yang secara resmi meminta pemerintah menarik kembali buku Harun Nasution tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini telah kita ketahui bahwa ternyata umat Islam Indonesia benar-benar sedang menghadapi ujian keimanan yang sangat berat. Di tengah berbagai krisis dan keterpurukan, umat Islam direkayasa, dirusak, dan diserbu besar-besaran dengan paham-paham SYIRIK modern dan berbagai pemikiran liberal. Sendi-sendi ajaran dan keyakinan umat Islam sedang dibongkar habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, ujung tombak dari penyebaran paham ini justru berasal dari individu, tokoh, cendekiawan, ulama, dan lembaga yang secara formal menyandang nama Islam. Tentu saja ini tantangan yang sangat berat. Para ulama yang seharusnya menjaga agama justru malah merusak agama. Inilah zaman fitnah, zaman yang tidak jelas lagi mana yang haq dan mana yang bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah pernah mengingatkan: “Yang merusak umatku adalah orang alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia yang buruk adalah ulama yang buruk, dan sebaik-baik manusia yang baik adalah ulama yang baik.” (HR Ad-Darimy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, sabdanya, “Termasuk di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Qur’an.” (HR Thabarani dan Ibn Hibban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ujian berat proyek liberalisasi Islam secara besar-besaran ini, kita berdoa, mudah-mudahan tidak banyak orang yang tergoda oleh berbagai bujukan dan tipuan duniawi yang ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Islam dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia saat ini adalah tantangan yang terbesar yang dihadapi semua komponen umat Islam, baik pondok pesantren, perguruan tinggi Islam, ormas Islam, lembaga ekonomi Islam, maupun partai politik Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang sangat jelas dalam menghancurkan Islam dari asasnya, baik aqidah Islam, Al-Qur’an, maupun syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus membentengi keimanan kita, keluarga kita, dan jamaah kita dengan meningkatkan ilmu-ilmu keislaman yang benar dan memohon pertolongan kepada Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allooh, tunjukkanlah yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah yang bathil itu bathil, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk menghindarinya. Alloohumma amin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Diringkas dari Liberalisasi Islam di Indonesia: Fakta dan Data, Adian Husaini, M.A. (Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, 2007), hlm. 1-72.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Abu Annisa&lt;br /&gt;Sumber: http://alislamu.com/artikel/781-liberalisasi-islam-di-indonesia.html&lt;br /&gt;http://ustadzrofii.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-5388377378750562779?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/5388377378750562779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-jaringan-islam-liberal-jil-bhg-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/5388377378750562779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/5388377378750562779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-jaringan-islam-liberal-jil-bhg-2.html' title='Bahaya &quot;Jaringan Islam Liberal (JIL)&quot; bhg 2'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-SRbSxQfP5Dw/TpRLdfLScTI/AAAAAAAAA8U/TIIE3p7V7vs/s72-c/lib2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-1004177511925254522</id><published>2011-10-05T10:59:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T07:22:42.773-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Faham Liberal ~'/><title type='text'>Bahaya "Jaringan Islam Liberal (JIL)" bhg 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-h5Nv34RA93o/TpRNBAslmcI/AAAAAAAAA8g/Zbx8mBxyl6s/s1600/mm9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-h5Nv34RA93o/TpRNBAslmcI/AAAAAAAAA8g/Zbx8mBxyl6s/s320/mm9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662235311273777602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(BAGIAN-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JARINGAN ISLAM LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DALAM SOROTAN AL-QUR’AN DAN AS SUNNAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Muslim, maka dia harus berpasrah diri dengan penuh keyakinan kepada Allooh سبحانه وتعالى, dimana wujud kepasrahan ini dibuktikan dengan kepatuhan terhadap Pedoman dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, baik dari pemahaman maupun pengamalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hatilah dengan pemahaman yang nampaknya “keren” dan memukau, disebabkan oleh kemilau dan gemerlap penampilannya, baik melalui gelar akademis (seperti: Professor, Doktor, dll) maupun almamater (seperti: lulusan Chicago, Oxford, Harvard, dll); padahal urusan dien adalah tidak ada kaitannya sama sekali dengan hal itu, melainkan adalah dengan kebenaran yang difahami dan disebarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, Abu Bakar As Siddiq, ‘Umar bin Khoththoob, ‘Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنهم serta sederet para Shohabat lainnya dimana mereka diabsen masuk surga, tetapi mereka itu tidak bergelar Haji / Professor / Doktor dan sejenisnya. Namun ironisnya tidak sedikit manusia pada zaman sekarang, mereka itu lebih terpukau kepada mereka yang bergelar Haji / Professor Doktor / Lulusan Chicago dll, padahal orang-orang yang demikian itu justru mereka lah yang mengibarkan paham menuju PEMURTADAN, yang menjerumuskan manusia kedalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum Muslimin, hati-hati lah didalam menelan dan memasukkan pemahaman tentang Al Islam. Perhatikanlah Firman-Firman Allooh سبحانه وتعالى dan Hadits-Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Berbicara Menyelisihi Al Qur’an adalah Pemalsuan atas nama Allooh سبحانه وتعالى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allooh kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya harom dan (sebagiannya) halal“. Katakanlah: “Apakah Allooh telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allooh?” (QS. Yunus (10) ayat 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Memalsukan Sesuatu atas nama Allooh سبحانه وتعالى adalah perbuatan aniaya dan kriminal yang sangat ekstrim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allooh, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (QS. Al An’aam (6) ayat 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka siapakah yang lebih dzolim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allooh atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.” (QS. Yunus (10) ayat 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Ancaman Allooh سبحانه وتعالى terhadap orang-orang dzoolim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapakah yang lebih dzolim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allooh atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya“, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allooh“. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzolim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu“. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allooh (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al An’aam (6) ayat 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Mengada-ada sesuatu atas nama Allooh سبحانه وتعالى adalah merupakan makar syaithoon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (169)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(168) “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithoon; karena sesungguhnya syaithoon itu adalah musuh yang nyata bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(169) Sesungguhnya syaithoon itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allooh apa yang tidak kamu ketahui. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Baqoroh (2) ayat 168-169)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Mengada-ada atas nama Allooh سبحانه وتعالى adalah Haroom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Robb-ku hanya mengharomkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharomkan) mempersekutukan Allooh dengan sesuatu yang Allooh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharomkan) mengada-adakan terhadap Allooh apa yang tidak kamu ketahui“. (QS. Al A’roof (7) ayat 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang Muslim ingin sampai pada pemahaman yang benar tentang Al Islam, maka mau tidak mau, dia harus memenuhi prosedur berikut ini, dan tidak memilih dan menentukan jalannya sendiri, apalagi ikut campur mendikte, dan mengintervensi Firman Allooh سبحانه وتعالى dan atau Hadits Rosuulullooh الله عليه وسلم sesuai dengan kemampuan intelektual, atau empiris atau rasa, kecenderungan, budaya, tradisi, bahkan mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini sederet diantara apa yang dikemukakan oleh Para Pendahulu Ummat yang Shoolih, yang mereka itu tidak memiliki gelar akademis, tetapi diyakini oleh Ahlus Sunnah sebagai panutan dan rujukan didalam pemahaman terhadap Al Qur’an, As Sunnah dan Al Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang semestinya Muslim lakukan dalam memahami Islam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berpegang teguh dengan peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, Shohabat, Taabi’iin, Taabi’ut Taabi’iin, Para Imaam mu’tabar (valid) dan menjauhkan diri dari FILSAFAT dalam memahami Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال الإمام الأوزاعي :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوه بالقول&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Al Auzaa’i رحمه الله berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaknya engkau berpegangteguh dengan peninggalan orang terdahulu, betapa pun manusia menolakmu, dan menjauhlah kamu dari pendapat-pendapat orang, betapa pun mereka membingkainya dengan perkataan-perkataan yang indah.” (“Asy-Syarii’ah Al Imaam Al Ajurri رحمه الله”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال أبو حاتم الرازي :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مذهبنا واختيارنا اتباع رسول الله وأصحابه والتابعين ومن بعدهم بإحسان وترك النظر في موضع بدعهم والتمسك بمذاهب أهل الأثر مثل أبي عبد الله أحمد بن حنبل وإسحاق بن إبراهيم وأبو عبيد القاسم بن سلام والشافعي لزوم الكتاب والسنة والذب عن الأئمة المتبعة بآثار السلف واختيار ما اختاره أهل السنة من الأئمة في الأمصار مثل مالك بن أنس في المدينة والأوزاعي بالشام والليث بن سعد بمصر وسفيان الثوري وحماد بن زياد بالعراق من الحوادث مما لا يوجد فيد رواية عن النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه والتابعين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imaam Abu Haatim Ar Roozy رحمه الله:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madzhab kami dan pilihan kami adalah mengikuti Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, para Shohabat, dan Taabi’iin serta orang-orang yang dengan setia mengikuti mereka setelah mereka, dan meninggalkan untuk melihat perkara-perkara ke-Bid’ahan dan berpegang teguh dengan madzhab Ahlil Atsar (Ahlus Sunnah) seperti Abu Abdillaah Ahmad Bin Hambal, Izhaq bin Ibrohim, Abu ‘Ubaid Al Qoosim bin Sallaam dan Asy Syaafi’iy رحمهم الله; dan tidak berpisah dengan Al Qur’an dan As Sunnah, dan membela para Imaam yang mengikuti peninggalan-peninggalan orang terdahulu, yang menjadi pilihan Ahlus Sunnah dari kalangan para Imaam berbagai negeri seperti Maalik bin Anas رحمه الله di Madinah, Al Auzaa’i رحمه الله di Syams (Syiria sekarang), Al Laits bin Sa’ad رحمه الله di Mesir, Sofyan Ats Tsauri رحمه الله dan Hammad bin Ziyaad رحمه الله di Iraq; dari berbagai perkara baru yang tidak ditemui riwayatnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم, Shohabat dan Taabi’iin dan meninggalkan pendapat orang yang terkecoh, terpeleset, tergiur, tertipu dan pendusta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Imaam Al Laalika’i رحمه الله dalam “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال الإمام الشافعي في اعتقاد الإمام الشافعي جمع الهكاري&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… فأوصي بتقوى الله عز وجل ولزوم السنة والآثار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه وترك البدع والأهواء واجتنابها{ يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata, “Aku berwasiat (berpesan) agar kalian bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى dan berpegangteguh pada As Sunnah dan peninggalan-peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para Shohabatnya dan meninggalkan berbagai ke-Bid’ahan dan Hawa, serta menjauhinya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allooh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berdienul  Islam.” (QS. Ali ‘Imroon (3) ayat 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“I’tiqood Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله” karya Imaam Al Hakkaary رحمه الله)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;آمنت بالله وبما جاء عن الله وعلى مراد رسول الله وآمنت برسول الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله juga berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى dan segala yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى, sesuai dengan kehendak Allooh سبحانه وتعالى. Juga aku beriman kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan dengan segala apa yang datang dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sesuai dengan kehendak Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Lum’atul I’tiqood Al Haadi Ilaas Sabiilir Rosyaad” karya Imaam Ibnu Qudaamah Al Maqdisy رحمه الله)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أقوالا للإمام الشافعي في كتابه الحجة في بيان المحجة وشرح عقيدة أهل السنة :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أبا ثور وحسناً يقولان : سمعنا الشافعي رحمه الله يقول :  ‘ حكمي في أصحاب الكلام أن يضربوا بالجريد ، ويحملوا على الإبل ،  ويطاف بهم في العشائر والقبائل ، وينادى عليهم : هذا جزاء من ترك الكتاب  والسنة وأخذ في الكلام&lt;br /&gt;عن الشافعي  قال : ‘ فر من الكلام كما تفر من الأسد ‘ .&lt;br /&gt;3. وقال : ‘ العلم بالكلام جهل به&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. وقال : ‘ ما ارتدى أحد بالكلام فأفلح ‘&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.“Ketetapanku (vonisku) terhadap para Ahli Kalam (Filsafat) agar mereka dipukul dengan pelepah kurma, lalu diarak keliling kampung dan suku diatas unta, sembari diumumkan pada khalayak “Ini adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah dan mengambil Filsafat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Larilah kamu dari Filsafat, sebagaimana kamu lari dari singa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Mengetahui Filsafat adalah sama dengan bodoh dengan Filsafat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. “Tidak ada seorang yang berbaju Filsafat, lalu dia beruntung (selamat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Kitab “Al Hujjah Fii Bayaanil Mahajjah Wa Syarhu ‘Aqiidati Ahlis Sunnah” karya Imaam Ismaa’iil Al Asbahaany رحمه الله)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bergurulah dalam memahami Islam dari orang-orang yang mu’tabar (valid) dan tidak mengambil ‘ilmu dari orang Faasiq, orang Ahlil Bid’ah, apalagi orang Kaafir dan Orientalis yang benci, dendam kesumat terhadap Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الأوزاعي :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان هذا العلم كريما يتلاقاه الرجال بينهم فلما دخل في الكتب دخل فيه غير أهله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Al Auzaa’I رحمه الله berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu ilmu (– dien) ini mulia, berantai dari orang ke orang diantara mereka, ketika memasuki buku (autodidak), maka masuklah kedalam ilmu ini orang yang bukan ahlinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Kitab “Shiyaar A’laami Nuubalaa” karya Imaam Adz Dzaahaby رحمه الله)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الإمام مالك رحمه الله :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يؤخذ العلم عن أربعة : سفيه يعلن السفه وإن كان أروى الناس وصاحب بدعة يدعو إلى بدعته ومن يكذب في حديث الناس وإن كنت لا أتهمه في الحديث وصالح عابد فاضل إذا كان لا يحفظ ما يحدث به&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Maalik رحمه الله berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh ilmu itu diambil dari 4 orang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Orang yang dungu yang nampak kedunguannya, betapa pun manusia paling produktif dalam meriwayatkan (ilmu),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pelaku Bid’ah yang menyeru kepada ke-Bid’ahannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Orang yang berdusta dalam pembicaraan, walaupun aku tidak menuduh orang tersebut berdusta dalam Hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Orang yang shoolih, ahli Ibadah dan mulia jika tidak hafal apa yang dia riwayatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Kitab “Shiyaar A’laami Nuubalaa” karya Imaam Adz Dzaahaby رحمه الله)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Ibnu Siriin رحمه الله berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (orang yang meriwayatkan ilmu dien / Hadits), akan tetapi setelah terjadinya Fitnah, mereka berkata, “Sebutkan pada kami para guru kalian, lalu dilihat jika mereka itu Ahlus Sunnah maka Hadits mereka diambil, dan jika mereka Ahlul Bid’ah maka Hadits mereka tidak diambil.” (Hadits Shohiih Muslim no: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال الإمام الصابوني :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويبغضون أهل البدع الذين أحدثوا في الدين ما ليس منه ولا يحبونهم ولا يصحبونهم ولا يسمعون كلامهم ولا يجالسونهم ولا يجادلونهم في الدين ولا يناظرونهم ويرون صون آذانهم عن سماع أباطيلهم التي إذا مرت بالأذان وقرت في القلوب ضرت وجرَّت إليها من الوساوس والخطرات الفسدة ما جرّت وفيه أنزل الله عز وجل قوله : { وإذا رأيت الذين يخوضون في آياتنا فأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Ash Shoobuuny رحمه الله berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka (Ahlus Sunnah) membenci Ahlul Bid’ah yang mengada-ada sesuatu yang baru dalam Islam, sesuatu yang bukan dari Islam; mereka (Ahlus Sunnah) tidak menyukai Ahlul Bid’ah; Ahlus Sunnah tidak bersahabat dengan ahlul Bid’ah dan tidak mendengarkan perkataan Ahlul Bid’ah; Ahlus Sunnah tidak duduk berdampingan dengan Ahlul Bid’ah; Ahlus Sunnah tidak berdebat dalam urusan dien dengan Ahlul Bid’ah; bahkan Ahlus Sunnah memelihara telinga mereka dari mendengar kebaathilan-kebaathilan Ahlul Bid’ah dimana jika kebaathilan itu melewati telinga dan menetap dalam hati maka akan membahayakan dan akan menimbulkan was-was dan lintasan-lintasan fikiran yang merusak; dalam hal ini Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al An’aam (6) ayat 68:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithoon menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzolim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Kitab “’Aqiidatus Salaf wa Ashaabul Hadiits” karya Imaam Ash Shoobuny رحمه الله)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال البربهاري في شرح السنة :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن هذا العلم دين فانظروا ممن تأخذون دينكم ولا تقبلوا الحديث الا ممن تقبلون شهادته فانظر إن كان صاحب سنة له معرفة صدوق كتبت عنه وإلا تركته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Al Barbahaary رحمه الله berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ilmu ini adalah Al Islam, maka dari itu lihatlah oleh kalian dari siapa kalian mengambil dien (Islam) kalian. Janganlah kalian menerima Hadits kecuali dari orang yang kalian terima persaksiannya. Lihatlah, jika dia Ahlus Sunnah, berpengetahuan, lagi benar, tulislah darinya. Tetapi jika tidak, maka tinggalkanlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Kitab “Syarhus Sunnah” karya Imaam Al Barbahaary رحمه الله)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن محمد بن سيرين قال&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ. ( مسلم :26 ) وزاد السمعاني : … ذهب العلم وبقي منه غبرات في أوعية سوء ويجتنب الرواية عن الضعفاء والمخالفين من أهل البدع والأهواء (أدب الاملاء والاستملاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المؤلف : عبدالكريم بن محمد بن منصور أبو سعد التميمي السمعاني)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Muhammad bin Siriin رحمه الله berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah dien, maka dari itu lihatlah dari siapa kalian ambil dien kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Riwayat Imaam Muslim no: 26, dan dalam Riwayat  As Sam’aany رحمه الله terdapat di akhirnya kata: “….Ilmu telah pergi, dan yang tersisa dari ilmu adalah debu didalam bejana yang buruk. Jauhilah periwayatan (ilmu) dari orang-orang yang lemah dan orang-orang yang menyelisihi dari kalangan Ahlul Bid’ah dan Ahlul Hawa’.” – Dinukil dari Kitab “’Aadaabul ‘Imlaa wal ‘Istimlaa”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ثم من طريقة أهل السنة والجماعة اتباع آثار رسول الله صلى الله عليه وسلم باطناً وظاهراً، واتباع سبيل السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار واتباع وصية رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال: [عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة] (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويعلمون أن أصدق الكلام كلام الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، ويؤثرون كلام الله على كلام غيره من كلام أصناف الناس ويقدمون هدي محمد صلى الله عليه وسلم على هدي كل أحد، وبهذا سموا أهل الكتاب والسنة”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسموا أهل الجماعة: لأن الجماعة هي الاجتماع وضدها الفرقة، وإن كان لفظ الجماعة قد صار اسماً لنفس القوم المجتمعين، و( الإجماع ) هو الأصل الثالث الذي يعتمد عليه في العلم والدين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهم يزنون بهذه الأصول الثلاثة جميع ما عليه الناس من أقوال وأعمال باطنة أو ظاهرة مما له تعلق بالدين، والإجماع الذي ينضبط هو ما كان عليه السلف الصالح إذ  بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata, “Kemudian merupakan bagian dari pedoman Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah adalah mengikuti peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم baik dhohir maupun bathin, dan mengikuti jalan para pendahulu yang pertama kali baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor, dan mengikuti wasiat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dimana beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pegangteguhlah oleh kalian Sunnahku dan Sunnah Al Khulafaa’ Ar Roosyidiin yang mendapat petunjuk setelah aku. Pegang-teguhlah hal itu, gigitlah oleh gigi geraham kalian dan menghindarlah kalian dari perkara-perkara Baru. Sesungguhnya setiap sesuatu yang baru adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud, Imaam At Turmudzy dan Imaam Ibnu Maajah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka (Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah) mengetahui bahwa perkataan yang paling benar adalah Firman Allooh سبحانه وتعالى, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلى الله عليه وسلم. Mereka mengedepankan firman Allooh سبحانه وتعالى dari perkataan selainnya yang merupakan jenis perkataan manusia. Mereka mendahulukan petunjuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم diatas petunjuk siapa pun. Dengan inilah, mereka disebut Ahlul Kitab Was Sunnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka disebut Ahlil Jamaa’ah, karena Jamaa’ah itu adalah berkumpul. Kebalikannya adalah bercerai (ber-firqoh). Betapa pun kata Jamaa’ah ini telah menjadi nama bagi suatu kaum yang bersepakat (berkumpul). Dan Ijma’ adalah pokok ke-3 yang dijadikan sandaran baik dalam ilmu maupun dien.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka (Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah) menimbang segala apa yang ada pada manusia, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik tidak nampak maupun nyata yang ada kaitannya dengan dien, melalui 3 pokok diatas. Sedangkan Ijma’ yang kokoh adalah Ijma’ yang berlaku pada Pendahulu Ummat yang Shoolih, karena setelah mereka, banyak terjadi perselisihan yang tersebar di tengah-tengah ummat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahayanya pernyataan yang merupakan apa yang tertumpah dari keyakinan orang-orang berikut ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)  Ulil Abshar Abdalla&lt;br /&gt;Ia mengatakan, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Majalah Gatra, 21 Desember 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengatakan, “Larangan beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.” (Kompas, 18/11/2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Budhy Munawar Rahman&lt;br /&gt;Ia mempromosikan teologi pluralis sebagai berikut. “Konsep teologi semacam ini memberikan legitimasi kepada kebenaran semua agama, bahwa pemeluk agama apa pun layak disebut sebagai ‘orang yang beriman’, dengan makna ‘orang yang percaya dan menaruh percaya kepada Tuhan’. Karena itu, sesuai QS 49: 10-12, mereka semua adalah bersaudara dalam iman.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budhy menyimpulkan, “Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antar-agama yakni pandangan bahwa siapa pun yang beriman–tanpa harus melihat agamanya apa–adalah sama di hadapan Allah. Karenanya, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu.” (Lihat artikel Budhy Munawar Rahman berjudul “Basis Teologi Persaudaraan antar-Agama”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia [Jakarta: JIL, 2002], hlm. 51-53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan (dosen UIN Yogyakarta)&lt;br /&gt;Ia berpendapat, “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan, dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini kerja sama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar [Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002], hlm. 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)  Prof. Dr. Nurcholish Madjid&lt;br /&gt;Ia menulis, “Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirnya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama.” (Lihat buku Tiga Agama Satu Tuhan [Bandung: Mizan, 1999], hlm. xix).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5)  Dr. Alwi Shihab&lt;br /&gt;Ia menulis, “Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur’an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas beragama dan, dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide mengenai Pluralisme keAgamanaan dan menolak eksklusivisme. Dalam pengertian lain, eksklusivisme keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara satu komunitas agama dari lainnya.” (Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama [Bandung: Mizan, 1997], hlm. 108-109).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)  Sukidi (alumnus Fakultas Syariah IAIN Ciputat yang sangat aktif menyebarkan paham Pluralisme Agama)&lt;br /&gt;Ia menulis di koran Jawa Pos (11/1/2004), “Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi dan agama-agama. Nietzche menegasikan adanya kebenaran tunggal dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama–entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya–adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Dr. Luthfi Assyaukanie (dosen Universitas Paramadina)&lt;br /&gt;Ia menulis, “Seorang fideis Muslim, misalnya, bisa merasa dekat kepada Allah tanpa melewati jalur shalat karena ia bisa melakukannya lewat meditasi atau ritus-ritus lain yang biasa dilakukan dalam persemedian spiritual. Dengan demikian, pengalaman keagamaan hampir sepenuhnya independen dari aturan-aturan formal agama. Pada gilirannya, perangkap dan konsep-konsep agama seperti kitab suci, nabi, malaikat, dan lain-lain tak terlalu penting lagi karena yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa menikmati spiritualitas dan mentransendenkan dirinya dalam lompatan iman yang tanpa batas itu.” (Kompas, 3/9/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8] Nuryamin Aini (dosen Fak. Syariah UIN Jakarta)&lt;br /&gt;Ia menulis, “Tapi ketika saya mengatakan agama saya benar, saya tidak punya hak untuk mengatakan bahwa agama orang lain salah, apalagi kemudian menyalah-nyalahkan atau memaki-maki.” (Lihat buku Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 223).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Ulil Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal, menulis, “Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles, semua kitab suci adalah mukjizat.” (Jawa Pos, 11 Januari 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10)  Taufik Adnan Amal, dosen Ulumul Quran di IAIN Makasar, menulis satu makalah berjudul “Edisi Kritis al-Quran“, yang isinya menyatakan, “Uraian dalam paragraf-paragraf berikut mencoba mengungkapkan secara ringkas pemantapan teks dan bacaan Al Quran, sembari menegaskan bahwa proses tersebut masih meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya, yang kita warisi dalam mushaf tercetak dewasa ini. Karena itu, tulisan ini juga akan menggagas bagaimana menyelesaikan itu lewat suatu upaya penyuntingan Edisi Kritis Al Quran.” (Lihat makalah Taufik Adnan Amal berjudul “Edisi Kritis al-Quran”, dalam buku Wajah Liberal Islam di Indonesia [Jakarta: JIL, 2002], hlm. 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11)  Di dalam buku Menggugat Otentisitas Wahyu, hasil tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Dulu: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang ditulis oleh Aksin Wijaya, ditulis secara terang-terangan hujatan terhadap kitab suci Al-Qur’an. “Setelah kita kembalikan wacana Islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegaskan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dahulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita.” (Aksi Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan [Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004], hlm. 123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12) Aktivis Islam Liberal, Dr. Luthfi Assyaukanie, juga berusaha membongkar konsep Islam tentang Al-Qur’an. Ia menulis: “Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Al Quran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma’nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Al Quran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis sama seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formasilasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Al Quran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik (tipu daya), dan rekayasa.” (Luthfi Assyaukani, “Merenungkan Sejarah Alquran”, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13) Pada bagian lain buku terbitan JIL tersebut, ada juga yang menulis, bahwa ‘Al-Qur’an adalah perangkap bangsa Quraisy‘, seperti dinyatakan oleh Sumanta Al-Qurtubhy, alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang. Ia menulis: “Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan ‘perangkap bangsa Arab’, dan Al Quran sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi ‘perangkap’ bangsa Quraisy sebagai suku mayoritas. Artinya, bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain.” (Sumanto Al-Qurtubhy, “Membongkar Teks Ambigu“, dalam Abd. Muqsith Ghazali (ed) Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14) Menjelaskan pendapat Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra menulis, “Al-Qur’an menunjukkan bahwa risalah Islam–disebabkan universalitasnya–adalah selalu sesuai dengan lingkungan kultural apa pun, sebagaimana (pada saat turunnya) hal itu telah disesuaikan dengan kepentingan lingkungan semenanjung Arab. Karena itu, Al-Qur’an harus selalu dikontekstualisasikan dengan lingkungan budaya penganutnya, di mana dan kapan saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15) Karya kaum liberal di Paramadina dalam merombak hukum Islam lebih jelas lagi dengan keluarnya buku Fiqih Lintas Agama, yang sama sekali tidak apresiatif terhadap syariat, bahkan merusak dan menghancurkannya. Misalnya, dalam soal perkawinan antar-agama, buku Fiqih Lintas Agama tertulis: “Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihad dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antara agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena keududukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.” (Mun’im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama [Jakarta: Paramadina &amp; The Asia Foundation, 2004], hlm. 164).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16) Prof. Musdah Mulia, tokoh feminis, juga melakukan perombakan terhadap hukum perkawinan dengan alasan kontekstualisasi. Ia menulis: “Jika kita memahami konteks waktu turunnya ayat itu (QS. Al Mumtahanah (60) ayat 10, pen–), larangan ini sangat wajar mengingat kaum kafir Quraisy sangat memusuhi Nabi dan pengikutnya. Waktu itu konteksnya adalah peperangan antara kaum Mukmin dan kaum kafir. Larangan melanggengkan hubungan dimaksudkan agar dapat diidentifikasi secara jelas mana musuh dan mana kawan. Karena itu, ayat ini harus dipahami secara kontekstual. Jika kondisi peperangan itu tidak ada lagi, maka larangan dimaksud tercabut dengan sendirinya.” (Musdah Mulia, Muslimah Reformis [Bandung: Mizan, 2005], hlm. 63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17) Nuryamin Aini, seorang dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta, juga membuat pernyataan yang menggugat hukum perkawinan antar-agama. Ia menulis: “Maka dari itu, kita perlu meruntuhkan mitos fiqih yang mendasari larangan bagi perempuan muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim …. Isu yang paling mendasar dari larangan PBA (Perkawinan Beda Agama, red–) adalah masalah sosial politik. Hanya saja, ketika yang berkembang kemudian adalah logika agama, maka konteks sosial-politik munculnya larangan PBA itu menjadi tenggelam oleh hegemoni cara berpikir teologis.” (Lihat buku Ijtihad Islam Liberal [Jakarta: JIL, 2005], hlm. 220-221).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18) Ulil Abshar Abdalla, di harian Kompas edisi 18 November 2002, juga menulis: “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19)  Dari IAIN Yogyakarta muncul nama Muhidin M. Dahlan, yang menulis buku memoar berjudul Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang memuat kata-kata berikut: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan. Istilah pelacur dan anak haram pun muncul dari rezim ini. Perempuan yang melakukan seks di luar lembaga ini dengan sangat kejam diposisikan sebagai perempuan yang sangat hina, tuna, lacur, dan tak pantas menyandang harga diri. Padahal, apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki. Seks akan tetap bernama seks meski dilakukan dengan satu atau banyak orang. Tidak, pernikahan adalah konsep aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya.” (Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah, SriptaManent dan Melibas, 2005, cetakan ke-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh Islam Liberal tersebut diatas jika kita adukan pada Firman Allooh سبحانه وتعالى dan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana diyakini oleh Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Sadarilah bahwa orang Yahudi, dan orang Musyrikin paling sengit memusuhi orang-orang beriman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. Al Maa’idah (5) ayat 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Jangan aneh jika kalian wahai kaum Muslimin mendengar banyak pernyataan-pernyataan yang sangat melukai dari mereka orang-orang Yahudi, Nasrani dan Musyrikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allooh, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imroon (3) ayat 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Contoh kebiadaban orang Musyrikin terhadap Allooh سبحانه وتعالى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berkatalah orang-orang musyrik: “Jika Allooh menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharomkan sesuatupun tanpa (izin) -Nya“. Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajiban atas para rosuul, selain dari menyampaikan (amanat Allooh) dengan terang.” (QS. An Nahl (16) ayat 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Mereka itu telah disesatkan oleh Syaithoon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ (25) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ (26) فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ (27) ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(25) “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaithoon telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(26) Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allooh (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allooh mengetahui rahasia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(27) Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(28) Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allooh dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allooh menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad (47) ayat 25-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Orang kaafir dari kalangan Yahudi, Nasrani dan Musyrikin adalah sejahat-jahat manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang kaafir dari kalangan Ahlil Kitab (Yahudi, Nasrani) dan orang-orang Musyrikin, mereka itu didalam neraka jahannam, kekal didalamnya. Mereka itu adalah sejahat-jahat manusia.” (QS. Al Bayyinah (98) ayat 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG INDIKATOR BAIK DAN BURUK, BOLEH DAN TIDAK ITU ADALAH SYAR’I DAN BUKAN AKAL !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الشاطبي في الاعتصام :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ان عامة المبتدعة قائلة بالتحسين والتقبيح فهو عمدتهم الاولى وقاعدتهم التي يبنون عليها الشرع فهو المقدم في نحلهم بحيث لا يتهمون العقل وقد يتهمون الأدلة إذ لم توافقهم في الظاهر حتى يردوا كثيرا من الادلة الشرعية وقد علمت ايها الناظر انه ليس كل ما يقضي به العقل يكون حقا ولذلك تراهم يرتضون اليوم مذهبا ويرجعون عنه غدا ثم يصيرون بعد غد إلى رأي ثالث ولو كان كل ما يقضي به حقا لكفى في اصلاح معاش الخلق ومعادهم ولم يكن لبعثة الرسل عليهم السلام فائدة ولكان على هذا الاصل تعد الرسالة عبثا لا معنى له وهو كله باطل فما أدى اليه مثله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imaam Asy Syaathiby رحمه الله berkata dalam Kitab “Al I’tishoom”, “Sesungguhnya pencetus ke-Bid’ahan adalah mereka yang mengatakan “Ini baik dan ini buruk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang menjadi tumpuan awal dan kaidah mereka yang mereka bangun syari’at ini, dialah yang dikedepankan dalam ajaran mereka. Mereka tidak menuding akal mereka, tetapi justru menuding dalil yang tidak mereka sepakati secara dzohir, sehingga mereka banyak menolak dalil-dalil Syar’i, dimana engkau bisa ketahui, wahai pemerhati, bahwa tidak setiap yang diputuskan oleh akal itu terjadi dengan benar. Oleh karena itu, kalian lihat hari ini mereka menerima suatu madzab, tetapi besok mereka akan tinggalkan madzab itu, dan keesokan lusanya akan mengambil pendapat ketiga. Seandainya setiap apa yang diputuskan oleh akal manusia itu adalah benar maka cukuplah mereka sendiri untuk memperbaiki hidup dan matinya mereka, dan tidak lagi diutus para Rosuul itu menjadi bermanfaat. Dengan demikian, adanya Risaalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah perkara sia-sia, tidak bermakna dan yang demikian itu adalah kebaathilan yang akan menyusul dengan kebaathilan lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah berbagai dalil dan perkataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang menjelaskan tentang Bahayanya Paham Liberalisme dan Sekulerisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspadalah kaum Muslimin, hendaknya kita berhati-hati dan tidak terkecoh oleh seruan baathil mereka, sekalipun seruan tersebut dijajakan dan disebarkan melalui “bungkus-bungkus yang menarik” dalam bentuk film sinematografi atau bentuk-bentuk media massa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waspadalah, walaupun seruan tersebut datang dari para tokoh-tokoh mereka yang mencantumkan titel Professor Doktor dari lulusan Chicago / Harvard / Oxford dan sejenisnya sekalipun, namun pada dasarnya itu semua merupakan perangkap yang dapat menggiring kaum Muslimin menuju Pemurtadan. Na’uudzu billaahi min dzaalik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya disadari pula oleh kaum Muslimin bahwa ‘ilmu dien ini adalah Wahyu, maka jangan lah mengambilnya ataupun belajar dari orang-orang yang justru membenci Al Islam dari kalangan orang-orang kaafir dan kaum Orientalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah Fatwa Lajnah Daa’imah untuk Bahasan-Bahasan Ilmiyyah dan Fatwa dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Bahaya Pluralisme dan Liberalisme:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FATWA LAJNAH DAA’IMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNTUK BAHASAN-BAHASAN ILMIYYAH DAN FATWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG PLURALISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No: 19402&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya bagi Allooh Yang Esa, Sholawat dan Salam semoga tercurah kepada yang tidak ada Nabi setelahnya, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, juga kepada keluarganya, para Shohabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia hingga hari Kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma Ba’du&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, Lajnah Daa’imah untuk Bahasan-Bahasan Ilmiyyah dan Fatwa, telah diajukan pertanyaan berkenaan dengan apa yang tersebar di media massa berupa pendapat dan tulisan tentang seruan atau ajakan kepada PLURALISME (penggabungan agama) Islam, Yahudi dan Nasrani, beserta apa yang bercabang darinya berupa pembangunan masjid dan gereja serta vihara dalam satu kawasan di kawasan Universitas, Airport atau tempat-tempat umum; juga ajakan menuju percetakan Al Qur’an Al Kaarim, Taurat dan Injil dalam satu Bundel, dll; sebagai dampak dari ajakan kepada hal ini. Dan apa yang untuknya telah diadakan berbagai muktamar, seminar dan organisasi, baik di Timur maupun di Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui perenungan dan mempelajari, maka Lajnah Daa’imah memutuskan sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1Bahwa diantara Pokok-Pokok ‘Aqiidah Islam yang sudah diketahui secara permanen, bahkan disepakati kaum Muslimin, adalah bahwa: Tidak ada diatas permukaan bumi ini agama yang benar selain Islam. Dan bahwa Islam adalah penutup segala agama; penghapus seluruh ajaran, syari’at dan agama yang pernah ada sebelumnya. Maka dari itu, diyakini tidak ada agama diatas bumi yang dengannya seseorang berhamba kepada Allooh سبحانه وتعالى, kecuali dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 19:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللّهِ فَإِنَّ اللّهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allooh hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kaafir terhadap ayat-ayat Allooh maka sesungguhnya Allooh sangat cepat hisab-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 3 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 85:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Islam setelah dibangkitkannya Muhammad صلى الله عليه وسلم, adalah apa yang dibawa oleh beliau صلى الله عليه وسلم, dan bukan agama selainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diantara Pokok-Pokok ‘Aqiidah Islam adalah bahwa Kitabullooh Al Qur’an Al Kariim adalah Kitab Allooh سبحانه وتعالى yang terakhir Allooh سبحانه وتعالى turunkan, dan dia adalah penghapus bagi seluruh kitab yang pernah diturunkan sebelumnya baik berupa Taurat, Zabur, Injil, dll. Dan Al Qur’an telah mencakup semua itu, sehingga tidak tersisa Kitab yang diturunkan yang dengannya seseorang berhamba kepada Allooh سبحانه وتعالى, selaih Al Qur’an Al Kariim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 48 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ إِلَى الله مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allooh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allooh menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allooh hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allooh-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wajib hukumnya beriman kepada Taurat dan Injil dan bahwa keduanya telah dihapus oleh Al Qur’an Al Kariim, dan bahwa Taurat dan Injil telah mengalami perubahan, penukaran, penambahan dan pengurangan sebagaimana penjelasan tentang itu telah banyak dijelaskan dalam banyak ayat didalam Kitab Allooh Al Kariim, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 13 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ وَلاَ تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىَ خَآئِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمُ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allooh) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allooh menyukai orang-orang yang berbuat baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 79 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allooh”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 78 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allooh”, padahal ia bukan dari sisi Allooh. Mereka berkata dusta terhadap Allooh, sedang mereka mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, apa pun yang shohiih dari kitab-kitab, maka telah terhapus oleh Al Islam. Adapun selainnya, telah mengalami penukaran dan pergantian. Sungguh telah terdapat sikap dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau صلى الله عليه وسلم murka ketika melihat bersama ‘Umar Ibnul Khoththoob رضي الله عنه satu lembaran yang didalamnya terdapat bagian dari Taurat, seraya bersabda: “Apakah kamu dalam keadaan ragu, wahai Ibnul Khoththoob, bukankah aku telah mendatangkannya dengan putih lagi jernih? Seandainya saudaraku Musa عليه السلام hidup, maka tidak ada sikap lain kecuali dia akan mengikutiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hadits Riwayat Imaam Ahmad 3/387, Imaam Ad Daarimy Muqoddimah 115-116 dan selainnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Diantara Pokok ‘Aqiidah Islam adalah Nabi dan Rosuul kita صلى الله عليه وسلم adalah Penutup seluruh Nabi dan Rosuul, sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 40:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rosuulullooh dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allooh Maha Mengetahui segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak ada Rosuul yang wajib diikuti kecuali Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dan jika, ada seorang Nabi atau Rosuul yang hidup, maka tidak ada kewajiban kecuali untuk mengikuti beliau صلى الله عليه وسلم dan tidak ada alternatif  bagi pengikutnya kecuali itu, sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 81:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُواْ أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُواْ وَأَنَاْ مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah), ketika Allooh mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rosuul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allooh berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allooh berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Adapun Nabi Isa عليه السلام, dia akan diturunkan di akhir zaman, maka beliau عليه السلام adalah menjadi pengikut Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan menjadi pemutus perkara menggunakan syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman QS. Al A’roof  (7) ayat 157 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rosuul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana juga merupakan Pokok ‘Aqiidah Islam adalah bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم dibangkitkan untuk segenap manusia. Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Saba’ (34) ayat 28 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al A’roof ayat 158 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allooh kepadamu semua, yaitu Allooh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allooh dan Rosuul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allooh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ayat-ayat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Diantara Pokok-Pokok Islam adalah wajib meyakini kufurnya setiap yang tidak memasuki Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani atau selain mereka, dan menamakannya Kaafir; jika telah tegak kepadanya Hujjah, dan dia adalah Musuh Allooh سبحانه وتعالى, musuh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan musuh kaum Mu’miniin, dan dia adalah penghuni neraka, sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Bayyinah (98) ayat 1:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS Al Bayyinah (98) ayat 6 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al An’aam (6) ayat 19 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادةً قُلِ اللّهِ شَهِيدٌ بِيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُل لاَّ أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allooh. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allooh?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Robb Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allooh)“.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Ibrohim (14) ayat 52 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَـذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِ وَلِيَعْلَمُواْ أَنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Robb Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ayat-ayat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, telah shohiih terdapat dalam Shohiih Muslim no: 153, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi yang jiwaku ditangan-Nya, tidak kudengar seorang pun dari ummat ini. Yahudi kah, Nasrani kah, kemudian dia mati sebelum beriman dengan ajaran yang aku bawa, kecuali dia adalah bagian dari penghuni neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, barangsiapa yang tidak mengkaafirkan Yahudi dan Nasrani, maka dia adalah Kaafir, sesuai dengan kaidah Syar’ie : “Barangsiapa yang tidak mengkaafirkan orang kaafir dan telah tegak Hujjah, maka dia adalah Kaafir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dihadapan Pokok-Pokok ‘Aqiidah ini dan Hakekat Syari’at ini, maka ajakan menuju penggabungan agama (PLURALISME) atau hidup berdampingan sesama agama dan menjadikannya dalam satu naungan adalah Dakwah yang Keji dan Makar. Tujuan dari semua itu, tidak lain adalah mencampur adukkan antara haq dan baathil, meruntuhkan Islam dan menghancurkan tiang-tiangnya dan menyeret penganutnya kepada KEMURTADAN SECARA TOTALITAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 217:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Harom. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allooh, kafir kepada Allooh, (menghalangi masuk) Masjidil Harom dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allooh. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allooh سبحانه وتعالى  dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 89 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَدُّواْ لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَاء فَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ أَوْلِيَاء حَتَّىَ يُهَاجِرُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتَّمُوهُمْ وَلاَ تَتَّخِذُواْ مِنْهُمْ وَلِيّاً وَلاَ نَصِيراً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allooh. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Diantara dampak dari ajakan yang berbahaya ini adalah menghilangkan perbedaan antara Islam dan kufur, haq dan baathil, ma’ruf dan munkar, dan menghancurkan dinding pemisah antara Muslimin dan Kaafirin, sehingga tidak ada Wala’ dan Baro’, sehingga tidak ada Jihad dan tidak ada perang untuk meninggikan kalimat Allooh سبحانه وتعالى di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. At Taubah (9) ayat 29 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allooh dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharomkan apa yang telah diharomkan oleh Allooh dan Rosuul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allooh), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. At Taubah (9) ayat 36 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allooh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan harom. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allooh beserta orang-orang yang bertaqwa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 118 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّواْ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاء مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Sesungguhnya, ajakan menuju penggabungan agama / pluralisme, jika keluar dari seorang Muslim, maka berarti dia MURTAD YANG NYATA dari Islam, karena yang demikian itu telah bertabrakan dengan Pokok-Pokok ‘Aqiidah, dia telah ridho dengan kekufuran terhadap Allooh سبحانه وتعالى, dia telah menolak kebenaran Al Qur’an dan bahwa Al Qur’an telah menghapus seluruh agama dan syari’at sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, dia adalah merupakan pemikiran yang tertolak secara Syar’ie, pasti Haromnya dengan seluruh dalil Syari’at yang terdapat dalam Islam, baik Al Qur’an, Sunnah maupun Ijma’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Atas dasar apa yang telah terdahulu, maka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)   Seorang Muslim yang beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى sebagai Robb-nya, Islam sebagai dien-nya, Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai Nabi dan Rosuul-nya, DILARANG MELAKUKAN DAKWAH KEPADA PEMIKIRAN (PLURALISME) YANG MENYESATKAN INI, atau mendorong, atau membuka jalan bagi kaum Muslimin, apalagi memenuhi seruan ini, memasuki muktamar, seminar mereka, juga menggabungkan diri pada komunitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)   DILARANG bagi seorang Muslim UNTUK MENCETAK TAURAT, INJIL secara tersendiri, terlebih lagi jika digabungkan dengan Al Qur’an dalam satu Bundel. Dan barangsiapa yang melakukannya, atau menyeru padanya, maka dia berada dalam kesesatan yang jauh, karena dalam hal itu terdapat penggabungan antara Al Haq, yaitu Al Qur’an Al Kariim dengan yang tertukar atau kebenaran yang terhapus yaitu Taurat dan Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)   Sebagaimana pula, DILARANG bagi seorang Muslim UNTUK MEMENUHI AJAKAN MEMBANGUN MASJID, GEREJA DAN VIHARA DALAM SATU KAWASAN. Karena yang demikian itu, merupakan bentuk pengakuan terhadap agama selain Islam, mengingkari status Islam diatas segala agama, merupakan seruan materi kepada 3 agama agar warga bumi meyakini diantara keyakinan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahwa yang demikian itu, merupakan upaya persamaan, dan bahwa Islam bukan lah penghapus terhadap agama sebelumnya, dan tidak diragukan lagi bahwa mengakui hal itu, meyakini hal itu dan ridho dengan hal itu adalah kekufuran dan kesesatan, karena merupakan bentuk menyelisihi secara terang-terangan terhadap Al Qur’an Al Kariim, dan Sunnah yang suci, dan Ijma’ kaum Muslimin, dan merupakan pengakuan terhadap penukaran Yahudi dan Nasrani terhadap Kitab mereka dari Allooh سبحانه وتعالى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana, tidak boleh menamakan gereja sebagai Rumah Allooh, dan bahwa pengikutnya beribadah pada Allooh سبحانه وتعالى didalamnya dengan ibadah yang benar, diterima disisi Allooh سبحانه وتعالى; karena dia adalah merupakan ibadah dengan jalan selain Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 85 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dia adalah merupakan rumah-rumah dimana Allooh سبحانه وتعالى mereka kaafiri didalamnya. Kita berlindung pada Allooh سبحانه وتعالى dari Kufur dan penganut kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله dalam Majmu Fatawaa’ jilid 22 no: 162, “Bukanlah gereja dan vihara merupakan rumah Allooh. Rumah Allooh سبحانه وتعالى hanyalah masjid. Justru yang demikian itu adalah rumah yang mereka kaafir didalamnya. Betapa pun bisa jadi Allooh سبحانه وتعالى disebut didalamnya karena rumah berstatus sama dengan penganutnya. Penganutnya adalah orang-orang kaafir, maka dia adalah rumah ibadah orang-orang kaafir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Diantara yang Wajib diketahui adalah bahwa menyeru umumnya orang kaafir khususnya Ahlul Kitab kepada Islam Hukumnya Wajib bagi Kaum Muslimin, sesuai dengan nash-nash yang terang dari Al Qur’an dan As Sunnah. Akan tetapi yang demikian itu, tidaklah terjadi kecuali dengan jalan penjelasan dan dialog yang baik, dan tidak turun prinsip dari apa pun yang merupakan Syari’at Islam. Yang demikian itu dilakukan agar mereka menerima Islam, mereka masuk Islam, atau menegakkan Hujjah atas mereka agar binasa orang binasa diatas kejelasan dan juga hidup orang yang hidup diatas kejelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 64 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allooh dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allooh. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allooh)”.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun berdebat dengan mereka, bertemu dengan mereka untuk mengikuti apa yang menjadi kehendak mereka, mewujudkan tujuan mereka, menanggalkan ikatan Islam dan imaan, maka ini adalah merupakan kebaathilan yang Allooh سبحانه وتعالى, Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم dan orang-orang beriman tolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى lah tempat memohon pertolongan atas apa yang mereka sifatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 49 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allooh, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allooh kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allooh), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allooh menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasiq.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini, Lajnah Daa’imah memutuskan berdasarkan dengan apa yang telah disebutkan sebelum ini, dan menjelaskannya untuk manusia maka Lajnah Daa’imah berwasiat pada umumnya kaum Muslimin dan khususnya Ahlil ‘Ilmu agar bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى, senantiasa berintrospeksi, menjaga Islam, melindungi ‘Aqiidah kaum Muslimin dari kesesatan dan para penyerunya, dari kekufuran dan para penganutnya, dan memberikan kewaspadaan kepada mereka dari dakwah yang kufur dan sesat berupa penggabungan agama (Pluralisme) dan dari terjerembabnya mereka dalam belenggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami berlindung kepada Allooh سبحانه وتعالى, agar melindungi setiap Muslim dari menjadi sebab bagi sampainya kesesatan ini kepada negeri-negeri Muslimin dan menampakkan indah dakwah mereka diantara kaum Muslimin. Kami bermohon kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan Nama-Nama-Nya yang Baik dan Shifat-Shifat-Nya yang Tinggi, agar melindungi kita dan segenap kaum Mulimin dari fitnah yang gelap dan menjadikan kita sebagai pemberi hidayah dan yang diberi hidayah, menjadi penjaga bagi Islam diatas petunjuk dan cahaya dari Allooh سبحانه وتعالى sehingga kita menemui-Nya sedang Dia ridho terhadap kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillaahit taufiiq wa shollalloohu ‘alaa Nabiyyina Muhammadin wa aalihi washohbihi wassallama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajnah Daa’imah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk Bahasan-Bahasan Ilmiyyah dan Fatwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdul Aziiz bin ‘Abdillaah bin Baaz (Ketua)&lt;br /&gt;‘Abdul Aziiz Aalu Syaikh (Wakil Ketua)&lt;br /&gt;Shoolih Al Fauzan (Anggota)&lt;br /&gt;Bakr Abu Zaid (Anggota)&lt;br /&gt;Text Asli:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فتوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في قضية وحدة الأديان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الفتوى رقم ( 19402 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فإن اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء استعرضت ما ورد إليها من تساؤلات، وما ينشر في وسائل الإعلام من آراء ومقالات بشأن الدعوة إلى (وحدة الأديان): دين الإسلام، ودين اليهودية، ودين النصارى، وما تفرع عن ذلك من دعوة إلى بناء مسجد وكنيسة ومعبد في محيط واحد، في رحاب الجامعات والمطارات والساحات العامة، ودعوة إلى طباعة القرآن الكريم والتوراة والإنجيل في غلاف واحد، إلى غير ذلك من آثار هذه الدعوة، وما يعقد لها من مؤتمرات وندوات وجمعيات في الشرق&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والغرب.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وبعد التأمل والدراسة فإن اللجنة تقرر ما يلي:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أولا: إن من أصول الاعتقاد في الإسلام، المعلومة من الدين بالضرورة، والتي أجمع عليها المسلمون: أنه لا يوجد على وجه الأرض دين حق سوى دين الإسلام، وأنه خاتمة الأديان، وناسخ لجميع ما قبله من الأديان والملل والشرائع، فلم يبق على وجه الأرض دين يتعبد الله به سوى الإسلام، قال الله تعالى: { إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ } ([1]) وقال تعالى: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا } ([2]) وقال تعالى: { وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ } ([3]) والإسلام بعد بعثة محمد صلى الله عليه وسلم هو ما جاء به دون ما سواه من الأديان.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثانيا: ومن أصول الاعتقاد في الإسلام: أن كتاب الله تعالى: (القرآن الكريم) هو آخر كتب الله نزولا وعهدا برب العالمين، وأنه ناسخ لكل كتاب أنزل من قبل؛ من التوراة والزبور والإنجيل وغيرها، ومهيمن عليها، فلم يبق كتاب منزل يتعبد الله به سوى القرآن الكريم، قال الله تعالى: { وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ } ([4])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثالثا: يجب الإيمان بأن التوراة والإنجيل قد نسخا بالقرآن الكريم، وأنه قد لحقهما التحريف والتبديل بالزيادة والنقصان، كما جاء بيان ذلك في آيات من كتاب الله الكريم، منها قول الله تعالى: { فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ } ([5]) وقوله جل وعلا: { فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ } ([6]) وقوله سبحانه: { وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ } (سورة آل عمران الآية 78) ولهذا فما كان منها صحيحا فهو منسوخ بالإسلام، وما سوى ذلك فهو محرف أو مبدل، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه غضب حين رأى مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه صحيفة فيها شيء من التوراة، وقال عليه الصلاة والسلام: « أفي شك أنت يا بن الخطاب؟ ألم آت بها بيضاء نقية؟! لو كان أخي موسى حيا ما وسعه إلا اتباعي » ([7]) رواه أحمد والدارمي وغيرهما.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رابعا: ومن أصول الاعتقاد في الإسلام: أن نبينا ورسولنا محمدا صلى الله عليه وسلم هو خاتم الأنبياء والمرسلين، كما قال الله تعالى: { مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ } ([8]) فلم يبق رسول يجب اتباعه سوى محمد صلى الله عليه وسلم، ولو كان أحد من أنبياء الله ورسله حيا لما وسعه إلا اتباعه صلى الله عليه وسلم، وإنه لا يسع أتباعهم إلا ذلك، كما قال تعالى: { وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ } ([9]) ونبي الله عيسى عليه الصلاة والسلام إذا نزل في آخر الزمان يكون تابعا لمحمد صلى الله عليه وسلم، وحاكما بشريعته، وقال الله تعالى: { الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ } ([10]) كما أن من أصول الاعتقاد في الاسلام أن بعثة محمد صلى الله عليه وسلم عامة للناس أجمعين، قال الله تعالى: { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ } ([11]) وقال سبحانه: { قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا } ([12]) وغيرها من الآيات.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خامسا: ومن أصول الإسلام أنه يجب اعتقاد كفر كل من لم يدخل في الإسلام من اليهود والنصارى وغيرهم، وتسميته كافرا ممن قامت عليه الحجة، وأنه عدو لله ورسوله والمؤمنين، وأنه من أهل النار، كما قال تعالى: { لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ } ([13])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال جل وعلا: { إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ } ([14]) وقال تعالى: { وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ } ([15]) وقال تعالى: { هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ } ([16]) الآية، وغيرها من الآيات. وثبت في صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « والذي نفسي بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة: يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار » ([17]) . ولهذا فمن لم يكفر اليهود والنصارى فهو كافر، طردا لقاعدة الشريعة: (من لم يكفر الكافر بعد إقامة الحجة عليه فهو كافر).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سادسا: وأمام هذه الأصول الاعتقادية، والحقائق الشرعية، فإن الدعوة إلى (وحدة الأديان) والتقارب بينها وصهرها في قالب واحد، دعوة خبيثة ماكرة، والغرض منها خلط الحق بالباطل، وهدم الإسلام وتقويض دعائمه، وجر أهله إلى ردة شاملة، ومصداق ذلك في قول الله سبحانه: { وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا } ([18])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقوله جل وعلا: { وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً } ([19])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سابعا: وإن من آثار هذه الدعوة الآثمة إلغاء الفوارق بين الإسلام والكفر، والحق والباطل، والمعروف والمنكر، وكسر حاجز النفرة بين المسلمين والكافرين، فلا ولاء ولا براء، ولا جهاد ولا قتال لإعلاء كلمة الله في أرض الله، والله جل وتقدس يقول: { قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ } ([20]) ويقول جل وعلا: { وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ } ([21]) وقال تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ } ([22])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثامنا: إن الدعوة إلى (وحدة الأديان) إن صدرت من مسلم فهي تعتبر ردة صريحة عن دين الإسلام؛ لأنها تصطدم مع أصول الاعتقاد، فترضى بالكفر بالله عز وجل، وتبطل صدق القرآن ونسخه لجميع ما قبله من الشرائع والأديان، وبناء على ذلك فهي فكرة مرفوضة شرعا، محرمة قطعا بجميع أدلة التشريع في الإسلام من قرآن وسنة وإجماع.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تاسعا: وبناء على ما تقدم: 1- فإنه لا يجوز لمسلم يؤمن بالله ربا، وبالإسلام دينا، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبيا ورسولا الدعوة إلى هذه الفكرة الآثمة، والتشجيع عليها، وتسليكها بين المسلمين، فضلا عن الاستجابة لها، والدخول في مؤتمراتها وندواتها، والانتماء إلى محافلها. 2- لا يجوز لمسلم طباعة التوراة والإنجيل منفردين، فكيف مع القرآن الكريم في غلاف واحد؟ فمن فعله أو دعا إليه فهو في ضلال بعيد؛ لما في ذلك من الجمع بين الحق (القرآن الكريم) والمحرف أو الحق المنسوخ (التوراة والإنجيل). 3- كما لا يجوز لمسلم الاستجابة لدعوة: (بناء مسجد وكنيسة ومعبد) في مجمع واحد؛ لما في ذلك من الاعتراف بدين يعبد الله به غير دين الإسلام، وإنكار ظهوره على الدين كله، ودعوة مادية إلى أن الأديان ثلاثة، لأهل الأرض التدين بأي منها، وأنها على قدم التساوي، وأن الإسلام غير ناسخ لما قبله من الأديان، ولا شك أن إقرار ذلك واعتقاده أو الرضا به كفر وضلال؛ لأنه مخالفة صريحة للقرآن الكريم والسنة المطهرة وإجماع المسلمين، واعتراف بأن تحريفات اليهود والنصارى من عند الله، تعالى الله عن ذلك. كما أنه لا يجوز تسمية الكنائس (بيوت الله) وأن أهلها يعبدون الله فيها عبادة صحيحة مقبولة عند الله؛ لأنها عبادة على غير دين الإسلام، والله تعالى يقول: { وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ } ([23]) بل هي بيوت يكفر فيها بالله، نعوذ بالله من الكفر وأهله، قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى في مجموع الفتاوى (22 \ 162) : (ليست – البيع والكنائس – بيوتا لله، وإنما بيوت الله المساجد، بل هي بيوت يكفر فيها بالله، وإن كان قد يذكر فيها، فالبيوت بمنزلة أهلها، وأهلها الكفار، فهي بيوت عبادة الكفار).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عاشرا: ومما يجب أن يعلم: أن دعوة الكفار بعامة، وأهل الكتاب بخاصة إلى الإسلام واجبة على المسلمين، بالنصوص الصريحة من الكتاب والسنة، ولكن ذلك لا يكون إلا بطريق البيان والمجادلة بالتي هي أحسن، وعدم التنازل عن شيء من شرائع الإسلام، وذلك للوصول إلى قناعتهم بالإسلام، ودخولهم فيه، أو إقامة الحجة عليهم ليهلك من هلك عن بينة ويحيا من حي عن بينة، قال الله تعالى: { قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ } ([24]) أما مجادلتهم واللقاء معهم ومحاورتهم لأجل النزول عند رغباتهم، وتحقيق أهدافهم، ونقض عرى الإسلام ومعاقد الإيمان فهذا باطل يأباه الله ورسوله والمؤمنون والله المستعان على ما يصفون، قال تعالى: { وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ } ([25])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإن اللجنة إذ تقرر ما تقدم ذكره وتبينه للناس؛ فإنها توصي المسلمين بعامة، وأهل العلم بخاصة بتقوى الله تعالى ومراقبته، وحماية الإسلام، وصيانة عقيدة المسلمين من الضلال ودعاته، والكفر وأهله، وتحذرهم من هذه الدعوة الكفرية الضالة: (وحدة الأديان)، ومن الوقوع في حبائلها، ونعيذ بالله كل مسلم أن يكون سببا في جلب هذه الضلالة إلى بلاد المسلمين، وترويجها بينهم. نسأل الله سبحانه، بأسمائه الحسنى وصفاته العلى أن يعيذنا وجميع المسلمين من مضلات الفتن، وأن يجعلنا هداة مهتدين، حماة للإسلام على هدى ونور من ربنا حتى نلقاه وهو راض عنا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] . سورة آل عمران الآية 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] . سورة المائدة الآية 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] . سورة آل عمران الآية 85&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] . سورة المائدة الآية 48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] . سورة المائدة الآية 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] . سورة البقرة الآية 79&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] . أخرجه أحمد 3 / 387، والدارمي في المقدمة 1 / 115-116، والبزار (كشف الأستار) 1 / 78-79 برقم (124)، وابن أبي عاصم في السنة 1 / 27 برقم (50)، وابن عبد البر في جامع بيان العلم وفضله (باب في مطالعة كتب أهل الكتاب والرواية عنهم) 1 / 42 (ط: المنيرية).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] . سورة الأحزاب الآية 40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] . سورة آل عمران الآية 81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] . سورة الأعراف الآية 157&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] . سورة سبأ الآية 28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] . سورة الأعراف الآية 158&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] . سورة البينة الآية 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] . سورة البينة الآية 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] . سورة الأنعام الآية 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] . سورة إبراهيم الآية 52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] . صحيح مسلم الإيمان (153),مسند أحمد بن حنبل (2/317).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] . سورة البقرة الآية 217&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] . سورة النساء الآية 89&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] . سورة التوبة الآية 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] . سورة التوبة الآية 36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] . سورة آل عمران الآية 118&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] . سورة آل عمران الآية 85&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] . سورة آل عمران الآية 64&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSYAWARAH NASIONAL VII&lt;br /&gt;MAJELIS ULAMA INDONESIA TAHUN 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPUTUSAN FATWA&lt;br /&gt;MAJELIS ULAMA INDONESIA&lt;br /&gt;Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005&lt;br /&gt;Tentang&lt;br /&gt;PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil-Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENIMBANG:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat;&lt;br /&gt;Bahwa berkembangnya paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama di kalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan fatwa tentang masalah tersebut;&lt;br /&gt;Bahwa oleh karena itu, MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam.&lt;br /&gt;MENGINGAT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali Imran [3] : 19)“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. al-Kafirun [109] : 6)“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab [33] : 36)“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Mumtahinah [60] : 8-9)“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. al-Qashash [28] : 77)“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. al-An’am [6] : 116)“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS. al-Mukminun [23] : 71)&lt;br /&gt;Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;Imam Muslim (wafat 262 H) dalam kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non-Muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nasrani, al-Najasyi raja Abesenia yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka untuk masuk Islam. (Riwayat Ibnu Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari)&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas-komunitas non-Muslim seperti komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal di Najran; bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi Bani Quraidzah (Sayyid Bani Quraidzah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;MEMPERHATIKAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII MUI 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENETAPKAN: FATWA TENTANG PLURALISME, LIBERALISME, DAN SEKULARISME AGAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Ketentuan Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.&lt;br /&gt;Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.&lt;br /&gt;Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an &amp; Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.&lt;br /&gt;Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.&lt;br /&gt;Kedua: Ketentuan Hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.&lt;br /&gt;Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme Agama.&lt;br /&gt;Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampur-adukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.&lt;br /&gt;Ditetapkan di: Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal: 21 Jumadil-Akhir 1426 H&lt;br /&gt;28 J u l i 2005 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSYAWARAH NASIONAL VII&lt;br /&gt;MAJELIS ULAMA INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua, Ttd,K.H. MA’RUF AMIN Sekretaris, Ttd,Drs. H. HASANUDIN, M.Ag&lt;br /&gt;Pimpinan Sidang Pleno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua,Ttd,Prof. Dr. H. UMAR SHIHAB Sekretaris,Ttd,Prof. Dr. H.M. DIN SYAMSUDDIN&lt;br /&gt;http://ustadzrofii.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-1004177511925254522?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/1004177511925254522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-jaringan-islam-liberal-jil-bhg-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1004177511925254522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/1004177511925254522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-jaringan-islam-liberal-jil-bhg-3.html' title='Bahaya &quot;Jaringan Islam Liberal (JIL)&quot; bhg 3'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-h5Nv34RA93o/TpRNBAslmcI/AAAAAAAAA8g/Zbx8mBxyl6s/s72-c/mm9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-5733248766790529788</id><published>2011-10-04T21:20:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T06:26:37.764-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Faham Liberal ~'/><title type='text'>Islam dan Liberalisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-b0PQBmodcbY/TpRDlJm-lzI/AAAAAAAAA78/vR82huJYD7Y/s1600/lib3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-b0PQBmodcbY/TpRDlJm-lzI/AAAAAAAAA78/vR82huJYD7Y/s320/lib3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662224937025181490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ustadz Kholid Syamhudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Liberalisme,&lt;/span&gt; adalah sebuah istilah asing yang diambil dari bahasa Inggris, yang berarti kebebasan. Kata ini kembali kepada kata “liberty” dalam bahasa Inggrisnya, atau “liberte” menurut bahasa Perancis, yang bermakna bebas. [1] Istilah ini datang dari Eropa. Para peneliti, baik dari mereka ataupun dari selainnya berselisih dalam mendefinisikan pemikiran ini. Namun seluruh definisi, kembali kepada pengertian kebebasan dalam pandangan Barat. The World Book Encyclopedia menuliskan pembahasan Liberalism, bahwa istilah ini dianggap masih samar, karena pengertian dan pendukung-pendukungnya berubah dalam bentuk tertentu dengan berlalunya waktu.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sulaiman al-Khirasyi menyebutkan, liberalisme adalah madzhab pemikiran yang memperhatikan kebebasan individu. Madzhab ini memandang, wajibnya menghormati kemerdekaan individu, serta berkeyakinan bahwa tugas pokok pemerintah ialah menjaga dan melindungi kebebasan rakyat, seperti kebebasan berfikir, kebebasan menyampaikan pendapat, kebebasan kepemilikan pribadi, kebebasan individu, dan sejenisnya.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ASAS PEMIKIRAN LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara umum asas liberalisme ada tiga. Yaitu kebebasan, individualisme, rasionalis (‘aqlani, mendewakan akal). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asas Pertama, Kebebasan &lt;/span&gt;: Yang dimaksud dengan asas ini, ialah setiap individu bebas melakukan perbuatan. Negara tak memiliki hak mengatur. Perbuatan itu hanya dibatasi oleh undang-undang yang dibuat sendiri, dan tidak terikat dengan aturan agama. Dengan demikian, liberalisme merupakan sisi lain dari sekulerisme, yaitu memisahkan dari agama dan membolehkan lepas dari ketentuan agama. Sehingga asas ini memberikan kebebasan kepada manusia untuk berbuat, berkata, berkeyakinan, dan berhukum sesukanya tanpa dibatasi oleh syari’at Allah. Manusia menjadi tuhan untuk dirinya dan penyembah hawa nafsunya. Manusia terbebas dari hukum, dan tidak diperintahkan mengikuti ajaran Ilahi. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [al-An’âm/6:162-163]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. [al-Jâtsiyah/45:18].[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asas Kedua, Individualism (al-fardiyah) &lt;/span&gt;: Dalam hal ini meliputi dua pengertian.&lt;br /&gt;Pertama, dalam pengertian ananiyah (keakuan) dan cinta diri sendiri. Pengertian inilah yang menguasai pemikiran masyarakat Eropa sejak masa kebangkitannya hingga abad ke-20 Masehi. Kedua, dalam pengertian kemerdekaan pribadi. Ini merupakan pemahaman baru dalam agama Liberal yang dikenal dengan pragmatisme.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asas ketiga, yaitu rasionalisme (aqlaniyyun, mendewakan akal)&lt;/span&gt;. Dalam artian akal bebas dalam mengetahui dan mencapai kemaslahatan dan kemanfaatan tanpa butuh kepada kekuatan diluarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hal ini dapat tampak dari hal-hal berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Kebebasan adalah hak-hak yang dibangun diatas dasar materi bukan perkara diluar materi yang dapat disaksikan (abstrak). Dan cara mengetahuinya adalah dengan akal, panca indera dan percobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Negara dijauhkan dari semua yang berhubungan dengan keyakinan agama, karena kebebasan menuntut tidak adanya satu yang pasti dan yakin; karena tidak mungkin mencapai hakekat sesuatu kecuali dengan perantara akal dari hasil percobaan yang ada. Sehingga –enurut mereka- manusia sebelum melakukan percobaan tidak mengetahui apa-apa sehingga tidak mampu untuk memastikan sesuatu. Ini dinamakan ideology toleransi (Mabda’ at-Tasâmuh) [6]. Hakekatnya adalah menghilangkan komitmen agama, karena ia memberikan manusia hak untuk berkeyakinan semaunya dan menampakkannya serta tidak boleh mengkafirkannya walaupun ia seorang mulhid (menentang Allah dan RasulNya). Negara berkewajiban melindungi rakyatnya dalam hal ini, sebab negara –versi mereka terbentuk untuk menjaga hak-hak asasi setiap orang. Hal ini menuntut negara terpisah total dari agama dan madzhab pemikiran yang ada. (Musykilah al-Hurriyah hal 233 dinukil dari Hakekat Libraliyah hal 24). Ini jelas dibuat oleh akal yang hanya beriman kepada perkara kasat mata. Sehingga menganggap agama itu tidak ilmiyah dan tidak dapat dijadikan sumber ilmu. Ta’alallahu ‘Amma Yaquluna ‘Uluwaan kabiran (Maha Tinggi Allah dari yang mereka ucapkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Undang-undang yang mengatur kebebasan ini dari tergelicir dalam kerusakan –versi seluruh kelompok liberal – adalah undangundang buatan manusia yang bersandar kepada akal yang merdeka dan jauh dari syari’at Allah. Sumber hukum mereka dalam undang-undang dan individu adalah akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ISLAM DAN LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari pemaparan diatas jelaslah bahwa Liberal hanyalah bentuk lain dari sekulerisme yang dibangun di atas sikap berpaling dari syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala , kufur kepada ajaran dan petunjuk Allah dan rasulNya n serta menghalangi manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga memerangi orang-orang sholih dan memotivasi orang berbuat kemungkaran, kesesatan pemikiran dan kebejatan moral manusia dibawah slogan kebebasan yang semu. Sebuah kebebasan yang hakekatnya adalah mentaati dan menyembah syeitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu bisakah Islam bergandengan dengan Liberal?&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UPAYA MENYATUKAN ISLAM &amp; LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Liberal masuk ke dalam tubuh kaum muslimin melalui para penjajah kolonial. Kemudian disambut orang-orang yang terperangah dengan modernisasi Eropa waktu itu. Muncullah dalam tubuh kaum muslimin madrasah al-Ishlahiyah (aliran reformis) dan madrasah at-tajdîd (aliran pembaharu) serta al-’Ashraniyûn (aliran modernis) yang berusaha menggandengkan Islam dengan liberal ditambah dengan banyaknya pelajar muslim yang dibina para orientalis di negara-negara Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya menyatukan liberalisme ke dalam Islam sudah dilakukan oleh gerakan ‘Islahiyah’ pimpinan Muhammad ‘Abduh dan para muridnya. Kemudian pada tahun enampuluhan, muncullah gerakan pembaru (madrasah attajdid) dengan tokoh seperti Rifa'ah ath-Thahthawi dan Khairuddîn at-Tunîsi. Pemikiran mereka ini tidaklah satu. Namun mereka menggabungkan ajaran Islam dengan modernisasi Barat dan merekonstruksi ajaran agama agar sesuai dengan modernisasi Barat (orang-orang kafir). Oleh karena itu, pemikiran mereka berbeda-beda sesuai dengan pengetahuan mereka terhadap modernisasi di Barat dan kemajuannya yang terus berkembang. Demikian juga, mereka sepakat menjadikan akal sebagai sumber hukum sebagaimana akal juga menjadi sumber hukum dalam ajaran Liberal. Dari sini jelaslah kaum reformis dan modernis ini ternyata memiliki prinsip dan latar belakang serta orientasi pemikiran yang berbeda-beda. Meskipun mereka sepakat untuk mengedepankan logika akal daripada al-Qur‘ân dan Sunnah dan pengaruh kuat pemikiran Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada di antara mereka yang secara terus terang mengungkapkan niat mereka menghancurkan Islam karena terpengaruh pemikiran nasionalisme sekuler atau sayap kiri komunis. Ada yang berusaha memunculkan keraguan ke dalam tubuh kaum muslimin dengan berbagai istilah bid’ah yang sulit dicerna pengertiannya. Atau dengan cara membolakbalikkan fakta dan realitas ajaran Islam sejati dengan pemikiran dan gerakannya. Mereka menempatkan orang sesat dan menyimpang sebagai pemikir yang bijak dan ksatria revolusioner. Sementara para ulama Islam ditempatkan sebagai kalangan yang kolot konservatif dan tidak tahu hak asasi manusia.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyakitkan lagi adalah ungkapan sebagian mereka yang menuduh orang yang kembali merujuk nash syariat sebagai orang yang kolot dan paganis (musyrik). Prof. Fahmi Huwaidi dalam artikelnya yang berjudul Watsaniyûn Hum ‘Abadatun Nushûsh (Paganis itu adalah mereka yang menyembah nash-nash Syari’at) menggambarkan hal tersebut sebagai paganism baru (Watsaniyah jadîdah). Hal itu karena Paganisme tidak hanya berbentuk penyembahan patung berhala semata. Karena ini adalah paganisme zaman dahulu. Namun paganisme zaman ini telah berubah menjadi bentuk penyembahan symbol dan rumus pada penyembahan nash-nash dan ritualisme. [Lihat Al-’Aqlaniyûn Afrâkh al-Mu’tazilah al-‘Ashriyûn hal.63]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hakekat usaha mereka ini adalah mengajak kaum muslimin untuk mengikuti ajaran dan pola pemikiran Barat (westernisasi) dan menghilangkan aqidah Islam dari tubuh kaum muslimin serta memberikan jalan kemudahan kepada musuh-musuh Islam dalam menghancurkan kaum muslimin. Sehingga mereka menganggap aturan liberal dan demokrasi adalah perkara mendesak dan sangat cocok dengan hakekat Islam dan ajarannya serta tidak mengingkarinya kecuali fondamentalis garis keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah usaha mereka ini akhirnya menghasilkan penghapusan banyak sekali pokok-pokok ajaran Islam dan memasukkan nilai-nilai liberalisme dan humanisme kedalam ajaran Islam dan aqidah kaum muslimin. Karena itu seorang orientalis bernama Gibb menyatakan: “Reformasi adalah program utama dari liberalisme Barat. Kita tinggal menunggu saja semoga orientasi tersebut dari kalangan reformis bisa menjadi semacam managerial modern untuk menggali nilai-nilai liberalisme dan humanisme”.[Menjawab Modernisasi Islam hal 178]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah nilai-nilai dan pemahaman liberal masuk ke dalam tubuh kaum muslimin. Kita berlindung kepada Allah l darinya dan dari semua penyeru ajaran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LIBERAL DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Liberalisme adalah pemikiran asing yang masuk ke dalam Islam. Pemikiran ini menafikan adanya hubungan kehidupan dengan agama sama sekali. Pemikiran ini menganggap agama sebagai rantai pengikat kebebasan hingga harus dibuang jauh-jauh. Para perintis dan pemikir liberal yang menyusun pokok-pokok ajarannya membentuk liberal berada diluar garis seluruh agama yang ada dan tidak seorangpun dari mereka yang mengklaim adanya hubungan dengan satu agama tertentu walaupun yang menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sehingga Liberalisme sangat bertentangan dengan Islam. Tidak sedikit pembatal-pembatal ke-Islaman yang terkandung dalam arus ideologi yang satu ini. Diantaranya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Kekufuran&lt;br /&gt;2. Berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala .&lt;br /&gt;3. Menghilangkan aqidah al-Wala dan bara’.&lt;br /&gt;4. Menghapus banyak sekali ajaran dan hokum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga para ulama menghukuminya sebagai kekufuran sebagaimana tertuang dalam fatwa Syaikh Sholeh al-Fauzan yang dimuat dalam Harian al-Jazirah, edisi Selasa tanggal 11 Jumada Akhir tahun 1428 H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ADAKAH ISLAM LIBERAL?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungguh amat mengherankan masih juga ada orang yang ingin menggabungkan antara liberal dengan Islam padahal jelastidak mungkin. Sehingga bila ada yang menyatakan, saya adalah muslim liberal atau istilah Jaringan Islam Liberal ini adalah satu perkara yang kontradiktif. Ironisnya orang yang disebut profesor atau intelektual tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang hal ini.&lt;br /&gt;Wallahu al-Hadi ila Shirath al-Mustaqim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maraji‘:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. ‘Al-’Aqlâniyûn Afrâkh al-Mu’tazilah al-‘Ashriyûn, Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamîd , cetakan pertama tahun 1413 H, Maktabah al-Ghurabâ al-Atsariyah&lt;br /&gt;2. al-‘Ashraniyyûn Baina Madzâ’im At-tajdîd Wa Mayâdin at-Taghrîb Muhammad Hâmid an-Nâshir dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Menjawab Modernisasi&lt;br /&gt;Islam, terbitan Darul Haq.&lt;br /&gt;3. Dalîl al-‘Uquul al-Hâ`irah Fi Kasyfi al-Mazhâhib al-Mu’âshirah, Hâmid bin ‘Abdillah al-‘Al.&lt;br /&gt;4. Haqîqat Libraliyah Wa Mauqiful Muslim Minha, Sulaimân al-Khirasyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]&lt;br /&gt;_______&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Haqîqat Libraliyah Wa Mauqiful Muslim Minha, Sulaiman al-Khirasyi hal 12.&lt;br /&gt;[2]. Dinukil dari Haqîqat Libraliyah, hlm. 16.&lt;br /&gt;[3]. Haqîqat Libraliyah al-Khirasyi hlm. 17 )&lt;br /&gt;[4]. Lihat Dalîl al-‘Uquul al-Hâ`irah Fi Kasyfi al-Mazhâhib al-Mu’âshirah, Hâmid bin ‘Abdillah al-‘Ali hal. 18&lt;br /&gt;[5]. Lihat Haqîqat Libraliyah al-Khirasyi hlm. 17.&lt;br /&gt;[6]. Pemikiran ini disampaikan John Look dalam Risâlah fi at-Tasâmuh (lihat Haqîqat Libraliyah hal 24).&lt;br /&gt;[7]. Lihat tulisan Muhammad Hamid an-nâshir dalam kitab al-‘Ashraniyyûn Baina Madzâ’im At-tajdîd Wa Mayâdin at-Taghrîb dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Menjawab Modernisasi Islam, terbitan Darul Haq hal 174. Juga lihat sebagian pujian mereka kepada golongan Mu’tazilah yang dinukil Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamîd dalam kitab ‘Al-’Aqlâniyûn Afrâkh al-Mu’tazilah al-‘Ashriyûn&lt;br /&gt;hal.61-68.&lt;br /&gt;http://almanhaj.or.id/content/3129/slash/0&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-5733248766790529788?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/5733248766790529788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/islam-dan-liberalisme-oleh-ustadz.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/5733248766790529788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/5733248766790529788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/islam-dan-liberalisme-oleh-ustadz.html' title='Islam dan Liberalisme'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-b0PQBmodcbY/TpRDlJm-lzI/AAAAAAAAA78/vR82huJYD7Y/s72-c/lib3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-3707453010203802272</id><published>2011-10-04T17:06:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T05:11:52.059-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Faham Liberal ~'/><title type='text'>Bahaya Firqah Liberal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-LvZsLychnKU/TpQycLJhrbI/AAAAAAAAA7w/V61YxUVZE-I/s1600/lib%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LvZsLychnKU/TpQycLJhrbI/AAAAAAAAA7w/V61YxUVZE-I/s320/lib%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662206091122027954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Abu Hamzah Agus Hasan Bashari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Islam adalah dien al-haq yang diwahyukan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya yang terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” [Al-Fath : 28]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebagai rahmat bagi semesta alam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiya :107]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali-Imran : 19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang utuh yang mempunyai akar, dimensi, sumber dan pokok-pokok ajarannya sendiri. Siapa yang konsisten dengannya maka ja termasuk Al-Jama’ah atau Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) dan yang keluar atau menyimpang darinya maka ja termasuk firqaih-firqah yang halikah (kelompok yang binasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara firqah halikah adalah firqah Liberaliyah. Liberaliyah adalah sebuah paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda. Dalam tesisnya yang berjudul “Pemikiran Politik Barat” Ahmad Suhelani, MA menjelaskan prinsip-prinsip pemikiran ini. Pertama, prinsip kebebasan individual. Kedua, prinsip kontrak sosial. Ketiga, prinsip masyarakat pasar bebas. Keempat, meyakini eksistansi Pluralitas Sosio – Kultural dan Politik Masyarakat. [Gado-Gado Islam Liberal; Sabili no 15 Thn IX/81]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dan Liberal adalah dua istilah yang antagonis, saling berhadap-hadapan tidak mungkin bisa bertemu. Namun demikian ada sekelompok orang di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Suatu penamaan yang “pas” dengan orang-orangnya atau pikiran-pikiran dan agendanya. Islam adalah pengakuan bahwa apa yang mereka suarakan adalah haq tetapi pada hakikatnya suara mereka itu adalah bathil karena liberal tidak sesuai dengan Islam yang diwahyukan dan yang disampaikan oleh Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi yang mereka suarakan adalah bid’ah yang ditawarkan oleh orang-orang yang ingkar kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam makalah ini akan kita uraikan sanad (asal usul) firqah liberal (kelompok Islam Liberal atau Kelompok kajian utan kayu), visi, misi agenda dan bahaya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SANAD (ASAL-USUL) FIRQAH LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan pemurnian, kembali kepada al-Qur’an dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan penduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syi’ah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini terus bergulir. Rifa’ah Rafi’ al-Tahtawi (Mesir, 1801-1873) memasukkan unsur-unsur Eropa dalam pendidikan Islam. Shihabuddin Marjani (Rusia, 1818-1889) dan Ahmad Makhdun (Bukhara, 1827-1897) memasukkan mata pelajaran sekuler kedalam kurikulum pendidikan Islam [Charless Kurzman: xx-xxiii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India muncul Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-18..) yang membujuk kaum muslimin agar mengambil kebijakan bekerja sama dengan penjajah Inggris. Pada tahun 1877 ja membuka suatu kolese yang kemudian menjadi Universitas Aligarh (1920). Sementara Amir Ali (1879-1928) melalui buku The Spirit of Islam berusaha mewujudkan seluruh nilai liberal yang dipuja di Inggris pada masa Ratu Victoria. Amir Ali memandang bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Pelopor Agung Rasionalisme [William Montgomery Waft: 132]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mesir muncullah M. Abduh (1849-1905) yang banyak mengadopsi pemikiran mu’tazilah berusaha menafsirkan Islam dengan cara yang bebas dari pengaruh salaf. Lalu muncul Qasim Amin (1865-1908) kaki tangan Eropa dan pelopor emansipasi wanita, penulis buku Tahrir al-Mar’ah. Lalu muncul Ali Abd. Raziq (1888-1966). Lalu yang mendobrak sistem khilafah, menurutnya Islam tidak memiliki dimensi politik karena Muhammad hanyalah pemimpin agama. Lalu diteruskan oleh Muhammad Khalafullah (1926-1997) yang mengatatan bahwa yang dikehendaki oleh al-Qur’an hanyalah system demokrasi tidak yang lain.[Charless: xxi,l8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Al-Jazair muncul Muhammad Arkoun (lahir 1928) yang menetap di Perancis, ia menggagas tafsir al-quran model baru yang didasarkan pada berbagai disiplin Barat seperti dalam lapangan semiotika (ilmu tentang fenomena tanda), antropologi, filsafat dan linguistik. Intinya Ia ingin menelaah Islam berdasarkan ilmu-ilmu pengetahuan Barat modern. Dan ingin mempersatukan keanekaragaman pemikiran Islam dengan keanekaragaman pemikiran diluar Islam. [Mu’adz, Muhammad Arkoun Anggitan tentang cara-cara tafsir al-Qur’an, Jurnal Salam vol.3 No. 1/2000 hal 100-111; Abd. Rahman al-Zunaidi: 180; Willian M Watt: 143]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pakistan muncul Fazlur Rahman (lahir 1919) yang menetap di Amerika dan menjadi guru besar di Universitas Chicago. Ia menggagas tafsir konstekstual, satu-satunya model tafsir yang adil dan terbaik menurutnya. Ia mengatakan al-Qur’an itu mengandung dua aspek: legal spesifik dan ideal moral, yang dituju oleh al-Qur’an adalah ideal moralnya karena itu ia yang lebih pantas untuk diterapkan.[Fazhul Rahman: 21; William M. Watt: 142-143]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahid dan Abdurrahman Wachid [Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton, Sabili no. 15: 88]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah rnenyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: “Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh diatas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama” [Nurcholis Madjid : 239]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sekarang muncullah apa yang disebut JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menghasung ide-ide Nurcholis Madjid dan para pemikir-pemikir lain yang cocok dengan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sanad Islam Liberal menurut Hamilton Gibb, William Montgomery Watt, Chanless Kurzman dan lain-lain. Akan tetapi kalau kita urut maka pokok pikiran mereka sebenarnya lebih tua dari itu. Paham mereka yang rasionalis dalam beragama kembali pada guru besar kesesatan yaitu Iblis La’natullah ‘alaih. (Ali Ibn Abi aI-’Izz: 395) karena itu JIL bisa diplesetkan dengan “Jalan Iblis Laknat”. Sedang paham sekuleris dalam bermasyarakat dan bernegara berakhir sanadnya pada masyarakat Eropa yang mendobrak tokoh-tokoh gereja yang melahirkan moto Render Unto The Caesar what The Caesar’s and to the God what the God’s (Serahkan apa yang menjadi hak Kaisar kepada kaisar dan apa yang menjadi hak Tuhan kepada Tuhan). Muhammad Imarah : 45) Karena itu ada yang mengatakan: “Cak Nur Cuma meminjam pendekatan Kristen yang membidani lahirnya peradaban barat” Sedangkan paham pluralisme yang mereka agungkan bersambung sanadnya kepada lbn Arabi (468-543 H) yang merekomendasikan keimanan Fir’aun dan mengunggulkannya atas nabi Musa ‘alaihis salam [Muhammad Fahd Syaqfah: 229-230]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MISI FIRQAH LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Misi Firqah Liberal adalah untuk menghadang (tepatnya : rnenghancurkan) gerakan Islam fundamentalis. mereka menulis: “sudah tentu, jika tidak ada upaya-upaya untuk mencegah dominannya pandangan keagamaan yang militan itu, boleh jadi, dalam waktu yang panjang, pandangan-pandangan kelompok keagamaan yang militan ini bisa menjadi dominan. Hal ini jika benar terjadi, akan mempunyai akibat buruk buat usaha memantapkan demokratisasi di Indonesia. Sebab pandangan keagamaan yang militan biasanya menimbulkan ketegangan antar kelompok-kelompok agama yang ada. Sebut saja antara Islam dan Kristen. Pandangan-pandangan kegamaan yang terbuka (inklusif) plural, dan humanis adalah salah satu nilai-nilai pokok yang mendasari suatu kehidupan yang demokratis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan Islam Fundamentalis yang menjadi lawan firqah liberal adalah orang yang memiliki lima cirri-ciri,yaitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Mereka yang digerakkan oleh kebencian yang mendalam terhadap Barat&lt;br /&gt;[2]. Mereka yang bertekad mengembalikan peradaban Islam masa lalu dengan membangkitkan kembali masa lalu itu&lt;br /&gt;[3]. Mereka yang bertujuan menerapkan syariat Islam&lt;br /&gt;[4]. Mereka yang mempropagandakan bahwa islam adalah agama dan negara&lt;br /&gt;[5]. Mereka menjadikan masa lalu itu sebagai penuntun (petunjuk) untuk masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian yang dilontarkan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon [Muhammad Imarah : 75]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AGENDA DAN GAGASAN FIRQAH LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan berjudul “Empat Agenda islam Yang Membebaskan; Luthfi Asy-Syaukani, salah seorang penggagas JIL yang juga dosen di Universitas Paramadina Mulya memperkenalkan empat agenda Islam Liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama &lt;/span&gt;: Agenda politik. Menurutnya urusan negara adalah murni urusan dunia, sistem kerajaan dan parlementer (demokrasi) sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua :&lt;/span&gt; Mengangkat kehidupan antara agama. Menurutnya perlu pencarian teologi pluralisme mengingat semakin majemuknya kehidupan bermasyarakat di negeri-negeri Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt; : Emansipasi wanita dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt; : Kebebasan berpendapat (secara mutlak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari sumber lain kita dapatkan empat agenda mereka adalah.&lt;br /&gt;[1]. Pentingnya konstekstualisasi ijtihad&lt;br /&gt;[2]. Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan&lt;br /&gt;[3]. Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama&lt;br /&gt;[4]. Permisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara [Lihat Greg Bertan, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, Pustaka Antara Paramadina 1999: XXI]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BAHAYA FIRQAH LIBERAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[1]. Mereka tidak menyuarakan Islam yang diridhai oleh Allah AzZa wa Jalla, tetapi menyuarakan pemikiran-pemikiran yang diridhai oleh Iblis, Barat dan pan Thaghut lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Mereka lebih menyukai atribut-atribut fasik dari pada gelar-gelar keimanan karena itu mereka benci kepada kata-kata jihad, sunnah, salaf dan lain-lainnya dan mereka rela menyebut Islamnya dengan Islam Liberal. Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman”. [Al-Hujurat : 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Mereka beriman kepada sebagian kandungan al-Qur’an dan meragukan kemudian menolak sebagian yang lain, supaya penolakan mereka terkesan sopan dan ilmiyah mereka menciptakan “jalan baru” dalam menafsiri al-Qur’an. Mereka menyebutnya dengan Tafsir Kontekstual, Tafsir Hermeneutik, Tafsir Kritis dan Tafsir Liberal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Musthofa Mahmud dalam kitabnya al-Tafsir al-Ashri-li al-Qur’an menafsiri ayat (Faq tho ‘u aidiyahumaa) dengan “maka putuslah usaha mencuri mereka dengan memberi santunan dan mencukupi kebutuhannya.” [Syeikh Mansyhur Hasan Salman, di Surabaya, Senin 4 Muharram 1423]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tafsir seperti ini juga diikuti juga di Indonesia. Maka pantaslah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Yang paling saya khawatirkan atas adaalah orang munafik yang pandai bicara. Dia membantah dengan Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang seperti inilah yang merusak agama ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Mereka mengklaim diri mereka sebagai pembaharu Islam padahal merekalah perusak Islam, mereka mengajak kepada kepada Al-Qur’an padahal merekalah yang mencampakkan Al-Qur’an”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian ? Karena mereka bodoh terhadap sunnah. [Lihat Ahmad Thn Umar al-Mahmashani: 388-389]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Mereka menolak paradigma keilmuwan dan syarat-syarat ijtihad yang ada dalam Islam, karena mereka merasa rendah berhadapan dengan budaya barat, maka mereka melihat Islam dengan hati dan otak orang Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Mereka tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya dan seluruh orang-orang mukmin. Bagi mereka pemahaman yang hanya mengandalkan pada ketentuan teks-teks normatif agama serta pada bentuk-bentuk Formalisme Sejarah Islam paling awal adalah kurang memadai dan agama ini akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif (Syamsul Arifin; Menakar Otentitas Islam LiberaL .Jawa Pos 1-2-2002). Mereka lupa bahwa sikap seperti inilah yang diancam oleh Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [An-Nisaa’ 115].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Mereka tidak memiliki ulama dan tidak percaya kepada ilmu ulama. Mereka lebih percaya kepada nafsunya sendiri, sebab mereka mengaku sebagai “pembaharu” bahkan “super pembaharu” yaitu neo modernis. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,” mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. [Al-Baqarah 11-13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Kesamaan cita-cita mereka dengan cita-cita Amerika, yaitu menjadikan Turki sebagai model bagi seluruh negara Islam. Prof. Dr. John L. Esposito menegaskan bahwa Amerika tidak akan rela sebelum seluruh negara-negara Islam tampil seperti Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]. Mereka memecah belah umat Islam karena gagasan mereka adalah bid’ah dan setiap bid’ah pasti memecah belah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]. Mreka memiliki basis pendidikan yang banyak melahirkan pemikir-pemikir liberal, memiliki media yang cukup dan jaringan internasional dan dana yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]. Mereka tidak memiliki manhaj yang jelas sehingga gagasannya terkesan “asbun” dan asal “comot” . Lihat saja buku Charless Kurzman, Rasyid Ridha yang salafi (revivalis) itupun dimasukkan kedalam kelompok liberal, begitu pula Muhammad Nashir (tokoh Masyumi) dan Yusuf Qardhawi (tokoh Ihwan al-Muslimin). Bahayanya adalah mereka tidak bisa diam, padahal diam mereka adalab emas, memang begitu berat jihad menahan lisan. Tidak akan mampu melakukannya kecuali seorang yang mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengucapkan yang baik atau hendaklah ia diam.” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim] (Lihat Husain al-Uwaisyah: 9 dan seterusnya]. Ahlul batil selain menghimpun kekuatan untuk memusuhi ahlul haq. Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. JIka kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” [Al-Anfaal : 73]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Ustadz Hartono Ahmad Jaiz menyebut mereka berbahaya sebab mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki aqidah yang mapan. [Lihat Bahaya Islam Liberal: 40, 64-65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari Majalah As Sunnah Edisi 04/VI/1423/2002M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]&lt;br /&gt;______&lt;br /&gt;Maraji’&lt;br /&gt;[1]. Arifin, Syamsul, Menakar Otenisitas Islam Liberal, Jawa Pos, 1-2-2002&lt;br /&gt;[2]. Al-Hanafi, Ali Ibn Abi Al-Izz, Tahzdib Syarah Ath-Thahawiyyah, Dar Al-Shadaqah, Beirut, cet.I 1995&lt;br /&gt;[3]. Al-Mahmashani, Ahmad Ibnu Umar, Mukhtashar Jami Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi, Tahqiq Hasan Ismail, Dar Al-Khair, Beirut cet.I 1994&lt;br /&gt;[4]. Al-Uwaisyah, Hasan, Hashaid Al-Aisum, Dar Al-Hijrah&lt;br /&gt;[5]. Husaini, Adnan, Islam Liberal dan Misinya, Makalah Diskusi Di Pesantren Tinggi Husnayain Jakarta 8 Januari 2002&lt;br /&gt;[6]. Imarah, Muhammad, Perang Terminologi Islam Versus Barat, terjemahan Musthalah Maufur, Rabbani Press, Jakarta 19998&lt;br /&gt;[7]. Jaiz, Hartono Ahmad, Bahaya Islam Liberal, Pustaka Al-kautsar cet II, 2002&lt;br /&gt;[8]. Kurzman, Charless, Wacana Islam Liberal, Paramadina Jakarta 2001&lt;br /&gt;[9]. Majid, Nurcholis, Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan, Mizan, Bandung cet III/1996&lt;br /&gt;[10]. Muadz, Muhammad Arkoum Anggitan Tentang Cara-Cara (Tafsir) Al-Qur’an, Jurnal Salam Umm Malang vol.3 No. 1/2000&lt;br /&gt;[11]. Ridawan, Nurcholis, Gado-Gado Islam Liberal, Majalah Sabili, No. 15 tahun IX, 25 Januari 2002&lt;br /&gt;[12]. Rahman, Fazlur, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, terjemahan Taufiq Adnan, Mizan, Bandung 1987&lt;br /&gt;[13]. Syaqfah, M Fahd, At-Tashawwuf Baina Al-Haqqi wa Al-Khalq, Dar Al-Salafiyah cet III 1983&lt;br /&gt;[14]. Watt, Wiliam M. Fundamentalisme Islam dan Modernitas, terjemahan Taufiq Adnan, Raja Grafindo Persada Jakarta, cet I 1997&lt;br /&gt;[15]. Zunaidi, Abd Rahman, Al-Salafiyah wa Qadhaya Al-Ashr, Dar Isbiliya, Riyadh cet I 1998&lt;br /&gt;http://ibnuramadan.wordpress.com/category/islam-liberal/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-3707453010203802272?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/3707453010203802272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-firqah-liberal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/3707453010203802272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/3707453010203802272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/bahaya-firqah-liberal.html' title='Bahaya Firqah Liberal'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LvZsLychnKU/TpQycLJhrbI/AAAAAAAAA7w/V61YxUVZE-I/s72-c/lib%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-3888970405622065349</id><published>2011-10-03T08:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T05:05:28.971-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='~ Faham Liberal ~'/><title type='text'>Inilah Akar Sejarah Munculnya Pemikiran Islam Liberal (JIL/ISLIB)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fW5gkOKsBhE/TpQw65DIEuI/AAAAAAAAA7k/n9UEyzCmfPs/s1600/Colorful_backgrounds.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fW5gkOKsBhE/TpQw65DIEuI/AAAAAAAAA7k/n9UEyzCmfPs/s320/Colorful_backgrounds.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662204419816035042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akar dan Wajah Pemikiran Islam Liberal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rimbun Natamarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menyangka, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jaringan Islam liberal&lt;/span&gt; muncul belakangan ini akibat kemunculan kelompok-kelompok Islam fundamentalis di Indonesia. Buktinya, ketika pemerintah Orde Baru masih berkuasa, belum ada Jaringan Islam Liberal. Demikian pula dengan kelompok-kelompok Islam fundamentalis, pada waktu itu belum menjamur atau, katakanlah, belum muncul dan tersebar seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, anggapan itu, ternyata, tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya pula salah. Dalam sejarah, pemikiran Islam liberal, kalau istilah ini bisa dan boleh dipakai, selalu muncul sebagai reaksi atas kemunculan pemikiran Islam fundamentalis. Semakin menjamur kelompok-kelompok Islam fundamentalis, semakin kuat pula dorongan untuk mengorganisasikan jejaring Islam liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, seolah-olah kemunculan Islam liberal di Indonesia terjadi setelah adanya persentuhan secara intens dengan Barat dan demokrasi yang ada di sana, sedangkan Islam fundamentalis muncul di Indonesia setelah terjadi persentuhan dengan Arab dan puritanisme di sana. Artinya, kemunculan masing-masing disebabkan oleh pengaruh yang datang dari luar, bukan dua hal yang murni dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu resensi terhadap buku Wajah Liberal Islam Di Indonesia (Teater Utan Kayu dan Jaringan Islam Liberal, Jakarta, 2002), Daniel Lev, salah seorang pengamat Indonesia mengatakan, ada beberapa sebab di balik kemunculan pandangan Islam liberal di Indonesia di awal milenium kedua ini dan sulit untuk menjawab kenapa sekarang. Yang jelas, kemunculan yang dimaksud adalah hasil rangkaian panjang pergulatan pemikiran Islam di Indonesia. Sebab-sebab pendorong kemunculan itu pun tergolong ke dalam “kebetulan-kebetulan sejarah” yang sulit untuk diprediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kordinator Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla&lt;/span&gt;, ketika diwawancarai Tempo terkait tulisan-tulisannya tentang wacana Islam liberal di media-media massa, mengakui, pemikiran dan kritiknya selama ini ditujukannya kepada kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, radikalisme Islam di Indonesia mulai bangkit ketika reformasi digulirkan pada 1998 yang lalu. Sejak saat itu, kelompok-kelompok Islam radikal bermunculan. Masing-masing menyeru agar umat Islam di Indonesia menegakkan syariat Islam. Oleh sebagian orang, mereka disebut dengan Islam fundamentalis.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert Hourani adalah salah seorang pengajar di Oxford’s Middle East Centre. Ia banyak mengkaji dan menulis tentang Timur Tengah. Ketika menulis Arabic Thought in the Liberal Age 1798 – 1939, ia menegaskan, dalam masyarakat Arab era liberal pernah muncul dan hidup selama beberapa waktu, sebelum kemudian tenggelam dan mengalami pertempuran sengit yang tak selesai-selesai sampai sekarang.&lt;br /&gt;Pemikiran-pemikiran Islam yang liberal, menurutnya, didorong pertama kali pada tahun 1798. Tahun ini adalah tahun ketika pasukan Napoleon Bonaparte menginjakkan kaki di Mesir. Dunia Arab kemudian menyaksikan era liberal yang ditandai dengan berkembangnya respon yang positif terhadap kemajuan Barat. Indutrialisasi, rasionalisasi, dan modernisasi adalah pilar-pilar kehidupan Barat yang menjadi perhatian bersama sebagian besar orang-orang Arab. Bagi mereka, ketiga pilar itu penting untuk kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat seperti itu, para pemikir muslim dan non-muslim bersama-sama mengadakan dialog secara bebas. Mereka tidak merasa khawatir untuk berlomba-lomba mengekspresikan secara bebas pemahaman mereka terhadap agama dan budaya di tengah-tengah masyarakat Arab. Berbagai wacana liberal silih berganti memenuhi tahun-tahun itu. Meski beberapa tokoh pemikir di antara mereka dikafirkan oleh tokoh-tokoh agama waktu itu, semangat kebebasan berpikir liberal tidak surut di antara mereka.&lt;br /&gt;Era liberal seperti itu baru berakhir pada 1939. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selama rentang 1798 – 1939, era itu dihuni oleh tiga generasi pemikir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Generasi pertama&lt;/span&gt; muncul dan mewarnai pemikiran-pemikiran pada 1830 – 1870. Mereka berpikir untuk menjawab pertanyaan “Mengapa dunia Barat maju?” dan “Mengapa pula dunia Arab dan Islam mundur?”. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, muncul beberapa pemikir yang mencoba memberi jawab. Di antara mereka yang terkenal adalah Rifa’ah Badawi Rafi’ Ath-Thahthawi (1801 – 1873), Khairuddin Pasya At-Tunisi (1825 (?) – 1889), Faris Asy-Syidyaq (1804 – 1887) dan Butrus Al-Bustani (1819 – 1883).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Generasi kedua&lt;/span&gt; muncul pada rentang 1870 – 1900. Mereka mulai muncul dengan beberapa wacana yang lebih berani. Soal ketertinggalan Arab dan Islam dari Barat masih dibicarakan oleh generasi ini. Mereka juga memikirkan rasionalisme Barat yang perlu diterapkan dalam menjalankan Islam. Artinya, akal perlu dipakai untuk menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits. Selain itu, wacana yang mulai muncul adalah masalah persamaan gender. Pada rentang waktu inilah, dibahas isu-isu emansipasi wanita di tengah-tengah masyarakat Arab pada umumnya dan masyarakat muslim secara khusus. Di antara pemikir-pemikir generasi kedua ini adalah Jamaluddin Al-Afghani (1839 – 1897), Muhammad Abduh (1848 – 1905), dan Qasim Amini (1865 – 1908).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Generasi ketiga&lt;/span&gt; merentang pada 1900 – 1939. Rentang ini adalah puncak era liberal di dunia Arab sekaligus menandai akhir era itu. Berbagai wacana liberal muncul dan dipikirkan. Namun, tema tentang kekhalifahan Islam (Apakah kekhalifahan Islam perlu bagi masyarakat Arab dan Islam?) adalah yang sering mendatangkan perdebatan sengit di antara mereka. Memasuki dasawarsa 1920-an, wacana mulai mengerucut menjadi wacana-wacana politis. Muncul isu-isu tentang nasionalisme, baik itu nasionalisme Arab, nasionalisme Turki atau bahkan nasionalisme Mesir. Keadaan ini kemudian diikuti wacana-wacana yang bersifat fundamental; mereka mulai meninggalkan upaya-upaya rasionalisasi dan modernisasi dalam beragama. Di antara tokoh-tokoh pemikir pada generasi ketiga adalah Muhammad Rasyid Ridha (1865 – 1935), Ali Abdurraziq (1888-1966), dan Thaha Husain (1889 – 1973).&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir generasi ketiga era liberal itu bukan berarti matinya pemikiran liberal dalam Islam selama-lamanya. Kemunculan gerakan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Takfir wal Hijrah, dan juga negara Israel adalah beberapa sebab signifikan yang mendorong kebangkitan kembali pemikiran liberal di dunia Arab dan terkhusus lagi di tengah-tengah kaum muslimin di dunia. Tampil dengan corak yang lebih baru, era liberal yang kedua dimulai ketika negara-negara Arab kalah dalam Perang Tujuh Hari melawan Israel pada 1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, setelah kekalahan itu, muncul tulisan-tulisan dengan semangat yang sama ketika era liberal pertama berlangsung. Di antara nama terkenal yang membawa semangat ini adalah Zaki Najib Mahmud, Najib Mahfouz, Nawal el Sadawi, Hassan Hanafi, Muhammad Arkoun, Adonis, Nashr Hamid Abu Zaid, dan Khalid Abul Fadhl. Pemikiran-pemikiran mereka menyebar ke negara-negara Islam seperti Indonesia. Tulisan-tulisan mereka dikaji dalam diskusi-diskusi, bahkan kadang kala beberapa pemikir itu pun diundang untuk berbicara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Indonesia sendiri, menurut Ulil Abshar Abdalla, tradisi liberal sebenarnya sudah ada di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Sejak 1980-an, banyak isu-isu sensitif dalam Islam yang dipecahkan oleh NU dengan tidak biasa. Mulai dari Pancasila sebagai asas tunggal, bunga bank, bank konvensional, sampai ke isu insklusivisme Islam Indonesia. Wajar, jika citra NU sebagai organisasi Islam tradisionalis sudah lama, kiranya, harus ditinggalkan. Sejak 1970-an, mereka sudah dapat dikata mengisi posisi yang pernah ditempati Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis) pada 1920-an dulu. Greg Burton, penulis biografi Gus Dur, malah yakin, posisi sebagai kelompok Islam konservatif sekarang ini justru dipegang oleh Muhammadiyah dan Persis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum wacana Islam liberal—yang akan melahirkan Jaringan Islam Liberal—muncul pertama kali dalam bentuk mailing list di islamliberal@yahoogroups.com pada tahun 2001, istilah Islam liberal sendiri muncul pertama kali waktu Greg Barton menyebut istilah itu dalam bukunya, Gagasan Islam Liberal di Indonesia (Paramadina: 1999). Mailing list Islam liberal yang muncul dua tahun setelah itu, ternyata, mampu bertahan lama dan menjadi wadah diskusi yang aman antara mereka. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari diskusi-diskusi yang terjadi, tergagaslah keinginan untuk membentuk suatu wadah yang bernama Jaringan Islam Liberal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring tahun-tahun yang berlalu, wadah yang dimaksud berkembang dan mendapat simpati dari banyak pihak di dalam dan luar negeri, baik dari kalangan muslim sendiri maupun kalangan non-muslim. Mereka memiliki kegiatan yang beragam. Diskusi-diskusi, penerjemahan dan penerbitan buku-buku, pengadaanwebsite islamlib.com (?) adalah beberapa kegiatan pokok yang kerap dilakukan. Mereka yang tergabung ke dalam Jaringan Islam Liberal pun banyak menuangkan pemikiran-pemikiran mereka ke berbagai media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, buku-buku yang mengangkat wacana Islam liberal telah terbit sejak 1999. Seperti yang telah lewat, buku Gagasan Islam Liberal Greg Barton, agaknya, yang menempati urutan pertama kemunculan. Menyusul setelah itu karya Charles Kurzman yang berjudul Wacana Islam Liberal dan diterbitkan Paramadina pada 2001. Beberapa bulan setelah berdirinya Jaringan Islam Liberal, terbitWajah Liberal Islam di Indonesia yang disunting oleh Lutfi Asysyaukanie, seorang kontributor tulisan diwebsite Jaringan Islam Liberal, dan diterbitkan Teater Utan Kayu dan Jaringan Islam Liberal pada 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir 2002, terbit rangkaian tulisan Ulil Abshar Abdalla di Kompas yang banyak menuai reaksi dari berbagai pihak. Sebagian reaksi-reaksi yang dimaksud berupa artikel-artikel di media massa. Ada yang mendukung, ada pula yang menentang. Pada Februari 2003, antologi tulisan-tulisan itu, termasuk tulisan Ulil Abshar Abdalla, dibukukan dengan judul Islam Liberal dan Fundamental (Sebuah Pertarungan Wacana) oleh penerbit ElsaQ di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doktor Abd. A’la mencoba merekonstruksi akar Islam liberal sejak kemunculan wacana neo-modernisme dalam pentas pemikiran Islam di Indonesia pada 1970-an lewat bukunya, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal; Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia yang diterbitkan Paramadina pada 2003. Ia melihat jejak-jejak pemikiran Fazlur Rahman, seorang tokoh pemikir dari Pakistan, dalam semua wacana itu.&lt;br /&gt;Setelah menerbitkan Wajah Liberal Islam di Indonesia pada 2001, Jaringan Islam Liberal bekerjasama dengan The Asia Foundation kembali membukukan kumpulan tulisan yang berjudul Syariat Islam, Pandangan Muslim Liberal pada 2003. Buku ini berisi pandangan-pandangan Al Asymawi, Saiful Mujani, Azyumardi Azra, Taufik Adnan Amal, Ulil Abshar-Abdalla dan sejumlah penulis lain tentang syariat Islam. Tulisan-tulisan tersebut muncul sebagai tanggapan terhadap menguatnya keinginan untuk memformalkan syariat Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ruang sejarah pemikiran, akhirnya, pentas pemikiran Islam liberal diramaikan kembali oleh bukuPemikiran Liberal di Dunia Arab yang ditulis oleh Albert Hourani. Buku ini adalah terjemahan Arabic Thought in the Liberal Age 1798 – 1939 yang diterbitkan atas kerjasama antara Freedom Institute, Royal Danish Embassy, dan penerbit Mizan pada Juli 2004. Luthfi Assyaukani yang memberikan kata pengantar penerbitan buku ini mengatakan, buku Arabic Thought in the Liberal Age 1798 – 1939 yang diterbitkan sejak 1962 adalah karya klasik tentang akar-akar pemikiran para pemikir liberal di dunia Arab dan Islam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat wajah Islam liberal di Indonesia akan mengantarkan kita pada wajah Islam radikal atau Islam fundamentalis di sisi lain. Meski Islam fundamentalis, yang pada masa Orde Baru sering disebut dengan kelompok ekstrem kanan, sudah ada sejak dulu, kemunculannya dua belas tahun belakangan ini memberi warna tersendiri dalam sejarah Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melihat kemunculan mereka itu sebagai sebuah fenomena yang mesti diperhitungkan dan, karena itu, didokumentasikan. Lewat penelitian yang dilakukan tim ilmuwan sosial LIPI, dokumentasi itu ada untuk kemudian dibukukan menjadi Islam dan Radikalisme di Indonesia pada April 2005. Buku ini terbit atas kerjasama antara LIPI Press dan Yayasan Obor Indonesia.[]&lt;br /&gt;Sumber :  http://sejarah.kompasiana.com/2011/02/01/akar-dan-wajah-pemikiran-islam-liberal/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-3888970405622065349?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/3888970405622065349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/inilah-akar-sejarah-munculnya-pemikiran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/3888970405622065349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/3888970405622065349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/10/inilah-akar-sejarah-munculnya-pemikiran.html' title='Inilah Akar Sejarah Munculnya Pemikiran Islam Liberal (JIL/ISLIB)'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fW5gkOKsBhE/TpQw65DIEuI/AAAAAAAAA7k/n9UEyzCmfPs/s72-c/Colorful_backgrounds.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-294711565997690759</id><published>2011-09-14T18:32:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T06:37:20.106-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mutiara Ilmu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat-Nasihat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi Ilmu'/><title type='text'>Wasiat-Wasiat Generasi Salaf</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-NpQ_6DlLSo4/TosL7br67PI/AAAAAAAAA7U/6IVt4D6XWAs/s1600/diamond7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 215px; height: 235px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NpQ_6DlLSo4/TosL7br67PI/AAAAAAAAA7U/6IVt4D6XWAs/s320/diamond7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659630472393321714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;GENERASI SALAF SEBAGAI GENERASI PILIHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah : 100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam mengemban risalah ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik”. Sungguh sebuah ucapan yang pantas di tulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAF DAN TAZKIYATUN NUFUS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama dengan ilmu. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَمَآأَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّالَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [Al-Baqarah : 151]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama salaf tentang kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu’an dan kebersihan jiwa mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah. Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: “Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita?” beliau menjawab: “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha manusia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAF DAN KEGIGIHAN DALAM MENUNTUT ILMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi berkata: "Ya'qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata: "Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: "Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits!" Beliau berkata: "Bacalah!"&lt;br /&gt;"Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku!" jawabku.&lt;br /&gt;"Bacalah!" kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau. Akhirnya ia berkata: "Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas kali!" Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata: "Saya telah mencambuknya!" Maka aku berkata kepada beliau: "Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan tuan!"&lt;br /&gt;"Apa tebusannya?" tanya beliau.&lt;br /&gt;"Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!" jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: "Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku!" Imam Malik hanya tertawa dan berkata: "Pergilah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAF DAN KEIKHLASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: “Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar-Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: “Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: “Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Muadz berkata: “Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Utsman Sa’id bin Al-Haddad berkata: “Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi’ bin Shabih menuturkan: “Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAF DAN TAUBAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGIS GENERASI SALAF&lt;br /&gt;Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” [Al-Ahzab : 33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah Radhiyallahu 'anha menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu, ketika membaca ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” [Al-Hadid : 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” [Al-Muthaffifiin : 5-6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAF DAN TAWADHU'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernah disebut-sebut tentang tawadhu’ di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu’!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu’ wahai Abu Sa’id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: “Apa itu tawadhu’?” Ia menjawab: “Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutharrif bin Abdillah berkata: “Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAF DAN SIFAT SANTUN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: “Apakah engkau gila!” Umar menjawab: “Tidak” Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: “Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SALAF DAN SIFAT ZUHUD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: “Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M]&lt;br /&gt;http://almanhaj.or.id/content/3029/slash/0&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-294711565997690759?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/294711565997690759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/09/wasiat-wasiat-generasi-salaf.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/294711565997690759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/294711565997690759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/09/wasiat-wasiat-generasi-salaf.html' title='Wasiat-Wasiat Generasi Salaf'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NpQ_6DlLSo4/TosL7br67PI/AAAAAAAAA7U/6IVt4D6XWAs/s72-c/diamond7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-4862405336644694953</id><published>2011-08-04T09:40:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T06:45:08.206-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keutamaan Ilmu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halangan-Halangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adab-Adab Penuntut Ilmu'/><title type='text'>Lenyapnya Keberkahan Ilmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-wVrPp8SqsMw/TosNy83JSKI/AAAAAAAAA7c/lRKi7sUW9D4/s1600/g1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-wVrPp8SqsMw/TosNy83JSKI/AAAAAAAAA7c/lRKi7sUW9D4/s320/g1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659632525703202978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seorang penuntut ilmu&lt;/span&gt;, tentu tidak menginginkan ilmunya hilang begitu saja tanpa bekas. Terlebih lagi, jika yang hilang itu adalah keberkahan ilmunya. Alias ilmu yang dipelajarinya tidak menambah dekat dengan Allah ta’ala, namun justru sebaliknya, wal ‘iyadzu billah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit, kita jumpai para penuntut ilmu syar’i yang berusaha untuk mengkaji kitab para ulama, bahkan bermajelis dengan para ulama dalam rangka menyerap ilmu dan arahan mereka. Tentu saja, perkara ini adalah sesuatu yang sangat-sangat harus kita syukuri. Karena dengan kokohnya ilmu dalam diri setiap pribadi muslim, niscaya agamanya akan tertopang landasan yang kuat. Sering kita dengar, ucapan yang sangat populer dari seorang Imam, Amirul Mukminin dalam bidang hadits, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari rahimahullah di dalam Kitab Shahihnya yang menegaskan, “Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, perkataan Imam Ahlus Sunnah di masanya Ahmad bin Hanbal rahimahullahyang sangat terkenal, “Umat manusia sangat membutuhkan ilmu jauh lebih banyak daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari cukup sekali atau dua kali. Adapun ilmu, maka ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” (lihat al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, tahqiq Syaikh Ali al-Halabi hafizhahullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, tatkala ilmu yang dikaji, dihafalkan, dan didalami itu tidak sampai meresap serta tertancap kuat ke dalam lubuk hati, maka justru musibah dan bencana yang ditemui. Tidakkah kita ingat ungkapan emas para ulama salaf yang menyatakan, “Orang-orang yang rusak di antara ahli ilmu kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka pada dirinya terdapat kemiripan dengan Nasrani.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id min Surah al-Fatihaholeh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah). Apa yang mereka katakan adalah kenyataan yang amat sering kita jumpai. Itu bukanlah dongeng atau cerita fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saudaraku, semoga Allah menjaga diriku dan dirimu&lt;/span&gt;… Masih tersimpan dalam ingatan kita, doa yang sepanjang hari kita panjatkan kepada Allah, “Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka, dan bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula orang-orang yang sesat (Nasrani).” Inilah doa yang sangat ringkas namun penuh dengan arti. Bahkan, Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani rahimahullah pun menyebutnya sebagai doa yang paling bermanfaat, mengingat kandungannya yang sangat dalam dan berguna bagi setiap pribadi. Kaum Yahudi dimurkai karena mereka berilmu namun tidak beramal. Adapun kaum Nasrani tersesat karena mereka beramal tanpa landasan ilmu. Maka, orang yang berada di atas jalan yang lurus adalah yang memadukan antara ilmu dan amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah, kita mengetahui, bahwa hakekat keilmuan seseorang tidak diukur dengan banyaknya hafalan yang dia miliki, banyaknya buku yang telah dia beli, banyaknya kaset ceramah yang telah dia koleksi, banyaknya ustadz atau bahkan ulama yang telah dia kenali, tidak juga deretan titel akademis yang dibanggakan kesana-kemari. Kita masih ingat, ucapan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu, “Bukanlah ilmu itu diukur dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi pokok dari ilmu adalah khas-yah/rasa takut -kepada Allah-.” (lihat al-Fawa’id karya Ibnul Qayyimrahimahullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itulah, kita dapati para ulama salaf sangat keras dalam berjuang menggapai keikhlasan dan menaklukkan hawa nafsu serta ambisi-ambisi duniawi. Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, beliau berkata, “Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih berat daripada niatku.” (lihat Hilyah Thalib al-’Ilm oleh Syaikh Bakr Abu Zaidrahimahullahu rahmatan wasi’ah).  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhlas,&lt;/span&gt; bukanlah ucapan yang terlontar di lidah, huruf yang tertulis dalam catatan, banyaknya harta yang telah kita sumbangkan untuk kebaikan, lamanya waktu kita berdakwah, atau penampilan fisik yang tampak oleh mata. Ikhlas adalah ‘permata’ yang tersimpan di dalam hati seorang mukmin yang merendahkan hati dan jiwa-raganya kepada Rabb penguasa alam semesta. Inilah kunci keselamatan dan keberhasilan yang akan menjadi sebab terbukanya gerbang ketentraman dan hidayah dari Allah ta’ala. Allahta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan memperoleh keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan hidayah.” (QS. al-An’am: 82). Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari [kiamat] tidak lagi berguna harta dan keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara’: 88-89). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Sementara kita semua mengetahui, bahwa tanpa keikhlasan tak ada amal yang akan diterima, Allahul musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga masih ingat, nasehat emas Ahli Hadits kontemporer yang sangat terkenal Syaikh al-Albani rahimahullah di dalam kitab-kitabnya supaya kita tidak menjadi orang yang memburu popularitas. Beliau mengutip ungkapan para ulama kita terdahulu, Hubbuzh zhuhur yaqtha’uzh zhuhur, “Menyukai ‘ketinggian’ akan mematahkan punggung.”Maknanya, gila popularitas akan menyebabkan kebinasaan, kurang lebih demikian… Allah berfirman (yang artinya), “Berikanlah peringatan, sesungguhnya peringatan itu akan berguna bagi orang-orang yang beriman.” (QS. adz-Dzariyat: 55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhlas&lt;/span&gt; -wahai saudaraku- … adalah rahasia kesuksesan dakwah nabi dan rasul serta para pendahulu kita yang salih. Berapapun jumlah orang yang tunduk mengikuti seruan mereka, mereka tetap dinilai berhasil dan telah menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka tidak dikatakan gagal, meskipun ayahnya  sendiri produsen berhala, meskipun anaknya sendiri menolak perintah Rabbnya, meskipun pamannya sendiri tidak mau masuk Islam yang diserukannya, meskipun tidak ada pengikutnya kecuali satu atau dua saja, bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali…! Mereka, adalah suatu kaum yang mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah karena keikhlasan dan ketaatan mereka kepada Rabbnya, karena ilmu dan amalan yang mereka miliki. Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka itulah yang akan bersama dengan kaum yang mendapatkan kenikmatan dari Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. an-Nisaa’: 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita memang ikhlas -wahai saudaraku- niscaya kita akan merasa senang apabila saudara kita mendapatkan hidayah, entah itu melalui tangan kita atau tangan orang lain… Kalau kita memang ikhlas -wahai saudaraku- maka amalan sekecil apapun tidak akan pernah kita sepelekan! Ibnu Mubarak rahimahullah mengingatkan, “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam oleh Ibnu Rajab). Semoga Allah memberikan karunia keikhlasan kepada kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://abumushlih.com/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5926065296568309571-4862405336644694953?l=motivasi-ilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/feeds/4862405336644694953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/08/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/4862405336644694953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5926065296568309571/posts/default/4862405336644694953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://motivasi-ilmu.blogspot.com/2011/08/lenyapnya-keberkahan-ilmu.html' title='Lenyapnya Keberkahan Ilmu'/><author><name>NbI @ NuRiHSaN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10491503658899380395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-79H0BSB7dsg/TueIV-k-uMI/AAAAAAAABCg/4dK-_aHx7NA/s220/diamond7nur1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wVrPp8SqsMw/TosNy83JSKI/AAAAAAAAA7c/lRKi7sUW9D4/s72-c/g1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5926065296568309571.post-8985769434564624292</id><published>2011-04-08T07:31:00.000-07:00</published><updated>2011-04-08T10:48:39.188-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keutamaan Ilmu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat-Nasihat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nilainya Ilmu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu Yang Bermanfaat'/><title type='text'>Bencana…!!! Banyak Ilmu Namun Tanpa Amal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-AJbrl_rqSyE/TZ9J7gCHrzI/AAAAAAAAA6E/sGp4HQoCwiE/s1600/ilmu4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AJbrl_rqSyE/TZ9J7gCHrzI/AAAAAAAAA6E/sGp4HQoCwiE/s320/ilmu4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593270548777381682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Syaikh Abdurrozzaq, sebagaimana pengakuan sebagian teman yang pernah dekat dengan beliau, bahwasanya beliau bukanlah orang yang paling ‘alim di kota Madinah, bahkan bukan pula orang yang paling ‘alim di Universitas Islam Madinah, karena pada kenyataannya masih banyak ulama lain lebih unggul daripada beliau dari sisi keilmuan. Akan tetapi yang menjadikan beliau istimewa di hati para mahasiswa adalah perhatian beliau terhadap amal, takwa, dan akhlak. Hal ini tidak mengherankan karena seringkali wejangan-wejangan beliau tentang perhatian pada mengamalkan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kurang lebih 9 tahun, beliau mengajar sebuah kitab tentang adab karya Imam Al-Bukhari yang berjudul Al-Adab Al-Mufrad di masjid Universitas Islam Madinah, setiap hari Kamis setelah shalat Shubuh. Selama tiga tahun beliau mengajar kitab yang sama di Masjid Nabawi. Ini semua menunjukkan perhatian beliau terhadap adab dan akhlak mulia. Bahkan, saat beliau mengisi di Radio Rodja dan waktu itu tidak ada materi yang siap untuk disampaikan, serta kebetulan salah seorang pembawa acara ingin ada pengajian khusus tentang tanya jawab dengan diberi sedikit mukadimah, maka beliau langsung setuju, dan mukadimah yang beliau bawakan adalah tentang pentingnya mengamalkan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Orang yang Tidak Shalat Shubuh Berjamaah Bukanlah Penuntut Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrozaq pernah mengunjungi suatu kampung yang terkenal memiliki banyak penuntut ilmu. Maka beliau pun shalat di masjid tersebut. Di sana, beliau bertemu seorang kakek, lantas beliau berkata seraya memberi kabar gembira kepada sang Kakek, “Masya Allah, kampung Kakek banyak sekali penuntut ilmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sang Kakek malah menimpali dengan perkataan sinis, “Tidak ada tullabul ‘ilm (para penuntut ilmu) di kampung ini. Sebab, orang yang tidak shalat shubuh berjamaah bukan penuntut ilmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrozaq tertegun mendengar kalimat sang Kakek. Rupanya benar, banyak penuntut ilmu di kampung tersebut tidak menghadiri shalat shubuh berjamaah. Syaikh pun membenarkan perkataan sang Kakek, “Anda benar, bahwa ilmu itu untuk diamalkan. Bahkan bisa jadi kita mendapatkan seorang penuntut ilmu semalam suntuk membahas tentang hadits-hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan shalat Shubuh secara berjamaah, bahkan bisa jadi dia menghafalkan hadits-hadits tersebut di luar kepalanya. Akan tetapi tatkala tiba waktu mengamalkan hadits-hadits yang dihafalkannya itu, dia tidak mengamalkannya, malah ketiduran, tidak shalat shubuh berjamaah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memang benar bahwasanya tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan.&lt;/span&gt; Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ&lt;br /&gt;Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu. (HR Muslim no 223)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat nasihat Syaikh Utsaimin yang disampaikan di hadapan para mahasiswa Universitas Islam Madinah, bahwasanya ilmu itu hanya akan memberi dua pilihan, dan tidak ada pilihan ketiga, yaitu: [1] menjadi pembela bagi pemiliknya atau [2] akan menyerangnya pada hari kiamat jika tidak diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak menuntut ilmu hanya untuk menambah wawasannya, tetapi dengan niat untuk diamalkan agar tidak menjadi bumerang yang akan menyerangnya pada hari kiamat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita renungkan…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa lama kita ikut pengajian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa kitab yang kita baca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa muhadhorah yang kita dengarkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh suatu kenikmatan ketika seseorang bisa aktif ikut pengajian, akan tet
