MusicPlaylistRingtones

Friday, January 14, 2011

Tingkatan Pemikiran Orang-Orang Sufi


Pada artikel yang lalu telah disebutkan bahwa aliran sufi itu dimulai dari sikap berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia, kemudian membuka pintu bid’ah gagasan bahwa ketuhanan bersemayam dalam makhluk (al-hulul), sampai gagasan bahwa semua makhluk adalah satu hakikat, yang merupakan Alloh (wihdatul wujud). Dari percampuran semua pemikiran ini lahir aliran sufi, yang muncul dalam Islam. Aliran ini kemudian semakin jauh dari petunjuk Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah yang murni. Sampai para pengikut aliran sufi menyebut semua yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah sebagai ‘ahli syari'at’ dan ‘ahli tekstual’ (ahlul-dhaahir), sedangkan mereka menyebut diri mereka sebagai ‘ahli hakikat’ dan ‘orang yang punya pengetahuan tersembunyi’ (ahlul-batin).

Mungkin untuk membagi pemikiran ideologi (madzhab) sufiyah ekstrim kepada tiga 3 kategori, yaitu:

(1) kategori pertama: Pengikut sekolah isyroqi filosofi. Mereka adalah orang yang memberikan perhatian terbesar tehadap gagasan filosof melebihi dari yang lainnya bersamaan dengan sikap menjauhi kehidupan dunia. Yang dimaksud dengan Isyroqi (penerangan) adalah penerangan jiwa yang diterangi dengan cahaya, dan merupakan hasil dari latihan jiwa, pelatihan ruh dan menghukum badan untuk membersihkan dan menyucikan jiwa.

Ini mungkin merupakan ciri semua orang sufi. Namun orang sufi kategori (pertama) ini berhenti pada batasan ini saja, dan tidak terjatuh pada pendapat yang menyatakan Alloh bersemayam didalam ciptaan-Nya (al-hulul), atau yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu adalah Alloh (wihdatul wujud). Namun jalan mereka ini bertentangan dengan ajaran Islam dan diambil dari agama-agama yang menyimpang seperti ajaran budha dan semisalnya.

(2) ideologi kedua adalah ideologi orang yang meyakini hulul, yang mengatakan bahwa Alloh bersemayam dan merupakan perwujudan ingkarnasi dari kejadian manusia, Maha tinggi Alloh dari yang mereka sifatkan. Seruan ini dinyatakan secara terang-terangan oleh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj yang dicap kafir oleh ulama. Mereka para ulama memerintahkan untuk mengeksekusi dan menyalibnya pada tahun 309 H.
Al-Hallaj berkata:
“Maha suci Allah yang nasuut-Nya telah menampakkan
rahasia cahaya laahuut (ilahiyah)-Nya,
Kemudian Dia menampakkan diri kepada makhluk-Nya
dalam wujud orang yang makan dan minum,
Sehingga ciptaan-Nya bisa melihat-Nya secara jelas
seperti pandangan mata dengan pandangan mata” (Ath Thawaasin hal. 129)

Dia juga berkata:
“Saya adalah seorang yang mencintai dan seseorang yang dicintai adalah aku,
kami adalah dua jiwa yang mendiami pada badan tunggal.
Maka ketika kamu melihatku, kamu melihat Dia,
dan ketika kamu melihat Dia, kamu melihat kami berdua.”

Al-Hallaj ini adalah penganut pemahaman hulul. Dia mempercayai tentang dualisme alam ketuhanan (ilahiyah), dan bahwa Ilah (tuhan) itu mempunyai alam ketuhanan (lahuut) dan alam manusia (nasuut). Ketuhanan bersemayam di dalam manusia, sehingga jiwa manusia adalah hakekat alam ketuhanan, sedang badannya adalah bentuk alam manusianya (nasuutnya).

Meskipun dia dibunuh karena kezindiqannya (kemurtadan munafik) dan beberapa kalangan sufi menyatakan diri mereka terbebas dari dia, namun masih ada kalangan orang sufi yang menganggapnya sebagai seorang sufi, membenarkan keyakinannya, dan mengambil pendapatnya. Diantara mereka adalah Abdul-'Abbas bin 'Ata Al-Baghdadiy, Muhammad bin Khafif Ash-Shirazi dan Ibrahim An-Nasrabadzi, sebagaimana dinukilkan Al-Khatib Al-Baghdadiy.

(3) ideologi ketiga adalah wihdatul wujud, yaitu bahwa semua wujud adalah hakekat tunggal, dan bahwa segala sesuatu yang kami lihat hanyalah sisi keberadaan Alloh. Pentolan yang menyatakan keyakinan ini adalah Ibnu 'Arobi Al-Hatimi At-Thoi, yang dikubur di Damaskus, mati tahun 638 H. Dia sendiri mengatakan keyakinannya ini di Kitabnya Al-Futuhat Al-Makkiyyah:
Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Duhai siapa yang dibebani (ibadah)?
Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul.
Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani?

Dia juga berkata di Al-Futuhat:
"Orang-orang yang mengibadahi anak sapi, mereka ini tidak mengibadahi kecuali Alloh.”

Ibn ‘Arabi ini disebut sebagai Al-‘Arif billaah (orang yang mempunyai ma’rifat tentang Alloh) oleh Orang-orang sufi. Dia juga disebut Al-Qutub Al-Akbar’ (poros terbesar), Al-Misk Al-Azhfar (Misik terharum), Al-Kibrit Al-Ahmar (belerang merah), padahal dia menyerukan wihdatul wujud dan perkataan celaka yang lain. Dia memuji Fir'aun dan menyatakan bahwa Fir’aun meninggal di atas keimanan! Dia juga mencela Nabi Harun yang mengingkari kaumnya ketika mereka menyembah patung anak sapi, yang ini jelas menyelisihi nas Al-Qur’an. Dia juga berpendapat hanya kaum nasrani (Kristen) saja yang kafir, karena mereka mengkhususkan uluhiyah (pengibahan) hanya kepada Nabi Isa, namun jika mereka menjadikannya umum (mengibadahi semua makhluk) mereka tidak kafir.

Meskipun sangat jelas kesesatan Ibnu ‘Arobi dan pernyataan para ulama bahwa dia kafir, namun orang-orang sufi senantiasa mensucikannya.

Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi tadi, juga berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !” (Fushushul Hikam).
Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah orang-orang sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?!

Ibnu ‘Arabi juga berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al Futuhat Al Makkiyyah).

Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56).
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93).

Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zorodoaster, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.

Padahal Allah Ta’ala berfirman :
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran : 85)

Tidakkah orang-orang yang terpengaruh dengan tasawwuf sadar akan kesesatan sufiyah yang diucapkan para tokoh sufiyah ini?! Tidakkah mereka mengambil pelajaran??!

http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2009/10/tingkatan-pemikiran-orang-orang-sufi.html#ixzz1CoKaH3v6

Wednesday, January 12, 2011

Fatwa Imam As-Syafi'i Tentang Tasawuf


Imam Asy-Syafii tentang Sufiyah (Tasawwuf)

Imam Syafii telah mencela sufiyah (shufiyyah) karena kesesatan mereka. Beliau telah menyebutkan ciri-ciri mereka untuk memperingatkan agar tidak tertipu dengan mereka dan masuk ke dalam bid’ah sufiyah.
Hal ini nampak sangat jelas dalam teks-teks ucapan beliau tentang firqoh (golongan, sekte) ini.
Di antara ucapan beliau:

1. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Yunus bin Abdil A’la, dia berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata: “Kalau seorang menganut ajaran tasawuf (tashawwuf) pada awal siang hari, tidak datang waktu zhuhur kepadanya melainkan engkau mendapatkan dia menjadi dungu.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)

Dungu adalah sedikitnya akal. Dan itu adalah penyakit yang berbahaya.
Tidaklah aneh ahli tasawwuf dalam waktu kurang dari sehari akan menjadi orang yang dungu. Tulisan-tulisan mereka sendiri menjadi saksi tentang hal itu.

An-Nabhani -seorang sufi- dalam kitabnya yang penuh dengan khurofat, kezindiqan, dan kesesatan; yang berjudul Jami’ Karomat Auliya tentang biografi Ahmad bin Idris, dia berkata:

[Di antara karomahnya yang agung yang tidak bakal dicapai kecuali oleh orang-orang tertentu adalah berkumpulnya dia dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan bangun (terjaga), kemudian dia mengambil wirid-wiridnya, hizb-hizbnya dan sholawatnya yang masyhur dari beliau secara langsung ......
Dia (Ahmad bin Idris) diuji dengan hilangnya indera dengan benda-benda yang ada. Kemudian dia mengeluhkan kepada sebagian guru-gurunya. Kemudian sang guru berkata: ‘Kaana (Jadilah dia).’ Ahmad bin Idris menceritakan dirinya: Maka dengan semata ucapan sang guru “kaana”, hilang dariku semua rasa sakit, kemudian aku bangkit waktu itu juga dan jadilah aku seperti orang yang tidak ditimpa sesuatupun. Aku memuji Allah. Dan aku mengetahui bahwa telah pasti apa yang dikatakan para tokoh sufi: Awal jalan adalah junun (kegilaan), pertengahannya funun, dan akhirnya ‘kun fa yakun’.”]

Perkataan ini tidak pernah diucapkan oleh seorang yang berakal sama sekali. Karena tidak ada yang berhak dengan sifat seperti ini -yaitu mengucapkan kepada sesuatu ‘kun fa yakun’ selain Allah. Allah berfirman tentang Diri-Nya:
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (Kun fa Yakun). (Yasin: 82)
Mereka –ahil tasawwuf- telah mengakui bahwa diri mereka adalah gila.
Sehingga tidak keliru ketika Imam Asy-Syafii mengatakan: “Tidaklah aku melihat seorang sufi yang berakal sama sekali.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)

2. Imam Asy-Syafii rohimahulloh berkata: “Tidaklah ada seorang yang berteman dengan orang-orang sufi selama 40 (empat puluh) hari, kemudian akalnya akan kembali selama-lamanya.”

Dan beliau membacakan syair:
ودع الذين اذا أتوك تنسكوا ... واذا خلوا فهم ذئاب خفاف
Tinggalkan orang-orang yang bila datang kepadamu menampakkan ibadah
Namun jika bersendirian, mereka serigala buas
(Talbis Iblis hal. 371)

3. Imam Asy-Syafii juga berkata: “Dasar landasan tasawwuf adalah kemalasan.” (Al-Hilyah 9/136-137)

Kenyataan sufiyah menjadi saksi apa yang dikatakan Imam Asy-Syafii bahwa dasar landasan mereka adalah malas. Mereka adalah orang yang paling rajin dalam menunaikan bid’ah dan penyelisihan syariat. Dan mereka juga orang yang paling sangat malas dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menghidupkan sunnah-sunnah nabi (tuntunan-tuntunan nabi) shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sebagai tambahan... suatu waktu Imam Waki’ (salah satu guru Imam Asy-Syafii) berkata kepada Sufyan bin ‘Ashim: “Kenapa engkau meninggalkan hadits Hisyam?” Sufyan bin Ashim menjawab: “Aku berteman dengan satu kaum dari sufiyyah, dan aku merasa kagum dengan mereka, kemudian mereka berkata: ‘Jika kamu tidak menghapus hadits Hisyam, kami akan berpisah denganmu’.” Maka Imam Waki’ berkata: “Sesungguhnya ada kedunguan pada mereka.” (Talbis Iblis hal 371-372)

Insya Allah menyusul perkataan imam ahlussunnah wal jamaah -imam salaf- yang lainnya tentang sufiyyah.

Baca selanjutnya" Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Madzhab Asy-Syafiiyyah: Imam Asy-Syafii tentang Sufiyah (Tasawwuf) http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2009/09/imam-asy-syafii-tentang-sufiyah.html#ixzz1Co0XFqBm

Tuesday, January 11, 2011

Asal Usul Aliran Sufi


Asal-usul Aliran Sufi

Mengapa disebut dengan nama itu? Kata sufi diambil dari sebuah kata yunani 'Sophia' yang bermakna kebijaksanaan. Dikatakan juga bahwa sufi adalah sebuah kata yang dihubungan dengan memakai pakaian wol (shuf). Dan perkataan ini adalah yang paling mendekati karena pakaian wol merupakan tanda kezuhudan mereka (yaitu melepaskan diri dan menjauh dari kehidupan dunia). Dikatakan bahwa hal ini dilakukan untuk meneladani 'Isa bin Maryam 'alaihis-salaam.

Muhammad bin Siriin [seorang tabiin terkenal yang meninggal pada tahun 110 H] disampaikan kepada dia bahwa orang tertentu memakai pakaian wol untuk meneladani 'Isa bin Maryam, maka dia berkata:
إن قوما يتخيرون لباس الصوف يقولون إنهم يتشبهون بالمسيح بن مريم ، وهدي نبينا أحب إلينا وكان صلى الله عليه وسلم يلبس القطن وغيره ،
“Ada satu kaum yang memilih dan mengutamakan memakai pakaian wol, mengaku bahwa mereka ingin meneladani Al-Masih bin Maryam. Tetapi jalan Nabi kita lebih kita cintai, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakai katun dan pakaian lain.”

Kemunculan pertama Aliran sufi
Berhubungan dengan kemunculan pertama kali aliran sufi, kata ‘sufi’ tidak dikenal pada jaman shahabat, lebih-lebih kata tersebut tidak diketahui dalam tiga generasi pertama yang terbaik. Istilah tersebut dikenal setelah penghujung tiga generasi pertama.

Kemunculan pertama aliran sufi di Basrah, 'Iraq. Dimana beberapa orang ingin berlebih-lebihan dalam ibadah dan dalam menghindari kehidupan keduniaan, sebagaimana tidak ditemukan di tempat lain.

Bagaimana Aliran sufi lahir?
Ketika aliran sufi pertama muncul tidaklah ada ciri khusus mereka yang sangat jelas, tetapi hanya sebuah masalah mulai berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia, dan terus-menerus dalam dzikir (mengingat Alloh) dan membiasakan dengan rasa khouf (takut) yang berlebihan dalam mengingat Alloh yang kadang mengakibatkan seseorang pingsan atau mati ketika mendengar sebuah ayat yang menyebutkan sebuah ancaman adzab/siksa. Hal ini terlihat dalam kisah Zurarah bin Aufa -hakim Basrah- yang dibacakan: “Ketika sangkakala ditiup.” [Al-Mudatsir 73:8] dalam sholat Fajr dan dia jatuh meninggal. Kisah yang serupa pada Abu Jahr Al-A’ma, ketika Sholih Al-Murri membacakan qur’an kepada dia dan dia jatuh mati. Selain dari mereka ada yang pingsan ketika mendengar Al-Qur’an.

Hal seperti ini tidak ditemukan di antara para sahabat, sehingga sekelompok sahabat dan tabiin seperti Asma' binti Abi Bakr dan 'Abdulloh bin Az-Zubair dan Muhammad bin Sirin mengkritik hal tersebut sebab mereka melihat bahwa hal tersebut merupakan bid’ah dan bertentangan dari apa yang mereka ketahui dari cara Sahabat.

Ibnul Jauzi berkata:
“Aliran sufi adalah suatu jalan orang, yang dimulai dari mengabaikan seluruh kehidupan dunia, kemudian mereka yang mengikat diri pada jalan tersebut, mereka terjebak dalam memperbolehkan menyanyi dan menari. Oleh karena itu selanjutnya para pencari akhirat dari orang awam menjadi tertarik kepada mereka karena mereka meninggalkan kehidupan dunia yang mereka wujudkan, dan pencari akhirat ada juga yang tertarik kepada mereka karena kehidupan yang mudah dan permainan.” [Talbis Iblis hal.161]

Berikut ini akan dibawakan tentang alasan kemunculan aliran sufi dan sumber-sumber perkembangannya:

1. sumber pertama: beberapa ahli ibadah di antara muslimin memalingkan semua perhatiannya untuk meninggalkan kehidupan dunia dan mengkhususkan diri mereka untuk ibadah. Sumber pertama ini muncul pada zaman Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam ketika beberapa sahabat memutuskan untuk menghabiskan malam untuk bersungguh-sungguh dalam sholat dan meninggalkan tidur. Yang lain memutuskan untuk puasa setiap hari tanpa berbuka. Yang lain memutuskan untuk tidak menikah dengan wanita. Sehingga ketika berita itu sampai pada Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam dia berkata:
“Apa yang terjadi dengan orang yang mengatakan demikian dan demikian. Saya berpuasa tetapi saya berbuka, saya sholat malam tapi saya juga tidur, dan saya menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Lebih lagi bid’ah kehidupan seperti rohib (rohbaniyah) dilarang dalam Al-Qur’an. Alloh berkata:
وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا
...rohbaniyah yang mereka ada-adakan untuk diri mereka...” [Al-Hadid: 27].

Namun ketika Nabi Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal, dan banyak orang masuk ke dalam Islam dari agama-agama sebelumnya. Kemudian sekelompok orang berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia dan hal itu dibiarkan tumbuh dan aliran sufi menemukan sebuah tempat di hati-hati orang-orang ini, karena hal itu datang pada tanah yang subur untuk ditanami.

2. Masalah kedua yang menarik jiwa orang-orang adalah sesuatu yang muncul di antara muslimin dalam bentuk dua ideologi. Satu diantaranya adalah pemahaman filsafat, yang lain adalah agama-agama sebelumnya.

Yang pertama, merupakan sisi pandang dari sekolah filosof yang menyatakan bahwa ma’rifah (pengetahuan) diperoleh dalam jiwa dengan latihan jiwa dan pensucian jiwa.

Ideologi yang kedua, berupa kepercayaan bahwa ketuhanan bersemayam di dalam jiwa manusia, atau keyakinan bahwa ketuhanan hasil reinkarnasi sifat kemanusiaan. Gagasan ini muncul untuk mendapat tempat di antara sekte-sekte bathil yang menisbatkan diri mereka kepada Islam pada masa-masa awal, ketika muslimin bercampur dengan kristen. Gagasan ini muncul di antara Sabaiyah dan sebagian Kaisaniyah, kemudian Qaramitah, kemudian di antara Batiniyah, kemudian dalam bentuk akhir muncul di antara beberapa pengikut sufi.

3. Ada sumber lain yang diambil, dan yang menyebabkan ada kecenderungan kepada sufi, dimana menurut para pengikut sufiyah bahwa nas-nas Al-Kitab dan Sunnah, itu mempunyai yang zhohir (mempunyai makna tersurat yang jelas) dan yang bathin (pengertian tersirat yang tersembunyi)... kelihatan bahwa sangat jelas mereka mengambil gagasan ini dari Bathiniyah.

Sehingga semua jenis gagasan ini dicampur, dimulai dari sikap berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia sampai membuka pintu bid’ah gagasan bahwa ketuhanan bersemayam dalam makhluk, sampai gagasan bahwa semua makhluk adalah satu hakikat, yang merupakan Alloh (wihdatul wujud). Dari percampuran semua pemikiran ini lahir aliran sufi, yang muncul dalam Islam. Aliran ini berkembang pada abad empat dan lima dan mencapai puncaknya setelah itu, yang semakin jauh dari petunjuk Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah yang murni. Sampai para pengikut aliran sufi menyebut semua yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah sebagai ‘ahli syari'at’ dan ‘ahli tekstual’ (ahlul-dhaahir), sedangkan mereka menyebut diri mereka sebagai ‘ahli hakikat’ dan ‘orang yang punya pengetahuan tersembunyi’ (ahlul-batin).

http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2009/10/asal-usul-aliran-sufi.html#ixzz1Co4PQS5C