MusicPlaylistRingtones

Saturday, October 8, 2011

Berdakwah Dengan Akhlak Mulia - Bagian 6


Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.

5. Bersifat pemaaf terhadap orang yang menyakiti dan membalas keburukan dengan kebaikan.

Allah ta'ala berfirman,
Artinya: "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan
pedulikan orang-orang jahil." (Q.S. Al-A'raf: 199).
Adapun potret praktik akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasul shallallahu 'alaihi wa
sallam amatlah banyak, baik dengan sesama muslim, maupun dengan para musuh beliau
dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin.

Di antara contoh jenis pertama, apa yang dikisahkan Anas bin Malik,
"Suatu hari aku berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu
beliau berpakaian kain buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang
Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di
pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan dia. Sembari berkata, ‘Berilah aku
sebagian dari harta yang Allah berikan padamu!’ Beliaupun menengok kepadanya
sembari tersenyum, lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta." (H.R. Bukhari
(hal. 642 no. 3149) dan Muslim (VII/147 no. 2426)).

Contoh jenis kedua antara lain: apa yang dikisahkan Aisyah radhiyallahu 'anha,
"Suatu hari, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai
Rasululllah, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih berat dibanding hari
peperangan Uhud?’

Beliau menjawab, ‘Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan
cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat itu aku
menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia enggan menerimaku.
Akupun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak tersadar melainkan tatkala sampai di
Qarn ats-Tsa'âlib. Aku pun mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada sebuah awan
yang menaungiku. Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, ‘Sesungguhnya,
Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allah telah
mengirimkan untukmu malaikat gunung 1, supaya engkau memerintahkannya melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu.’ Malaikat gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab,
‘Justru aku berharap, semoga Allah berkenan menjadikan keturunan mereka generasi
yang mau beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu
apapun.’" (H.R. Muslim (XII/365 no. 4629)).

Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri. Apalagi
mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah
daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan ada tantangan, berupa cemoohan,
makian, atau bahkan mungkin bisa berupa serangan fisik, dari musuh-musuh dakwah.
Ketika seorang da'i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran,
tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan
kebaikan; insyaAllah dengan berjalannya waktu, hati para 'lawan' dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah haq dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhantuduhan miring [Cermati: Ashnâf al-Mad'uwwîn (hal. 54)].

Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktik sifat mulia ini. Penulis
bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang telah tersohor kekokohannya
dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam meluruskan penyimpangan
sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.

Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah mencegat Ibn Taimiyah lalu
mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi. Tatkala kabar itu sampai ke telinga
murid-murid dan para pendukung beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, untuk
minta izin guna membalas dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.
Namun Ibn Taimiyah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu.”
“Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”,
tukas mereka.

Ibn Taimiyah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak untuk balas dendam
itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allah. Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku, maka aku telah memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian tidak mau mendengar nasihatku dan fatwaku, maka berbuatlah semau kalian! Andaikan hak itu adalah milik Allah, maka Dia yang akan membalas, jika Dia berkehendak!” [Lihat: Al-'Uqûd ad-Durriyyah karya Ibn Abdil Hadi (hal. 224-225)].
Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid'ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah.

Di antara penguasa yang mencintai dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah adalah Sultan Muhammad Qalawun. Di suatu tahun Sultan Qalawun pergi
berhaji ke Baitullah. Selama dia melakukan ibadah haji pemerintahan diserahkan kepada
salah seorang wakilnya: Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang kebetulan dia
adalah murid salah satu tokoh sufi abad itu: Nashr al-Manbajy, dan al-Manbajy ini amat benci sekali terhadap Ibnu Taimiyah.

Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera menyusun
makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati Ibnu Taimiyah. Namun
sebelum makar mereka berhasil, Sultan Qalawun keburu kembali dari haji.
Tatkala mendengar berita akan makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun
marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para pelaku makar
tersebut. Tatkala mendengar berita itu, Ibn Taimiyah bergegas datang ke Sultan Qalawun dan berkata, “Adapun saya, maka telah memaafkan mereka semua.” Akhirnya, Sultan pun memaafkan mereka.

Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibn Taimiyah: Zainuddin bin
Makhluf pun berkata, “Tidak pernah kita mendapatkan orang setakwa Ibn Taimiyah!
Setiap ada kesempatan untuk mencelakakannya kami berusaha untuk memanfaatkan
kesempatan itu sebaik-baiknya. Namun, tatkala dia memiliki kesempatan untuk
membalas, malah dia memaafkan kami!” [Lihat: Al-'Uqûd ad-Durriyyah karya Ibn Abdil
Hadi (hal. 221)].

Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah
buahnya! Disegani lawan, maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang
berubah menjadi teman seperjuangan; berkat taufiq dari Allah dan ketulusan hati para
da'i.

1. Apakah tugas yang Allah bebankan kepada malaikat ini? Wallahu a'lam penulis belum menemukan keterangan para ulama dalam masalah ini. Yang jelas ia ditugaskan Allah untuk melakukan apa yang berkenaan dengan gunung. Periksa: Mu'taqad Firaq al-Muslimîn wa al-Yahûd wa an-Nashârâ wa al- Falâsifah wa al-Watsaniyyîn fî al-Malâ'ikah al-Muqarrabîn karya Dr. Muhammad bin Abdil Wahhab al-'Aqîl (hal. 155).

-bersambung insya Allah-
Artikel www.tunasilmu.com

No comments:

Post a Comment